|
|
|
Hanya
2 Polisi Yang Tidak Bisa Disuap; Polisi Hoegeng dan Polisi
Tidur
Pak Hoegeng dalam Kenangan
Oleh Chris Siner Key Timu
 |
Bangsa, masyarakat,
dan negara kehilangan seorang tokoh panutan, seorang yang
senantiasa hidup dalam kejujuran, sekaligus sebagai simbol
bagi kejujuran yang hidup. Almarhum bukan hanya menjadi
simbol kejujuran bagi kepolisian, tetapi juga bagi seluruh
jajaran birokrasi, bahkan simbol kejujuran bagi seluruh
masyarakat.
Pak Hoegeng berhenti dari jabatan Kepala Kepolisian Negara
Republik Indonesia (Polri) sebelum selesai masa jabatan
yang seharusnya berlangsung tiga tahun. Diberhentikan oleh
Presiden Soeharto di tahun 1970 karena Pak Hoegeng jujur
dan konsisten dalam melakukan kewajibannya sebagai polisi.
Seperti yang diceritakan oleh almarhum kepada rekan- rekannya
di Kelompok Kerja Petisi Lima Puluh, bermula dari rencananya
untuk menangkap seorang penyelundup besar, yang datanya
di Mabes Polri sudah memadai untuk ditahan. Hanya karena
sang penyelundup tersebut diketahui punya backing dari Cendana,
almarhum ingin menyampaikan penangkapan tersebut kepada
Presiden Soeharto.
Yang membuatnya kaget adalah ketika Pak Hoegeng sampai di
Cendana, orang yang direncanakan akan ditangkap oleh kepolisian
itu ternyata sedang berbincang- bincang dengan Soeharto.
Seperti yang dikatakannya, sejak itu Pak Hoegeng sekuku
hitam pun tidak percaya lagi kepada Soeharto.
Rupanya peristiwa itulah yang mempercepat pemberhentiannya
sebagai Kepala Polri oleh Presiden Soeharto. Alasan yang
dikemukakan oleh Soeharto adalah untuk regenerasi. Namun,
yang kemudian membuat Pak Hoegeng merasa aneh ialah ketika
menanyakan siapa yang akan menggantikannya, Soeharto mengatakan
Mohammad Hassan. Secara spontan Pak Hoegeng mengatakan kepada
Soeharto bahwa usia Mohammad Hassan lebih tua darinya, hanya
untuk menunjukkan bahwa alasan regenerasi itu hanyalah dibuat-buat.
Alasan sesungguhnya adalah Soeharto ingin menyingkirkan
seorang Kepala Polri yang jujur.
 |
Setelah berhenti
sebagai Kepala Polri, Pak Hoegeng kembali ke tengah masyarakat.
Tawaran untuk menjadi duta besar di salah satu negara Eropa
ditolaknya secara halus, dengan kata-kata dia tak mampu
berbasa-basi, salah satu "keterampilan" yang perlu
dimiliki oleh seorang duta besar. Padahal, sudah menjadi
kebiasaan di zaman Orde Baru, seseorang yang berhenti dari
jabatan tinggi ditawarkan untuk menjadi duta besar atau
presiden komisaris salah satu perusahaan negara.
Guna mengisi kesibukan dalam masa pensiun, Pak Hoegeng menyalurkan
hobi menyanyinya di TVRI melalui kelompok Hawaian Seniors.
Namun, dalam perjalanan waktu, hobi ini pun harus dihentikan
karena ada larangan dari yang berwenang. Alasan yang melatarbelakangi
adalah karena sejak Juni 1978 Pak Hoegeng bergabung dalam
Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (LKB) yang didirikan atas
inisiatif AH Nasution dengan penasihat proklamator dan wakil
presiden pertama RI, Mohammad Hatta.
LKB didirikan sebagai salah satu usaha untuk melakukan pengawasan
dan koreksi terhadap penyelenggaraan negara dan kekuasaan
pemerintahan atas dasar konstitusi.
Sejak itu sampai akhir hayatnya Pak Hoegeng harus meninggalkan
hobi itu, apalagi sejak Mei 1980 Pak Hoegeng bergabung dalam
kelompok lima puluh warganegara RI yang menandatangani "Pernyataan
Keprihatinan" terhadap cara
penyelenggaraan negara dan kekuasaan pemerintahan Soeharto,
yang kemudian populer sebagai "Petisi Lima Puluh".
Ikut menandatangani Pernyataan Keprihatinan antara lain
Mohammad Natsir, AH Nasution, Syafruddin Prawiranegara,
H Ali Sadikin, Burhanuddin Harahap, SK Trimurti, Manai Sophian,
Ny D Wallandouw. Juga dari kalangan yang lebih muda usia
seperti mantan aktivis dewan mahasiswa dan organisasi ekstrauniversitas.
Sejak itu, Pak Hoegeng terlibat aktif dalam "Kelompok
Kerja Petisi Lima Puluh", yaitu suatu lembaga kajian
tentang masalah kehidupan bangsa dan negara yang didirikan
Yayasan LKB. Pertemuan mingguan Kelompok Kerja Petisi Lima
Puluh berlangsung di kediaman Ali Sadikin, yang juga masuk
dalam Kelompok Kerja
Petisi Lima Puluh, di Jalan Borobudur 2, Jakarta Pusat.
 |
Sebagai anggota
Kelompok Kerja Petisi Lima Puluh, Pak Hoegeng selama mengikuti
pertemuan mingguan dengan penuh kesungguhan. Dalam pertemuan
tidak banyak bicara, tetapi jika sudah ada kesepakatan atas
suatu keputusan dan jika harus ikut menandatangani sesuatu
pernyataan atau memorandum tentang keadaan bangsa dan negara,
Pak Hoegeng tanpa komentar menandatanganinya.
Pak Hoegeng selalu disiplin dalam waktu. Kebiasaan beliau
adalah datang paling pertama ke tempat pertemuan mendahului
yang lain. Tidak jarang jika tidak ada mobil yang mengantarkan
ke tempat pertemuan, Pak Hoegeng datang
dari rumahnya di Jalan Prof Moh Yamin ke Jalan Borobudur
dengan menggunakan bajaj.
Sampai akhir hayatnya, Pak Hoegeng masih tetap sebagai anggota
Kelompok Kerja Petisi Lima Puluh, kendati karena kesehatannya
Pak Hoegeng jarang mengikuti pertemuan selama dua tahun
terakhir.
Banyak hal yang dituturkan Pak Hoegeng pada kawan-kawan
di Kelompok Kerja Petisi Lima Puluh sangat berkesan dan
patut untuk disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya
untuk generasi muda, terutama dalam upaya untuk menumbuhkan
nilai-nilai kejujuran, keadilan, serta dalam upaya membangun
suatu pemerintahan yang bersih, bebas dari korupsi dan penyalahgunaan
kekuasaan.
Ketika Presiden Soekarno menunjuk Pak Hoegeng menjadi Direktur
Jenderal (Dirjen) Imigrasi, sehari sebelum pelantikannya
Pak Hoegeng meminta Ibu Merry (istri Pak Hoegeng) untuk
menutup toko kembang, usaha ibu Merry di
Jalan Cikini untuk menambah pendapatan sehari-hari. Alasannya,
karena keesokan harinya akan dilantik menjadi Dirjen Imigrasi.
Ketika ibu Merry menanyakan apa hubungan antara jabatan
Dirjen Imigrasi dan toko kembangnya, Pak Hoegeng menjawab
singkat, "Nanti semua yang berurusan dengan imigrasi
akan memesan kembang pada toko kembang Ibu Merry dan ini
tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya." Ibu Merry
pun memahami dan menutup toko kembangnya.
Karena dikaryakan dari kepolisian ke Imigrasi, Pak Hoegeng
membawa juga sebuah mobil jip dinas untuk tugasnya nanti
sebagai Dirjen Imigrasi. Ketika Sekretariat Negara (Setneg)
memberinya lagi satu mobil dinas, Pak Hoegeng
menolak dengan alasan dia hanya membutuhkan satu mobil dinas
untuk tugasnya, dan jip yang dia bawa dari kepolisian adalah
juga milik negara sehingga itu sudah cukup baginya.
Ketika menjadi Menteri Iuran Negara, oleh Sekneg diminta
untuk pindah dari rumah di Jalan Prof Moh Yamin ke rumah
yang berlokasi di Jalan Protokol, juga ditolak Pak Hoegeng
dengan alasan rumah yang ditempatinya sudah cukup
representatif dan negara tidak perlu lagi mengeluarkan biaya
untuknya. Katanya, sebagai Menteri Iuran Negara dia bertugas
mencari uang untuk negara, bukan sebaliknya, menghabiskan
uang negara untuk rumah dan fasilitas
yang bukan-bukan.
Pengabdian yang penuh dari Pak Hoegeng tentu membawa konsekuensi
bagi hidupnya sehari-hari. Pernah dituturkannya sekali waktu,
setelah berhenti dari Kepala Polri dan pensiunnya masih
diproses, suatu waktu dia tidak tahu apa yang masih dapat
dimakan oleh keluarga karena di rumah sudah kehabisan beras.
Di pagi keesokan harinya ternyata ada yang mengantarkan
beras dan kebutuhan lain ke rumahnya. Ternyata itu adalah
kiriman dari almarhumah ibu Nani Sadikin, istri Pak H Ali
Sadikin.
Itulah sekadar beberapa catatan kenangan untuk Pak Hoegeng
yang baru saja meninggalkan kita. Seorang yang hidupnya
senantiasa jujur, seorang yang menjadi simbol bagi hidup
jujur, dan simbol bagi kejujuran yang hidup. Ada guyonan
di masyarakat tentang kejujuran seorang Hoegeng bahwa hanya
ada dua polisi yang tidak bisa disuap, yaitu Polisi Hoegeng
dan polisi tidur.
Selamat jalan Pak Hoegeng. Contoh hidupmu tidak akan sia-sia.
|