|
|
|
Meluruskan
Sejarah
Bondan Winarno
 |
SIAPA PUN yang sebentar lagi akan memimpin
bangsa ini, saya hanya minta satu hal. Mari kita luruskan
sejarah.
Saya sendiri bukan ahli sejarah. Saya hanya tahu, ada banyak
ketidakbenaran dalam sejarah yang sekarang diajarkan melalui
sistem pendidikan kita. Bukankah ada pemeo yang mengatakan
bahwa pena bisa lebih tajam daripada pedang? Sejarah memang
selalu merupakan sebuah pertempuran tersendiri.
Siapa pun rezim yang memegang kekuasaan, mereka selalu mempunyai
versi sejarahnya masing-masing. Sampai hadir rezim lain
yang membawa sejarahnya sendiri. Karena itu, setiap pergantian
rezim selalu membuka peluang untuk mengubah sejarah - kalaupun
bukan untuk meluruskannya.
Peran kaum Tionghoa
Salah satu sejarah "kecil" yang saya
minta diluruskan adalah tentang peran kaum Tionghoa dalam
kehidupan kebangsaan kita. Misalnya, mengapa sampai terjadi
pembunuhan besar-besaran (massacre) terhadap kaum Tionghoa
di Indonesia - setidak-tidaknya dua kali dalam era kolonial
Hindia-Belanda, dan masih terjadi pula dalam masa kemerdekaan?
Mengapa kejadian itu hanya disebut secara sambil lalu dalam
pelajaran sejarah kita? Apakah karena yang terbunuh itu
"hanyalah" orang-orang Tionghoa?
Contoh yang lain adalah tentang peran kaum Tionghoa dalam
menyebarluaskan agama Islam di Tanah Jawa. Kebetulan tahun
depan akan diselenggarakan perayaan 600 tahun muhibah Laksamana
Cheng Ho.
Berbagai catatan sejarah menyebut bahwa Cheng Ho melakukan
public diplomacy dalam tujuh ekspedisinya ke negara-negara
Asia dan Afrika -jadi, tidak hanya sekadar berdagang - dan
membawa serta ulama-ulama Islam dalam lawatannya itu. Kalau
hal ini benar, maka sejarah yang selama ini hanya menyebut
para saudagar dari Gujarat sebagai pembawa syi'ar Islam
haruslah dikoreksi.
Telah beberapa kali, dalam berbagai kesempatan, saya mencoba
meminta perhatian orang terhadap peran - kalau bukan keperintisan
dan kepeloporan - kaum Tionghoa dalam mempromosikan bahasa
Indonesia.
Bahasa Indonesia
PADA Kongres Pemuda II yang diselenggarakan tahun
1928, salah satu butir bahasan adalah tentang perlunya menetapkan
bahasa Indonesia sebagai medium pendidikan. Ironisnya, pembicaraan
berlangsung alot, karena ternyata para pemuda yang hadir
pada kongres itu - notabene: semuanya pribumi - tidak banyak
yang lancar berbahasa Indonesia. Kebanyakan pidato politik
tentang kebangsaan justru disampaikan dalam bahasa Belanda.
Hanya Mohamad Yamin yang ketika itu dianggap paling piawai
dalam menggunakan bahasa Indonesia.
Maka, lahirlah Sumpah Pemuda! Suatu kesadaran baru ditanamkan
dalam jiwa bangsa Indonesia. Kesadaran tentang satunya tanah
air, bangsa, dan bahasa - di tengah keragaman kesukuan yang
ada. Sumpah Pemuda adalah antitesis terhadap politik divide
et impera yang dijalankan penjajah. Anehnya, di masa kemerdekaan
justru kita kembali lagi memakai politik segregasi dalam
berbagai selubung.
Tetapi, di kalangan etnis Tionghoa djadoel (djaman doeloe),
ternyata bahasa Melayu justru sudah luas dipakai. Berbagai
karya sastra pengarang etnis Tionghoa bertarikh akhir abad
ke-19 sudah banyak yang memakai bahasa Indonesia.
Sejak hilangnya huruf Arab dan aksara Jawi (huruf Arab gundul)
digantikan oleh huruf Latin pada pertengahan abad ke-19,
etnis Tionghoa di Indonesia justru menjadi pendahulu dalam
penggunaan bahasa Melayu. Beberapa buku cerita berbahasa
Melayu karangan para penulis Tionghoa mulai bermunculan.
Demikian pula suratkabar berbahasa Melayu mulai dicetak
di percetakan-percetakan yang hampir semuanya milik etnis
Tionghoa, antara lain Soerat Kabar Bahasa Melaijoe (1856),
Soerat Chabar Betawi (1858), Selompret Melajoe (1860), dan
Bintang Soerabaja (1860).
Kesastraan Melayu
Proliferasi kesastraan Melayu dan suratkabar dalam
bahasa Melayu semakin mekar pada awal abad ke-20. Buku-buku
cerita silat Tionghoa dalam bahasa Melayu yang diterbitkan
langsung laris manis. Tetapi, banyak pula cerita roman yang
ditulis sastrawan Tionghoa dengan nuansa lokal, seperti
Boenga Roos dari Tjikembang, Dengen Doea Cent Djadi Kaja,
Tjarita Njai Soemirah, Tjerita Tjan Yoe Hok atawa Satoe
Badjingan Millioenair, dan banyak lagi.
Di awal abad ke-20 itu terjadi pula proliferasi koran yang
sebagian terbesar diselenggarakan oleh kaum Tionghoa. Beberapa
jurnalis kawakan kita yang sekarang masih hidup bisa dirunut
sejarahnya dari dua koran besar pada masa itu, Keng Po dan
Sin Po.
Pada masa gerakan kebangsaan, Sin Po yang nasionalis (berorientasi
pada paham Dr Sun Yat Sen) bahkan menjadi penyemangat para
nasionalis Indonesia meraih kemerdekaan sebagai bangsa berdaulat.
Sin Po bahkan adalah surat kabar pertama yang memakai istilah
Indonesia untuk menggantikan nomenklatur Nederlandsch-Indie
atau Hindia-Olanda.
Tetapi, mengapa dalam kitab-kitab yang dipakai sebagai bahan
pengajaran di sekolah-sekolah kita saat ini peran etnis
Tionghoa dalam kesastraan dan jurnalistik tidak pernah tersurat?
Seolah-olah sastra dan pers Indonesia muncul begitu saja
dari sebuah ruang hampa?
Lenyap tak berbekas
DALAM kaitan dengan keperintisan para penulis Tionghoa,
saya baru saja selesai membaca sebuah buku yang diterbitkan
ulang atas prakarsa Ben Anderson baru-baru ini. Buku itu
berjudul Indonesia dalem Api dan Bara, karya Tjamboek Berdoeri
(baca: Cambuk Berduri, seterusnya TB). Buku itu aslinya
terbit pada tahun 1947 di Malang. Tentu saja, TB adalah
nama samaran, seperti banyak dilakukan oleh para penulis
perjuangan pada masa itu.
Siapa Tjamboek Berdoeri itu? Pertanyaan itu menghantui Ben
Anderson yang menemukan buku itu di tukang loak pada tahun
1963. Ia terkejut ketika membaca betapa kritisnya si TB
itu. Ben bahkan menilai karya Tjamboek Berdoeri sebagai
"jagoan prosa bahasa Melayu yang terhebat sesudah Pramoedya
Ananta Toer". Anehnya, tak seorang pun mengetahui siapa
sebenarnya penulis itu.
Hampir 40 tahun, melalui sebuah penelitian yang pantang
menyerah, akhirnya Ben Anderson menemukan bahwa TB adalah
seorang yang bernama asli Kwee Thiam Tjing (KTT). Sayangnya,
ketika "ditemukan", KTT sudah lama meninggal.
Ia meninggal pada tahun 1974, tanpa seorang pun tahu bahwa
seorang kolumnis besar telah tiada. Maklum, kecuali kepada
keluarganya yang sangat dekat, KTT merahasiakan jatidiri
si TB.
TB yang lahir pada tahun 1900, mulai menulis kolom secara
freelance pada sekitar tahun 1922. Ia kemudian sempat beberapa
kali bekerja secara full time sebagai redaktur surat kabar,
bahkan pernah pula menerbitkan koran sendiri dengan nama
Pembrita Djember. Anehnya lagi, beberapa tahun sebelum kematiannya,
ia sempat pula menjadi kolumnis di harian Indonesia Raya.
Pertanyaan besarnya di sini adalah: mengapa seorang besar
seperti KTT ini bisa lenyap begitu saja dari perhatian kita?
Seolah-olah tak pernah ada dalam sejarah bangsa ini?
Salah satu penyebabnya adalah karena KTT terlalu kritis.
Ia bahkan sangat kritis terhadap kaumnya sendiri. Maka,
demikianlah, paku yang mencuat harus diketok supaya tidak
melukai orang. Dan, dengan demikian pula, nama KTT dilenyapkan
dari sejarah.
Alangkah ironisnya! M (BW/IM)
|