|
 |
|
KETIKA
JENDERAL PENYANYI NAIK PITAM
 |
Dari hasil-hasil
penghitungan suara pada putaran pertama pemilihan langsung
calon presiden di Indonesia pada 5 Juli 2004 yang baru lalu,
nampak bahwa Wiranto, Jenderal Penyanyi, calon dari Golkar
yang tangannya berlumuran darah memperoleh jumlah suara
yang tidak menggembirakan. Sehingga besar kemungkinan ia
tidak akan bisa bertanding pada putaran kedua nanti.
Melihat jumlah suara yang diperolehnya pada putaran pertama
ini, Wiranto melampiaskan kemarahan kepada negara-negara
Barat yang tidak menyokongnya, terutama Komunitas Eropa
yang sekarang beranggotakan 25 negara, yang dengan tegas
menolak Wiranto karena latarbelakang sejarahnya selama Orde
Baru. Sedangkan Amerika Serikat tidak setegas Masyarakat
Eropa, nampak masih bisa menerimanya. Tapi apakah Masyarakat
Eropa yang merupakan kekuatan tidak bisa diabaikan di dunia
dalam bidang apapun, bisa diabaikan oleh siapa saja yang
kemudian menjadi orang pertama di Indonesia?
Suara penolakan Masyarakat Eropa barangkali dan dirasakan
oleh Wiranto mempunyai dampak langsung terhadap jumlah suara
yang diperolehnya pada 5 Juli lalu.Jenderal penyanyikita
dalam pendapat umum dunia memang calon presiden yang tidak
dikehendaki "as an undesirable president" karena
sebagai pimpinan ABRI, Wiranto dikenal dunia internasional
sebagai orang yang bertanggungjawab atas penghancuran dan
masakre di Timor Timur pada tahun 1999. Kecuali itu di dunia
Barat ia dikenal sebagai orang yang dekat dengan Soeharto
dan keluarganya, sekalipun dalam kampanye ia membantah telah
dibeayai oleh Soeharto dan keluarga.
Yang muncul dengan perolehan suara terbanyak pada putaran
pertama adalah Jenderal Yudhoyono yang oleh Damien Kingsbury
[senior lecturer in international development at Deakin
University and author or editor of several books on Indonesian
politics] disebut sebagai "Western favourite"
[favorit Barat]. Sekalipun sebagai "favorit Barat",
Kingsbury masih meragukan kemungkinan Yudhoyono bisa berhasil
menjadi orang pertama di negeri ribuan pulau yang berpenduduk
202 juta itu. "Di Indonesia, yang nampak di permukaan
bisa mengelabui", ujar Kingsbury."But in Indonesian
politics, things are not always how they appear","Karena
dalam dunia politik Indonesia, hal-ikhwal tidak selalu sesuai
dengan yang nampak di mata" [Lihat: Harian The Age,
Melbourne, July 8, 2004], tulis Damien Kingsbury.
Di samping itu, Kingsbury menopang keraguannya dengan alasan-alasan
sejarah Yudhoyono yang juga tidak bersih dari darah, ditambah
dengan sekutu yang dia pilih dalam mencalonkan diri sebagai
presiden. Di dalam perang di Aceh,Yudhoyono mempunyai peranan
dalam meluaskan pembunuhan dan perang pada tahun 2003. Sedangkan
dari segi aliansi, Barat menyesalkan Yudhoyono karena meraih
kelompok-kelompok yang dinilai Barat sebagai "dua partai
Islam yang sangat radikal" [Indonesia's two most radical
Islamic parties] yaitu Partai Keadilan Sosial [PKS] dan
Partai Bulan Bintang yang dekat dengan milisia Islam yang
melakukan kerusuhan berdarah di banyak daerah. Hal begini
sangat tidak disukai oleh negara-negara Barat. Kecuali itu,
Yudhoyono juga disokong oleh "kalangan garis keras
dalam TNI" [the hawk in the Indonesian military (TNI)].
Negara-negara Barat, terutama Komunitas Eropa sangat tidak
menyenangi militerisme. Alasan lain yang dikemukakan oleh
Kingsbury adalah praktek-praktek illegal Yudhoyono untuk
membeayai kampanyenya.
Dari alasan-alasan yang dikemukakan oleh Kingsbury di atas
nampak bahwa Yudhoyono pun sesungguhnya bukan figur yang
bersih. Dari latarbelakang sejarahnya, nampak ia pun bukan
pula tokoh militer yang berpikiran cerah sekalipun memperoleh
pendidikan di Barat.Sehingga andaikan suara Golkar dan lain-lain
pada putaran kedua diberikan kepada Yudhoyono, ancaman bahwa
militerisme kembali menguasai Indonesia masih saja tetap
ada.
Tapi yang menarik ketika menyaksikan naik-pitamnya Wiranto,
jenderal penyanyi kita dan analisa serta alasan-alasan Kingsbury
ini, nampak betapa faktor luar mempunyai pengaruh langsung
pada perolehan suara. Nampak pula peranan lobbie luar negeri
mempunyai arti besar -- hal yang patut diperhatikan oleh
elite tandingan dan "pressing groups" dalam masyarakat
-- di samping memperlihatkan betapa Indonesia masih merupakan
negeri tergantung.
Hal-hal ini juga memperlihatkan betapa jalan panjang menuju
Indonesia yang merdeka dalam artian penuh masih sangat panjang
patut ditempuh, keadaan yang mengingatkan saya pada pesan
seorang pimpinan Asia bahwa yang terbaik adalah buang ilusi,
mari berorganisasi dan siap bertarung. Ingatan yang muncul
ketika melihat keadaan kampung-halaman bernama Indonesia.
|