|
 |
|
Papua
Lirik SBY
Masyarakat
Papua amat kecewa pada Megawati karena presiden inilah yang
menerbitkan Inpres yang membuyarkan otonomi khusus dan memekarkan
propinsi ini. Papua tidak menyambut pilpres sehangat seperti
menyambut pemilu legislatif 5 April lalu. Dan saat harus
memilih presiden baru, terungkaplah sakit hati dan kekecewaan
Papua itu. Debat SBY atau Mega boleh saja ramai di Jakarta,
namun tidak demikian di Papua, ujar Pendeta Herman Saut
kepada Radio Nederland.
Tak suka Megawati
Pendeta Herman Saut (HS): "Ya di Papua orang tidak
terlalu berdebat tentang kedua orang itu, tetapi kebanyakan
orang di Papua lebih suka SBY (Susilo Bambang Yudhoyono)
dari Mega toh, karena orang di Papua punya pengalaman dengan
Megawati itu karena dia menandatangani Inpres yang merusak
itu otonomi, Undang Undang Otonomi (2001), jadi orang di
sini tidak terlalu suka. Tapi, ini masih dalam pembicaraan
yah. Tidak ada semacam diskusi atau debat segala macam begitu.
Jadi sebagian besar masih mendukung SBY, tapi berkembang
ke depan bagaimana, kita nggak tahu tuh."
Radio Nederland (RN): "Jadi di Papua tidak begitu banyak
debat, namun kecendrungannya untuk memilih SBY ketimbang
Mega, begitu yah. Mengapa tidak ada debat?"
HS: "Saya pikir Papua ya biasa saja, ya aman dan ndak
ada masalah..." (ketawa)
RN: "Apakah turn outnya, yaitu kedatangan para pemilih
itu tinggi atau tidak, pada 5 Juli yang lalu?"
HS: "Ooh, ndak terlalu tinggi, sedikit saja kalau di
Papua itu. Kabarnya orang tidak suka milih. Orang di sini
merasa, yah pilih siapa saja sama itu. Hampir orang pada
give up (putus asa) yah.. Sewaktu pemilihan anggota parlemen,
nah itu bagus, itu banyak, ya rame-rame, tapi setelah itu,
pilpres, ada orang tak mau hadir dan macam-macam begitu."
Gara-gara Inpres Mega
RN: "Pak Herman Saut, Ibu Mega kurang populer, ini
berkenaan dengan Inpres (Instruksi Presiden 2003) yang meniadakan
otonomi khusus (otsus) yang memekarkan propinsi."
HS: "Ya betul, itu orang di Papua merasa sangat tidak
menyenangkan itu, itu lalu dikalahkan dengan satu Inpres,
karena itu ya politik lebih berkuasa dari hukum. Jadi orang
kecewa sekali di Papua. Orang merasa Inpres itu satu jalan
keluar untuk memecahkan segala persoalan di Papua baik persoalan
politik, HAM, ekonomi, kesejahteraan, dsb, tetapi ini tidak
dijalankan. Berarti, Papua tetap status quo dan tetap menjadi
permainan orang di Jakarta begitu."
RN: "Papua kehilangan apa dengan adanya Inpres itu?"
HS: "Kehilangan hak hak yang diatur dalam UU No 21
yang memberi hak dan kewenangan orang di Papua untuk mengatur
di wilayah Papua. Dan hal hal yang mereka rasa bisa diskusi
dengan pusat seperti misalnya pengangkatan Kapolda dsb,
harus mendapat persetujuan dari Gubernur dan kekuasaan di
Papua ada di Gubernur dan macam begitu. Tapi ini langsung
dengan Inpres berarti semua (datang) dari Jakarta dan terus
berlaku dan otsus sama sekali tidak diterapkan. Karena itu,
sama saja dengan tidak ada otonomi meskipun UU itu sudah
menjamin itu MRP, Majelis Rakyat Papua, yang ditentukan
dalam UU itu mengatur Hak Ulayat di Papua ini. Itu kita
kirim ke pusat dan samasekali tidak pernah digubris, padahal
dalam UU No. 21 yang kita setujui dengan DPR dan MPR-RI
dan pemerintah sendiri, itu satu bulan setelah itu, mustinya
pemerintah turunkan peraturan untuk itu. Jadi ini soal yang
menyakitkan. Ini di negara ini, hukum hampir tak ada artinya.
Dan hak orang Papua tidak dihargai oleh bangsa ini sejak
mulai 1963, tuh."
RN: "Tapi Pak Herman Saut, bukankah Inpres itu yang
memekarkan Papua, memecah-belah lalu menghilangkan MRP tadi,
bukankah itu tanggung jawab seluruh kabinet, jadi selain
Ibu mega, juga SBY, kan?"
HS: "Ya, tapi kalau di Indonesia, presiden bilang,
orang lain kan ngikut toh, lalu seluruh kabinet ikut. Dan
karena Mega sebagai presiden, kalau dia tidak tandatangan
Inpres itu, itu kan tidak bisa berlaku. Kalau dia tandatangani,
berarti dia sebagai presiden menyetujui. Dan kami, orang
Papua sudah berdialog dengan SBY, itu dia mengerti orang
Papua, tapi tidak bikin apa-apa, karena itu presiden yang
tandatangan."
Senang SBY
RN: "Apa kesan orang Papua mengenai figur SBY ini?"
RN: "Papua paling senang dengan SBY, karena penampilannya
sederhana dan cukup dia beberapa kali datang ke Papua. Banyak
hal mustinya harus dialog bersama dan tidak bisa mengambil
keputusan sendiri saja, dan lalu dipaksakan ke wilayah,
begitu,.. jadi dia (SBY) ada kelebihan kelebihan..."
Demikian Pendeta Herman Saut di Jayapura, Papua.
|