Nonton Demokrasi Boston
Oleh Ramadan Pohan

GEBYAR proses pemilihan presiden di mana-mana. Di Indonesia ataupun Amerika, sama-sama ketat persaingan antarcapres. Jika di Indonesia head to head presiden bertahan Megawati Soekarnoputri v kandidat penantang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di AS pertarungan George W. Bush v John Kerry. Jika Mega capres dari PDI Perjuangan dan SBY dari Partai Demokrat; Bush dari Partai Republikan dan Kerry dari Partai Demokrat. Mega anak bekas presiden (Soekarno), Bush juga anak presiden yang namanya juga George Bush (minus W).
SBY dan Kerry sama-sama mengusung nama partai yang sama dan sama-sama kandidat penantang yang lagi naik daun pula. Keduanya juga sama-sama meneriakkan perubahan: pergantian kepemimpinan nasional. Gairah baru bercampur dengan ambisi dan keyakinan baru bagi rakyat (voters) masing-masing. Sedangkan Mega dan Bush sama-sama menggalang topik trademark sejenis: Sudah berpengalaman dan sudah terbukti.

Jika dipikir-pikir, sekilas, memang banyak samanya Indonesia dan Amerika. Tapi, jika diamati dalam-dalam, kelihatan sekali kesenjangannya. Terutama dalam konteks demokrasi yang dipertontonkan dua negeri besar ini. Ketika pekan lalu pulang meliput konvensi nasional Partai Demokrat di Boston dan kembali di markas Washington D.C., batin ini gemuruh terus. Maklum, abis baru saja menyaksikan pertunjukan demokrasi dari sebuah parpol mainstream dari sebuah negeri demokrasi modern tertua dan terkuat dunia.
Konvensi Nasional Ke-44 Demokrat di Boston telah menawarkan pelajaran, kehebatan, dan kekuatan cerita demokrasi kepada saya. Ada banyak hal yang bisa dipetik, namun di ruang tulisan terbatas ini saya hanya mengangkat dua hal.

Pertama, soal partisipasi masyarakat. Para delegates (utusan negara-negara bagian dan wilayah-wilayah otoritas AS. Mereka dipilih oleh voters di daerah masing-masing) datang dibiayai asosiasi dan organisasi mereka. Sebagian lagi datang dengan merogoh kocek sendiri. Mereka berkepentingan agar aspirasi dan eksistensi mereka atau kelompok atau komunitas yang diwakilinya didengar dan diakomodasi sang capres atau mesin politik Demokrat. Tak ada cek kosong di situ. Kepentingan capres dan delegates (wakil voters) didialogkan alias dipertemukan.

Kedua, politik tak begitu saja direduksi menjadi bagi-bagi jabatan atau pembagian kue atau penyelamatan ?kursi? orang per orang atau kelompok. Jika sebelumnya para politisi bersaing ketat merebut nominasi capres Demokrat, perseteruan berhenti di konvensi. Howard Dean, Dick Gephardt, Wesley Clark, Joe Lieberman, Dennis Kucinich, dan Al Sharpton dulu rival Kerry. Namun, ketika mayoritas delegates menjatuhkan pilihan kepada Kerry, nama-nama kandidat sebelumnya langsung hilang-mengalah.

Ketika konvensi, mereka datang dan bersama-sama memberi dukungan kepada Kerry, yang notabene mantan pesaing mereka. Mereka berpidato. Masing-masing menyatakan dukungan kepada unggulan terpilih. Semua mengangkat agenda politik penting yang perlu dilakukan Amerika pasca Bush nanti. Mereka yang liberal seperti Kucinich dan Dean bisa bergantian muncul dengan mereka yang garis politiknya berseberangan jauh atau agak ke tengah dan ke kanan seperti Gephardt, Lieberman, dan Clark. "My name is Howard Dean. I am supporting John Kerry," kata Dean.

Nada yang sama keluar dari mulut para mantan pesaing Kerry di atas. Kelihatan di situ, demokrasi mempunyai ruang lebar menampung aneka perbedaan politik. Pun kekalahan bukan berarti tamatnya keyakinan dan aspirasi politik. Kalah hari ini bukan akhir segalanya. Kontes, pemilu, atau apa saja arena kompetisi bukanlah sesuatu yang hidup-mati: Absolut. Perseteruan mempunyai batas tersendiri, dan ia berhenti ketika waktu memintanya untuk stop. Respek, jiwa besar, siap kalah, tanpa sungkan mengakui keunggulan lawan, rela orang lain atau mantan rival sekalipun diberi kesempatan menguasai panggung, bukan hanya berlaku pada politik level konvensi. Di level pilpres Republikan v Demokrat nanti Bush atau Kerry juga bakal melakukan hal sama setelah diketahui pemenang pemilu November nanti. Duh, indahnya nilai-nilai itu.
Apakah Dean, Clark, Kucinich, Sharpton, dll mendapat imbalan jabatan atas dukungan mereka kepada Kerry? Tidak, bung! Apakah "para orang kalah" ini mengharapkan suatu balas-jasa jika Kerry menang nanti? Nggak juga! Anda bisa menyebut koalisi, aliansi, endorsement, atau istilah apa pun secara longgar. Di atas jabatan, kue, kursi, kabinet, dan kekuasaan masih ada yang namanya prinsip, nilai-nilai, ideologi, aspirasi, dan sejenisnya. Moralitas, mentalitas, dan prinsip-prinsiplah yang terpenting dan kemudian menjadi
basis untuk bergerak dan hidupnya demokrasi itu.

Sebagai satu-satunya wakil media tanah air yang meliput konvensi Boston, saya berkali-kali menarik napas dalam-dalam. Ada kontras yang tajam dengan tontonan demokrasi di tanah air sendiri. Walau bertugas di Negeri Paman Sam, laporan media cetak online Indonesia selama ini, bagi saya cukup jadi barometer, indikasi, cermin, atau cerita bobot demokrasi Indonesia lewat pemilihan presiden.

Di sebuah koridor FleetCenter, tempat konvensi, Jesse Jackson, pendeta dan tokoh kulit hitam Amerika yang juga mantan capres, berbincang-bincang dengan beberapa wartawan asing, termasuk saya. Teman dari Eropa ingin tahu alasan Jackson mendukung Kerry, sekaligus kemungkinan Jackson bakal masuk pemerintahan jika Bush sukses ditumbangkan nanti. Jackson menampik. Dia bukan mengejar atau penggila jabatan. Dia malah fasih berbicara tentang kepentingan, aspirasi, komitmen terkait komunitasnya. Baginya, jabatan nyaris tak ada artinya dibandingkan prinsip dan nilai-nilai itu.

Ketika Dean, Kucinich, Clark, dll menyatakan dukungan pada mantan pesaingnya, Anda jangan berpikir bahwa mereka atau orang-orang mereka bakal dapat kursi menteri atau akses sumber ekonomi. Urusan kabinet tetap menjadi urusan presiden terpilih, yang notabene secara moral politik bakal dipertanggungjawabkannya ke publik. Sama halnya terhadap Dean cs yang juga tak ada apa-apanya atau tak bakal punya arti apa-apa tanpa dukungan dan respek dari publik.

Nah, sekarang tengoklah situasi negeri sendiri. Persaingan politik seperti tak punya batas-batas. Enggak para tokoh parpol, enggak para pemuka tertentu agama-agama, enggak LSM atau asosiasi: Sama saja. Sama-sama suka memanipulasi nama rakyat.

Pengejaran jabatan seolah ajang maraton panjang tak berujung. Tak ada istilah kalah atau mengakui keunggulan lawan, kecuali tanpa henti mengeksplorasi atau mencari-cari celah-celah apa pun yang memungkinkan dirinya atau kelompoknya mendapat bagian kue. Jika tidak ditawarkan, ya dipaksa-paksakan supaya terlaksanalah. Makanya, politik Indonesia itu isinya persaingan melulu, kompetisi tiada akhir.

Nilai-nilai, fatsoen, tata krama, moral politik ditenggelamkan hingga ke dasar laut. Di atas permukaan, tanpa malu atau sungkan, para elite mempertontonkan ambisi diri dan kelompok elitenya untuk mendapat jabatan, kue politik, porsi kabinet, uang, atau sumber-sumber kenikmatan apa saja. Kemarin gagal di situ, lalu gagal di sini, sekarang coba lagi di tempat sana atau di pihak mana syahwat politik bisa dijajakan.

Begitulah seterusnya. Barangkali hanya kiamat yang bisa menghentikan mereka. Padahal, demokrasi kini sudah keharusan dan nilai-nilainya pun bisa mulai kita tegakkan: Dari mana saja! M (RP/JP/IM)

     

 


FastCounter by bCentral