|
|
|
Serba-serbi
Kisah Kunjungan Ke Tanah Air Ke 38 (Tamat)
 |
Sudah 55 hari saya di Indonesia,
suatu prestasi lamanya tinggal sejak saya pindah ke Kanada.
Segala macam jenis kendaraan sudah saya cobai, dari mulai
cidomo di Lombok sampai ojek kapal (rakyat) di Kepulauan
Seribu sampai "kapal capung" Fokker F27. Tak terhitung
perjalanan nostalgia yang sudah saya lakukan, dari mulai
bersepeda sekeliling Pulo Mas sampai naik kereta api dari
Bandung ke Jakarta, suatu acara rutin ketika saya masih
suka syoping suku-cadang pemancar radio di Pasar Jatayu
eks dumping dari AURI. Tinggal selama ini, ngerumpi dan
mendengarkan cem-macem dongeng dari segala lapisan masyarakat,
sahabat maupun handai-taulan, saya berkesimpulan saat ini,
ogah pensiun di Melayu. "Lha kenapa Bang Jeha, kan
ente bilang asyik belanja pakai rupiah, gaji dollar Kanada?,"
tanya mereka yang berminat melewati masa tuanya di tanah
airnya. Kalau Anda tahu salah satu alasan utama kalau bukan
'the r e a s o n' saya memutuskan pensiun tanggal 1 April
2002 adalah karena kalau saya lewat tidak pensiun di hari
itu, saya tidak akan mendapat jaminan kesehatan sistim lama,
dimana kami dibayari 80% dari semua ongkos pengobatan di
luar asuransi pemerintah. Perlu Anda ketahui bahwa ongkos
masuk rumah sakit maupun dokternya dan beberapa macam obat
(yang dipakai di rumah sakit) adalah gratis bagi penduduk
Kanada. Jadi 80%-nya bagi si saya adalah untuk ongkos seperti
biaya beli obat (yang kalau kita sudah berumur 65 praktis
gratis), pemeriksaan rutin gigi-gerigi, penggantian kacamata,
en so for. Nah, kalau saya pensiunnya melewati tanggal di
atas, saya hanya akan dibayar atau diberikan uang 'lump
sum', fixed sejumlah tertentu yang saya yakin banget akan
tidak lagi cukup 5-10-15 tahun mendatang.
Arti dari semua syering saya di atas adalah, masalah jaminan
kesehatan bagi saya penting sekali, selain mutunya. Itu
sebabnya sampai hari ini, meski saya cintrong banget dengan
cagar alam seperti Algonquin dimana jiwa-raga serasa segar
kalau canoeing camping kesono, saya masih ogah pindah ke
kota kecil di pinggirannya seperti Hunstville. Soalnya dokter-dokter
yang jago mana ada yang mau berpraktek di kota sekecil itu,
apa mau nungguin 'black fly' dan nyamuk :-). Sekali nasib
kita sial, dibehandel dokter bego atau loyo, atau kita bisa
menjadi cacat seumur hidup atau kita dikirimnya lebih cepat
untuk berusaha 'login' di gerbang nirwana alias kita aut
mampus kojor. Satu cerita adalah mengenai seorang dokter
bedah otak paling terkenal di Jakarta, yang prakteknya berjibunan
sehingga menantu temannya mertua saya, menjadi buta karena
si dokter sudah loyo (jam 3 sore) ketika mulai mengerjakan
tumor di otaknya. Tumor hilang, serabut syaraf mata ke otak
ikut amblas salah dikerok. Demikian juga halnya apa yang
dialami seorang oom saya yang perlu dioperasi katarak. Kembali
dokternya yang paling laku dan operasinya adalah menjelang
akhir hari dengan akibat, Anda menduganya tepat, buta juga
mata kirinya yang dioperasi. Tentu saja hanya mereka yang
masih hidup bisa mensyer kegilaan atau kebegoan dokter kecapean
di tanah air ini. Kemarin saya ikutan nelangsa selama sekitar
setengah jam mendengarkan syering rinci seorang sahabat
saya yang suaminya meninggal di rumah sakit karena kebegoan
sang r.s. atau dokter-dokter disitu. Suaminya terkena serangan
jantung, dibawa ke rumah sakit di Kuningan itu tetapi diagnosanya
akhirnya menjadi batu ginjal dan itulah perawatan yang dijalaninya.
Singkat cerita, suaminya terkena lagi serangan dan meninggal
ketika pren saya sedang di luar kamar lantaran kamar mesti
dibersihkan. Tidak ada proses yang namanya CPR atau defibrilisasi
padahal hanya beberapa menit doang pren saya di luar. Pokoknya
begitu aut ya sudah, tawakal nasib takdir, padahal lagi
abangnya pren saya dokter direktur rumah sakit itu. Bayangkan
kalau si Polan atau Badu yang dirawat disana. Jadi mendengarkan
semua cerita mengerikan seperti itu, belum betapa pemadatan,
komersil alias serakahnya dokter Melayu saya mah pensiunnya
di Toronto azha rek :-).
Beberapa hari lalu saya juga bertemu dengan pren saya yang
sudah menjadi da'i alias penceramah di dalam bidang agama
dan kehidupan, tentunya Islam. Meskipun ia bukan urang awak
tetapi dari KalSel, ia mensyer kriteria manusia sehat menurut
orang Minang. Pertama, makan tambuah katanya di dalam aksen
Padangnya. Orang yang lahap dan menikmati makannya memang
pertanda dia sehat, apalagi kalau perutnya tidak buncit
:-). Kedua tidur ngaruak, ngorok, katanya lagi. Tanda orang
yang hepi memang nyenyak tidurnya. Ketiga menyangkut urusan
pencernaan dan knalpot kita, buang air lancar. Keempat,
nah ini die, si "buyung bisa disuruh-suruh", katanya
lagi dan untuk ini Bang Jeha setuju sekali. Jadi meskipun
Anda bukan orang Minang, saya kira kriteria di atas universil
alias berlaku bagi cowok-cowok dimanapun juga. Bagi para
cewek, sori berats saya tidak sempat bertanya kepada pren
saya Pak Da'i apa kriterianya tapi mestinya tidak berbeda
jauh.
Sampailah sahaya di akhir dongengan di kunjungan saya kali
ini. Pertama-tama seperti biasanya calon sarjana menulis
di thesisnya maupun para pemenang 'award' berpidato, saya
ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Anda
semua. Ya, bila tidak ada Anda yang saya tahu membaca setiap
patah kata yang saya tulis, tentulah tiada semangat saya
untuk mendongeng setiap 2-3 hari sekali. Kedua-dua, terima
kasih saya ucapkan kepada para sponsor kami dari mulai tim
doa perjalanan muhibah Bang Jeha dan Empoknya ke tanah air
mereka sampai ke penyedia segala macam sarana hingga ke
tukang traktir kami. Dari mulai tuan dan nyonya rumah di
perhentian pertama kami di Los Angeles, sampai ke sedulur
di Jakarta sampai ke pren dengan villanya di Ubud, tendjewberimud.
You all make a difference. Semuanya yang telah kalian lakukan
membuat liburan kami, senantiasa, seperti berbulan madu
saja layaknya, ihik ihik :-). Seriusan, ngerumpi selama
2 bulan dengan Anda-anda di Melayu, baik para langganan
pembaca tayangan saya maupun mereka yang tidak di Net, disitu
saya masih melihat setitik kebersihan dari setumpuk kekotoran
di tanah air kita ini. Masalahnya, apakah titik-titik murni
asri itu yang di tahun mendatang akan semakin kuat, ataukah
mentalitas bokbrok yang akan semakin menguasai hajat hidup
orang banyak di negeri ini, seperti sekarang terlihat baik
di pemerintahan maupun di luarnya. Kita tunggu bersama dan
saya tahu Anda semua selalu berdoa bagi aman-damainya nusantara
tersay. Masalah lainnya seperti dikemukakan pren saya Uda
Datuak ketika kami ngerumpi kemarin dulu, apakah usaha kita
sehingga doa kita ke Tuhan YME tidak berupa doa sia-sia
sebab Tuhan bisa berkata, "Iye minte aman sih bole
aje tapi elo ude ngapain dong?" Dengan perkataan lain,
apakah karya Anda mencerminkan kedamaian hati, jauh dari
perilaku yang membuat negeri ini semakin terpuruk?
Tak baik saya mengakhiri tayangan ke ini dengan pesimisme
model di atas. Saya juga banyak berjumpa dengan manusia-manusia
(masih) idealis di negeri ini. Dari mulai anggota DPR yang
kaga mempan disogok, sampai dosen UI yang saya yakin bersih,
hingga ke polisi yang mentraktir saya dengan uang halal
cangkulannya. Ya, mereka sahabat saya semua sehingga saya
juga yakin bahwa masih banyak intelektuil negeri ini yang
jujur, teman-temin sedulur handai-taulan Anda. Kita tahu
bersama siapa-siapa yang masih bersih sehingga suatu ketika,
kalau bukan di tahun 2006, 2009, 2020 atau satu generasi
lagi, nusantara ini mudah-mudahan dapat menjadi buah-bibir
bangsa- bangsa di mancanegara, di dalam arti yang positif.
Nah, sekian saja serial Serba-serbi kali ini dari era kunjungan
Bang Jeha pulkam ke Melayu sejak Desember 2003 sampai Pebruari
2004. Sampai berjumpa lagi di tanah air atau di luar batang.
Anda-anda yang sudah menyempatkan bertemu dengan saya dan
nyonya dalam turne kami kali ini akan selalu terlekat di
dalam kenangan kami. Atas cinta kasih kalian semua yang
menjadi penyalur cinta-Nya kepada kita khalik-Nya, sekali
lagi saya dan Cecilia mengucapkan banyak terima kasih. Wasalam
mualaikum, bai bai, farewel, adieu, Tuhan memberkati Anda
semua. M (JeHa/IM)
|