|
|
|
Mesjid
Pintu Seribu
Pertengahan tahun lalu, dokter Sindhiarta Mulya, seorang
aktivis Klub Jalansutra, mengajak saya melihat Mesjid Pintu
Seribu di Tangerang. Saya sudah tiba di Tangerang ketika
tiba-tiba merasa tidak enak badan. Saya urungkan kunjungan
itu. Ternyata, saya malah harus berbaring di rumah sakit.
 |
 |
Minggu lalu, keinginan itu kesampaian. Kali
ini saya bahkan "diantar" sekitar 60 anggota Klub
Jalansutra. Dokter Sindhi mengatur semua acara kami sehari
itu dengan piawai, bak event organizer profesional.
Mesjid itu resminya bernama Mesjid Agung Nurul Yaqiin, berlokasi
di Kampung Bayur, Priuk Jaya, Jatiuwung, Kabupaten Tangerang.
Lokasinya cukup mudah dijangkau dengan mobil, hanya beberapa
menit dari pusat Kota Tangerang. Mesjid ini sebetulnya bisa
kelihatan dari pesawat yang akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.
Sama dengan penamaan lain yang memakai kata "seribu",
angka itu sebetulnya bersifat simbolik belaka. Gedung Lawang
Sewu di Semarang, misalnya, sebenarnya tidak mempunyai seribu
pintu. Pulau Seribu di Teluk Jakarta juga tidak terdiri
atas seribu pulau. Ketika jumlahnya sudah terlalu banyak,
maka "seribu" menjadi hitungan yang dianggap mewakili.
Mesjid Pintu Seribu (MPS) ini memang memiliki sangat banyak
pintu. Tetapi, bahkan pengelola dan pembangun mesjid tidak
pernah menghitung berapa sebetulnya jumlah pintu yang ada
di mesjid itu. Mungkin perlu ada sayembara untuk menghitung
jumlah pintu mesjid itu.
Tetapi, mungkin juga tidak ada gunanya menghitung jumlah
pintu itu sekarang. MPS adalah sebuah work in progress.
Sejak dibangun pada tahun 1982 (keterangan lain bahkan menyebut
tahun 1977) oleh Al Faqir, mesjid ini memang hingga kini
belum selesai. Al Faqir adalah warga setempat yang memulai
pembangunan mesjid itu dengan dana dari koceknya sendiri.
Untuk menghormatinya, warga kampung memberinya gelar Mahdi
Hasan al Qudratillah al Muqodam. Sekarang, Al Faqir juga
sedang membangun mesjid-mesjid serupa di Karawang, Madiun,
dan beberapa kota lain di Indonesia. Semakin banyak musafir
yang datang berkunjung ke MPS, akan semakin banyak lagi
kota-kota Indonesia yang mengingini mesjid serupa dengan
swadaya masyarakat.
Melihat penampilannya, MPS ini tampaknya sengaja dibangun
agar tak pernah selesai. Mungkin maksudnya supaya umat tidak
segera puas dan terus berupaya membesarkan mesjid ini. Konsep
itu jelas terlihat menjadi prinsip filosofis mesjid ini.
Pembangunan mesjid ini bahkan tidak memakai gambar rancang.
Tidak ada desain dasar yang bisa menampilkan corak arsitektur
tertentu. Ada pintu-pintu gerbang yang sangat ornamental
mengikuti ciri arsitektur zaman Baroque, tetapi ada juga
yang bahkan sangat mirip dengan arsitektur Maya dan Aztec.
Sekarang, tapak bangunan mesjid ini sudah mencapai luas
sekitar satu hektare. Diharapkan akan semakin banyak warga
kampung mewakafkan tanahnya untuk memperluas bangunan mesjid
di masa datang.
Pada beberapa pintu tampak ornamen dengan angka 999. Lho,
mengapa tidak konsisten? Mesjid Pintu Seribu tetapi memakai
lambang 999? Semula saya pikir itu ada kaitannya dengan
legenda Candi Prambanan, ketika Bandung Bondowoso hanya
mampu menyelesaikan 999 arca pada saat ayam berkokok menandai
pagi. Roro Jonggrang yang menuntut arca ke-1000 kemudian
dikutuk menjadi batu. Maka, saya pun berpikir tentang konsep
filosofis bahwa masing-masing dari kita harus menjadi pintu
yang ke-1000 bagi kesempurnaan mesjid ini.
Ternyata, pikiran saya itu tidak tepat. Menurut, Engkong
Karim yang memandu kami, angka itu merupakan simbolisasi
asma (nama) Allah. Allah disebut dengan 300 nama di Kitab
Zabur (Nabi Daud). Dalam Kitab Taurat (Nabi Musa) dan Kitab
Injil (Nabi Isa) pun Tuhan disebut masing-masing dengan
300 nama. Dalam Al Quran terdapat 99 asma Allah. Sungguh
besar Allah yang mempunyai 999 nama.
Setelah berdoa bersama di sebuah selasar bagian mesjid yang
paling awal dibangun, kami diantar memasuki bagian mesjid
yang sedang dan terus dibangun. Bagian yang pertama kami
kunjungi adalah ruang tasbih di bawah tanah. Melalui lorong
sempit yang gelap dan berliku kami harus meraba-raba untuk
mencapai ruang itu. Ruang itu lembab dan beberapa bagian
lantainya becek. Matahari tak pernah menembus ruang itu.
Istri saya mengingatkan pengalaman itu dengan kunjungan
ke lorong bawah tanah di sepanjang Tembok Ratapan di Yerusalem.
Bedanya, di lorong Yerusalem itu sudah dipasangi lampu-lampu
agar pengunjung dapat berjalan dengan aman.
Lorong-lorong bawah tanah MPS itu mempunyai banyak cabang-cabang
dan betul-betul merupakan labirin yang menyesatkan. Tanpa
penunjuk jalan, pastilah kami akan tersesat di dalamnya.
Salah satu cabang lorong itu menuju ke sebuah kolam di bawah
tanah yang berisi air untuk berwudhu. Lorong-lorong yang
lain juga menuju ke berbagai ruang sempit yang bisa digunakan
untuk melakukan istiqomah (bersunyi hati, pikiran dan perasaan
untuk mendekatkan diri kepada Allah).
Salah satu ruang bawah tanah itu agak luas, memakai lantai
keramik putih, dan di sana tersedia sebuah tasbih superbesar
dari kayu. Garis tengah masing-masing butir tasbihnya sekitar
10 sentimeter. Ruang ini dipakai oleh Al Faqir untuk ber-istiqomah.
Orang-orang yang mempunyai hajat khusus juga diperkenankan
menggunakan ruang ini untuk ber-istiqomah.
Pemandu sengaja mematikan lampu di ruang itu, dan mengajak
kami semua membayangkan bahwa pada saat kematian nanti kita
akan berada dalam liang yang jauh lebih kecil dan lebih
pengap daripada ruangan ini. Kemudian ia mengajak kami semua
berdoa bersama dalam keheningan dan kegelapan.
Dari sana kami diantar keluar melalui lorong-lorong dan
mencapai sebuah ruang terbuka yang mirip courtyard lapang
dengan bangunan bertingkat dua di sekelilingnya. Menurut
penunjuk jalan, di sinilah dilakukan sembahyang berjamaah,
setelah orang selesai ber-istiqomah secara individual di
ruang bawah tanah. Bagian bangunan ini belum selesai dibangun.
Lantai dua dan tiga di sekelilingnya masih tampak terbuka.
Pada bagian terbuka itu tampak pilar-pilar dan dinding berwarna
merah muda (pink). Sebelumnya, di bagian dalam kami juga
melihat beberapa pilar berwarna pink. Ada juga yang berwarna
kuning mencolok. Seorang di antara kami bertanya, apakah
ada makna khusus dari warna pink itu. Maklum, ketika kami
berkunjung, Hari Valentine baru saja lewat.
"Ah, itu kan karena kebetulan kami mendapat sumbangan
cat berwarna merah muda," kata Engkong Karim. "Kalau
besok ada yang menyumbang cat berwarna merah atau biru,
maka pastilah sebagian dinding dan pilar mesjid ini akan
berwarna merah dan biru pula."
Nah, partai-partai yang mau berkampanye, siap-siaplah menyumbang
cat warna partai Anda untuk MPS!
Kami meninggalkan MPS dan singgah di Bendung Pasar Baru
(Tangerang) yang merupakan pintu air untuk mengendalikan
irigasi Sungai Cisadane. Bendung raksasa ini juga tampak
dari pesawat yang akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.
Dari menara bendung ini kita bahkan dapat melihat jelas
bandara internasional itu. Bendung ini mempunyai sepuluh
pintu, dibangun pada tahun 1937 untuk mengairi 27 ribu hektare
sawah. Menurut R Zain, anggota Klub Jalansutra, di Sungai
Cisadane hingga tahun 1980-an masih terdapat ikan belida
(khas Palembang).
Dari Bendung Pasar Baru kami menuju tempat yang sudah kami
nanti-nanti untuk makan siang. Tempat itu adalah "Saung
Kemala Sari", milik dokter H Gusti Benyamin M. Ini
bukan hanya tempat makan, melainkan juga merupakan taman
wisata mancing dan mempunyai bale nembang (ruang karaoke).
"Saung Kemala Sari" terletak persis di belakang
Bandara Soekarno Hatta, Desa Selapajang Jaya, Kotamadya
Tangerang. Jalan raya di depannya merupakan akses ke pantai
Utara Jawa. Pantai itu terletak sekitar sepuluh kilometer
dari restoran. Tak heran, restoran selalu mendapat pasokan
ikan paling segar setiap hari.
Kami disambut dengan senyum ramah dokter Ben. Hari itu ia
khusus memasak buat kami. Bahkan, beberapa hari sebelumnya,
dokter yang gemar mancing ini sengaja menembus ombak yang
sedang ganas di Selat Sunda untuk mencarikan ikan bagi kami.
Dua ekor ikan besar bluefin trevally (ikan kuwe) yang tersaji
hari itu adalah hasil pancingan dan masakannya.
Hari itu kami betul-betul makan besar. Sebelum makan kami
sudah digoda dengan appetizer berupa rujak bebeg. Guy du
du (salad Vietnam) yang dibawa Arie Parikesit Kusumo, anggota
Klub Jalansutra, juga membuat kami semakin berselera.
Nasi timbelnya dikukus dengan pandan sehingga berbau harum.
Di samping hidangan laut (ikan bakar, udang bakar, cumi
bakar) yang merupakan kekhasan "Saung Kemala Sari",
tersaji juga dua hidangan lokal khas Banten yang sengaja
dimasak dokter Ben untuk kami cicipi. Yang pertama adalah
gogodogan, yaitu tetelan sapi yang disemur dengan gula merah,
cabe merah, kencur, dan berbagai bumbu lain. Yang kedua
adalah rabeg, jeroan kambing yang digulai dengan bawang
putih, jahe, cengkeh, dan bumbu-bumbu lain. Persis di sebelah
kuali, ditempatkan obat-obat khusus untuk menurunkan asam
urat dan kolesterol. Wah, dasar resto punya dokter!
Setelah makan siang yang memuaskan, kami juga "berpesta"
pencuci mulut (desserts) yang dibawa Ratna Somantri,anggota
Klub Jalansutra yang punya toko kue "Dessert Only".
Strawberry cheesecake dan tiramisu-nya unforgettable!
Perjalanan selebihnya menjadi lebih sulit karena kami harus
menyeret perut yang berat. Hari itu kami masih mengunjungi
Vihara Nimmala (Boen San Bio) di Pasar Baru, Tangerang,
yang memegang sepuluh Rekor MURI (Museum Rekor Indonesia).
Kami mengakhiri kunjungan kami di Tangerang dengan melihat
bekas rumah seorang tuan tanah di masa lalu. Rumah besar
bergaya Tiongkok itu kini dalam kondisi tidak terawat. Di
sebelahnya bahkan ada bangunan besar yang sudah hampir runtuh.
Tiga stasiun televisi sudah datang ke sana untuk meliput
kuntilanak yang menghuninya.
Oh, seraaam! Tidak usah diceritakan di sini, ya? M (BW/IM)
Penulis adalah seorang pengelana
yang telah mengunjungi berbagai tempat dan mencicipi makanan-makanan
khas, dan masih akan terus melakukan pengembaraannya.
|