|
|
|
Jakarta
Tempo Doeloe
Bagian 3 dari 3
Naik
Pangkat Lewat KKN
Walaupun membosankan, seorang pegawai pemerintah tidak berani
tidak hadir di pesta atasannya. Absen ke perjamuan bisa
mengalangi ia naik pangkat. Istri atasannya bisa mempengaruhi
nasibnya. Kalau istri bos tidak berkenan pada istri anak
buah suaminya, jangan harap anak buah itu bisa meniti jenjang
karier.
Pegawai pemerintah yang ingin naik pangkat memang tidak
bisa cuma mengandalkan kepandaian dan prestasinya, tapi
juga latar belakang keluarganya dan "keterampilan khusus".
Umpamanya saja, kalau bosnya doyan makan enak, mungkin dia
perlu mengantarkan pate-de-foie-gras (makanan mahal dari
Prancis yang dibuat dari hati unggas) dan anggur burgundy.
Kalau bosnya bangga betul pada putrinya, maka berbahagialah
dia yang pandai berdansa dan rajin meminta anak bos berdansa
dengannya di pesta-pesta. Kalau bos keranjingan main kartu,
beruntunglah dia yang pandai dan tahan meladeni bos main
kartu dalam pertemuan-pertemuan di rumah bos.
Semua hari besar yang berkenaan dengan bos sebaiknya diingat
baik-baik. Kalau perlu, catatannya ditempel di kaca rias
supaya jangan luput dari ingatan. Pada hari itu, begitu
lonceng berbunyi tujuh kali di sore hari, buru-buru sajalah
berangkat ke rumah bos.
Bagi pendatang baru, birokrasi seperti itu tentu saja sangat
menyebalkan, tapi lama-kelamaan mereka jadi terbiasa. Namun,
setinggi apa pun pangkat pejabat pemerintah di Jawa, ia
mesti pandai menahan diri, sebab kalau ia kembali ke den
Haag, ia cuma akan menjadi sekadar Meneer Jansen atau Meneer
Smit, bukan residen lagi. Lagi pula teman sepergaulannya
di Jawa bukan cuma pejabat.
Belanda yang sudah lama di Jawa, sikapnya lebih luwes daripada
Belanda "baru". Bungalow di Batavia yang terbuka,
yang dinaungi pohon-pohon tinggi, rupanya mencairkan kekakuan
yang terbentuk dalam rumah-rumah keluarga yang seperti benteng
abad XVII di sepanjang Heerengracht di Amsterdam.
Hidup di luar rumah
Di Jawa, orang Barat dan orang Timur sudah hidup berdampingan
selama tiga abad. Yang satu bisa berbicara dalam bahasa
yang lain. Mereka saling tergantung dan tidak saling membenci.
Namun, orang Belanda tidak memahami orang Jawa dan begitu
pula sebaliknya.
Saya mengaku bahwa saya tidak mengenal jiwa orang Jawa,
walaupun saya memperhatikan mereka. Yang saya tahu cuma
keadaan lahiriahnya saja.
Kebanyakan mereka hidup di luar rumah: mandi di kali, makan
di tepi jalan, bahkan tidur di bawah pohon atau emper rumah,
di bawah cahaya bulan. Hal ini tentu ganjil sekali bagi
orang-orang dari Utara yang terbiasa memenjarakan dirinya
di balik kungkungan dinding dan atap. Namun, kalau melihat
mereka, kita mesti mengakui bahwa cara hidup mereka itu
baik dan cocok buat mereka.
Di Tanahabang, saya sering melihat mereka mandi di kali
pagi-pagi sekali. Kaum pria membuka pakaian lalu mencebur
dan menyelam di kali. Ketika mereka naik, tubuhnya yang
coklat tampak seperti patung-patung perunggu. Kaum wanita
turun ke kali dengan cara lebih tenang. Mereka memakai kain
basahan. Ibu-ibu muda membimbing anak-anak mereka ke tempat
yang dangkal.
Anak laki-laki dan perempuan berenang sambil main ciprat-cipratan
dengan berisik. Sementara itu gadis-gadis remaja bercanda
di tempat yang teraling tanaman air sambil saling mengguyur
dengan gayung dari daun kelapa. Rambutnya yang hitam panjang
itu berkilat-kilat dan kain basahannya rapat menempel ke
tubuh.
Kadang-kadang lewat rakit. Penumpangnya sedang sarapan di
bawah atap. Penumpang rakit saling menyapa dengan orang-orang
yang mandi. Kadang-kadang mereka ikut bercanda juga.
Selesai mandi para wanita beriring-iringan naik dan pergi
ke tukang bunga. Orang-orang di Jawa senang bunga: melati
putih, mawar merah, cempaka kuning, pacar air.
Walaupun tanaman bunga mudah tumbuh di sini, tapi di Batavia
saya belum pernah melihat mereka bertanam bunga dekat gubuknya.
Paling-paling kembang sepatu di pagar. Mereka juga tidak
terbiasa menaruh bunga dalam jembangan. Bunga adalah untuk
dipakai di rambut mereka yang panjang, yang dikeramas dengan
abu jerami padi dan dibilas dengan air bunga sebelum diberi
minyak akar wangi.
Bunga juga ditaburkan di antara pakaian mereka. Motif bunga-bungaan
menghiasi pakaian mereka dan ragam hias mereka. Anak-anak
meronce bunga tanjung untuk dipakai sebagai kalung. Bunga
juga dipakai untuk sesajen.
Makannya sepersepuluh orang Belanda Di Tanahabang dan Koningsplein,
di bagian yang dihuni oleh pribumi, ada warung-warung penjual
makanan. Tapi lebih banyak lagi warung-warung yang lebih
kecil dan portable. Ada yang mangkal di pinggir kali, sepanjang
kanal, di pojok-pojok jalan, di stasiun, di pangkalan sado.
Mereka datang memikul warung berjalannya itu pagi-pagi sekali.
Lalu dagangannya yang aneka warna dan piring-gelas-botolnya
diatur supaya menarik. Mereka menurunkan anglonya dan mulai
beroperasi.
Ada yang menjual nasi dengan ikan asin dan sambel, kue hijau
yang diberi parutan kelapa berwarna putih, pelbagai macam
kue manis berwana-warni mencolok yang disajikan di daun
pisang segar yang hijau.
Penduduk Jawa sedikit sekali makannya dan tidak mewah. Sebungkus
nasi dengan ikan asin dan sambal cukup untuk sehari. Orang
Eropa akan menginsafi betapa rakusnya mereka kalau melihat
orang Jawa makan. Bayangkan, cuma sepersepuluh dari yang
kita lahap. Padahal mereka mesti berjalan kaki sepanjang
hari dan memikul beban yang berat.
Tampaknya, mereka penggemar makanan manis. Sambil duduk
di dingklik, mereka makan dengan nikmat kue-kue berwarna
kuning, putih, merah jambu, dan minum sirup. Anak-anak juga
boleh makan.
Anak-anak tidak dipercaya untuk makan sendiri, tapi disuapi.
Anak yang masih kecil sekali direbahkan di paha, lalu mulutnya
dijejali dengan nasi yang dihaluskan bersama pisang. Mau
tidak mau, menangis atau tidak, makanan itu mesti ditelan.
Kalau si ibu merasa anaknya sudah cukup makan, barulah penjejalan
dihentikan.
Lalu si anak boleh bangkit. Ibunya menyeka air matanya dan
mendekapnya. Si anak pun digoyang-goyang sampai tertidur.
Ayam aduan harus dipijat
Sesudah sarapan, penduduk pribumi mulai bekerja. Di kota-kota
mereka tidak bisa bertani. Sementara itu pertukangan dan
perdagangan kebanyakan berada di tangan orang-orang Tionghoa.
Jadi, selain bekerja seperti yang tadi diceritakan, banyak
juga di antara mereka yang menjadi pembantu rumah tangga
di rumah-rumah orang Eropa.
Menjelang pukul empat, mereka kembali mandi di kali. Lalu
mereka merokok atau mengunyah sirih sambil mengobrol. Saat
musim kemarau mereka bermain layang-layang di lapangan-lapangan
dan taman-taman di Batavia. Layangan mereka ada yang bersayap
seperti burung, ada yang seperti naga, ada juga yang bisa
berbunyi. Ada yang disebut "sawangan", "palembang",
"kuncir", dsb.
Ada juga layangan aduan. Layangan berbentuk trapesium dari
bambu dan kertas tipis itu digambari tokoh-tokoh wayang.
Benangnya diberi gelasan, yaitu tumbukan beling yang dicampur
dengan perekat.
Mereka juga mengadu ayam atau jangkrik, tapi secara diam-diam
karena dilarang oleh pemerintah. Dalam semua permainan itu,
betapa pun juga serunya, mereka tidak berteriak-teriak seperti
orang Barat yang "barbar". Mereka menjaga perasaannya
dan menekan rasa irinya terhadap lawan.
Ayam aduan dipelihara dengan seksama. Hewan itu diberi nasi,
air, daging cincang, dan jamu! Takarannya sangat cermat.
Secara berkala binatang itu dimandikan, dikeramasi, dijemur,
dipijat leher, sayap, dan pahanya supaya
kuat dan luwes.
Penduduk pribumi juga senang menonton wayang: wayang orang,
wayang kulit. Musik pengiringnya gamelan dan ceritanya diambil
dari Mahabharata dan Ramayana.
Masih banyak buaya
Saya mendengar pelbagai dongeng: dongeng Nyai Loro Kidul,
dongeng Kyai Belorong, dan macam-macam lagi. Namun, rasanya
buaya-buaya yang hidup di rawa-rawa muara Kali Betawi lebih
ditakuti daripada Kyai Belorong. Kadang-kadang reptil itu
kelihatan berjemur dengan mulut mengangga. Mereka menunggu
bangkai binatang yang dihanyutkan air. Ada kalanya mereka
juga menyambar manusia yang sedang mandi.
Karena dianggap berbahaya, beberapa tahun sebelumnya pemerintah
menjanjikan hadiah bagi orang yang bisa menangkap buaya.
Lalu berdatanganlah penduduk yang memikul bangkai-bangkai
anak buaya dengan bambu. Walaupun bukan buaya dewasa, pembawanya
mendapat hadiah juga.
Kemudian baru ketahuan bahwa penduduk bukan menangkap buaya,
melainkan mengambil telurnya untuk ditetaskan. Setelah dipelihara
beberapa lama, anak buaya ini dibawa kepada sekaut (polisi).
Sejak itu hadiah dihentikan dan buaya-buaya dibiarkan berkembang
biak di pantai utara Pulau Jawa.
Sesekali ada juga pemburu yang sok mau berburu buaya. Mereka
mengintai berlama-lama di rawa-rawa. Yang mereka peroleh
bukan binatang buruan, melainkan demam. Demamnya berbahaya
lagi!
Jawa bagi saya, seperti bagi banyak orang, memang harus
selalu merupakan negeri dalam mimpi, Negeri Dongeng, dan
rumah yang bahagia bagi penduduknya. M (IN/HI/IM)
|