|
|
|
Vitamin
C dan Kemopreventif Kanker
Oleh Albiner Siagian
SUDAH lebih dari dua setengah abad yang lalu (tahun 1747),
saat James Lind, secara ilmiah, membuktikan khasiat air
jeruk untuk penyembuhan skorbut pada 12 pelaut Inggris.
Namun, itu butuh waktu 180 tahun hingga Albert Szent-Gyorgy,
seorang ilmuwan Hongaria, berhasil mengisolasi suatu komponen
dari jeruk, yang kemudian disebut asam askorbat. Selanjutnya,
asam askorbat lebih dikenal sebagai vitamin C. Karena penemuannya
itu, Szent-Gyorgy memperoleh hadiah Nobel pada tahun 1936.
Sejak itu, vitamin C menarik banyak perhatian para ahli.
Berbagai penelitian kemudian mengungkapkan peran vitamin
C, misalnya pada peningkatan daya tahan tubuh, penanganan
katarak, diabetes melitus, keracunan timbel, dan pencegahan
penyakit kardiovaskular. Penelitian terbaru juga menunjukkan
peran vitamin C pada pencegahan kanker (kemopreventif).
Namun, hingga saat ini, peran vitamin C pada pencegahan
kanker masih diperdebatkan. Lee dan kawan-kawan, melalui
publikasinya pada majalah ilmiah Science tahun 2001, menyatakan
asupan vitamin C sebanyak 200 mg/hari dapat menginduksi
penguraian lipid hidroperoksidase menjadi genotoksin endogen
(suatu racun di dalam tubuh yang dapat merusak molekul DNA:
mutasi, tumor, atau neoplasma). Akan tetapi, penilaian Lee
dan kawan-kawan hanya didasarkan pada reaksi kimia in vitro
(reaksi kimia di dalam tabung yang dirancang seolah-olah
berlangsung pada sel atau jaringan hidup). Itu pun dengan
konsentrasi lipid hidroperoksida sebesar 400 mmol/L, suatu
angka yang tidak relevan karena konsentrasi lipid hidroperoksida
di dalam darah manusia hanya berkisar antara 10-500 nmol/L.
Lagi pula, tubuh manusia memiliki antioksidan endogen dan
enzim antioksidan yang dapat meredam efek negatif vitamin
C.
Selain itu, vitamin C mampu meregenerasi vitamin Eæsuatu
antioksidan pentingædari radikal-a-tokoferol, yang
terbentuk dari proses penghambatan peroksidasi lipid oleh
vitamin E.
Pada tahun 1998, Podmore dan kawan-kawan, melalui surat
ilmiahnya ke jurnal Nature, menyatakan suplementasi vitamin
C sebanyak 500 mg/ hari dapat menimbulkan efek proksidan
(mendorong oksidasi) dan mutasi DNA. Akan tetapi, penelitian
lain menunjukkan bahwa vitamin C memiliki sifat protektif
terhadap kerusakan DNA. Bahkan, konsumsi vitamin C sebanyak
5000 mg tidak menimbulkan kanker atau merusak DNA.
Fakta epidemiologis menunjukkan, asupan buah dan sayuran
yang kaya vitamin C dan konsentrasi vitamin C serum berkorelasi
negatif dengan risiko kanker. Pada tahun 1997, panel ahli
pada World Cancer Research Fund and the American Institute
for Cancer Research memperkirakan, vitamin C dapat mengurangi
risiko kanker lambung, mulut, kerongkongan, paru, pankreas,
dan leher rahim. Secara umum, pengujian in vitro, in vivo,
dan penelitian berbasis populasi tidak mengindikasikan bahwa
asupan vitamin C dosis tinggi berkaitan dengan meningkatnya
risiko kanker.
Mekanisme Kemopreventif
Walaupun telah diketahui vitamin C dapat merangsang fungsi
kekebalan, menghambat pembentukan nitrosamin (pemicu kanker),
atau memblokir aktivasi metabolik karsinogen, pencegahannya
pada kanker berkaitan dengan efek perlindungannya terhadap
tekanan oksidatif (oxidative stress). Di sini, vitamin C
bertindak sebagai antioksidan yang melindungi DNA dari serangan
radikal bebas.
Mekanisme kemopreventif kedua adalah aktivitas antiperadangan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kanker lambung diakibatkan
oleh peradangan kronis. Proses peradangan akibat oksigen
perantara reaktif (suatu pengoksidasi) merupakan sasaran
vitamin C. Vitamin C mengurangi proses peradangan. Peran
vitamin C untuk mencegah kanker lambung juga dilakukan dengan
'menangkapi' radikal oksidatif dari mukosa lambung.
Komunikasi antarsel penting untuk memelihara keseimbangan
homeostatis antarsel. Hambatan komunikasi antarsel berkaitan
erat dengan proses karsinogenik, terutama perkembangan tumor.
Hidrogen proksida, suatu pemicu kanker yang paling dikenal,
diketahui juga menghambat komunikasi antarsel ini. Di sini
jugalah vitamin C memunculkan efek kemopreventifnya. Vitamin
C mencegah hidrogen peroksida mengganggu atau menghambat
komunikasi antarsel.
Oleh karena itu, efek kemopreventif vitamin C terhadap kanker
berlangsung melalui pelindungannya terhadap mekanisme epigenetic.
(Epigenetic adalah mekanisme yang meliputi pembentukan morfogenesis
fenotip yang kompleks yang berakibat, salah satunya, pada
penggandaan sel secara cepat.)
Melalui peran antioksidannya, vitamin C membersihkan atau
melumpuhkan radikal bebas. Sementara itu, sebagai antiperadangan
dan pemelihara komunikasi antarsel, vitamin C mencegah inisiasi
dan perkembangan sel tumor.
Alami versus Suplemen
Jika efek kemopreventif vitamin C tunggal (suplemen) masih
diperdebatkan, tidak demikian halnya dengan vitamin C dari
makanan (alami). Penurunan risiko kanker lebih diakibatkan
oleh pangan yang kaya antioksidan daripada oleh antioksidan
tunggal. Hal ini menyiratkan efek kemopreventif buah dan
sayuran berasal dari kombinasi ganda dari berbagai komponen
aktifæsenyawa fenolik, vitamin, serat, indol, alium,
dan seleniumæyang terdapat pada buah dan sayuran.
Sebagai contoh, manfaat apel pada penghambatan karsonogenesis
bukan karena vitamin C semata, tetapi sinerginya dengan
senyawa fenolik pada apel.
Walaupun menghindari paparan karsinogenik merupakan strategi
yang baik untuk mencegah kanker, dewasa ini, hidup tanpa
terpapar berbagai faktor pencetus kanker tidaklah mungkin.
Meningkatnya tekanan oksidatif, seperti pencemaran udara,
air, dan tanah, adalah beberapa di antara penyebabnya. Selanjutnya,
karena perkembangan tumor dan kanker berkaitan erat dengan
proses oksidasi dan peradangan, maka mengonsumsi pangan
yang kaya antioksidan merupakan cara yang efektif mencegah
kanker. Oleh karena itu, anjuran mengonsumsi 5 jenis buah
atau sayuran per hari-yang diperkirakan dapat menyumbang
vitamin C sebanyak 200-300 mg-makin relevan saat ini.* M
(AS/SP/IM) Penulis adalah Pengajar pada Bagian Gizi FKM
USU, peserta program doktor bidang Gizi Masyarakat IPB.
|