Serba-serbi Kisah Kunjungan Ke Tanah Air Ke 33

Kalau Anda senang makan alias tak pusing dengan diet, cocoklah jadinya dengan pren Anda di tanah air yang hampir pasti akan mengajak Anda makan di restoran. Kata pasutri ServiamTO cabang Jakarta yang kemarin malam mengajak kami makan di Nelayan Senayan, apalagi kemampuan anak Indo untuk menyenangkan tamunya kecuali mengajaknya makan? Bejug, bener juga sebab manusia langka sedikit kurang-waraslah yang mau mengajak kami tamasya ke pulau di musim angin barat yang besar ombaknya. Nah, su-is prens kami tersebut bercerita bahwa salah satu bisnis yang lagi ngetop di Jakarta ini adalah mengelola upacara pesta perkawinan, suatu bisnis jasa jadinya. Misal Anda mau mungut mantu, tinggal kontak si Badu yang jadi bos bisnis demikian. Dengan asumsi sang calon mantu sudah di-screen diinterpiu tidak terlibat G30S, eh itu mah untuk generasi saya, tidak terlibat bom Bali dan JW Marriott, Badulah yang akan mengurusi semuanya. Mulai dari pencetakan kartu undangan sampai ke distribusinya, mulai soal memesan tempat di hotel yang dipilih anak dan calon mantu, termasuk ngebook MC-nya maupun band sampai ke penyanyinya. Bila Anda ngefans ke si Inul, mungkin Anda rela menambahkan lagi beberapa jeti agar para tetamu bisa menikmati 'boran'nya doi yang sudah terkenal sampai ke Kanada :-). Oya, tak lupa tentunya si Badu perlu mengatur makanan supaya cukup sehingga tidak terjadi apa yang dialami Bang Jeha minggu lalu ketika kondangan di pesta prennya yang ngunduh mantu.
Ceritanya si saya datang agak di akhir jadwal pesta, yakni pada jam 8:15 malam dimana jadwalnya antara jam 7 s/d 9 menurut undangan yang bisa dipercaya. Demi sopan santun saya dan nyonya langsung antri di belakang puluhan orang lainnya untuk memberi selamat dulu kepada sepasang mempelai, padahal kulihat ratusan orang masih ngerubungin "kiosk-kiosk" berisi cem-macem makanan. Weleh-weleh ketika turun dari panggung menuju kiosk tersebut, makanannya udah pada gelontangan, istilah Betawi berarti entek, abis rek. Yang tinggal tersisa cukup banyak adalah pasta Itali dan saya hanya bisa tersenyum di hati alias ogah ah makan pasta di Indo. Itu sih menu kemping kite, kata Bang Herry prenku di Toronto yang paling doyan pasta kalau kami kemping bersama. Iye Bang, jadinya kuhabek kue-kue saja, dessert untuk mengisi perutku yang sudah keroncongan. Kembali ke si Badu yang kemungkinan dikaryakan pren saya di resepsinya di suatu hotel mewah di Jakarta, konon ia juga yang mengurus booking tempat ibadah lengkap dengan pastor, putera altar dan koornya kalau ente Katulik. Pokoke, dengan adanya servis si Badu semua tinggal beres, apalagi kalau jumlah undanganmu ribu-ribuan seperti pren saya di atas. Ya, kalau Anda tinggal di tanah airmu, semakin banyak jumlah undanganmu, akan semakin sedikit anggota keluarga, handai-taulan atau sohibmu yang akan
mengumpat menyumpahimu sebab tidak diundang :-).
Kembali ke teman saya di atas yang mengundang kami makan. Ketika ia bertanya kog saya engga tambah gendut sejak kami terakhir bertemu (saya sudah naik sekilo selama sebulan di Jakarta), saya katakan salah satu resep saya adalah berenang 1 km setiap pagi. Isterinya lalu berkata bahwa dokternya menganjurkannya untuk berenang demi suatu kelainan yang dialaminya. Hanya, ketika saya menawarkan untuk menjemputnya, ia tidak bisa sebab harus masuk kantor pagi-pagi. Itulah suatu yang tragis bin ironis meskipun mungkin suatu hal "lazim binti lumrah" di Melayu. Orang berlomba-lomba menyangkul ngumpulin duit dan pemeliharaan kesehatan menjadi sekunder. Salah satu bukti lainnya
yang saya temui selama ini adalah melihat ompongnya gigi sohib-sohib saya, padahal saya tahu sebagian besar cukong alias mampu untuk memakai gigi palsu seperti saya :-). Masalahnya saya yakin mereka tidak ada waktu untuk berkali-kali mengunjungi dokter gigi, mungkin prinsipnya nanti saja kalau sudah pensiun atau sekalian ompong semua dulu biar cepet prosedurnya.
Salah satu prosedur rutin saya bila pulang kampung adalah bersilaturahmi dengan para prens mantan kempingan bersama tempo doeloe. Seperti Anda tahu sejak masih mahasiswa saya sudah senang mendaki gunung menyelam ke laut. Satu dua dari mereka pindah juga ke Kanada hanya sayangnya, mereka atau sudah uzur tak awet muda atau beristeri perempuan kota :-). Akibatnya saya selalu kemping bersama-sama anak muda yang belum tercemar yang sering lebih muda lagi dari anak saya, malah sesekali dengan bocah yang bisa dijadikan cucu sehingga di campground saya dipanggil opa. Nasib dah. Nah, bertemu lagi dengan teman-teman seperti itu membuat planning jalan-jalan saya semakin banyak sebab mereka mensyer tempat-tempat yang selama ini sudah mereka kunjungi sejak pertemuan terakhir. Salah seorang tokoh alias yang sudah jadi orbek mensyer tripnya ke Vietnam pas Lebaran lalu. Kesan saya, dibandingkan ke RRC, akan lebih menarik mengunjungi negeri itu, yang pasti hampir semua pren saya yang pernah ke Cungkuo menyumpah-nyumpah tidak enaknya makanan disitu, mungkin karena mereka makannya di warung :-). Tentu saja tak kurang banyaknya yang bercerita akan tempat-tempat di Indo ini yang sudah mereka kunjungi dan memang kalau saja negeri ini aman damai, cocok banget buat dijadikan tempat pensiunan Kanada bermukim ketika negeri kami sedang dilanda suhu -30C -40C :-). Jadi rencana saya dan nyonya untuk hari Senin ini cabut ke Bali dan Lombok mendapat dukungan penuh dari mereka karena kedua pulau itu memang lain dari yang lain dibandingkan dengan tempat turis lainnya di Indonesia.
'Diumumkan, Anggota DPR Yang Suka Mangkir', judul salah satu berita di halaman muka Kompas hari ini. Saya jadi teringat ketika buang air kecil alias pipis di WC International Airport Inchon di Seoul dalam perjalanan penerbangan saya dari Los Angeles ke Jakarta bulan Desember lalu. Di setiap WC-nya tertera foto petugas pembersihnya termasuk nama dan nomor KTP-nya :-) dengan font yang besar alias jelas sekali untuk dibaca. Jelaslah dampak penerapan teori "malu" psikologi tersebut, Pak "Park Chung Hee" sang petugas seolah merasa memiliki sang lahan WC dan akan berusaha mati-matian di dalam memelihara WC-nya hingga senantiasa mengkilap. Memang baru kata WC McDonald saja putus dah bersihnya dibandingkan dengan WC di Inchon Airport itu. Jadi jelas juga kalau tampang anggota DPR tukang bolos itu dipejeng di WC DPR dan WC tempat- tempat terhormat lainnya :-), kujamin absensi doi akan mengalami perbaikan. Seriusan, di dalam Pemilu sistim distrik atau langsung seperti di Kanada, sebelum rakyat memasukkan suaranya, kita sudah tahu apakah jagoan kita tukang mangkir seperti si Taufik Kiemas dan Amien Rais atau tidak, selain selama ia menjadi anggota DPR, berapa duit jatah anggaran negara yang sudah ia kuras. Akan diperinnci satu persatu 'expense item' doi sehingga dari situ terlihat apakah selama jadi anggota DPR kerjanya cuma menghambur-hamburkan uang.
Di salah satu seri terdahulu saya mengemukakan kekaguman saya melihat ada 16 'eucharistic ministers' membagikan Hosti Kudus di Gereja Kotabaru, Yogya. Ketika saya bertemu dengan pren saya yang pernah ditugaskan di Toronto,
Romo Yulianus SCJ di paroki Bidaracinanya, saya sama kagumnya melihat ia dilayani 10 putera altar. Demikian pula ketika ke Misa di BonVen hari ini, 8 puter altar melayani seorang pastor, mubazir banget dah :-) Ya, pemandangan seperti itu biasa di Indonesia sehingga tak heran sekarang ini sudah terjadi 'reversed missionary' di dunia. Bila di jaman kuda makan kue talam para pastor bule yang datang ke tanah air kita, sekarang ini romo-romo irenglah yang pergi melayani si bule di negerinya. Contoh yang paling mudah adalah Paroki Epiphany saya di Toronto. Satu pastor kepalanya bule Itali wong tuwo dan dua pastor pembantunya dari indihe yang acha punya. Ya, dua romo India yang bukan imigran alias cuma diberikan visa kerja karena Gereja Katolik di Kanada sudah kekurangan pastor. Tidak percaya coba Anda pergi ke kota-kota kecil di Ontario dan ikut Misa hari Minggunya. Si pastor yang bertugas harus mempersembahkan Misa di beberapa kota lainnya alias ia digilir. Jadi kalau Anda Katolik Indo dan banyak anak laki-lakimu serta Anda bukan orang kota (susyah dah wong kota yang mau jadi romo selibat) kemungkinan suatu ketika anakmu menjadi pastor yang dikirimkan ke negeri bule. Sekian dulu, sampai berjumpa di kisah berikutnya, bai bai lam lekom. M (JeHa/IM)

     

 


FastCounter by bCentral