|
|
|
ANTIOKSIDAN,
RESEP SEHAT & UMUR PANJANG
(bagian 2 dari 2)
Antioksidan pelindung kesehatan
Tanpa disadari dalam tubuh kita secara terus-menerus terbentuk
radikal bebas melalui peristiwa metabolisme sel normal,
peradangan, kekurangan gizi dan akibat respons terhadap
pengaruh dari luar tubuh: polusi lingkungan, ultraviolet,
asap rokok, dll.
Sebab itu tubuh kita memerlukan suatu substansi penting
yakni antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh dari
serangan radikal bebas dengan meredam dampak negatif senyawa
ini.
Sistem antioksidan tubuh sebagai mekanisme perlindungan
terhadap serangan radikal bebas, secara alami telah ada
dalam tubuh kita. Dari asal terbentuknya, antioksidan ini
dibedakan menjadi dua yakni intraseluler (di dalam sel)
dan ekstraseluler (di luar sel) atau pun dari makanan. Dari
sini antioksidan tubuh bisa dikelompokkan menjadi 3 yakni:
Antioksidan primer
Antioksidan primer ini bekerja untuk mencegah pembentuk
senyawa radikal bebas baru. Ia mengubah radikal bebas yang
ada menjadi molekul yang berkurang dampak negatifnya, sebelum
radikal bebas ini sempat bereaksi. Contoh antioksidan ini
adalah enzim SOD yang berfungsi sebagai pelindung hancurnya
sel-sel dalam tubuh serta mencegah proses peradangan karena
radikal bebas. Enzim SOD sebenarnya sudah ada dalam tubuh
kita. Namun bekerjanya membutuhkan bantuan zat-zat gizi
mineral seperti mangan, seng, dan tembaga. Selenium (Se)
juga berperan sebagai antioksidan. Jadi, jika ingin menghambat
gejala dan penyakit degeneratif, mineral-mineral tersebut
hendaknya tersedia cukup dalam makanan yang dikonsumsi setiap
hari.
Antioksidan sekunder
Antioksidan ini berfungsi menangkap senyawa serta mencegah
terjadinya reaksi berantai. Contoh antioksidan sekunder:
vitamin E, vitamin C, beta karoten, asam urat, bilirubin,
dan albumin.
Antioksidan tersier
Antioksidan jenis ini memperbaiki kerusakan sel-sel dan
jaringan yang disebabkan radikal bebas. Contoh enzim yang
memperbaiki DNA pada inti sel adalah metionin sulfoksidan
reduktase. Adanya enzim-enzim perbaikan DNA ini berguna
untuk mencegah penyakit kanker, misalnya.
Hasil berbagai penelitian dengan menggunakan hewan percobaan
telah mendukung teori bahwa mengkonsumsi antioksidan yang
memadai dapat mengurangi terjadinya berbagai penyakit seperti
kanker, kardiovaskuler, katarak serta penyakit degeneratif
lain.
Anggur merah vs jantung koroner
Lebih dari 200 penelitian secara epidemiologi menyatakan,
diet makanan yang mengandung beta karoten dapat menurunkan
risiko penyakit kanker. Beta karoten konon mampu mecegah
kerusakan sel normal dari sel ganas dengan cara meningkatkan
keutuhan sel-sel normal dan mengusahakan agar sel-sel kanker
tersebut bertindak sebagai sel normal.
Vitamin C juga berperan dalam menurunkan risiko kanker saluran
pencernaan. Dikatakan pula adanya hubungan antara asupan
vitamin E yang rendah dan risiko kanker payudara, paru-paru,
tenggorokan, dan mulut.
Beberapa studi mengungkapkan peranan antioksidan untuk mencegah
penyakit jantung. Oksidasi LDL (low density lipoprotein)
menyebabkan kerusakan dinding pembuluh arteri yang berarti
proses awal dari aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah
arteri).
Pertahanan antioksidan secara alami dalam LDL kolesterol
dengan jumlah yang cukup dapat melindungi LDL dari proses
oksidasi tapi masih dipertanyakan apakah perlindungan ini
terjamin pada setiap orang. Antioksidan alam terbanyak dalam
LDL adalah vitamin E. Sehingga penambahan suplemen vitamin
E dalam makanan dapat meningkatkan kandungan vitamin E dalam
LDL serta meningkatkan perlindungan terhadap proses oksidasi.
Beta karoten merupakan antioksidasi yang cukup kuat yang
secara teoritis juga dapat melindungi oksidasi LDL.
Anggur merah telah terbukti dapat mencegah penyakit jantung
koroner karena kandungan flavonoidnya. Sebagai contoh, Prancis,
dibandingkan negara Eropa lain atau Amerika, jumlah penderita
PJK-nya lebih kecil (dikenal dengan istilah the French paradox)
karena suka sekali minuman anggur merah. Padahal konsumsi
lemak mereka lebih besar, lebih banyak merokok dan kurang
bergerak. Anggur merah memang mempunyai kandungan senyawa
fenol lebih tinggi daripada anggur putih. Fenol ini mempunyai
efek kardioprotektif (flavonoid) yakni antioksidan yang
sangat kuat. Ia dapat mencegah oksidasi LDL 20x lebih kuat
dari vitamin E.
Senyawa flavonoid ini telah terbukti secara in vitro mempunyai
efek biologis yang sangat kuat sebagai antioksidan, menghambat
penggumpalan keping-keping sel darah, merangsang produksi
oksidasi nitrit yang dapat melebarkan (relaksasi) pembuluh
darah dan juga menghambat pertumbuhan sel kanker.
Sayangnya, flavonoid pada anggur dan sayuran bentuknya kompleks
sehingga sangat sulit dicerna dan diserap. Sedangkan pada
saat fermentasi anggur merah, kompleks ini terurai sehingga
mudah diserap tubuh. Ditambah lagi adanya alkohol (10%)
dalam anggur membuat kandungan flavonoid stabil.
Berdasarkan penelitian, paparan senyawa radikal bebas, sinar
ultraviolet, dan asap rokok dapat menyebabkan oksidasi protein
pada lensa mata sehingga lama-kelamaan menimbulkan katarak.
Penelitian epidemiologis menyatakan, katarak meningkat di
negara-negara yang tinggi kebiasaan merokok serta paparan
sinar mataharinya.
Asupan vitamin C dan E yang rendah pada diet makanan disertai
kadar vitamin C yang rendah dalam darah, akan mempermudah
seseorang terkena katarak (kekeruhan lensa mata). Apalagi
ditambah dengan kebiasaan merokok.
Kasiat tempe dan ikan laut
Selain berbentuk zat gizi seperti vitamin C dan D, antioksidan
dapat pula berupa zat non-gizi seperti pigmen (karoten,
likopen, flavonoid, klorofil) dan enzim (glutation peroksida,
koenzim, Q-10 atau ubiquinon). Karoten banyak pada wortel,
ubi rambat, semangka, bayam, kangkung, jeruk. Likopen pada
tomat. Flavonoid pada wortel, jeruk, brokoli, kol, mentimun,
bayam, tomat, merica dan terung.
Bila konsumsi mineral seperti seng, selenium, tembaga, vitamin
E dan C serta beta karoten cukup, maka tidak diperlukan
suplemen. Suplemen berupa pil, kapsul, dll hanya diberikan
bila makanan berantioksidannya belum memenuhi angka kebutuhan
gizi yang dianjurkan.
Dalam makanan sehari-hari antioksidan banyak terdapat dalam
sayuran dan buah-buahan. Sedangkan tempe dan ikan laut dapat
memusnahkan atau meminimalkan pembentukan radikal bebas.
Selama lebih dari setengah abad antioksidan telah dimanfaatkan
dalam pengolahan pangan untuk menghambat kerusakan makanan.
Biasanya antioksidan ini ditambahkan pada makanan yang mengandung
lemak atau minyak, buah segar atau sayuran agar tidak cepat
rusak. Senyawa ini juga dapat untuk mencegah perubahan warna
dan rasa yang disebabkan oksigen di udara (pada apel, pisang
yang mengandung enzim tertentu).
Selain pada bahan makanan, antioksidan seperti vitamin E
juga sebagai suplemen diet untuk mengatasi proses oksidasi
dalam tubuh. Belakangan malah antioksidan digunakan dalam
produk kosmetik. (Penulis bekerja pada Bagian Gizi Masyarakat
SEA-MEO Tropmed-UI)
|