|
 |
|
Serba-serbi
Kisah Kunjungan Ke Tanah Air Ke 35
 |
Di salah satu
serial yang lalu, saya mensyer kekagetan saya ketika melihat
dengan mata kepala saya sendiri para mahasiswa/i Fak. Biologi
UI membersihkan masker, kacamata renang mereka dengan shampoo.
Masih mending lach yauw sebab yang mereka polusikan adalah
laut yang luas ataupun paling-paling plankton di sekitar
tempat diving mereka rambutnya jadi pada mengkilap"
:-). Nah, di tepi Danau Batur yang tidak terlalu luas, yang
konon masih ada ikannya untuk dipancing dan menafkahi penduduk,
yang letaknya tidak begitu jauh dari kantor PPA yang saya
lihat ngejogrok, saya syok melihat ibuk-ibuk mencuci baju
mereka memakai detergent, langsung di pinggir danau. Alamak.
Itulah contoh berskala mikro dari perusakan alam yang sedang
terjadi di tanah air kita bersama. Penduduk yang ratusan
juta dan tidak bisa untuk dididik maupun mendidik diri sendiri.
Kalau saya bangun pagi-pagi di villa di Ubud tempat kami
menginap, saya memakai waktu setengah, satu jam untuk mengeker
berjenis burung yang berseliweran ataupun menclok di pohon-pohon
di villa. Yang paling banyak adalah sejenis gelatik sawah,
sori beta tak tahu namanya. Kemudian burung kuning hijau
seperti kolibri, paruhnya panjang. Sesekali burung sebesar
'blue jay' tetapi kehijau-hijauan juga. Masih banyak lagi
jenis burung lainnya yang lalu-lalang. Walah, suatu ketika
saya melihat anak-anak kampung beriringan, yang paling depan
membawa bedil dan keneknya menenteng serenceng burung. Semoga
tidak ada satupun burung langka yang sudah dibedil si entong,
syukur-syukur kalau burung yang mereka tembak mereka makan
alias bukan dijadikan suatu "cabang olahraga"
doang.
Anda pembaca setia dongengan saya tahu bahwa belum lama
ini saya sempat mampir ke bekas lahan WTC di New York yang
sebetulnya cuma seceplikan luasnya. Saking tingginya sang
gedung, maka ribuan orang yang tewas ketika teroris menabrakkan
Boeing 737 ke masing-masing gedung. Saya sengaja lewat Legian,
Kuta untuk melihat situs bekas bom di night club Paddy disitu.
Saya baru sadar bahwa jalanan di depannya sempit alias bukan
jalan raya tetapi jalan a la di kampung. Tidak heran dampak
dari bom mobil di jalanan itu luar biasa. Ketika saya tawarkan
ke isteriku apakah ia mau turun untuk melihat bekas sang
lahan yang kini ditutup, ia ogah. Memang susah sekali untuk
parkir mobil disitu dan juga tak cocok tempat sebising seramai
itu untuk dipakai merenung. Kedua aksi teroris itu, sampai
hari ini masih berdampak ke Bali maupun Lombok dan saya
percaya tempat-tempat turis lainnya di Indonesia. Anda hanya
dapat menyelaminya bila Anda pergi sendiri kesana sebab
apa yang saya dapat tuangkan di dalam tulisan, jauh sekali
dari penderitaan yang harus dialami rakyat yang tidak bersalah.
Bisnis turisme rentan sekali dengan ketidak-stabilan. Orang
gila mana yang mau datang ke suatu tempat, betapapun indahnya,
kalau hatinya tidak tenang atau kuatiran. Kurang lakunya
Lombok terbukti banget ketika saya sepagian mencari paket
ke Senggigi berikut snorkeling/diving di salah satu gilinya.
Saya kunjungi semua biro perjalanan yang sudah mempunyai
nama di Jl. Ngurah Ray Bypass, Denpasar, dan kebetulan semuanya
berdekatan. Dari mulai Vaya Tour sampai ke Smailing sampai
ke Pacto dan satu dua biro tak ternama lainnya, rata-rata
saya harus menunggu sekitar 30 menit per kantor untuk petugas
mereka mencari-cari dokumen-dokumen yang berisikan informasi
tour di Lombok dan lalu memperhitungkan harganya. Karena
punya pengalaman menunggu pesanan makanan sejam di Malioboro,
Yogya, maka saya menjadi sabar sekali :-). Pokoke alon-alon
asal kelakon dan 'time is not money anymore for me anyway'.
Namun demikian, tidak lucu juga kalau waktu sehari di Denpasar
harus saya korbankan hanya untuk mencari paket ke Lombok.
Saya terkesan akan pelayanan Stephen dari Vijaya Tour di
jalanan yang sama. Ia hanya meminta 'requirement' saya,
yang sangat sederhana. Meminta nomor hape saya dan berjanji
akan menghubungi saya secepatnya. Menjelang makan siang,
ketika saya masih jalan-jalan di museum Le Mayeur di Sanur,
kami berkomunikasi per SMS dan saya putuskan untuk memakai
jasa Vijaya Tour. Sekarang saya sudah bisa bersaing dengan
biro perjalanan yang mana saja di atas untuk mencari sendiri
tiket ke Lombok, naik kapal laut Bounty atau montor mabur.
Tahu dimana harus menginap dan berapa biaya-biaya rincinya.
Seperti Anda tahu, dibekali peta digital Amerika Utara buatan
Mikrosop bernama 'Streets & Trips' serta alat bernama
GPS yang dihubungkan ke laptopku, sekarang ini Bang Jeha
atau keneknya muantep sekhalei bermobil kemana-mana baik
di Amrik terutama di Kanada. Dari waktu ke waktu kami tahu
persis kami sedang berada dimana dan harus kemana untuk
mencapai tujuan. Tidak demikian halnya ketika kami di Bali
maupun selama ini bermobilan di Jakarta. Belum ada satupun
pembuat peta digital kota-kota di Indonesia namun kami menemukan
satu peta Bali buatan Periplus yang karena harganya oke,
Rp 165 ribu, mutunya boljug. Berkat jasa peta itu, kepiawaian
kenekku di dalam mencari jalan dan fungsi kompas GPS yang
tetap kami pakai, kami tidak sampai nyasar di dalam bermobil
di Bali. Trayek tersulit yang kami tempuh adalah lewat jalan
kecil dari Ubud untuk 'cross' mencari jalan ke jalan utama
Denpasar-Bedugul, tanpa perlu balik ke Denpasar. Kami tetap
harus bertanya di beberapa persimpangan atau pertigaan,
terkadang untuk mengkonfirmasi peta, supaya frekwensi kami
bertengkar kalau nyasar, maklum pengantin tuwek, berkurang
atau menjadi tiada. Disitulah terasa manfaatnya kemampuan
berbahasa Indonesia yang kami miliki maupun asyiknya berliburan
di tanah air sendiri. Karena baru saja diajak kelilingan
ke Jateng dan Jabar oleh pren saya Oom Gunawan, sahaya dapat
melaporkan bahwa mutu jalan raya di Bali jauh lebih bagus
dari di Jawa, apalagi katimbang route parah Yogya-Bandung.
Tidak ada lubang sebesar kubangan kerbau dan kalaupun ada
lubang, yang jarang kami temukan sebetulnya, barulah terasa
kalau Anda bersepeda melaluinya. Rupanya pencatutan mutu
jalanan oleh para kontraktor tidak terjadi di Pulau Dewata
atau mungkin juga karena tidak banyak truk sebesar alaihim
yang menjadi pemakai jalan sehari-hari disana.
"Bang Jeha, kalau mau lihat atau beli majalah jangan
di Gramedia tetapi di Gunung Agung," kata si Marsel
prenku kutubukuis. Baidewe, kurasa si Marsel lah kolektor
buku karangan Pramoedya terlengkap dimana setiap bukunya
sudah ditandatangani oleh Pak Pram sendiri. Kutidak ngibul
sebab suatu ketika pada saat saya bertandang ke rumah Pak
Pram, saya ajak si Marsel yang lalu mengajak sekoper buku-buku
Pramoedyanya. Entah darimana saja dibelinya sebab beberapa
dari buku itu stensilan alias cetakan "bawah tanah"
:-). Nah, tentu saja saya menghormati kiat atau petuah si
Marsel dan pergilah sahaya dan nyonya, siapa lagi gandenganku
kalau bukan dia, ke (eks taman hiburan ) Lokasari dahulu
Princen Park. "Tahu engga kamu, dulu kalau mau masuk
Princen kita mesti beli karcis," tanya saya kepadanya.
"Ah, mana pernah masuk ke Park doang mesti beli karcis,"
katanya yakin banget. Ya, jelas, ia masih terlalu muda usianya
alias mungkin juga belum 45 tahun sebab tidak pernah mengalami
harus beli karcis masuk ke Lokasari. Disitu memang terletak
toko buku yang namanya juga beken alias antik, Gunung Agung
sebab pada masa saya masih bersekolah di Indo, kesitulah
seringnya saya rileks dan beristirahat. Tepatnya yang di
cabang Gunung Sahari di sebelah Martaco di depan Jl. Gunung
Sari VI. Tak salah lach yauw si Marsel, puluhan ratusan
jenis majalah yang bisa dibeli di Gunung Agung, dari mulai
impor ke lokal, dari yang umum seperti Tempo atau Gatra
ke yang khas-khas seperti Snorkeling dan Diving :-). Setengah
dari majalah lokal, terutama yang bersifat tabloid, memperlihatkan
setengah keindahan ciptaan-Nya alias kaum perempuan, dalam
berbagai pose dan ukuran. Satu dua sudah menjurus ke pornografi
dan tidak heran kalau suatu ketika toko buku Gunung Agung
bisa didemo karena ikutan maksiat :-). Sekian dulu cerita
kali ini sebab saya mau menikmati buku dan majalah yang
saya beli. Sampai kisah mendatang, bai bai lam lekom. M
(JeHa/IM)
|