Pemberdayaan Masyarakat menindak lanjuti Pilpres.
Oleh: Dr.Irawan

Seperti apa yang dikatakan oleh Dubes RI untuk AS Bapak Sumadi; "Jangan harapkan banyak perubahan dari pemerintah dari hasil pilpres, siapapun yang terpilih nanti sebagai Presiden RI selanjutnya, Indonesia tetap tidak ada perubahan yang drastis. Yang penting adalah pemberdayaan masyarakat", demikian ucapan beliau beberapa waktu yang lalu diberanda Wisma Indonesia dibilangan North West Washington D.C.

Ucapan Pak Dubes sungguh merupakan suatu pesan yang bermakna bagi bangsa Indonesia diseantero jagad. Karena beliau memang terkesan ingin memberikan dorongan kepada seluruh anak bangsa untuk mengambil bagian dalam perjuangan bernegara dan berbangsa. Yang pasti tanggal 20 September ini kita ada pesta demokrasi lagi untuk Pilpres jilid ke II. Nah, dari sini dulu, kita sebagai masyarakat bisa mengerjakan bagian kita. Tanpa suara hati nurani kita yang disalurkan lewat surat suara, kita tidak bisa mengharapkan pemerintahan yang sejalan dengan apa yang kita ingini.

Banyak orang yang bertanya kepada saya, seolah saya ini tukang ramal, "Bagaimana masa depan Indonesia nanti ? apakah bisa aman?". Saya jawab: "Jawabannya adalah tergantung anda sendiri apakah kita mau mem perjuangkannya agar Indonesia menuju kesuatu perbaikan?". Mau mem perjuangkan, bukan hanya ngomong dimulut saja, tapi harus disertai dengan tindak lanjut yang bertanggung jawab. Ikut nyoblos di Pemilu memang merupakan bagian dari pelaksanaan tanggung jawab itu, tapi bukan berarti hanya itu saja sudah cukup. Sebagai rakyat seharusnya senantiasa peduli kepada sepak terjang dari pemerintah, entah itu pemerintah yang kami pilih dari hati nurani kita, ataupun yang berseberangan dengan hati nurani kita.

Dalam berbangsa dan bernegara, seharusnya rakyatlah yang mengontrol pemerintah, bukan sebaliknya. Namun yang sering terjadi mekanisme kontrol ini menjadi semu, karena rakyat tanpa sadar di belenggu sedikit demi sedikit, dan tanpa terasa baru siuman setelah tangan dan kaki diikat oleh pemerintah yang mulanya kita pelihara dan besarkan, lalu tiba-tiba sudah menjadi monster yang menakutkan.

Belajar dari pengalaman kita setelah merdeka 59 tahun, dan melihat negara lain yang relatif lebih maju dari Indonesia, maka faktor kontrol dari masyarakat harus diberdayakan. Pilar pilar demokrasi harus di tegakkan diatas landasan reformasi yang telah diperjuangkan oleh adik-adik mahasiswa kita di tahun 1998. Ingatlah bahwa tumbangnya regime Orde Baru telah memakan korban yang tidak sedikit, tentunya kita tidak rela mereset odometer kita ke kilometer “0” lagi, dan melupakan tumbal-tumbal serta pahlawan-pahlawan reformasi yang gugur bukan?

Kembali kepada mekanisme kontrol dari Rakyat kepada pemerintah, tentunya kita masih ingat saat DPR-RI hanya berfungsi sebagai mesin stempel saja. Disinilah kontrol rakyat dibutuhkan untuk mencegah reinkarnasi dari DPR-RI semacam itu lagi. Mendudukan seorang pemimpin yang bersih, berdedikasi dan pandai, tidak bisa menjamin pemimpin itu selamanya tanpa cela. Adalah sangat berdosa besar bila rakyat membiarkan pemimpinnya bebas tanpa kendali.
Bagaimana kita sebagai masyarakat dapat melaksanakan mekanisme kontrol tersebut ? Pertama-tama kita harus menciptakan kondisi dimana kita dimungkinkan untuk mengontrol untuk saat ini maupun untuk saat-saat mendatang. Adalah lebih mudah berbicara kepada keluarga priayi, dari pada keluarga moncong bedil, bukankah begitu ?

Catatan: Harap jangan sampai dipelintir; Maksudnya priayi bukan hanya berlaku untuk laki-laki saja, tapi bisa juga wanita-yi lho.

Sebenarnya pemimpin yang berlatar belakang militer juga tidak selalu akan menghambat mekanisme kontrol masyarakat, hanya situasi penataan struktur militer di Indonesia tidaklah sama dengan di Amerika, potensi kearah penghambatan mekanisme kontrol masyarakat selalu ada dalam kondisi sekarang.

Berbicara tentang Amerika hendaknya kita juga jangan terbelenggu dengan budaya feodal, mengapa kita harus selalu mengambil Amerika sebagai panutan? Hal ini terkesan dari tulisan-tulisan di media masa yang melansir adanya capres tertentu yang didukung oleh Amerika. Amerika yang mana? Amerika yang senantiasa menjunjung asas demokrasi, selalu menyatakan bahwa AS akan mendukung presiden siapa saja, yang terpilih secara demokratis. Kalau AS benar berani mendukung salah satu capres, harusnya dukungan itu keluar secara resmi dari Gedung Putih (Presiden), Senat, dan Congress.

Pemberdayaan masyarakat tidaklah terbatas mencakup soal kontrol terhadap pemerintah saja, tapi juga terhadap kepedulian memantau anasir-anasir teroris yang mengancam keamanan dunia saat ini. Musibah peledakan gedung kedutaan Australia di Kuningan, Jakarta, (Sept 9,2004) bisa saja dihindari dengan kepedulian masyarakat melaporkan tingkah laku yang mencurigakan dari anasir tersebut. Jangan malah menampung atau menyembunyikan Dr. Azahari dkk, bahkan mengangapnya sebagai pahlawan.

Bila rakyat mempunyai kesadaran dalam menjaga keamanan Negara, niscaya teroris dapat di tumpas. Mungkin kawan kawan yang di Amerika masih ingat kasus penembak (sniper) di tahun 2002, dimana penembak gelap itu sempat merenggut 10 jiwa. John Allen Mohammad, dan Lee Boyd Malvo, akhirnya bisa diringkus berkat laporan seorang sopir truk, yang menyaksikan penembak gelap itu beraksi di depan Home Depot, Falls Church, VA. Yang harus dikagumi disini adalah, sopir tersebut menolak menerima hadiah sebesar $273.000 yang sudah disediakan oleh pemerintah, atas jasanya melaporkan penembak gelap itu. Sopir tersebut hanya menjawab bahwa, melaporkan penembak gelap itu adalah kewajibannya sebagai warga negara. Mudah-mudahan masyarakat Indonesia bisa belajar darinya.

Tidak perlu kita hanya bicara penuh retorika, yang penting kita kerjakan dengan penuh tanggung jawab. Marilah kita bangun Pemberdayaan Masyarakat mulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita.

     

 


FastCounter by bCentral