|
|
|
Timun
Kiriman: A. Setiadi
Kalau mendengar kata pelayanan anak jalanan/kampung kumuh,
banyak teman yang langsung berasumsi bahwa dalam pelayanan
tersebut kita akan berinteraksi dengan anak - anak yang
kasar,yang tdk tahu aturan, yang dekil, yang kumuh, dst,
dst dan harga yang harus dibayar 'sangatlah besar' sehingga
sampai saat ini,sepertinya anak2 muda dan orang2 yang terbeban
terjun langsung dalam pelayanan ini tidak bisa terbilang
banyak apabila dibandingkan pelayanan mc/wl di gereja,pelayanan
sebagai pemusik,sebagai pengurus,majelis,dll dll. Apakah
pendapat tersebut benar?
Menurut pengalaman saya pribadi, sejujurnya jawabannya tidak.
Bahkan apabila disebut pelayanan, seringkali saya pribadi
merasa malu, karena setelah sekian waktu lewat, saya pribadi
lebih merasa 'dilayani' drpd saya yang 'melayani' jadi sebenarnya
siapa yang melayani siapa? Karena sebagai contoh, apakah
saudara pernah merasakan ketika sedang penat oleh masalah
kerjaan,penat oleh berbagai macam hal, dan ketika saudara
datang dengan segala beban itu, tahu2 dari berbagai arah
berlarian banyak anak2 sambil berteriak2 "kakak datang,
kakak datang!" kemudian mereka langsung berlarian mendekati
saudara untuk memeluk maupun untuk menggandeng tangan saudara.
Dan sungguh saya katakan, segenap beban yang saya alami
dalam sekejap langsung hilang dan digantikan dengan sukacita!
Jujur saudara, selama pelayanan ini ada banyak hal yang
sangat2 berkesan dalam hidup saya,bagaimana Tuhan mengajar
saya melalui mereka, dan berikut ini saya mau membagikan
salah satunya. Dwi (anak jalanan di Grogol) Dwi adalah salah
satu anak bimbingan belajar saya ketika saya masih pelayanan
di kolong Grogol setiap hari Minggu. Nah, pada satu waktu,
ketika setelah waktu belajar selesai, saya melihat dia sedang
duduk, di tangannya terdapat sepotong timun sayur (timun
yang biasa dijadikan lalap) dan dia sedang asik makan timun
tersebut (Saudara pernah makan timun sayur mentah dengan
kulit2nya? Kemudian dengan bercanda saya memanggil dia "Dwi,
sedang makan apa?
Wah...sombong ya, makan sendiri nih ceritanya, kakak2nya
ndak ditawarin.." Si Dwi cuma cengegesan saja, lalu
saya kembali sibuk membantu mengajar anak2 yang belum menyelesaikan
pelajarannya. Tetapi selang beberapa waktu kemudian, tahu2
saya dicolek dari belakang, dan ternyata kali ini di tangannya
si Dwi membawa 2 buah timun sayur, kemudian sambil menyerahkan
salah satunya dia berkata "Ini buat kakak.". Saya
sedikit kaget, dan saya tanya " Dwi, kamu beli timun
ini dimana?" Dengan santainya dia menjawab "Di
tukang sayur belakang terminal Grogol kak." .
Saat itu saya cukup shock karena ternyata demi membelikan
saya sebuah timun sayur, anak kecil tersebut berjalan kurang
lebih 2 km bolak balik dr kolong Grogol ke tukang sayur
di belakang terminal, hanya untuk memberikan saya sebuah
timun! Lalu saya tanya kembali," Dwi, kamu belum makan
siang ya?" Jawabnya,"Belum kak" Lalu saya
katakan," Dwi, kita ke Citraland aja yuk, kita makan
disana,Dwi mau kan makan McDonald?" Dia menggelengkan
kepalanya," Gak mau kak" Saya tetap bersikeras
mengajak dia makan,dan sejujurnya saya sudah bertekad apapun
yang dia mau makan,mau McDonald sampai Sizzler saya rela
tukar sama timun sayur tersebut, tetapi dia tetap tidak
mau dan dia berkata " Udah kak, Dwi pokoknya gak mau
makan di Citraland,Dwi maunya duduk disini saja sambil ngobrol
sama kakak"
Saat itu saya pribadi merasa sangat tersanjung dan terharu
saudara, karena anak ini tidak melihat saya sebagai "Kakak
berduit yang bisa memberikan McDonald" , tetapi dia
tidak perduli dengan McDonald maupun segala macam makanan
mahal yang bisa saya belikan,tetapi dia tukar semua hal
tersebut dengan duduk2 di kolong sambil ngobrol bersama
saya.
Entah kenapa sepertinya saya merasa Tuhan sedang mengajar
saya suatu hal, Tuhan adalah Allah yang penuh kasih, dan
dia adalah Tuhan yang sanggup memberikan apa saja kepada
kita,dan dalam kejadian tersebut seakan2 Tuhan menunjukkan
"Carlo, begini lho perasaan kalau seseorang mengasihi
engkau BUKAN karena apa yang engkau bisa berikan padanya,
BUKAN karena apa yang kau miliki, tetapi sungguh2 mengasihi
engkau sebagai satu pribadi" Karena kejadian tersebut,
si Dwi menjadi salah satu anak kesayangan saya di grogol,
bahkan sampai sekarang =) Dan dalam kejadian tadi saya menjadi
mengerti tentang arti sebuah persembahan,karena walau hanya
dengan sebuah timun yang seharga lima ratus rupiah, apabila
diberikan dengan hati yang tulus, timun itu lebih berharga
daripada McDonalds,Sizzler maupun makanan2 yang teramat
sangat mahal!
Saudara ingin menjadi anak kesayangannya Tuhan? Persembahkanlah
apapun dr yang engkau miliki dengan tulus, bukan karena
Kristus adalah Tuhan yang sanggup memberkati engkau berlipat2
kali dari persembahanmu,Tuhan yang sanggup mengangkat sakit
penyakitmu dan memulihkan keluargamu, tapi cukup berikan
persembahanmu dengan tulus kepada Tuhan karena engkau mengasihi
Dia, walau persembahanmu itu tdk akan pernah kembali seumur
hidupmu, walau sakit penyakitmu tdk kunjung sembuh,walau
keluargamu tidak kunjung dipulihkan =)
Saat itu tanpa ia sadari, Dwi telah mengajar saya tentang
hubungan dengan Tuhan, tentang bagaimana kita harus mengasihi
Tuhan bukan karena Ia adalah Tuhan yang kaya,Tuhan yang
bisa melakukan hal2 yang mustahil,dst,dst, tetapi kita harus
mengasihi Tuhan karena Ia adalah Tuhan! Titik.
|