|
|
|
Serba-serbi
Kisah Kunjungan Ke Tanah Air Ke 34
 |
Saya memang
sudah mempunyai firasat bahwa keputusan saya untuk pensiun
dini adalah sesuatu yang salah, terlalu lambat alias mestinya
dari dulu-dulu. Baru kemarin saya tahu persis saya terlambat
8 tahun. Begini ceritanya. Saking kesengsemnya isteri saya
dengan pemandangan di bawah air di sekitar Gili Air, Lombok,
ketika kutawarkan apakah ia mau belajar scuba-diving, ia
manggut. Kusamperi 'dive shop' di hotel Holiday Inn tempat
kami menginap selama 3 malam terakhir itu. Instrukturnya
konon dari PADI, suatu asosiasi guru diving internasional,
sebab tarifnya juga meyakinkan. Seratus tujuh puluh lima
US dollar untuk kursus bersertifikat dengan 2 kali diving
trip. "Bagaimana kalau ternyata isteri saya tidak bisa
'clearing' Mas?," suatu prosedur para penyelam untuk
menyesuaikan tekanan air di gendang telinga. "Oh, kami
bisa memberikan pelajaran perkenalan secara cuma-cuma Pak,"
kata si Mas yang rupanya mengendus bahwa saya orangnya hemat
:-). "Oke kalu begitu," kata saya membuat janji
dengannya. "Berapa umur isteri Bapak?," tanyanya.
Dari tanya-jawab selanjutnya saya jadi sadar bahwa Cecilia
sudah ketuaan 8 tahun untuk jadi penyelam tidak berisiko.
Kalau saja saya tidak dengan mantepnya ngibul bahwa ia baru
berusia 45 tahun, ia harus menanda-tangani cem-macem formulir
dimana ia suwer tidak mengidap berbagai penyakit aneh aneh,
buat orang muda tentunya. Ya, ABG mana yang sudah rematikan
atau mengidap darah tinggi? Alhasil, bojoku sekarang sudah
bisa berscuba-diving, sayangnya cuma atau baru di kolam
renang.
Nah prens sadayana, saya mengawali kisah lanjutan serial
ini dengan cerita yang paling menarik hati kami berdua sebagai
pencinta alam, Lombok yang masih asri. Meskipun sedikit
sedih, sekali lagi sudah ketuaan sehingga tidak akan mampu
mendaki Gunung Rinjani, yang konon sekitar 3700 meteran
alias gunung tertinggi di Indo (diluar Papua tentunya),
kami sungguh bersyukur kepada Tuhan akan anugerahNya bagi
kami di trip ke Bali, terutama yang ke Lombok. Pemandangan
lautnya luar biasa, jenis ikannya bukan main banyaknya.
Masih ditambah dengan adanya kura-kura yang ikut menyelam
bersama kami dan satu dua ular laut plus mooray eel. Kalau
saja saya belum membayar lunas ongkos 3 malam di hotel,
tentulah kami sudah boyongan nginap di Gili Air saja supaya
bisa terus menerus turun lagi ke laut. Anda prenku senegara
saat ini, Kanada yang tak kalah indahnya dengan Indonesia,
apakah pernah ke pulau Cape Breton di Nova Scotia dan menjalani
apa yang namanya Cabot Trail? Bagus ya pemandangannya. Perjalanan
atau pemandangan dari pantai Senggigi menyusuri lamping
perbukitan ke arah Gili Air, tepatnya menuju Teluk Nare,
tidak kalah mencekamnya. Mirip dengan kalau bermobil dari
Vancouver ke Whistler hanya ongkosnya seperseratusnya :-).
Saya belum pernah melihat pemandangan sebagus itu di Bali,
yang paling oke saat ini mungkin hanyalah di sekitar Kintamani
tapi tidak se'breath-taking' seperti daerah Mangsit itu,
sampai-sampai konon Hilton akan mendirikan hotel di daerah
tersebut. Sayangnya isteri saya kembali sudah ketuaan sehingga
ketika kemarin kami bersepeda berdua, ia tidak mau diajak
ke utara ke daerah perbukitan itu, hanya ke arah selatan
menuju pusat kota Senggigi.
Satu hal yang tidak bisa terlewatkan untuk ditulis mengenai
Lombok maupun Bali adalah jelas dan nyatanya dampak terorisme
terhadap dunia turisme di Indo, maupun terhadap rakyat yang
sumber nafkahnya dari bisnis tersebut. Semua orang yang
kami tanyai, dari mulai karyawan/wati hotel sampai ke tour
guide sampai ke pelayan pemilik restoran mencanangkan bahwa
sumber malapetaka mereka, lesunya turisme, adalah bom Bali
ditambah dengan WTC sebelumnya. Khusus untuk Lombok kerusuhan
a la Ambon (baca: penghancuran gereja dan pembakaran rumah)
di kota Mataram di tahun 2000. Tamu di hotel Holiday Inn
dapat kami hitung dengan jari tangan, paling banter 20 kamar
diinapi kata orang hotel. Mobil yang menjemput kami maupun
tour guide kami, eksklusif bagi kami berdua doang, padahal
tour operator-nya yang terbesar di Lombok, Bidy Tour. Yang
mengenaskan sekaligus menjengkelkan tentunya, para penjaja
segala macam barang yang ngotot minta kami beli sehingga
mengikuti kami terus sebagai bayangan saja layaknya. Sangat
dimengerti sehingga isteriku yang hatinya tidak setegar
saya, sering jadi syoping hanya untuk bisa membantu kelompok
yang terpuruk karena kegilaan sementara manusia. Itulah
sisi yang kelam dari dunia turisme di Indonesia saat ini,
ditambah kebegoannya cem-macem "kebijaksanaan"
pemerintah sebagai salah satu pengacau dunia turisme.
Keuntungan kami menjadi turis di tanah air serba murmer
ini adalah karena penghasilan maupun referensi kami yang
ada dalam dollar (euro ketika kami terakhir jadi turis di
Eropa). Ambil satu contoh, makan malam kami berupa pasta
oke punya di resto hotel. Dengan minuman dan appetizer-nya,
total rekening kami cuma Cdn $ 20-an per orang alias itu
mah seporsi pasta doang di salah satu resto pasta favorit
kami, Hot House di downtown Toronto dekat St. Lawrence Market.
Referensi biaya snorkeling kami adalah US $ 80 per orang
ke pulau St. Lucia di Caribbean Islands padahal trip kami
ke Gili Air tidak sampai Rp 200 ribu per orangnya atau kurang
dari US $ 25 plus makan siang. Total ongkos tour ke Lombok
pun serba murah. Karcis kapal terbang Denpasar-Mataram pp
naik Merpati Fokker F27 kuno tapi engga pake jato, plus
3 malam di Holiday Inn bintang 4, plus makan pagi sakenyangnya,
ditambah trip diving snorkeling ke Gili Air, tidak sampai
1,2 juta rupiah. Bila dikurs ke dalam US dollar, tidak sampai
150-an padahal terakhir bulan Agustus lalu saya nginap di
Sheraton LaGuardia di NYC, hampir 200 $ semalamnya. Letak
hotel itu di Flushing di subway station terujung dan bintangnya
kalah banyak dibanding si Holiday Inn. Tidak salah memang
pilihan Bang Jeha Anda untuk membelanjakan gaji pensiunannya
di tanah airnya yang serba murmer :-).
Seperti saya katakan Oom Han itu sayang banget kepada isteriku
:-). Sudah ia ditawari nginap gratisan di suatu villa kepunyaan
teman kami di Ubud, Bali, walah walah, berikut dipinjami
mobil. Pucuk dicinta ulam tiba banget dah. Akibatnya kami
jadi "hidup" alias bisa pergi kemana-mana, ke
Danau Bratan di Bedugul maupun ke Danau Batur di Kintamani.
Tak terhitung kelilingan Ubud dan Denpasar menikmati semuanya
yang ditawarkan di Pulau Dewata itu. Kalau saya katakan
setengah dari biaya tiketku sudah kepulangan ketika bisa
menonton pertandingan badminton kejuaraan dunia di TV Indonesia,
setengahnya lagi lunas ketika selama dua malam berturut-turut
saya menonton menikmati tari-tarian Bali dengan gamelannya
yang hebring beeng. Bisa bertemu dengan tempat penyelenggaraannya,
di Pura Dalem Puri Tirtasari sudah suatu "mujizat"
alias kebetulan. Saya memang tahu bahwa malam tersebut,
jam 19:30 akan ada pertunjukan tari-tari Legong di Tirtasari.
Tidak saya tegaskan dimana karena kupikir semua orang akan
tahu, pas saya diberitahu pertama kalinya oleh seorang pegawai
agen perjalanan di Ubud. Tak ada satupun yang tahu dimana
sang tempat dan demikian pula mengunjungi satu dua pura
yang bernama demikian, hasilnya nihil. Sudah, saya dan kenekku
putus asa serta memutuskan balik ke arah villa kami sebab
di dekat situ ada pertunjukan Tari Kecak yang tak begitu
kusukai karena selain cowok semua yang main, monoton :-).
Walah weleh, ketika kami belok kiri belok kanan belok kiri
sampai ke jalan raya Denpasar-Kintamani, di depan mataku
tertera tulisan Tirtasari. Langsung saya feeling 'this is
it' dan benarlah dijawab oleh petugas di tikungan itu, akan
ada Tari Legong. The rest is history alias Bang Jeha menikmati
banget tari Pendet dan Legong Keraton dan Kebyar Terompong
serta Oleg Tambulilingan sebab mayoritas penari cewek bahenol
semuanya :-). Sekian dulu serial kali ini yang mengetengahkan
Bali dan Lombok, sampai berjumpa di kisah berikutnya, bai
bai lam lekom. M (JeHa/IM)
|