|
|
|
ANTIOKSIDAN,
RESEP SEHAT & UMUR PANJANG
Untuk mendapatkan tubuh sehat dan umur panjang, orang melakukan
banyak hal. Mulai dari olahraga, menyantap makanan tambahan,
sampai bedah kosmetik untuk mengencangkan kulit yang mulai
keriput. Padahal itu hanya permukaan. Yang lebih penting
justru bagaimana kita memerangi radikal bebas yang merusak
tubuh dari dalam. Antara lain dengan antioksidan seperti
dituturkan oleh ahli gizi, dr. Elvina Karyadi, M.Sc., di
bawah ini.
Mewujudkan kualitas hidup yang baik di usia lanjut memang
tidak mudah tanpa didukung usaha sejak dini di usia muda.
Saat ini kelebihan gizi yang mengakibatkan tingginya prevalensi
penyakit degeneratif seperti jantung, kanker, kencing manis,
rematik sudah dirasakan sampai di negara-negara berkembang
termasuk Indonesia. Belum lagi akibat yang ditimbulkan oleh
lingkungan tercemar, kesalahan pola makan dan gaya hidup
yang justru merangsang tumbuhnya radikal bebas (free radical)
yang merusak tubuh kita.
Kondisi ini mendorong para peneliti baik ahli gizi maupun
dokter menggali teori dasar radikal bebas serta mencari
bagaimana cara mengendalikan produksi radikal bebas pada
tubuh kita. Penelitian di bidang gizi ortomolekuler pada
tingkat sel membuktikan, antioksidan dapat melindungi jaringan
tubuh dari efek negatif radikal bebas. Ternyata, gangguan
atau ketidakmampuan sistem antioksidan tubuh inilah yang
menyebabkan berbagai macam penyakit degeneratif.
Apa itu radikal bebas?
Radikal bebas merupakan atom atau molekul yang sifatnya
sangat tidak stabil (mempunyai satu elektron atau lebih
yang tanpa pasangan), sehingga untuk memperoleh pasangan
elektron senyawa ini sangat reaktif dan merusak jaringan.
Senyawa radikal bebas tersebut timbul akibat berbagai proses
kimia kompleks dalam tubuh, berupa hasil sampingan dari
proses oksidasi atau pembakaran sel yang berlangsung pada
waktu bernapas, metabolisme sel, olahraga yang berlebihan,
peradangan atau ketika tubuh terpapar polusi lingkungan
seperti asap kendaraan bermotor, asap rokok, bahan pencemar,
dan radiasi matahari atau radiasi kosmis.
Karena secara kimia molekulnya tidak lengkap, radikal bebas
cenderung "mencuri" partikel dari molekul lain,
yang kemudian menimbulkan senyawa tidak normal dan memulai
reaksi berantai yang dapat merusak sel-sel penting dalam
tubuh. Radikal bebas inilah biang keladi berbagai keadaan
patologis seperti penyakit lever, jantung koroner, katarak,
penyakit hati dan dicurigai proses penuaan dini ikut berperan.
Sebenarnya, reaksi pembentukan radikal bebas merupakan mekanisme
biokimia tubuh normal. Radikal bebas lazimnya hanya bersifat
perantara yang bisa dengan cepat diubah menjadi substansi
yang tak lagi membahayakan tubuh. Namun, bila radikal bebas
sempat bertemu dengan enzim atau asam lemak tak jenuh ganda,
maka merupakan awal dari kerusakan sel yang antara lain:
• Kerusakan DNA (deoxy nucleic acid) pada
inti sel
Senyawa radikal bebas merupakan salah satu faktor penyebab
kerusakan DNA di samping penyebab lain seperti virus, radiasi,
dan zat kimia karsinogen. Bila kerusakan tidak terlalu parah,
masih dapat diperbaiki oleh sistem perbaikan DNA. Namun,
bila sudah menyebabkan rantai DNA terputus di berbagai tempat,
kerusakan ini tidak dapat diperbaiki lagi sehingga pembelahan
sel akan terganggu. Bahkan terjadi perubahan abnormal yang
mengenai gen tertentu dalam tubuh yang dapat menimbulkan
penyakit kanker.
• Kerusakan membran sel
Komponen terpenting membran sel mengandung asam lemak tak
jenuh ganda yang sangat rentan terhadap serangan radikal
bebas. Kalau ini terserang struktur dan fungsi membran akan
berubah yang dalam keadaan ekstrem akhirnya mematikan sel-sel
pada jaringan tubuh.
• Kerusakan protein
Terjadinya kerusakan protein akibat serangan radikal bebas
ini termasuk oksidasi protein yang mengakibatkan kerusakan
jaringan tempat protein itu berada. Contohnya kerusakan
protein pada lensa mata yang mengakibatkan katarak.
• Kerusakan lipid peroksida
Ini terjadi bila asam lemak tak jenuh terserang radikal
bebas. Dalam tubuh kita, reaksi antarzat gizi tersebut dengan
radikal bebas akan menghasilkan peroksidasi yang selanjutnya
dapat menyebabkan kerusakan sel, yang dianggap salah satu
penyebab terjadinya berbagai penyakit degeneratif (kemerosotan
fungsi tubuh).
• Proses ketuaan.
Umumnya, semua sel jaringan organ dapat menangkal serangan
radikal bebas karena di dalamnya terdapat sejenis enzim
khusus yang mampu melawan. Namun, karena manusia secara
alami mengalami degradasi seiring dengan peningkatan usia
akibat radikal bebas itu sendiri, otomatis pemusnahannya
tidak pernah mencapai 100% meski secara teori dapat dipunahkan
oleh berbagai antioksidan. Belum lagi adanya rangsangan
untuk membentuk radikal bebas yang berasal dari lingkungan
sekitar. Karena itu, secara perlahan-lahan tapi pasti, terjadi
kerusakan jaringan oleh radikal bebas yang tidak terpunahkan.
Kerusakan jaringan secara pelan ini merupakan proses terjadinya
ketuaan, seperti kehilangan elastisitas jaringan kolagen
dan otot sehingga kulit tampak keriput, terjadinya lipofuchsin
atau bintik-bintik pigmen kecoklatan di kulit yang merupakan
timbunan sisa pembakaran dalam sel. Yang ingin awet muda
tentu perlu banyak mengkonsumsi zat gizi yang meminimalkan
efek radikal bebas ini.
• Dapat menimbulkan autoimun
Dalam keadaan normal, antibodi hanya terbentuk bila ada
antigen yang masuk dalam tubuh. Autoimun adalah terbentuknya
antibodi terhadap suatu sel tubuh biasa dan hal ini dapat
merusak jaringan tubuh dan sangat berbahaya.
Antioksidan pelindung kesehatan
Tanpa disadari dalam tubuh kita secara terus-menerus terbentuk
radikal bebas melalui peristiwa metabolisme sel normal,
peradangan, kekurangan gizi dan akibat respons terhadap
pengaruh dari luar tubuh: polusi lingkungan, ultraviolet,
asap rokok, dll.
Sebab itu tubuh kita memerlukan suatu substansi penting
yakni antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh dari
serangan radikal bebas dengan meredam dampak negatif senyawa
ini.
Sistem antioksidan tubuh sebagai mekanisme perlindungan
terhadap serangan radikal bebas, secara alami telah ada
dalam tubuh kita. Dari asal terbentuknya, antioksidan ini
dibedakan menjadi dua yakni intraseluler (di dalam sel)
dan ekstraseluler (di luar sel) atau pun dari makanan. Dari
sini antioksidan tubuh bisa dikelompokkan menjadi 3 yakni:
Antioksidan primer
Antioksidan primer ini bekerja untuk mencegah pembentuk
senyawa radikal bebas baru. Ia mengubah radikal bebas yang
ada menjadi molekul yang berkurang dampak negatifnya, sebelum
radikal bebas ini sempat bereaksi. Contoh antioksidan ini
adalah enzim SOD yang berfungsi sebagai pelindung hancurnya
sel-sel dalam tubuh serta mencegah proses peradangan karena
radikal bebas. Enzim SOD sebenarnya sudah ada dalam tubuh
kita. Namun bekerjanya membutuhkan bantuan zat-zat gizi
mineral seperti mangan, seng, dan tembaga. Selenium (Se)
juga berperan sebagai antioksidan. Jadi, jika ingin menghambat
gejala dan penyakit degeneratif, mineral-mineral tersebut
hendaknya tersedia cukup dalam makanan yang dikonsumsi setiap
hari.
Antioksidan sekunder
Antioksidan ini berfungsi menangkap senyawa serta mencegah
terjadinya reaksi berantai. Contoh antioksidan sekunder:
vitamin E, vitamin C, beta karoten, asam urat, bilirubin,
dan albumin.
Antioksidan tersier
Antioksidan jenis ini memperbaiki kerusakan sel-sel dan
jaringan yang disebabkan radikal bebas. Contoh enzim yang
memperbaiki DNA pada inti sel adalah metionin sulfoksidan
reduktase. Adanya enzim-enzim perbaikan DNA ini berguna
untuk mencegah penyakit kanker, misalnya.
Hasil berbagai penelitian dengan menggunakan hewan percobaan
telah mendukung teori bahwa mengkonsumsi antioksidan yang
memadai dapat mengurangi terjadinya berbagai penyakit seperti
kanker, kardiovaskuler, katarak serta penyakit degeneratif
lain.
Anggur merah vs jantung koroner
Lebih dari 200 penelitian secara epidemiologi menyatakan,
diet makanan yang mengandung beta karoten dapat menurunkan
risiko penyakit kanker. Beta karoten konon mampu mecegah
kerusakan sel normal dari sel ganas dengan cara meningkatkan
keutuhan sel-sel normal dan mengusahakan agar sel-sel kanker
tersebut bertindak sebagai sel normal.
Vitamin C juga berperan dalam menurunkan risiko kanker saluran
pencernaan. Dikatakan pula adanya hubungan antara asupan
vitamin E yang rendah dan risiko kanker payudara, paru-paru,
tenggorokan, dan mulut.
Beberapa studi mengungkapkan peranan antioksidan untuk mencegah
penyakit jantung. Oksidasi LDL (low density lipoprotein)
menyebabkan kerusakan dinding pembuluh arteri yang berarti
proses awal dari aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah
arteri).
Pertahanan antioksidan secara alami dalam LDL kolesterol
dengan jumlah yang cukup dapat melindungi LDL dari proses
oksidasi tapi masih dipertanyakan apakah perlindungan ini
terjamin pada setiap orang. Antioksidan alam terbanyak dalam
LDL adalah vitamin E. Sehingga penambahan suplemen vitamin
E dalam makanan dapat meningkatkan kandungan vitamin E dalam
LDL serta meningkatkan perlindungan terhadap proses oksidasi.
Beta karoten merupakan antioksidasi yang cukup kuat yang
secara teoritis juga dapat melindungi oksidasi LDL.
Anggur merah telah terbukti dapat mencegah penyakit jantung
koroner karena kandungan flavonoidnya. Sebagai contoh, Prancis,
dibandingkan negara Eropa lain atau Amerika, jumlah penderita
PJK-nya lebih kecil (dikenal dengan istilah the French paradox)
karena suka sekali minuman anggur merah. Padahal konsumsi
lemak mereka lebih besar, lebih banyak merokok dan kurang
bergerak. Anggur merah memang mempunyai kandungan senyawa
fenol lebih tinggi daripada anggur putih. Fenol ini mempunyai
efek kardioprotektif (flavonoid) yakni antioksidan yang
sangat kuat. Ia dapat mencegah oksidasi LDL 20x lebih kuat
dari vitamin E.
Senyawa flavonoid ini telah terbukti secara in vitro mempunyai
efek biologis yang sangat kuat sebagai antioksidan, menghambat
penggumpalan keping-keping sel darah, merangsang produksi
oksidasi nitrit yang dapat melebarkan (relaksasi) pembuluh
darah dan juga menghambat pertumbuhan sel kanker.
Sayangnya, flavonoid pada anggur dan sayuran bentuknya kompleks
sehingga sangat sulit dicerna dan diserap. Sedangkan pada
saat fermentasi anggur merah, kompleks ini terurai sehingga
mudah diserap tubuh. Ditambah lagi adanya alkohol (10%)
dalam anggur membuat kandungan flavonoid stabil.
Berdasarkan penelitian, paparan senyawa radikal bebas, sinar
ultraviolet, dan asap rokok dapat menyebabkan oksidasi protein
pada lensa mata sehingga lama-kelamaan menimbulkan katarak.
Penelitian epidemiologis menyatakan, katarak meningkat di
negara-negara yang tinggi kebiasaan merokok serta paparan
sinar mataharinya.
Asupan vitamin C dan E yang rendah pada diet makanan disertai
kadar vitamin C yang rendah dalam darah, akan mempermudah
seseorang terkena katarak (kekeruhan lensa mata). Apalagi
ditambah dengan kebiasaan merokok.
Kasiat tempe dan ikan laut
Selain berbentuk zat gizi seperti vitamin C dan D, antioksidan
dapat pula berupa zat non-gizi seperti pigmen (karoten,
likopen, flavonoid, klorofil) dan enzim (glutation peroksida,
koenzim, Q-10 atau ubiquinon). Karoten banyak pada wortel,
ubi rambat, semangka, bayam, kangkung, jeruk. Likopen pada
tomat. Flavonoid pada wortel, jeruk, brokoli, kol, mentimun,
bayam, tomat, merica dan terung.
Bila konsumsi mineral seperti seng, selenium, tembaga, vitamin
E dan C serta beta karoten cukup, maka tidak diperlukan
suplemen. Suplemen berupa pil, kapsul, dll hanya diberikan
bila makanan berantioksidannya belum memenuhi angka kebutuhan
gizi yang dianjurkan.
Dalam makanan sehari-hari antioksidan banyak terdapat dalam
sayuran dan buah-buahan. Sedangkan tempe dan ikan laut dapat
memusnahkan atau meminimalkan pembentukan radikal bebas.
Selama lebih dari setengah abad antioksidan telah dimanfaatkan
dalam pengolahan pangan untuk menghambat kerusakan makanan.
Biasanya antioksidan ini ditambahkan pada makanan yang mengandung
lemak atau minyak, buah segar atau sayuran agar tidak cepat
rusak. Senyawa ini juga dapat untuk mencegah perubahan warna
dan rasa yang disebabkan oksigen di udara (pada apel, pisang
yang mengandung enzim tertentu).
Selain pada bahan makanan, antioksidan seperti vitamin E
juga sebagai suplemen diet untuk mengatasi proses oksidasi
dalam tubuh. Belakangan malah antioksidan digunakan dalam
produk kosmetik. (Penulis bekerja pada Bagian Gizi Masyarakat
SEA-MEO Tropmed-UI)
|