|
 |
|
PENGUSAHA
TIONGHOA SAMPAIKAN ASPIRASI KEPADA MEGAWATI
Dilaporkan oleh: Dr.Irawan
 |
Dr.
Irawan & Presiden Megawati |
Jakarta, August 10, 2004/ Indonesia Media - Lebih dari 2
bus pariwisata yang ditumpangi para pengusaha Tionghoa papan
atas datang dari berbagai daerah di Indonesia ngluruk di
Istana Merdeka, Jakarta, Selasa siang itu.
Para pengusaha yang
dipandu oleh Murdaya Poo, suami dari Hartati Murdaya, menyampaikan
aspirasi yang sekaligus merupakan saran dan kritik bagi
Presiden Mega, dan tentunya juga untuk pemerintahan dan
Presiden yang akan terpilih nantinya pada pemilihan Presiden
putaran ke-II.
 |
Murdaya
Poo |
Pada dasarnya
ada beberapa point yang disampaikan oleh para pengusaha
itu, yakni:
- Penghapusan tindakan diskriminasi terhadap suku Tionghoa
dalam segala bidang, termasuk dalam bidang pendidikan, penerimaan
tenaga dokter specialist, penerimaan dalam aparatur negara,
sipil, maupun militer, termasuk kenaikan pangkat,perizinan,
dan sebagainya.
- SBKRI walaupun sudah dicabut pemberlakuannya, (Tercatat
3 Presiden RI sudah mengeluarkan Kepres untuk tidak mengharuskan
etnis Tionghoa memiliki SBKRI, cukup dengan akte lahir dan
KTP sebagai bukti kewarganegaraan. Presiden Soeharto dengan
Kep. No 56/96, Habibie dengan Inpres 26/1998 dan Megawati
dengan Inpres 4/99) ternyata masih saja terjadi pemerasan
dengan dalih SBKRI kepada suku Tionghoa diberbagai daerah.
Pada kesempatan itu diserahkan bukti kasus pembangkangan
aparat terhadap keputusan penghapusan SBKRI tersebut. Dalam
hal ini Ibu Mega berjanji akan mengambil tindakan terhadap
oknum aparat tersebut. Ibu Mega sendiri mengakui selama
ini beliau sudah menangani 3 kasus SBKRI dari para Olah
ragawan yang berprestasi bagi kepentingan nasional.
 |
Ir.
Ciputra |
-Pengenaan
bea masuk yang tidak masuk akal pada bahan mentah juga tak
luput dari laporan para importir dan exportir, serta pelaku
manufacture. pasalnya adalah bagaimana kita bisa bersaing
keluar kalau bea masuk bahan mentah melebihi harga dari
produk akhirnya.
-Para pengusaha juga mengeluhkan tentang betapa sulitnya
mereka harus menanggung hambatan-demi hambatan yang akhirnya
menyebabkan biaya produksi yang tinggi. Kalau pengusaha
Tionghoa yang notabene sebagai investor lokal saja sulit,
bagaimana kita bisa membuat daya tarik kepada investor luar?
-Pengusaha pertextilan dari Jawa Barat juga tidak ketinggalan
menyampaikan uneg-uneg-nya. Mereka menghimbau kepada menteri
tenaga kerja dan aparat terkait agar jangan mempersulit
pengusaha lagi dengan peraturan PHK menyusul keterpurukan
bisnis pertextilan di Indonesia.
-Masalah istilah Cina -Tionghoa kembali mencuat, agaknya
istilah ini sudah merupakan tuntutan umum bagi semua kalangan,
baik dari Tionghoa maupun non Tionghoa. Ibu Mega sendiri
menyatakan bahwa selama ini beliau selalu menggunakan istilah
Tionghoa, Tiongkok, dan RRT. Istilah ini selalu digunakan
dalam keluarga the Founding Father, Bung Karno, beliau menyarankan
agar tidak menjadi rancu, dari pihak China sendiri juga
harus mengubahnya, karena China dan Cina dalam ejaan Indonesia
memang sangat dekat bunyinya. Ibu Mega sendiri menyadari
bahwa istilah Cina dan Tionghoa mempunyai arti penting sekali
bagi kalangan Tionghoa, karena yang pertama tadi mengandung
unsur penghinaan menyusul memburuknya hubungan diplomatik
RRT dan RI setelah 1965. Ibu Mega menambahkan bahwa Bung
Karno semasa itu memang tidak setuju dengan pemutusan hubungan
RRT- RI pada saat itu.
-Para pengusaha Tionghoa itu juga menyampaikan terimakasih
atas kinerja dari pemerintahan Megawati selama ini, namun
mereka merasa kemajuan akan berjalan lebih cepat apabila
kepastian hukum, penghapusan diskriminasi, dan pemberantasan
korupsi, bisa dilakukan secara simultan. Mereka (pengusaha
Tionghoa) lahir, besar dan mati di Indonesia dari generasi
ke generasi, mereka adalah bangsa Indonesia dan mereka ingin
bersama membangun Indonesia, berilah iklim yang sejuk bagi
mereka agar dapat membangun kembali ekonomi Indonesia, demikianlah
inti dari pidato Pak Murdaya Poo.
|