Militerisme & Premanisme

Cukup menarik, untuk mengikuti perkembangan penilaian dari paham Militerisme yang berkaitan erat dengan sektor preman. Bahkan sektor preman sudah disebut premanisme karena juga sudah menjadi sebuah pengakuan umum dari bagian system kehidupan budaya sosial-politik/-ekonomi bangsa Indonesia sampai saát ini.

Untuk menghadapi tantangan baru dengan adanya kemungkinan SBY- Susilo Bambang Yudhoyono yang ‘tidak’ punya partai pendukungnya, akan memenangkan dan menduduki ‘singgasana’ kepresidenannya pada hasil putaran ke-dua di bulan september mendatang. Sudah sewajarnya bagi para pemerhati Pemilihan Calon Presiden kali ini untuk mengerti penilaian secara teliti dan jernih sehubungan dengan meluasnya perkembangan paham Militerisme-Premanisme sejak era Suharto hingga pada era paska-suharto itu dibagian tertentu sistem kehidupan budaya sosial-politik/ekonomi bangsa Indonesia.

Memang pada kenyataan terakhir ini telah terjadi adanya imbas Militerisme yang telah berintegrasi kearah menyatu di sektor preman. Bahkan sudah merupakan suatu asimilasi monster baru atau sudah menjadi resep improvisasi hidangan makanan yang paling nikmat bagi para penganut paham Militerisme-Premanisme. Dan monster baru itu dengan tanpa tedeng aling-aling tidak memperdulikan apakah resep-improvisasi hidangan makanan tersebut akan juga memberi kenikmatan kesehatan, kesejahteraan dan kenyamanan hidup bagi warga penduduknya?

DJAGO, siapakah dia?
Catatan dalam sejarah perkembangan pergerakan politik di Indonesia dari jaman kolonial Belanda pun sudah pernah ada sejak para penguasa kolonial dan penguasa lokal harus menghadapi kekuatan para DJAGO di Jawa yang dianggap nakal itu tapi sangat disegani oleh rakyatnya yang tinggal di pedesaan. Misalnya, sejak abad ke 19 di Banten para Djago yang disebut Jawara telah mempunyai konotasi negatif dimata penguasa lokal maupun penguasa Kolonial. Mereka ini selalu diawasi, dikejar-kejar dan dipenjarakan oleh penguasa setiap ada keresahan dan huru-hara. Pada umumnya Jawara dianggap oleh penguasa sebagai salah seorang penyulut keonaran. Sedangkan di pihak kaum rakyat pedesaan penggarap lahan tani ataupun perkebunan, yang hidupnya dibebani wajib bayar pajak tinggi berupa hasil panen atau uang oleh penguasa lokal, menganggap Jawara sebagai pahlawannya karena keberpihakannya untuk membebaskan kaum tani yang di tindas dan dihisap oleh penguasa.
Para pelaku kolonial Belanda, yang menduduki dan menjajah daratan Nusantara sejak tahun 1595 atau di abad ke 16, sebenarnya sudah memulai dengan meningkatkan perangkat bangunan kelembagaannya beserta perangkat sarana pendukungnya. Pendekatan yang dilakukannya, yaitu melalui negosiasi dengan cara berkompromi terhadap para ‘Radja’ lokal atau disebut penguasa kerajaan dan penguasa kesultanan di berbagai daratan nusantara ini. Tentu pendekatan tersebut dilakukan dengan sikap dan tindakan kekerasan yang sangat tidak menusiawi. Karena tujuan utamanya adalah demi keamanan dan kenyamanan dalam merampok dan menguras kekayaan alam yang Indonesia miliki itu. Keabsahan untuk bersedia melakukan kekerasan dianggap demi keamanan kesejahteraan hidup sang para penguasa kerajaan lokal beserta para pendukungnya, misalnya antara lain para priayi yang menduduki jabatan pamongprajaan setempat yang dianggap sebagai pengikut loyalisnya. Sementara itu sebagian dari para “Djago” yang dikenal pada jamannya sebagai orang kuat berasal dari keluarga sederhana dan memiliki ilmu silat tinggi. Mereka menganggap dirinya sebagai bagian yang tidak berpihak pada para pengikut loyalis penguasa lokal tersebut. Berdasar Sikap mendukung dan memihak pada kaum tani atau penggarap lahan perkebunan di pedesaan dikarenakan adanya rasa permusuhan yang sebenarnya berupa dendam terhadap pamongpraja dan polisi yang dinilai sebagai penyalur kebudayaan barat yang dianggap kafir. Sehingga berhasillah penyatuan antar para kekuatan lokal yang diwakili club's Radja Lokal yang berasimilasi dengan kekuatan penjajah untuk menghadapi kekuatan para “DJAGO” yang berpihak pada kaum pendukung yang posisinya dirugikan seperti para kyai dan haji yang kharismatis.

Refleksi Militer-Preman ISME abad 20
Dalam catatan perkembangan sejarah sistem kehidupan budaya sosial-politik/-ekonomi mancanegara, juga dialami dan sangat dirasakan oleh penghuni penduduk nya sampai akhir di abad ke 20. Imbas kekerasan dari komplot sektor kekuatan Militer dan Preman dalam kehidupan masyarakat Industrialisasi, yang juga mengalami persoalan kekerasan militerisme, telah melahirkan model kehidupan masyarakat baru era militerisme antara lain Adolf Hitler di Jerman, Musolini di Italia, Franko di Spanyol dengan disebut sebagai kekuasaan pemerintahan rejim Fascisme.

Di Afrika Selatan pun telah dianggap sebagai negara terakhir di abad ke 20 yang mentas dari ikatan dan jeratan kekerasan paham Militerisme dan Premanisme. Yang mana ketika itu dengan bangganya kaum pendukung pemerintahan Apartheid turut mengibarkan bendera kekuatan legitimasinya serta menamakan dirinya sebagai penganut sistim pemerintahan rejim Rasisme. Keberhasilan atas perjuangan anti Apartheid rejim tersebut, tetap menilai untuk lebih keras bekerja guna membersihkan sisa-sisa- elemen pengaruh jangkitan virus dari penyakit kanker paham Rasisme, yang dilaluinya selama ratusan tahunan telah mendominasi tatanan kehidupan manusia di Afrika Selatan.

Abdi Dalem refleksi simbol tradisi Demokrasi?

Tradisi Demokrasi yang pernah dibangun telah mengalami tantangan baru dalam prosesnya. Ini ketika "Nasionalisasi Perusahaan Belanda/ Asing" sejak tahun 1957 dipercayakan pada para penganut "tangan besi dan Parang", yang diwakili oleh a.l Nasution cs. Kepercayaan tersebut dianggap olehnya sebagai keberhasilan guna menggantikan dan menduduki posisi Manajers Perusahaan Nasional. Para Manajers tersebut yang juga memiliki hak autonominya untuk mengelola dan mengatur pelaksasanaan pekerjaannya guna mencapai sasaran. Dengan begitu mereka mendapatkan keleluasaannya, antara lain dalam melakukan tindakan kekerasan. Pengabdiannya juga mendapat pengakuan sebagai salah satu bagian pendukung yang menunjukan sikap loyalitasnya kepada “bapak Revolusi Kemerdekaan”. Biar pun ini juga berarti telah melahirkan embrio kekerasan baru yang menyikapi pada setiap pemunculan konflik sosial di sektor pabrik dan perkebunan. Peranannya sebagai penyanggah “Keamanan Nasional” demi menyelamatkan jiwa semangat Revolusi 1945 juga dianggap berhasil untuk memainkan perananya di sektor pedesaan. Sejak saát itu konflik di berbagai sektor sosial, dalam proses perkembangan demokratisasinya, di isi oleh bermacam ketegangan sosial kehidupan vertikal maupun horizontal antar pro dan kontra atas kepentingannya masing-masing di berbagai sektor Nasional. Dengan begitu para pelaku di sektor militer berhasil mengambil posisi pemegang kartu truf kekuatan Ekonomi-Industri Nasional.

Pencapaian sukses besar di tahun 1965 adalah atas manipulasi politik yang menjadi keabsahan sebagai pengambil alihan kekuasaan politik-militer disambut hangat oleh para pendukung loyalisnya, serta ikut berpesta pora diatas darah rakyat yang dianggap bersalah ataupun tidak terbukti kesalahannya. Para preman loyalis militerisme ikut bersorak ria dan menawarkan dirinya untuk tetap siap setia dan loyal terhadap sang para Bapak-bapak yang menang! Perlu di ingat bahwa karakteristik premanisme secara terbuka berkiprah kekerasan dengan slogan "Asal bapak senang...kalau ada uang, maka ada sayang toh?" Disinilah yang menjadi ukuran loyalitas sang preman sejati.

Laju pembangunan perangkat pendukung militerisme dan premanisme melalui sistim sosial politik ditempatkan sebagai wadah warna moral dan etika paham baru untuk dijadikan tatanan kehidupan baru bangsa Indonesia. Legitimasi ISME baru mendapat sebutan pemerintahan ORDE BARU yang secara hakiki sistim pemerintahannya mengandalkan proses produksi kekerasan fisik maupun siksaan psikologis. Ilmu sulap ála mbah Dukun bagaikan akibat kemujaraban ramuan ilmu sihir di era Soeharto. Dominasi pengaruh kekuasaannya yang dilaluinya selama 32 tahun konon dapat dirambatkan ke dalam periode paska Soeharto karena mempunya makna tautan. Tentu aliran ilmu sulap ála Mbah Dukunnya akan selalu mengalami penyesuaian yang mengandung konotasi kekerasan pada setiap proses perkembangan ISME-nya.

Pengamatan ini tentunya akan tidak terlepas dalam lembaran sejarah proses kemerdekaan dan rakyatnya yang oleh awal ISME ORDE BARU mendominasi warna aspek kehidupan masyarakat bangsa Indonesia hingga saat ini.
Sejak saát itu berbagai bangsa bekas jajahan Kolonial dengan suka rela berganti jubah menjadi bangsa penganut Legalisasi Kekerasan Militer. Contoh di negara Chili, Amerika Latin, pada tahun 1973 akhirnya dibawah paksaan untuk menyusul nasibnya sang Indonesia yang dianggap berhasil dalam mencapai membangun Rejim Militer dan kekuasaan ISMEnya dibawah struktur pemerintahan Birokrasi-Militer. Dan inipun bisa dinilai sebagai sikap pengabdiannya terhadap kepentingan status quo adikuasa mancanegara dalam melahirkan paham Isme-Baru: Militer – Preman di Indonesia.

ISME sebagai budaya kehidupan Global
Ketika kita hidup di Indonesia pada tahun 1965 – 1973 pun, sudah sangat terasa adanya suatu perbedaan yang menegangkan dalam mengalami proses kehidupannya yang tidak menyamankan untuk menghadapi persoalan birokrasi-Militer dari bagan struktur pemerintahan. Sikap pelayanan untuk kemasyarakatan dari tingkat RT (Rukun Tetangga/ Kantor wilayah tingkat kepala desa sub bagian lingkungan daerah, RW (Rukun Warga/ Kantor Wilayah tingkat kepala desa sub bagian lingkungan warga), Lurah (Kantor Wilayah tingkat Kepala desa wilayah sub bagian lingkungan daerah dan warga), Camat (Kantor Wilayah Tingkat Kepala Desa yang membawahi sub-sub RT, RW dan Lurah) dan seterusnya disepanjang mata rantai kepulauan Nusantara. Makna kehidupannya tentu akan menunjukan kesan tindakan yang bersifat untuk mengontrol warganya yang dianggap mengancam kestabilan atas kekuasaannya. Dan hikma dari ilmu ‘uang sulap’ nya pun dijadikan anjang ritual keabsahan untuk menindas para pelaku pelanggaran terhadap Hak Asasi Kemanusiaan.
Disisi lain muncul pula persoalan yang menegangkan untuk menghadapi imbas paham ISME – Baru hasil asimilasi Militerisme dan Premanisme yang mewarnai proses pergerakan politik/-ekonomi di Indonesia. Yang menjadi pertanyaan adalah, “bagaimana arah politik pergerakan politik para pendukung demokratisasi demi menyelamatkan arti kemerdekaan negara dari keterpurukannya?”
Bilamana figur SBY yang bekas Militer itu (pensiunan Letnan Jendral) bisa berhasil dengan gampangnya naik panggung kekuasaan sipil dibawah pemerintahan “Rechtsstaat” (Negara Hukum), apakah itu semua tanpa dukungan ‘gawe’ dari gengnya? Biar pun dia masih tetap dianggap tidak punya atau tidak butuh partai pendukungnya. Jadi, konsekuensi sistim pemerintahannya akan dibawa kemana olehnya? Wallahualam…

La Luta Continua!

     

 


FastCounter by bCentral