|
 |
|
Serba-serbi
Kisah Kunjungan Ke Tanah Air Ke 36
 |
"Bang
Jeha, bisa engga ente minta balik duit nyang buat bayar
visa entu?," demikian kira-kira tanya seorang prenku
anak Betawi sambil mengirimkan saya berita dari detik.com
berjudul 'RI Berlakukan Lagi Visa Bebas Kunjungan Singkat'.
Di dalam berita tersebut, menimbang melorotnya wisman (wisatawan
manca negara) ke Indonesia dalam tahun 2003, maka Menteri
Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika mencanangkan
kebijaksanaan terbaru tersebut. Sama seperti halnya persiapan
busway dimana kita bisa melihat foto Bang Yos (Gubernur
Sutiyoso) bergelantungan di dalam bus kaya penghuni kebon
binatang, Menkeh HAM Yusril Ihza Mahendra pun sudah mengecek
langsung persiapan di lapangan, baik itu berupa peralatan
maupun sarana lainnya, terutama dari titik-titik pintu masuk
laut dan udara, sehingga program bebas visa (lagi) yang
akan berlaku mulai 1 Pebruari 2004 dapat menelorkan 5 juta
turis sesuai target kebijaksanaan pemerintah ini. Makdirabit
bener emang pren :-). Ooops, cuma urusan duit US$ 100 sahaya
kog jadi terbuai esmotsi ye. Sori rek. Begitulah ulah atau
perilaku pemerintah RI saat ini, kaga 'credible' banget
sehingga menjadi bahan tertawaan maupun gunjingan sedunia.
Kepada para prenku di Toronto yang minggu depan akan ke
Ottawa untuk memberikan masukan bagi Deplu Kanada mengenai
situasi di Indo, saya menggaungkan apa yang banyak disetujui
para pengamat politik di tanah air kita, bahwa Pemilu 2004
tidak akan membawa perubahan apa-apa sebab "aktornya"
yang itu-itu juga. Kalau Anda mempunyai gambar Megawati
di rumah, jangan cepat-cepat dijual dulu ke tukang loak
sebab ada kemungkinan masih laku sehabis pemilu :-). Yang
lebih pasti adalah, rakyat yang sengsara akan tetap saja
demikian, yang tinggal di kolong jembatan sewaktu-waktu
bisa digusur bila ada investor yang mau buka toko disitu
sebab mana ada toko di kolong jembatan Amrik dan Kanada.
"Saya dari Kompas Pak, boleh saya minta keterangan
lagi?," tanya seorang perempuan muda menghampiri saya
di depan Toko Kompak sehabis Bang Jeha Anda ngecap kemarin.
"Oh, oke," tentu kata saya yang umumnya tidak
bisa menolak permintaan perempuan. Lalu ia sedikit mewawancara
saya dengan akibat nama penulis Anda masuk di Kompas edisi
cetak hari ini di bagian Metropolitan. Hanya, mungkin ia
gugup tak pernah mewawancarai anak Kanada, meskipun sudah
saya jelaskan hubungan antara Tio Tek Hong dan saya, isi
beritanya perlu dikoreksi. Saya bukan keturunan langsung
kongco Tek Hong tetapi buyut dari sepupunya yang bernama
Tio Tek San. Juga ia salah, saya pindah ke Kanada mah bukan
tahun 1978 tetapi dua tahun kemudian sebab baru tahun 1980
setelah saya mengajukan permohonan jadi penduduk Kanada,
saya diterima. Tahun 1978 itu saya 'look and see' dikirim
eks cangkulanku ke Toronto dan saya jatuh hati akan kebersihan
dan kenyamanan kota tersebut, yang seperti Betawi di tahun
1950-an :-). Mungkin wartawati tersebut yang kodenya Ko8
lahir di tahun 1978. Itu doang sih koreksinya sebab yang
lainnya yang ia tulis di dalam artikel berjudul 'Plesiran
Tempo Doeloe Kian Diminati' lumayan bagus singkat padat
untuk ditulis seorang wartawati muda seperti dia.
Kebetulan membaca Kompas bagian Metropolitan, terbaca satu
bukti lagi bahwa orang di Indo ini banyak yang sakit psiko.
Ketika pada suatu malam Jum'at pren saya di milis Psikologi,
Mas D menelepon saya, ia sudah mencerahkan saya bahwa psikonya
wong Melayu saat ini banyak dipengaruhi dunia gaib, ilmu
klenik dan segala hal yang supranatural. Isi berita berjudul
'Kolor Ijo Cuma Isu' dan Anda semua yang sekota-Jakarta
saat ini dengan saya, tahu isu apa itu.
Bagi Anda yang di luar batang, konon ada pemerkosa siluman
sebab bisa masuk ke dalam rumah yang hanya memakai kolor
ijo dan eksyen memperkosa perempuan yang disatroninya, agar
ia menjadi semakin sakti. Walah walah, kata koran atau polisi,
dua wanita si Rosadah dan Saripah yang sama-sama tinggal
di Ciputat cuma mau jadi orbek azha, mungkin terpengaruh
segala macam klenik Jum'at Kliwon. Mereka sudah mengarang
dongengan yang tersebar ke semua media massa di Jakarta
ini, termasuk menggores sendiri bahu, paha dan perut mereka.
Si Ipah sudah ngaku ngibul, si Sadah belum tetapi barang
bukti berupa kutang dan kaus yang dikatakannya sebagai dicakar
siluman pemerkosa, tidak meyakinkan bagi mata polisi yang
kelihatannya jeli. Itulah satu contoh psiko wong Indo yang
dibebani segala macam stressors sehingga atau ia terkena
penyakit psiko atau ia berperilaku seperti demikian.
Masih ingat lagi syering saya terakhir ini dimana isteri
saya engga tega banget ketika melihat seorang bapak yang
menggendong anaknya yang cacat dan tidak punya duit buat
bayarin 'infant ticket' ke Surabaya dari Cengkareng? Memang
terjadi pergumulan batin saya meskipun ada beberapa hal
yang engga pas. Pertama-tama, kalau benar ia ke Jakarta
mencari pengobatan, mengapa yang memberikannya tiket tidak
memasukkan anaknya ataupun memberi dia uang sangu sama sekali?
Kedua, infant ticket setahu saya 10% dan bukan 20% seperti
yang di-quote-nya. Ketiga, kalau memang ia 'stranded' seperti
itu, mengapa ia mendekati kami di bagian penumpang yang
sudah masuk gate dan siap terbang, bukannya malah menghubungi
sponsornya di Jakarta, Yayasan Tiberias katanya? Baru hari
ini saya tahu, trims kepada Mas A pren saya di milis Sanbima
yang ternyata pernah bertemu bapak dengan deskripsi saya
dan kena dikadalin. Orang itu sungguh profesionil performance
atau show-nya. Anaknya memelaskan banget dah, tidak ada
lagi yang bisa membuat hati kita trenyuh melihat kondisi
fisik sang anak, dengan latar belakang riwayat hidupnya
yang disyer si bapak (yang kesannya adalah seorang malaikat).
Selain show dia menina-bobokan si anak yang terkadang rewel
dan merengek (jangan-jangan anak itu juga sebetulnya kolega
pemain sandiwara gila itu) ia juga tampak blingsatan tidak
punya makanan untuk anak itu, yang katanya hanya bisa makan
mie pop. Disamperinya satu kiosk penjual makanan dan dilaporkannya
kepada kami bahwa mereka tidak menjual mie pop. Satu hal
lagi yang pro banget, sama sekali ia tidak minta uang atau
mengemukakan p e r l u dibantu.
Jadi metodenya intelektuil, sudah dipikirkan secara psikologis
atau sangat mempermainkan perasaan, hati-nurani dan rasa
belas kasihan kita manusia. Saya sungguh tak heran Mas A
bisa kejeblos, itu sebabnya saya tulis lagi di kisah ini.
Demikianlah prens dinamika hidup di kota Betawi yang keras
ini, penuh dengan segala macam ujian kemanusiaan dan kali
ini saya bisa bersenang hati telah tidak lulus (di Cengkareng
itu) sebab ternyata saya memang menghadapi penipu ulung.
Duh :-(. Semoga Anda tidak terpengaruh oleh ketegaran hati
saya alias bila sampai melakukan "kesalahan" seperti
Mas A, 'it is good to err on the softside of our heart'.
Sekian dulu, sampai berjumpa di kisah berikutnya, bai bai
lam lekom. M (JeHa/IM)
|