|
 |
|
GUS
DUR MELIHAT PELUANG JADI PRESIDEN JIKA GOLPUT MENANG
Pilpres 2004 telah membawa momentum baru bagi bekas gerakan
pro-demokrasi yang dulu bersatu melawan Orde Baru-nya Soeharto.
Sebut
misalnya tiga tokoh ini. Arief Budiman, perintis Golput,
sekarang
mencoblos paket SBY-Yusuf Kalla. Gunawan Mohammad, pendekar
pers
bebas, memilih Amien Rais-Siswono. Dan sekarang giliran
Abdurrachman
Wahid, alias Gus Dur, yang menjadi Golput. Ketiganya menjadi
kontroversial. Arief dianggap keliru karena memandang Indonesia
"sudah demokratis" padahal demokrasi kita ini
baru
demokrasi-transisi. Gunawan dinilai menaiki kuda yang "salah",
karena
kuda itu kalah.
Tapi, paling unik dan kontroversial, tak salah lagi, adalah
Gus Dur.
Mantan Presiden yang sudah tersingkir dari ajang Pilpres,
masih
berani meramalkan bahwa dirinya akan menjadi presiden. Soalnya,
jika
Golput mencapai 70%, ini berarti menggembosi legitimasi
presiden
baru. Jadi Pilpres harus diulang, demikian jelasnya kepada
Radio
Nederland:
Gus Dur memang manusia unik, kalau tak mau dibilang megalomanian.
Awal tahun 1999 Gus Dur datang ke Belanda, dan kepada sohib-sohibnya
mau pun kepada pers di Belanda dia meramalkan tahun depan
jadi tahun
2000, dia akan datang sebagai presiden. Ternyata itu benar
benar
terjadi. Manuver-manuver Gus Dur memang suka membingungkan
kawan,
lawan dan massa pengikutnya. Menurut mantan jubirnya yang
mengenal
baik Gus Dur, Wimar Witoelar, kalau publik bingung itu berarti
publik
kurang pinter memahami langkah-langkah strategis Gus Dur.
Tapi, bisa
juga itu menjadi pedang bermata dua. Akibat kontroversi,
lama
kelamaan Gus Dur menjadi sendiri.
Nah begitu dia tersingkir dari arena pilpres, strategi Gus
Dur adalah
berperang melawan KPU. Megalomanian atau tidak, yang terang
Gus Dur
menegaskan, dirinya tetap golput. Dia yakin, dalam putaran
kedua
nanti, golput akan membengkak. Dan ramalan ini memang dibenarkan
pula
oleh sejumlah poll-pendapat seperti SSSnya Soegeng Sarjadi.
Golput
akan mencapai 62%, katanya. Dengarkan optimisme Gus Dur.
Gus Dur [GD]: Kalau sekarang antara 30-40, salah-salah bisa
antara
50-60 dan bahkan sementara kawan bilang sampai 70. 70%.
Radio Nederland [RN]: Masak?
GD: Lho lha iya, kalau iya kan enggak ada legimititas sama
sekali
bagi pemerintahan yang ada toh, presiden yang ada. Juga
tidak ada
kredibilitas.
RN: Lho 30 sampai 40% golput saja udah cuwil legitimasi
dari...
GD: Sudah, sekarang enggak ada legitimasi, iya. Sekarang
sudah hancur
total. Saya yang menang.
RN: Yang menang anda sebagai golput maksudnya.
GD: Iya, bukan golput saja. Itu tadi, yang ikut Wiranto
juga orang
saya kan? Yang 10% yang ikut Yudhoyono juga orang saya kan.
Jadi
totalnya 62%, apa enggak menang itu namanya?
Bagi Gus Dur, Golput 62% dalam putaran kedua itu berarti
kekuasaan
sudah di tangan dia. Sebab, itu tidak berarti dia nebeng
Wiranto
lewat Gus Solah dan Mega-Hasyim, melainkan persis sebaliknya.
Wiranto
yang nyomot Gus Solah dari PKB dan Mega yang menggandeng
Hasyim
Muzadi dari NU -- mereka itulah yang nebeng, kata Gus Dur.
RN: Tapi Gus Dur menangnya nebeng ini. Nebeng lewat Wiranto
Solah.
Bukan begitu?
GD: Lho apa bukan mereka yang nebeng? Mereka yang nebeng
dong. Enggak
saya mengijinkan Solah maju, itu enggak ada apa-apanya itu,
Wiranto
ama Solah.
Dalam rangka itulah rupanya Gus Dur juga membenarkan beberapa
isu
seputar SBY dan tim suksesnya dan hubungannya dengan Partai
Demokrat
di Amerika Serikat, dan dengan Tommy Winata yang disebut
konglomerat
Hitam. TB Silalahi, Ketua Tim Suksesnya SBY, menurut Gus
Dur adalah
"Abu Bakar Baasyir"-nya kalangan Kristen, yang
dekat dengan Tommy
Winata, tambahnya.
GD: SBY. SBY ini sekarang lagi diributkan oleh para pengamat.
Kan
hubungannya dengan Partai Demokrat di Amerika Serikat. Sudah
mulai
bicara bahwa ada intervensi langsung dari Partai Demokrat
ke pemilu.
RN: Jadi Wiranto nebeng anda, lalu Megawati pake Hasyim
Muzadi nebeng
anda, kalau SBY nebeng apa dong?
GD: Lho lha dia kan pengin menang juga. Lha Jusuf Kalla
ya kan orang
NU, walau pun koruptor, tapi dia kan orang NU. Dulu ketua
Ansor di
Makassar.
RN: Jadi enggak ada Gus Dur, enggak ada NU, ini enggak ada
apa-apanya
capres-capres ini ya?
GD: Iya, emang nggak ada apa-apanya. Kelima-limanya itu
enggak pantes
jadi presiden.
RN: Tetapi Gus Dur, kenapa SBY ini sangat dipersoalkan oleh
sebagian
kelompok Islam, berhubung adanya PBB di situ, ada sebagian
PKS,
padahal tidak ada tanda-tanda SBY bermain dengan Kristen
atau bermain
dengan syariah. Bagaimana penjelasannya?
GD: Gini. Soal SBY itu memang orang-orang Islam ada yang
faktual ada
yang desas-desus saja ya. Satu dia dulu memang makan uangnya
preman,
yaitu Tommy Winata. Ini jelas-jelasan karena Tommy Winata
ngomong di
koran. 21 milyar itu diberikan kepada SBY, SBY mbantah.
Jadi kalau
gerakan Islam curiga, pantas toh?
Kedua, baik pendiri maupun mayoritas tim suksesnya dan sebagainya
itu
orang-orang Kristen. Pendirinya kan di antaranya adalah
Ventje itu
dari Menado, dari namanya juga jelas, kalau kedua TB Silalahi.
TB
Silalahi anggota Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia, ya.
Juga
anggota Persekutuan Gereja-Gereja Dunia. Nah, kata seseorang
pimpinan
PGI kepada saya, TB Silalahi itu kalau dalam Islam itu seimbang
dengan Abu Bakar Baasyir, itu coba. Iya, karena itu sasus
dia
Kristenisasi sangat kuat di kalangan gerakan Islam.
Ketiga, itu keuangan itu dia dapet melalui togel, toto gelap.
Judi
lagi. Orang Islam itu paling sirik itu, tiga-tiga itu. Pantes
kalau
gerakan Islam marah-marah.
Demikian Gus Dur. Walhasil, Gus Dur yakin, membengkaknya
golput akan
menggembosi legitimasi dan kredibilitas presiden baru, dan
juga KPU,
sehingga pilpres harus diulang. Di sini Gus Dur mengusulkan
pemilu
legislatif baru dan pil pres baru sekaligus.
Golput memang meningkat, tetapi Gus Dur lupa pilpres 5 Juli
lalu juga
membuktikan bahwa pola pilih elektorat yang individual,
artinya,
mulai meninggalkan pola aliran dan kotak-kotak partai dan
ormas,
termasuk PKB dan NU. Jadi kita lihat nanti, besar kemungkinan,
ramalan Gus Dur kali ini tidaklah setepat seperti di tahun
1999.
|