|
|
|
Pahami
Anak "Down Syndrome"
 |
HATI ibu mana
yang tidak merasa teriris ketika mendengar dokter yang membantu
kelahiran anaknya mengatakan bahwa sang anak mengalami keterbelakangan
mental. Itulah yang dialami Noni F Wiryanto (39), 13 tahun
lalu, saat melahirkan Zeina Nabila.
SEUSAI melahirkan, Noni tidak tahu betul apa yang sebenarnya
diderita oleh Zeina. Ia hanya diberi tahu jika Zeina mengalami
down syndrome, keterbelakangan mental. Tidak ada informasi
yang jelas untuknya. Saat Zeina berusia dua bulan, Noni
datang ke dokter anak dan tidak mendapatkan penjelasan berarti
hingga ia bertemu dengan dokter anak di RS Harapan Kita,
Jakarta.
Menurut Noni, sangat repot memiliki anak seperti Zeina,
terutama bagaimana menghadapi lingkungan terdekat mereka,
seperti keluarga dan masyarakat di sekitar. Masih banyak
masyarakat yang tidak mengerti apa itu down syndrome dan
cenderung tidak menerima dengan baik anak-anak dengan down
syndrome.
"Saya pernah mengajak Zeina main mandi bola di mal
besar. Lalu datang ibu-ibu dengan anak-anaknya, dan ibu-ibu
berteriak kepada anak-anaknya supaya jangan dekat-dekat
Zeina karena Zeina dianggapnya gila. Padahal Zeina sedang
melempar-lempar bola dengan gembira. Saya trenyuh mendengar
itu. Padahal, kalau di luar negeri, orang dapat menerima
anak-anak down syndrome ini," keluh Noni.
Belum lagi ada tudingan bahwa anak yang lahir dengan cacat
mental dikaitkan dengan faktor keturunan karena orangtuanya
dulu berkelakuan tidak baik, dan saat lahir anaknya baru
kena getahnya. Itu sangat berbeda dengan pandangan masyarakat
Barat.
"Bu Titi yang tinggal di kampung di Bekasi yang anaknya
juga kena down syndrome, kalau anaknya jalan di gang, akan
diteriaki anak-anak kampung: bego..bego...! Benar-benar
menyedihkan. Bu Titi sampai harus memberi pengertian kepada
orang di kampungnya apa itu down syndrome," kata Noni.
Memiliki anak yang menderita down syndrome memang harus
sabar dan tabah. Selain itu juga membutuhkan dana besar
untuk terapi mereka setiap dua kali seminggu. Sekali terapi
harus mengeluarkan dana Rp 25.000. Namun, orangtua yang
memiliki anak down syndrome janganlah putus asa karena bukan
berarti anak-anak itu tidak bisa berprestasi. Ratu Anisah
(8) misalnya, bulan Februari 2004 lalu menjadi juara dunia
melukis di Itali.
PADA seminar hari Sabtu (12/6) yang diselenggarakan oleh
Yayasan Persatuan Orangtua Anak dengan "Down Syndrome"
(POTADS), dr R Anna Thandrajani SpA dari RS Harapan Kita
mengatakan, down syndrome adalah suatu kelainan kromosom
pada kromosom 21, di mana terjadi penambahan jumlah kromosom.
Kromosom manusia ada 22 pasang. Pada mereka yang terkena
down syndrome, kromosom yang ke-21 ada tambahan kromosom,
atau perpindahan kromosom dari tempat lain, sehingga menjadi
kromosom 21 plus yang kita kenal trisomi 21.
Akibat adanya penambahan kromosom, maka akan terjadi gangguan
pada anak. Biasanya gangguan itu pada syaraf, tulang, kulit,
jantung, dan fungsi pencernaan. Pasien down syndrome ini
mempunyai wajah yang khas, misalnya karena ada gangguan
pada pertumbuhan tulang maka tulang dahinya lebih datar,
jembatan mata lebih datar, mata kiri dan mata kanan agak
berjauhan, posisi daun telinganya lebih rendah. Yang jelas,
wajahnya sangat spesifik mongolism dan mengalami retardasi
mental.
Penyebab down syndrome tidak diketahui secara pasti, namun
biasanya anak-anak down syndrome dilahirkan oleh ibu- ibu
yang berusia lebih dari 40 tahun. Sekarang ini, dari data
statistik, kemungkinan anak terkena down syndrome 1:1.100
dari kelahiran hidup. Ini populasi normal.
"Kita tidak mengetahui secara pasti penyebab down syndrome
ini. Bisa saja terjadi pada ibu-ibu yang sudah tua usianya
karena faktor hormonalnya sudah terganggu. Tapi, ini tidak
selalu karena ada juga ibu-ibu yang muda berusia 20 tahunan
yang melahirkan anak-anak down syndrome. Kita juga tidak
pernah tahu kenapa ada kromosom yang loncat atau pindah,
atau ada yang nambah di situ," kata Anna.
Salah satu cara agar tidak lahir anak-anak down syndrome
adalah menghindari kehamilan usia tua. Dulu, 1:700 kelahiran
hidup anak terkena down syndrome, sekarang 1:1.100. Itu
karena adanya tingkat dan pengetahuan yang lebih tinggi
sehingga kasus down syndrome kian jarang.
Anak-anak yang terkena down syndrome sejak lahir sudah dapat
diketahui dari wajahnya. Anak-anak down syndrome pada umumnya
perkembangannya lebih lambat dari anak-anak normal. Yang
jelas IQ mereka di bawah normal, 80-100. Pada anak-anak
normal IQ-nya 90-105. Orangtua anak down syndrome bisa mengakses
website www.potads.com
UNTUK membantu perkembangan anak down syndrome perlu dilakukan
perangsangan visual, pendengaran, dan motorik. Menurut dr
Tri Gunadi dari RS Fatmawati Jakarta, brain gym bisa diterapkan
untuk anak down syndrome. Tujuan brain gym adalah untuk
stimulasi dan relaksasi.
Brain gym merupakan nama serangkaian latihan gerak sederhana
untuk memudahkan kegiatan belajar. Suatu rangkaian kegiatan
yang cepat, menarik, dan dapat meningkatkan semangat saat
beraktivitas. Latihan ini sangat membantu dalam hal belajar
di sekolah dan dalam tuntutan penyesuaian kegiatan sehari-hari.
Latihan-latihan ini adalah inti dari "Educational-Kinesiology".
Pada brain gym akan diajarkan kegiatan yang berhubungan
dengan keseimbangan agar penerapannya menjadi lebih sederhana,
mudah, dan dapat dilakukan secara individu. Brain gym membantu
anak untuk dapat memanfaatkan seluruh potensi belajar alamiah
melalui gerakan dan sentuhan- sentuhan.M (LOK/Kom/IM)
|