|
 |
|
Serba-serbi
Kisah Kunjungan Ke Tanah Air Ke 37
 |
"Selamat jalan."
"Selamat tinggal, sampai bertemu lagi," itulah
dua kalimat umum yang sekarang hampir setiap hari kami ucapkan
kepada para prens dan sedulur yang tahu sebentar lagi Bang
Jeha akan cabut pulang ke kampungnya buat ngadem, masih
-20C kata anak kami di email kemarin. Lumayan sebulanan
di mesin pengawet alami akan membuat keriput-keriput kami
karena terbakar matahari Indonesia, hilang lenyap. Ya, sampai
bulan Maret bisa diharapkan
suhu masih akan dingin dan 1 April, HUT bojoku semoga tidak
+30C seperti di Jakarta ini sehingga ia bisa kupeluk tanpa
hamba diusirnya :-). Seperti sudah banyak saya syer di dalam
puluhan tayangan sejak saya tiba awal Desember
lalu, keramah-tamahan anak Indo tak ada duanya. Bergaul
cukup erat dengan anak-anak Kanada, bule atau non-Indo,
saya tahu mereka engga akan menang melawan keramahan Anda.
Kalau anak Kanada pas se-inconvenience bila mereka menjamu
membantu kita, anak di Indo bisa se-sacrifice level. Itulah
salah satu faktor utama yang membuat kami betah 2 bulan
di negeri ini, selain keasrian alam di Lombok :-). Jadi
kesedihan kami di dalam mengucapkan kalimat di atas memang
bukan karena sebentar lagi saya harus mengisi bensin di
dalam dollar, setangki bisa 40-50 $ padahal di Jakarta cuma
Rp 90 ribu maksimum, tetapi karena akan berpisah dengan
anak-anak bae kaya ente semua.
Anda yang sudah lama jadi anak Indo alias bukan ABG mestinya
pernah mendengar nama Harry Tjan Silalahi. Mendiang isterinya
dan isteri saya seduluran karena sama-sama anak Pekalongan.
Kemarin saya bertandang 'kulo nuwun' ke Ko Harry (saya panggil
dia demikian) untuk mengkonfirmasikan siapa presiden RI
yang akan datang. Ya, Anda kan tahu ia masih berkantor di
CSIS, Tanah Abang III, Centre for Strategic and International
Studies. "Ko, analisis para pengamat mengatakan Megawati
masih tetap akan jadi presiden, setuju engga?," tanyaku.
Sambil sedikit menghela napas mengakses data-data yang disimpan
di memorynya ia mengiyakan membenarkan. Masalahnya, katanya,
banyak kandidat atau calon yang lebih oke dari Ibu Mega
Anda tetapi mereka engga punya "kendaraan" yangmampu
membuat mereka jadi presiden. Artinya, di dalam bahasa awam,
kaga punya massa kaya Mbak Ega dengan PDIP-nya. WNI yang
ingin menjadi presiden harus dicalonkan oleh partai yang
dalam bulan April nanti mendapat 3% dari seluruh total electoral
vote. Selain itu, ketentuan pemilu 2004 dimana calon presiden
harus memperoleh 51% popular vote rakyat pemilih plus 20%
suara dari 16 atau setengah propinsi seluruh Indonesia,
akan membuat kandidat yang mana saja, bergelimpangan lach
yauw. Kita lihat apakah salah satu guru politik Bang Jeha
Anda di atas, maupun pengamat lainnya benar. Sekali lagi,
tetap simpanlah gambar Bu Mega yang Anda miliki. Baidewe,
ramalan Ko Harry juga, pemilihan di gelombang pertama tanggal
5 Juli nanti tidak akan menghasilkan presiden tetapi akan
terjadi di gelombang kedua ketika dua calon yang mendapat
suara terbanyak diadu "ayam" pada tanggal 20 September.
Jadi artinya lagi, Anda-anda yang mau mantuan atau kawin
kaya si Diana dan Lilik, gih cepetan sebelon "pesta
pemilu" melanda negeri ini. Ko Harry tidak bisa memberikan
jaminan bahwa kampanye akan berlangsung aman damai soalnya.
Disamping itu dapat saya laporkan, di dalam internal partai
saja saat ini sudah terjadi bunuh-bunuhan demi sebuah jabatan
di dalam partai (belum kursi di DPR).
Soal busway lagi. Belum lama ini ketika habis menonton pertunjukan
komedi di Gedung Kesenian, saya katakan dosa Bang Yos sehubungan
dengan busway mulai saya maapin karena bagusnya pemugaran
sang gedung. Satu pren saya sudah membantah bahwa itu mah
bukan hasil kerja Sutiyoso tetapi orang lain. Nah, hari
ini saya bergumul bersama kendaraan lainnya sepanjang Jl.
Sudirman karena ,,, tak lain adalah busway. Gila banget,
sedemikian macetnya sehingga
koran Kompas selesai saya baca sambil bermobil. Permaafan
saya bersama ini saya tarik kembali, tiada maaf bagimu Sutiyoso,
ente bikin sengsara doang. Untung saja tujuan saya bermacet-macetan
itu tercapai dengan hesbat. Bagaimana tidak? Kalau selama
ini saya mengeluarkan uang bagi pak polisi, hari ini Bang
Jeha dan empoknya ditraktir makan-makan oleh polisi berseragam
dan saya suwer :-). Bukan itu saja, saya juga disupiri oleh
pak perwira polisi dan adjudannya keluar dari Mabes Polri.
Saya yakin seumur hidupmu tidak akan dikau mengalami hal
itu kecuali menantu atau anakmu ya polisi yang nyangkul
di Jl. Trunojoyo. Terima kasih sekali lagi kepada pak polisi
pren kami, es juice jagung di restoran tersebut uenak sekhalei.
Casablanca Club, siapa di antara Anda yang pernah kesitu
atau dengan perkataan lain menjadi anggotanya? Bila jawabnya
ya, atau Anda seorang eksekutip dengan gaji berjeti-jeti
rupiah sebulannya, atau seorang pengusaha. Betapa tidak?
Keanggotaan klab kebugaran tersebut, dengan fasilitas a.l.
lapangan badminton, tenis, fitness, spa, kolam renang cuma
Rp 12 juta per pasutri per tahunnya. Duit kenal barang,
begitu sering saya katakan ke bojoku. Berenang di kelab
tersebut setelah hampir satu jam bermain badminton, bukan
saja mengasyikkan tetapi kolam renangnya tidak ada lumutnya
setitik juga. Bandingkan dengan kolam renang Tirta Mas yang
sekarang sudah jorok dan penuh lumut. Hanyalah karena standar
saya untuk berenang di waktu kecil, Kali Ciliwung, berenang
di kolam sekotor Tirta Mas, buatku tetap oke lach yauw.
Keasyikan acara renang saya dan Cecilia kemarin bisa disamakan
seperti sehabis portaging dari George Lake menuju Freedom
Lake terus ke Killarney Lake dan nyemplung disitu. Sangat
menyegarkan kalau Anda tahu betapa gilanya bermain badminton
di iklim tropis. Kalau saya sedang ngos-ngosan keringatan
saya jadi teringat ketika masih remaja menonton pemain badminton
kelas dunia kaya si Erland Kopps dari Denmark blingsatan
kepanasan kegerahan dan habis napas tenaganya di set kedua.
Pokoknya tidak ada olahraga yang lebih asyik dibandingkan
badminton dan terus berenang, sayang tidak ada kesempatan
untuk bisa sepedaan alias triathlon di Casablanca Club tersebut
:-). Manusia tidak ada puasnya ya.
"Pak Jusni, saya Adep (bos Yayasan Sahabat Museum)
dan sedang diwawancara di radio mengenai acara jalan-jalan
di Pasar Baru hari Minggu lalu itu. Apakah kami bisa mengikut-sertakan
Pak Jusni di dalam acara wawancara ini?,"
tanya doi ketika menelepon hape pinjaman saya. "Oh
boleh, radio apa dan kapan saya akan ditelepon?." "Radio
Woman FM 94.95 dan sekarang juga," katanya lagi. Karena
hape bisa engga mulus atau nanti terputus-putus, kuminta
mereka menelepon telepon rumah saya dan memang ia engga
ngibul. Langsung saya masuk 'on air' atau wawancara siaran
langsung. Untunglah Bang Jeha Anda sudah pengalaman menghadapi
'international press' karena suka main politik di Kanada
dan akan halnya siaran radio, saya pernah di sisi pewawancara.
Materi yang ditanyakan tidak susah, tujuan si Ade Permana
mau mengikut-sertakan saya sebagai warga keluarga Tio dari
Pasar Baru juga jelas. Agar saya bisa
mengeritik pemerintah yang tidak menyediakan dana bagi pemugaran
gedung-gedung atau obyek bersejarah. Jadi lengkaplah misi
Bang Jeha Anda di kota tempat ia dibrojolin ini, sudah masuk
Kompas sekarang nongol di radio. Yang lebih istimewa kog
saya bisa diwawancara oleh radio perempuan, dasar mereka
punya feeling kali bahwa saya ini penggemar bekel dan congklak
mainan cewek :-). Sekian dulu kisah kali ini, sampai berjumpa
di seri berikutnya yang akan merupakan seri terakhir kisah
kunjungan Bang Jeha pulang kampung di awal tahun ini. Bai
bai lam lekom.
|