|
|
|
Memilih
SBY atau Megawati?
Ditulis Oleh: Denny J A
KOMPETISI pemilu presiden di babak kedua adalah pertarungan
memperebutkan pihak ketiga. Tiga capres akan gugur di babak
pertama. Walau KPU belum mengumumkan secara resmi, kuat
dugaan yang akan gugur adalah Hamzah Haz, Amien Rais dan
Wiranto. Karena dukungan buat Hamzah Haz kecil, pendukung
Amien Rais dan Wiranto yang diperebutkan.
Pertanyaan terpenting bagi politisi dan akademisi adalah
ke manakah pendukung itu akan bergerak? Apakah pendukung
Wiranto dan Amien Rais cenderung mendukung Megawati, SBY
atau Golput? Pendukung capres itu tersebar di seluruh provinsi
dan di 60.000 desa dan kota. Tak ada cara untuk mengetahuinya
secara lebih akurat kecuali melalui survei.
LSI (Lembaga Survei Indonesia) sekali lagi akan melakukan
survei yang akan diumumkan akhir Juli 2004. Selama ini survei
LSI paling akurat seperti yang dibuktikan dalam pemilu parlemen
April 2004 dan pemilu presiden Juli 2004. Yang menjadi responden
survei tatap muka ini adalah keseluruhan populasi pemilih
di Indonesia.
Karena data LSI belum ada, survei terakhir Harian Kompas
dapat digunakan. Survei itu diselenggarakan tanggal 14-15
Juli 2004 juga di 32 provinsi. Tentu saja hasil survei itu
tetap harus dicermati secara kritis karena respondennya
hanya pemilik telepon yang terbatas. Sebanyak sekitar 90%
pemilih Indonesia yang tidak memiliki telepon tidak terwakili
oleh survei Kompas. Namun survei itu dapat memberikan gambaran
awal kekuatan SBY versus Me-gawati jika mereka head to head,
hanya berdua, berhadap-hadapan di putaran kedua.
Di babak pertama pilpres, SBY mengungguli Megawati sekitar
7%. Di babak kedua pilpres, jika pemilu diselenggarakan
di hari survei Kompas, keunggulan SBY jauh lebih telak karena
ia memenangkan dukungan "pihak ketiga". Ternyata
telak sekali, pemilih Wiranto dan Amien Rais cenderung memilih
SBY.
Kompas menunjukkan angka. Dari 100% pemilih Wiranto, 75%
akan mendukung SBY. Yang mendukung Megawati hanya 5%. Dari
100% pendukung Amien Rais, yang mengalihkan dukungannya
ke SBY sebanyak 58%. Sedangkan yang mendukung Megawati hanya
10%.
Membaca data itu, dua pokok pikiran melintas sekaligus.
Pertama, jelas ini lampu kuning buat Megawati. Tanpa inovasi
kampanye yang minta ampun dahsyatnya, Indonesia segera memiliki
presiden baru. Kedua, data ini juga menimbulkan keingintahuan
lebih jauh. Di saat mesin politik dan dana yang dimiliki
SBY jauh lebih kecil, mengapa popularitas SBY jauh lebih
besar?
Sentimen Publik
Banyak analisa dapat diberikan. Satu variabel yang harus
diperhitungkan adalah sentimen pemilih akan perubahan. Jika
publik sangat puas dengan situasi saat ini, puas dengan
kondisi ekonomi, senang dengan kondisi politik, memuji lima
tahun reformasi, dapat dipastikan Megawati akan terpilih
kembali. Ini hukum besi politik. Presiden yang membuat publiknya
puas akan dipilih kembali.
Di sini letak ketidakberuntungan Megawati. Publik kecewa
dengan situasi saat ini. Pesan itu jelas sekali tergambar
dari hasil pemilu parlemen dan pemilu presiden babak pertama.
PDI-P "dihukum" publik menjadi nomor dua dalam
pemilu parlemen. Megawati juga "dihukum" publik
menjadi nomor dua dalam pemilu presiden babak pertama.
Mengapa dikatakan hasil itu merupakan ketidakberuntungan?
Kekecewaan publik atas situasi saat ini bukan sepenuhnya
kesalahan Megawati.
Memang warisan politik, ekonomi dan kultur pemerintahan
yang diterima Megawati sudah sedemikian parah. Siapa pun
yang menjadi presiden tak bisa mengubah situasi itu dalam
sekejap. Apalagi kabinet Megawati juga terdiri dari aneka
partai politik. Semua partai seharusnya ikut memikul tanggung
jawab.
Namun yang publik tahu, Megawati ada di tangga yang paling
puncak. Untuk mudahnya saja, Megawati dan PDI-P yang harus
bertanggung jawab. JIka publik puas dengan kondisi sekarang,
Megawati dan PDI-P yang mendapatkan berkahnya. Begitu pula
jika sebaliknya.
Sentimen publik akan perubahan jelas jauh lebih kuat dari
mesin politik apa pun. Untuk contoh ekstrem dapat diambil
kasus Uni Sovyet. Dari sisi mesin politik, apa lagi yang
dapat menandingi negara itu? Militer dan intelijennya, organisasi
partai komunisnya, represi dan penyiksaan atas oposisi yang
dilakukannya, struktur hirarkis dan loyalitas dalam birokrasinya,
semuanya membuat Uni Sovyet seperti mesin politik raksasa.
Kekuatan sebesar itu rontok ketika sentimen publik akan
perubahan merebak ke seantero negara. Aneka cara yang digunakan
tak mampu menahan sentimen yang kekuatannya lebih besar
dari "bom atom". Kerajaan komunisme dunia pun
hancur. Jika mesin politik Uni Sovyet saja bisa rontok,
apalagi mesin politik partai di Indonesia yang jauh lebih
lemah.
PDI-P
PDI-P sendiri mengalami situasi di mana mesin politik partai
dikalahkan oleh sentimen perubahan. Dari sisi mesin politik,
jelas sekali PDI-P tahun 2004 jauh lebih kuat dibandingkan
PDI-P tahun 1999. Reformasi berjalan di tahun 1999, PDI-P
masih "bayi." Dana yang mereka punyai belum banyak.
Jaringan daerah PDI-P juga masih lemah. Megawati sendiri
saat itu belum berpengalaman memimpin.
Namun di tahun 1999, ada kekuatan lain yang membantu PDI-P.
Publik menginginkan perubahan dan mencari alternatif. Sentimen
itu yang bergelora dan memberikan efek yang sangat dahsyat.
PDI-P yang mesinnya kecil itu ibarat David mengalahkan Golkar
yang saat itu seperti Gholiat. Untuk pertama kalinya Golkar
dikalahkan dalam pemilu. Yang mengalahkannya bukan PDI-P
tapi sentimen publik yang ingin perubahan.
Tahun 2004, PDI-P menyaksikan yang sebaliknya. Publik merasa
sudah memberikan kesempatan kepada PDI-P. Hasilnya, publik
kecewa. Padahal di tahun 2004, mesin politik PDI-P jauh
lebih kuat. Sebagai partai yang dibawahi presiden, dana
PDI-P jauh lebih banyak. Jaringan ke daerah jauh mengakar.
SDM PDI-P juga ditata lebih baik.
Hasilnya justru sebaliknya. Dukungan buat PDI-P merosot
hampir separuh justru ketika mesin politik PDI-P jauh lebih
kuat. Sekali lagi yang mengalahkan PDI-P di tahun 2004 bukan
Golkar, tapi sentimen perubahan.
Di babak pertama pemilu presiden, sentimen pemilih akan
perubahan terbagi ke banyak calon.
Menghadapi Megawati, publik terpecah ke empat capres lain:
SBY, Wiranto, Amien Rais, dan Hamzah Haz. Namun kini, di
babak kedua, yang berhadapan dengan Megawati hanya SBY seorang.
Dapat dipastikan sentimen pemilih itu akan mengumpul ke
SBY. Data survei Kompas pertengahan Juli, sekitar seminggu
setelah pilpres babak pertama, menunjukkan gejala itu. Walau
survei itu hanya di daerah perkotaan, namun sentimen perubahan
di wilayah pedesaan juga sama kencangnya. Jika wilayah pedesaan
yang tidak memiliki telepon juga dijadikan lahan survei,
sangat mungkin kemenangan SBY akan jauh lebih telak lagi.
Dua bulan tersisa menuju September 20, hari pemilihan presiden
putaran kedua. Megawati dan pendukungnya masih memiliki
kesempatan untuk mengubah situasi. Namun perubahan itu harus
yang radikal. Jika tidak, Indonesia akan memiliki presiden
baru karena kuatnya sentimen publik akan perubahan. M (DJA/IM)
Penulis adalah Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia.
|