|
|
|
Yesus,
Tuhanku
Ketika penulis bekerja sebagai kasir di sebuah pompa bensin,
ada seorang pelangan tetap yang sering mengajak berbincang-bincang.
Orang ini keturunan Filipina dan anggota aktif dari sebuah
gereja. Ia selalu datang sebelum subuh, saat pompa bensin
masih sepi pengunjung. Ia kerapkali mengajak penulis untuk
datang ke gerejanya walaupun tiap kali ditolak dengan halus
karena penulis adalah anggota gereja lain.
Suatu hari ia mengajak berbicara mengenai topik yang langsung
menyerang keyakinan penulis, Apakah benar bahwa Yesus
itu adalah Tuhan?
Sampeyan salah alamat bertanya demikian kepada saya.
Siapa sih saya ini yang bisa menentukan Yesus itu Tuhan
atau bukan. Kalau mau kepastian, nanti kalau sampeyan sudah
mati, tanyao sendiri ke Yesus, jawab saya dengan
santai.
Ya tapi bagaimana dengan keyakinan anda sendiri?
kejarnya lagi. Saya tahu bahwa pertanyaan ini tidak memerlukan
jawaban tetapi terlebih merupakan suatu pancingan yang segera
akan diikuti oleh argumentasi-argumentasi. Persis sama dengan
cara yang dipakai orang Farisi terhadap Yesus.
Yesus itu adalah Tuhan karena memang Ia adalah Tuhan.
Jadi bukan karena menurut saya Ia Tuhan. Jawab saya
dengan tegas.
Tetapi berdasarkan apa saudara berpendapat demikian
? Coba tunjukkan ayatnya ! katanya lagi.
Lho, saya ini cuma seorang kasir, bukan pendeta. Kok
disuruh menunjukkan ayat. Keyakinan saya berdasarkan hati.
Agama itu berdasarkan hati, mas, bukan otak.
Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa Ia bisa dibunuh ? Kala
Ia berdoa, ia berdoa kepada siapa ? Waktu Yesus di dunia,
sorga kosong, karena Tuhan lagi jalan-jalan ke dunia. Dan
Easy, easy, mas. Potong penulis. Saya
nggak pusing orang mau ngomong apa saja mengenai Yesus.
Jangan pikir saya jadi marah karena orang bilang Yesus itu
bukan Tuhan. Wong Yesus saja tidak pernah tersinggung, apalagi
saya. Monggo, silakan saja. Sejak dulu orang suka bilang
yang bukan-bukan mengenai Yesus. Anak haramlah, karena Yusuf
bukan bapaknya. Cuma seorang guru agama, cuma seorang nabi,
bahkan penjahat karena mati disalib dan penghujat Allah
menurut pemimpin agama Yahudi.
Tetapi apa pembelaan saudara terhadap pendapat yang
demikian itu ?
Lho, Yesus itu tidak perlu dibela. Waktu Ia diadili
orang Romawi, Ia tidak perlu pembela. Yesus itu selalu dapat
membela diriNya sendiri. Dan justru saya yang memerlukan
Ia sebagai pembela saya, bukan sebaliknya.
Karena sudah kehabisan akal untuk menjerat saya, akhirnya
ia berkata demikian, Kalau saudara mau lebih mengenal
Yesus, datang ke gereja kami. Gereja kami adalah satu-satunya
yang didirikan oleh Yesus.
Lho, sampeyan kok ngawur sih. Kalau mau lebih mengenal
Yesus, ya datang kepada Yesus. Gereja lain seperti Advent,
Katolik, Pentakosta, Baptis, Presbytarian, Methodist dll
siapa yang mendirikan ? Opo setan ? Jangan ngawur begitu
lho mas. Lagipula jamannya Yesus belum ada gereja. Wong
setelah Yesus naik ke sorga, para rasul dan murid masih
beribadah ke rumah ibadat. Paulus saja mengajar di rumah
ibadat. Piye tokh?
Lalu setelah meneguk teh panas, saya melanjutkan, Begini
mas. Sampeyan salah alamat kalau mau menarik saya ke gereja
sampeyan. Perintah Yesus itu supaya menjadikan semua bangsa
muridKu. Bukan agar menarik orang yang sudah Kristen datang
ke gerejamu. Nah di Amerika ini banyak orang yang tidak
percaya Tuhan. Atau yang Kristen namanya saja, tetapi bukan
perbuatannya. Yang seperti ini lho yang harus diinjili.
Maaf lho, sekarang saya harus siap-siap, karena sebentar
lagi pelanggan berdatangan, kata saya menutup pembicaraan.
Sejak itu ia masih sering datang dan masih sering mengundang
ke gerejanya, tetapi tidak pernah lagi mengajak berdebat
mengenai agama.
(Felix Tjasmadi/IM )
|