Joesof Ishak : Demokrasi harus diperjuangkan, Hak harus direbut, Kawan...
By : Suraiya Kamaruzzaman

Sederhana dan rendah hati. Itu penilaian pertama ketika bertemu, berjabat tangan dan berbincang-bincang sejenak dengan Bapak Joesoef Ishak. Berbalut baju biru tua dan jean, kacamata besar bergagang agak kemerahan, raut wajah nampak sedikit lelah setelah perjalanan panjang dari LA to Hong Kong, namun tidak pula mengurangi semangat ketika menguraikan butir-butir pikirannya mengenai media dan proses demokrasi di Indonesia. Sosok yang terkesan tidak banyak bicara, namun begitu mengeluarkan suara, setiap patah katanya bermakna.

Joesoef mampir ke HK dalam perjalanan pulangnya dari LA, tidak sempat mengikuti acara formal penyerahan award “the Jeri Laber International Freedom to Publish Award” diberikan oleh American Pen Centre, dimana Ia dinyatakan sebagai seorang yang berani menegakkan demokrasi dan keadilan dengan usaha penerbitan. Melihat vidio rekaman acara penyerahan tersebut, Joesoef mengatakan merasa beruntung tidak hadir, karena acaranya sangat mewah, dimana seluruh undangan memakai toxindo, sementara Ia sendiri tidak pernah memilikinya.

Sebelum berbicara secara formal di depan forum, Ia sempat mengatakan, jangan menyesal jika penyampaiannya tidak menarik serta membuat peserta mengantuk. Menurutnya Ia memang terbiasa menulis, tapi bukan pembicara yang berpengalaman, sementara untuk acara kali inipun tidak mempunyai persiapan apa-apa. Namun, seminar dengan topik “Keadaan Media Indonesia Dewasa Ini” yang diselenggarakan oleh HKSIS (Hong Kong Society for Indonesian Studies Secretariat), di Gedung Hong Kong Overseas Chinese Gerneral Association Coseway Bay, pada Sabtu (26 Juni) itu, betul-betul menggugah peserta. Pertanyaan-demi pertanyaan serta diskusi terus berjalan dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan dengan cantiknya ke bahasa Mandarin oleh Bapak Yeung Ping, akhirnya terpaksa dihentikan, mengingat waktu semakin malam. Diskusi informal masih dilanjutkan selama makan malam bersama, disambung keesokan harinya di tempat penginapan dan ketika jalan-jalan di Cosway Bay.

Mantan Sekretaris Gendral PWAA (Persatuan Wartawan Asia-Afrika) pada tahun 60-an itu, menyampaikan beberapa tema menarik di acara tersebut, antaranya: persoalan kebebasan pers, sistem pembodohan, diskriminasi terhadap etnis Tionghoa dan pemilihan presiden 2004 secara langsung. Ia sama sekali tidak menyinggung persoalan tuduhan keterlibatan G30S yang menyebabkannya meringkuk dalam penjara Salemba selama belasan tahun, tanpa bukti dan diajukan kedepan pengadilan. Ditengah-tengah tanya jawab, Ia sempat memaparkan beberapa catatan yang tertinggal mengenai ide-ide besar Bung Karno dan pikiran-pikirannya yang berserak

• Untuk kemerdekaan, untuk membangun demokrasi, kita harus berjuang
Menurut Joesoef, ketika Suharto jatuh di tahun 1998, banyak wartawan asing datang dan mewawancarainya sebagai salah satu pendiri Hasta Mitra, dimana buku-buku terbitannya di bredel dan banyak mengalami kesulitan lainnya di bawah kekuasaan rezim Suharto (termasuk diintrogasi selama sebulan penuh dengan tuduhan menyebarkan ajaran Maxis). Secara umum mereka mempertanyakan “Apakah Joesoef akan menerbitkan buku-buku lagi karena pers sudah bebas?”. Ditegaskannya, pertanyaan tersebut adalah suatu hal yang keliru. ”Karena Suharto sudah jatuh, lalu kita menerbitkan buku, maka ini bukan jawaban dalam penegakan demokrasi di Indonesia”. Lebih lanjut Ia mengatakan ”Untuk kemerdekaan, untuk memperjuangkan demokrasi, tidak menunggu diberikan oleh penguasa. Kita harus berjuang, melawan penguasa represif, penguasa kejam”. Itulah sumbangsih sesungguhnya, termasuk dari Hasta Mitra dalam membangun demokrasi di Indonesia.

Pada penjelasan selanjutnya, Joesoef mengatakan saat ini Hasta Mitra dapat menerbitkan buku, tanpa ada kekhawatiran, tanpa rasa ketakutan akan di bredel. Bebas menulis juga bebas menerbitkan tulisan. Media yang ada juga bertambah, sehingga sering dikatakan, demokrasi sudah ada di Indonesia. Pers asing sering mengatakan hal yang sama, dengan menunjukkan bukti mulai banyak media yang bermunculan. Tetapi catatannya, ”bahwa yang memerdekakan pers, yang membuat kekebasan pers lahir adalah karena rakyat merebutnya, bukan karena adanya Undang Undang perlindungan pers. Militer akan merasa takut untuk membredel, kalau rakyat melawan.. Demokrasi bukan diberikan pemerintah, tapi di rebut oleh rakyat. Jika dilihat sejak dari kejatuhan Suharto dimana sering disebut dengan zaman reformasi, sampai sekarang sudah mencapai 5 tahun, menurutnya demokrasi tetap jalan di tempat. Apalagi jika dibandingkan dengan apa yang pernah dicita-citakan dan diinginkan mahasiswa saat itu, misalnya berantas KKN, berantas korupsi dan lainnya. Hari ini, semua hal tersebut masih tetap terjadi.

• Sampah Busuk yang harus disingkirkan
Ia memulai tema lain yang juga selalu dibicarakannya dengan mahasiswa termasuk kawan-kawan PRD yang datang kerumahnya. Berilustrasi tentang peristiwa 11 Sept 2001 dimana gedung kembar World Trade Center yang sangat terkenal di New York yang di tabrak pesawat. ”Coba lihat, bekas rontoknya gedung tersebut menjadi material berton-ton beratnya. Sejak tahun lalupun, tempat kedua gedung yang berdiri megah sebelumnya sudah bersih, saat ini dijadikan sebagai tempat peringatan, dengan sebuah semboyan besar WE WERE NEVER FORGET”. ”Sekarang mari kita bandingkan dengan Indonesia”, lanjutnya lagi. ” Dengan sebuah rezim otoriter yang berkuasa selama 30 tahun, tentu saja telah meninggalkan sampah yang sangat banyak. Sampah busuk, baunya luar biasa. Tetapi kita tidak pernah membersihkannya. Kita mencoba mendirikan demokrasi ditengah tumpukan sampah itu, tanpa membersihkan landasannya. Bagaimana demokrasi bisa dibangun?” Sungguh, sebuah pertanyaan yang mendasar sangat tajam.

• Penyeragaman berfikir adalah proses pembodohan yang sangat parah.
Joesoef juga menjelaskan, terutama pada generasi muda tentang apa yang terjadi di Indonesia pada saat ini. Menurutnya, banyak yang mengatakan, setelah Suharto jatuh persoalan yang paling parah yang tertinggal adalah KKN. Hal ini ada benarnya, (Ia menyayangkan karena kebetulan tidak membawa data statistik hari itu). Banyak yang memuji Suharto, dengan mengatakan konsep pembangunannya berhasil. Gedung - gedung pencakar langit bermunculan bukan hanya di Jakarta tapi juga di kota besar lainnya. Ketika Suharto jatuh, orang baru sadar, ternyata gedung itu dibangun dengan hutang, yang bukan hanya kita, juga termasuk anak cucu harus menanggungnya.

Yang sering menjadi tema pembicaraan saat ini di radio, TV ataupun koran, persoalan KKN dan korupsi telah menyebabkan kehancuran yang menyengsarakan rakyat. Selain KKN, masih ada persoalan krisis ekonomi. Tetapi Ia mengatakan yang paling parah adalah krisis berfikir, ”krisis intelektual”. Selama 30 tahun, telah terjadi proses pembodohan yang sangat parah, terjadi proses penyeragaman berfikir. Mulai dari tukang pungut beling sampai professor semua pikirannya sama. Krisis intelektual inilah yang paling parah dari semua krisis yang terjadi di Indonesia.. Ia mengutip dari kata bersayap Jendral Nasution, ”Fitnah lebih kejam dari pembunuhan”, tapi memodifikasi penggunaannya menjadi ”di bawah kekuasaan Suharto pembodohan lebih kejam dari fitnah dan pembunuhan sekaligus”.

Yang dimaksudnya dengan pembodohan adalah ketidakmampuan membedakan antara abstarksi dengan realitas. Bercampur aduk. Menurut istilah sosiologi sering disebut dengan istilah reifikasi, maksudnya adalah suatu proses dimana produk hasil rekayasa otak manusia yang membuat pengertian atau persepsi diterima sebagai kebenaran dan lama kelamaan dianggap sebagai kenyataan, padahal itu betul-betul rekayasa. Contoh kongritnya, misalnya dari peristiwa yang terjadi pada tahnun 1965. Berdasarkan berita yang disiarkan oleh pers fersi Suharto, sebelum para jenderal di bunuh, maka terlebih dahulu disiksa, disilet oleh perempuan-perempuan yang bergabung dalam organisasi Gerwani. Itulah berita yang dikeluarkan secara resmi, dianggap sebagai kebenaran. Padahal itu semua adalah reifikasi, saat ini banyak fakta yang diungkap, peristiwa 65 sangat berlawan seperti yang pernah diberikan dulu sebagai sebuah kebenaran.

Ia masih menambahkan dengan contoh lain, bagaimana ketika Suharto masih berkuasa, menjelang pemilu sering sekali terdengar/diberitakan mengenai pendapat ”kita belum bisa menyusun kekuatan sipil, dipahami: kita masih membutuhkan ABRI. Membutuhkan ABRI dipahami sebagai tidak bisa lain Presiden harus ABRI, yang dipahami berikutnya Presiden harus Suharto”. Hal ini dibahas, dibicarakan di radio atau di koran oleh intelektual, ahli analisa politik, profesor, pemuka agama dll. Semua Mengutarakan hal yang sama. Ini salah satu reifikasi, bagaimana sebuah abstraksi diterima sebagai kebenaran. Padahal bukti menunjukkan (melalui Suharto sendiri) bahwa bukan hanya ABRI yang bisa. Habibie bukan ABRI ternyata bisa menjadi Presiden.

• Diskriminasi dan kesalahan dalam berfikir
Ia menyatakan respeknya terhadap warga negara Indonesia Etnis Tionghoa yang berada di Luar Negri. Komunitasnya banyak, berada dimana-mana dan sangat aktif berorganisasi. Salah satunya seperti HKSIS, selain aktif menyampaikan informasi tentang Indonesia melalui seminar-seminar yang dilaksanakan, juga menerbitkan majalah yang dituliskan dalam bahasa Indonesia, Mandarin dan Inggris. Mengambil dari pengalaman pribadinya, 5 tahun yang lalu ketika berjalan bersama Pramudia di Toronto dan beberapa tempat lain, juga dalam perjalanan ke LA bar-baru ini, isu yang pertama muncul di komunitas Tionghoa selalu sama, yaitu persoalan diskriminasi. Mau menyekolahkan anak, mengurus KTP, membuat pasport, membangun bisnis dan berbagai hal lainnya, dalam berbagai aspek terjadi diskriminasi. Ini memang fakta yang tidak dapat dipungkiri, walaupun Presiden Megawati baru saja mengatakan tidak seharusnya hal ini terjadi.
Tetapi Joesoef ingin mengajak peserta seminar untuk melihat persoalan ini dari sudut pandang lain. Ia personal, sebagai individu di Indonesia berada di luar gelanggang, orang pinggiran, mantan Tapol lagi. Tetapi Ia tidak mengeluh, tidak pernah menuntut, bahkan ketika harus di penjara tanpa pengadilan sebelumnya, ia terus bergerak. Menurut teman-temannya, yang menunjukkan Joesoef kelihatan berbeda, karena Ia tidak pernah menganggap diri sebagai korban, Ia menganggap dirinya musuh Suharto, musuh orde baru. Dan untuk itu Ia berjuang, untuk mendapatkan haknya.

Dengan tegas Ia mengatakan, kalau melihat kenyataan di Indonesia, ada banyak korban selama orde baru. Saat ini bahkan ada yang menuntut rehabilitasi, ada yang minta kompensasi. Point yang ingin diungkapnya, jangan menganggap diri sebagai korban dan diam. Kuncinya adalah bergerak, berorganisasi. Rebut apa yang menjadi hak. Kalau selalu mengaggap diri sebagai korban, dianggapnya sebagai suatu kesalahan dalam berfikir.

• Siapa Presiden Indonesia ke depan?
Ini adalah tema yang menaik, mengingat tanggal 5 Juli akan mulai putaran pertama pemilihan Presiden secara langsung. Menurutnya, kemanapun Dia pergi, orang selalu bertanya, soal siapa kira-kira yang akan menjadi Presiden dari 5 kandidat tersebut, atau siapakah Presiden pilihannya. Yang jelas, sebenarnya calonnya tidak termasuk dari yang 5 kandidat tersebut. Maka Dia akan memperhitungkan tidak akan memilih calon yang mempunyai sikap militeristik. Dalam hal ini Dia mengingatkan untuk membedakan antara militer dengan militeristik. Dalam kasus ini, Dia secara tegas mengatakan Wiranto adalah militer yang dianggapnya mewakili sikap militeristik.

Kembali ke topik media, Ia memberikan ilustrasi, ketika di tahun 65 Suharto mulai berkuasa. Jika dibandingnya dengan Yani, Nasution dan lainnya, Suharto yang tingkat pendidikannya paling rendah. Tetapi menurutnya Suharto mengerti strategi. Sebelum ”memukul” PKI, maka yang ”dipukul” terlebih dahulu adalah media. Menjawab pertanyaan salah satu peserta, Ia mengatakan media tetap mempunyai peranan yang sangat besar dalam pembangunan, bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia.

Bagaimanapun media adalah cerminan dari masyarakat. Jangan berfikir media “pintar” di tengah masyarakat bodoh. Kalau dilihat gambaran umum surat kabar Indonesia saat ini, semua media isinya sama, tidak ada suara lain, jarang terdengar suara alternatif. Namun diakuinya, jika dibanding dengan jaman dulu, media sekarang jauh lebih maju. Pada zamannya wartawan kerjanya borongan, mulai dari cari berita ekonomi politik, menulis, merangkap editor dan lainnya. Wartawan sekarang jauh lebih spesifik, misalnya ada yang khusus meliput dan menulis berita ekonomi, ada yang reporter olahraga, mode dll. Dulupun, ketika mencari calon wartawan baru, maka lulusan S1 bukanlah persyaratan yang harus dipenuhi. Bisanya langsung melakukan kerja praktek (misalnya ke kantor polisi, meliput berita ) dan pulangnya membuat laporan. Kalau sekarang? Selain lulusan S1, terkadang juga proses magangnya terbilang bulanan. Tetapi menurutnya, hal tersebutpun tidak bisa dijadikan perbandingan kualitas. Meski lulusan S1 dan ”profesional”, selama tidak bisa membedakan antara rekayasa dan fakta jangan harap demokrasi akan berjalan. Katanya, walaupun media cerminan masyarakat, ditengah ”masyarakat yang sakit”, media bisa meng-up grade dirinya untuk memberi kesempatan pada warganya untuk belajar.

• Sukarno dan Megawati.
Hal menarik lainnya adalah penuturannya yang muncul dari proses tanya jawab dengan peserta. Menurutnya, Megawati ”dekat” dengan AS justru karena Mega ”menentang” konsep Bapaknya. Megawati bukan representatif pelanjut ide-ide besar Bung Karno. Ketika Sukarno pernah mengatakan ”go to hell with your aid” kepada IMF, Word Bank dan Kapitalis Barat, maka Mega justru mengundangnya. Tentu kita masih ingat dengan reaksi Barat dan orang-orang Indonesia (yang patut dikasihani), tapi menurutnya, pernyataan Bung Karno itu bukan saja sikap politik, tapi yang paling utama justru pernyataan kebudayaan. Mendidik rakyat Indonesia untuk menjadi bangsa yang bermartabat, berdikari dan tidak menjadi pengemis.

Lagi Ia mengingatkan konsep Trisakti Sukarno yang sekarang hanya menjadi bahan hafalan sejarah bagi anak sekolah dasar, tanpa memahami makna yang sangat mendalam yang tercantum di dalamnya, yaitu konsep Trisakti (bebas aktif dalam politik, berdikasi dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan). Ini konsep besar, tegasnya. Sayang, saat ini tidak banyak dilirik oleh orang yang mengaku dirinya sebagai pemimpin bangsa. Ini konsep cemerlang yang hanya dipuja dan menjadi fosil saja, katanya menutup pembicaraan.M (SK/IM)

     

 


FastCounter by bCentral