Penantian Panjang Pewaris Takhta

PELANTIKAN Lee Hsien Loong sebagai Perdana Menteri (PM) Singapura itu mengakhiri penantian panjangnya sebagai putra mahkota atau pewaris takhta.
Lee Hsien Loong, yang akrab dipanggil BG Lee (kependekan dari Brigadier General Lee), dengan sabar menanti jabatan itu selama hampir 14 tahun. Sejak tahun 1990 ia mendampingi Goh Chok Tong, yang menerima jabatan PM dari Lee Kuan Yew, sebagai wakil PM. Dan, dengan menjadi wakil PM, BG Lee "secara resmi" telah dinobatkan sebagai pewaris takhta.

Bukan itu saja, Goh Chok Tong pun hanya dianggap sebagai PM transisi. Pada waktunya, ia harus menyerahkan jabatan yang diterimanya dari Lee Kuan Yew kepada BG Lee.

Itu pula sebabnya, Lee Kuan Yew dan rakyat Singapura sempat kaget dan khawatir ketika pada tahun 1992 BG Lee divonis menderita penyakit kanker kelenjar getah bening. Namun, setelah menjalani pengobatan, termasuk menjalani kemoterapi, BG Lee dinyatakan telah 100 persen sembuh.

Bagi BG Lee, persoalan terbesar adalah kapan waktu yang dianggap tepat oleh Goh Chok Tong untuk menyerahkan jabatannya kepada dirinya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menunggu. Dalam wawancara khusus dengan surat kabar The Straits Times, 24 Januari 2001, Goh Chok Tong mengungkapkan bahwa penyerahan kekuasaan dari tangannya kepada penggantinya akan berlangsung tahun 2007. "Pada tahun 2007 saya genap berusia 66 tahun. Saya ingin melihat tim yang segar untuk melaksanakan tugas dengan ide-ide yang segar pula," kata Goh Chok Tong saat itu.

Namun, Agustus 2003 Goh Chok Tong menyatakan akan mundur dalam waktu dekat, dan memberikan kesempatan kepada BG Lee. Dalam pidatonya pada Hari Nasional Ke-38 Singapura di Balai Budaya Kampus Kent Ridge, Singapura, Goh Chok Tong mengatakan, "Selama beberapa waktu saya telah meminta masukan dari para menteri dan anggota parlemen mengenai siapa yang harus menggantikan saya. Konsensus mereka ternyata hanya terfokus pada satu nama, Hsien Loong."

Ia juga mengatakan masih banyak warga Singapura mengharapkan dirinya tetap di kursi PM. Akan tetapi, ia sendiri sudah memutuskan untuk memberikan peluang kepada berlangsungnya suksesi, sebelum pemilihan umum (pemilu) tahun 2005.

"Kalian pasti mengharapkan seorang PM yang usianya antara 40 sampai 60-an. Hsien Loong berusia 51 tahun, maka sebaiknya saya segera menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada dirinya saat ia masih muda dan bersemangat," kata Goh Chok Tong saat itu. Goh Chok Tong menerima jabatan PM saat berusia 49 tahun, sedangkan Lee Kuan Yew menduduki jabatan PM pada usia 36 tahun.

Akhir Desember 2003, Goh Chok Tong, seperti dikutip surat kabar The Sunday Times, mengatakan, penyerahan kekuasaan mungkin akan terjadi sebelum pemilu, yang menurut rencana akan diadakan tahun 2007. Bahkan, mungkin tahun 2004 jika kondisi perekonomian sudah pulih, atau pertumbuhan ekonomi mencapai 3 sampai 4 persen.

Tidak akan berubah
Kepastian BG Lee untuk menggantikan Goh Chok Tong itu diperoleh 31 Mei lalu, ketika Partai Aksi Rakyat (PAP) yang berkuasa di Singapura menyetujui penunjukannya.

Dalam wawancara dengan para wartawan Indonesia di ruang kerjanya, pertengahan Februari lalu, Lee Hsien Loong hanya tersenyum ketika ditanyakan kapan ia akan menggantikan PM Goh Chok Tong. Ketika didesak, dengan rileks BG Lee mengatakan, "Bagaimana saya bisa menjawab pertanyaan itu? Seharusnya Anda bertanya kepada PM Goh Chok Tong, dan bukan kepada saya. Sebagai orang yang akan diserahi, tentunya saya hanya bisa menunggu."

BG Lee hanya menjamin tidak akan ada yang berubah dalam kebijakan Pemerintah Singapura jika ia nantinya dipercaya menjadi PM. "Saat ini saya adalah wakil PM, menteri perdagangan dan industri, dan ketua otoritas moneter. Semua kebijakan yang diambil Pemerintah Singapura melibatkan saya," ucapnya.
Namun, lanjut BG Lee, mungkin ada perbedaan di dalam gaya. Ia sempat menyebutkan Singapura perlu mengubah reputasinya sebagai negara yang over-protective, yang segala sesuatunya diatur negara. BG Lee juga diperkirakan akan membawa wajah-wajah baru ke dalam kabinet.

Sebagai pribadi, BG Lee dikenal sebagai orang keras dan agak kurang memiliki sense of humor. Goh Chok Tong, di dalam pidatonya pada Hari Nasional Ke-38 Singapura, mengemukakan, "Tak seorang pun menyangsikan kemampuan Hsien Loong, baik tentang kualitas kepemimpinan maupun komitmen terhadap Singapura. Para pemimpin asing serta investor juga menyenanginya."
"Tetapi, saya juga tidak menutup mata, sebagian di antara kita justru kurang sreg dengan gaya kepemimpinan Hsien Loong. Selama ini citra yang ditampilkannya, sikapnya keras, tanpa pernah bersedia melakukan kompromi tentang masalah apa pun juga. Kata orang, mereka lebih berharap agar ia bersikap sedikit lunak, sebagaimana gaya yang selama ini selalu saya pakai…," kata Goh menambahkan.

Kata-kata itu disampaikan Goh Chok Tong sambil melirik ke arah BG Lee yang duduk di barisan terdepan.

Ia menambahkan, "Loong sendiri menyadari pandangan orang terhadap dirinya. Hal ini secara terbuka selalu kami bahas dalam setiap sidang kabinet."
"Saya lihat sekarang ia sudah berubah, sudah bisa tampil rileks di depan umum. Dalam sebuah diskusi dengan para mahasiswa yang ditayangkan langsung lewat televisi beberapa waktu lalu semua orang melihat perubahannya. Sikapnya mulai terbuka, bersedia menerima saran, dan malah bisa menerima kritik sambil bercanda," papar Goh Chok Tong.

Sudah disiapkan
Dengan dilantiknya Lee Hsien Loong sebagai PM Singapura hari Kamis ini berakhir pula isu pewaris takhta yang selama ini melekat pada dirinya. Saat ia meninggalkan dunia militer pada tahun 1984, dan mulai meniti karier di bidang politik, isu bahwa ia dipersiapkan ayahnya sebagai pewaris takhta mulai muncul ke permukaan. Bahkan dua eks pemimpin PAP langsung menanggapi isu tersebut dengan menentang penunjukan pewaris politik.

Isu bahwa Lee Kuan Yew akan digantikan oleh putra sulungnya semakin lama semakin santer. Apalagi, sama seperti di dunia militer, perjalanan kariernya di dunia politik pun melesat dengan cepat. Pihak yang menentang menyebut upaya menunjuk pewaris politik itu sebagai nepotisme.

Banyak yang percaya bahwa Lee Kuan Yew memang sejak awal mempersiapkan putra sulungnya sebagai calon penggantinya. Akan tetapi, besarnya tentangan dari anggota PAP membuat Lee Kuan Yew menunda prosesnya, dengan mendorong Goh Chok Tong untuk lebih tampil.

Tahun 1985 Goh Chok Tong ditunjuk menjadi wakil PM. Namun, penunjukan Goh Chok Tong itu tidak meredakan isu pewaris politik tersebut.

Pada tahun 1988 BG Lee membantah bahwa ia akan menggantikan ayahnya. Ia mengatakan, Goh Chok Tong yang akan menggantikan ayahnya sebagai PM.
Seiring dengan perjalanan waktu, tentangan bagi BG Lee sebagai pewaris politik Singapura semakin lemah. Bahkan kemudian rakyat Singapura mulai menerima hal itu sebagai bagian dari masa depan mereka.

Lee Hsien Loong lulus dari University of Cambridge pada tahun 1974 dengan peringkat pertama matematika dan diploma di bidang ilmu komputer. Ia juga memperoleh pendidikan politik di Kennedy School of Government, Universitas Harvard.

Tahun 1984, dua tahun setelah istrinya meninggal karena penyakit jantung, Lee Hsien Loong meninggalkan dunia militer dengan pangkat brigadir jenderal. Ia menikah kembali tahun 1985. M (JL/IM)

     

 


FastCounter by bCentral