Perubahan di Malaysia
Oleh: Sabam Siagian


PERDANA Menteri Abdullah Ahmad Badawi memimpin Malaysia sebagai kepala pemerintah sejak bulan Oktober 2003 lalu. Pertengahan bulan Februari lalu saya ikut bersama sejumlah redaktur media Asia berdiskusi dengan Perdana Menteri Badawi di ibu kota ini.

Tampak benar dalam kunjungan saya kali ini betapa kepemimpinan "Pak Lah" (sebutan popularnya) telah berhasil mengadakan perubahan positif secara keseluruhannya.

Bukan saja dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi (diperkirakan 6,7persen untuk tahun 2004), jumlah wisatawan yang terus meningkat (terutama dari negara-negara Timur Tengah) dan investasi baru yang masuk dalam jumlah besar.

Perubahan yang amat signifikan terjadi di bidang budaya politik (politics culture). Berbicara dengan berbagai kalangan di sini, agaknya mereka sepakat bahwa kepemimpinan Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi dalam waktu belum cukup setahun berhasil menciptakan dasar-dasar budaya politik yang menonjolkan keterbukaan, toleransi dan sikap saling menghargai antar- ras/agama serta memperlihatkan wajah ramah terhadap negara-negara Barat (khususnya Amerika Syarikat) justru karena Malaysia merasa cukup pede.
Budaya politik serbasegar itu tampak benar dalam dua pidato utama yang disampaikan oleh PM Badawi, kebetulan ketika saya berada di sini dalam dua kesempatan yang saling berbeda.

Pidato yang satu diucapkan di depan sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Dewan Gereja-gereja Sedunia (WCC). Wadah kerja sama umat Kristen itu didirikan dalam suatu pertemuan besar di Amsterdam pada tahun 1947. Kantor pusat sekretariatnya berlokasi di Kota Jenewa.

Pidato yang kedua di sampaikan oleh PM Badawi tanggal 4 Agustus lalu kepada para peserta Konferensi Internasional tentang Islam dan umat Muslim di abad ke-21 ("International Conference on Islam and the Muslims in the 21st Century'').

PM Badawi dalam pidatonya hari Selasa, 3 Agustus lalu di depan para peserta konferensi Dewan Gereja-gereja Sedunia menekankan betapa pentingnya sikap moderat bagi pemeluk berbagai agama. Sikap moderat merupakan patokan bagi seorang kepala pemerintahan negra ini supaya perdamaian dan kerukunan tetap terpelihara.

"Sebagai Perdana Menteri Malaysia, saya bukan pemimpin hanya untuk umat Islam saja, tapi pemimpin bagi seluruh bangsa Malaysia", katanya dengan tekanan nada.

Para peserta konferensi berdiri serentak dan tepuk tangan. Beberapa kutipan penting dari pidato PM Badawi tersebut: "Adalah tugas saya bahwa hak seluruh warga Malaysia dilindungi, bahwa mereka bebas melakukan kewajiban agama mereka masing-masing, bahwa mereka tidak merasa terancam karena mereka bukan mayoritas.''

"Adalah tugas saya untuk menyebarluaskan pesan tentang pentingnya sikap toleransi, terutama kepada mayoritas Islam".

Namun menjunjung tinggi sikap toleran dan moderat tidaklah mudah. Banyak benar di antara kita yang melakukan kewajiban imannya secara absolut. Mereka tidak bersedia berkompromi".

"Mereka malahan menyalahtafsirkan prinsip-prinsip agama mereka masing-masing. Dan menandaskan bahwa sikap moderat dan akomodatif harus ditolak.''

Ia mengimbau supaya fatwa yang disampaikan beratus tahun lalu, diteliti ulang dan diperbarui. Menurut PM Badawi: "Dengan pembaruan fatwa, terutama di bidang Kedokteran dan Sain, maka umat Islam dapat tumbuh secara dinamis dan mampu mencapai kemajuan".

"Permasalahan yang dihadapi dunia Islam sebenarnya disebabkan oleh situasi dan kondisi intern juga".

Ia menyebut beberapa faktor penyebab antara lain: "tingkat buta huruf yang tinggi, kurang gizi, hak politik dan hak sebagai warga negara yang belum meluas khususnya di kalangan perempuan". "Perjuangan Umat Islam harus dimulai dengan membereskan urusan rumah tangganya", ditandaskan oleh PM Badawi

Ia kemudian mengemukakan pendapat yang agak berlainan dengan pandangan PM Mahathir Mohamad yang digantikannya. Menurut PM Abdullah, masa depan umat Islam tergantung pada kemampuan bekerja sama dengan berbagai pihak demi kesejahteraan kita semua. "Umat Islam tidak akan mampu maju tanpa bekerja sama dengan pihak lain, termasuk juga dengan dunia Barat. Kita dapat belajar banyak dari mereka.

Kita sudah ketinggalan karena kolonialisme yang beratus tahun, salah urus diri sendiri dan penyelenggaraan pemerintahan yang tidak beres. Kita harus memperkuatkan jembatan kerja sama dan saling pengertian dengan dunia Barat dan pihak lainnya".

Saya tanya kepada seorang rekan, redaktur senior di sebuah terbitan, keturunan Tionghoa yang saya kenal sejak kami sama-sama mengikuti sebuah program di Universitas Harvard 25 tahun lalu, apakah PM Badawi tidak mengambil risiko politik terlalu tinggi dalam waktu begitu singkat? Katanya, "tidak". "PM Badawi seorang realis dan pemimpin pragmatik".

Ia sudah memenangkan pemilu. Ia sadar, Malaysia tidak akan mampu melakukan loncatan kuantum kalau semua kekuatan dalam negeri tidak dapat dipimpin dalam suatu wadah bersama. "Karena itu penting bagi Malaysia bahwa mayoritas Islam Melayu, keturunan Tionghoa dan India, serta Kristen di Sabah dan Sarawak yakin bahwa mereka memang satu nasion", kata rekan itu.
Kalau visi PM Abdullah Ahmad Badawi tentang masa depan negara dan bangsanya mampu terealisasi, maka slogan: "Malaysia truly Asia" akan mengandung makna yang lebih mendalam.

Kita di Indonesia perlu mengikuti secara cermat kepemimpinan PM Badawi serta menggali inspirasi dari pemimpin negara tetanga ini demi masa depan Indonesia. Sabam Siagian

     

 


FastCounter by bCentral