|
|
|
Eropa
Belajar Ucapkan Ni Hao
Wisatawan
China Dibebaskan Kunjungi Negara-Negara EU
PARIS - Warga China kini makin leluasa berkunjung ke Eropa
sebagai wisatawan. Itu terjadi setelah disepakatinya perjanjian
dengan Uni Eropa (EU) yang mengizinkan wisatawan China mengunjungi
seluruh negara anggota kesatuan itu.
Sebelumnya, turis individual China hanya diizinkan mengunjungi
beberapa negara EU. Akibatnya, banyak yang mengakalinya
dengan berbagai cara. Misalnya, menggunakan visa bisnis
atau kunjungan keluarga.
Seiring berkembangnya perekonomian di China, makin banyak
warga China yang bepergian ke luar negeri untuk berwisata.
Eropa pun menjadi pilihan.
Negara-negara EU akhirnya menyadari bahwa kunjungan wisatawan
China ke Eropa terus meningkat dan harus dianggap sebagai
peluang bisnis. Pada 2002, 645.000 warga China berkunjung
ke UE. Diprediksikan, seratus juta wisatawan China akan
berkunjung ke Eropa sampai 2020.
Salah satu negara Eropa yang menyambut baik kesepakatan
itu adalah Italia. "Ini adalah kesempatan bersejarah
yang unik. Kunjungan turis China bisa mengalahkan turis
Jerman dan Jepang," kata Menteri Muda Perdagangan Asing
Adolfo Urso.
Prancis bahkan sudah menikmati keuntungan itu dengan mendapat
kunjungan 400.000 turis China tahun lalu. Negeri Anggur
itu berharap kunjungan tersebut naik dua kali lipat tahun
ini.
Dalam lima tahun, Prancis berharap satu juta turis China
berkunjung. "Dalam satu dekade berikutnya, rakyat China
akan menjadi wisatawan terbesar pertama atau kedua setelah
wisatawan Inggris, Amerika, atau Jepang," kata Direktur
Badan Pariwisata Paris, Paul Roll.
Inggris juga berharap akan menerima peningkatan tersebut.
"Industri pariwisata UE menyadari pasar baru yang besar
ini dan menunggu seolah-olah mereka adalah Santa Claus,"
kata Patricia Tartour, kepala operator tur Prancis, Maison
de la Chine.
Kalangan industri pariwisata Eropa pun berbenah. Mereka
mulai memberikan fasilitas yang disesuaikan dengan budaya
China.
Termasuk menerbitkan peta berbahasa mandarin. Beberapa hotel
mulai menyediakan surat kabar berbahasa China, perlengkapan
minum the, dan sarapan ala Asia.
Di Swiss, hotel-hotel meniadakan lantai dengan nomor empat.
Karena pengucapan angka "empat" dalam bahasa China
mirip dengan pengucapan kata "kematian".
Di Belanda, penjual-penjual permata telah merekrut karyawan-karyawan
yang mahir berbahasa Mandarin. Pembalap F1 Belanda kelahiran
China, Ho Pin Tung, menjadi bintang iklan pariwisata.
Rakyat Eropa pun harus mulai belajar mengucapkan ni hao,
salam dalam bahasa China yang berarti "apa kabar".
(afp/tia)
|