Serba-serbi Kisah Kunjungan Ke Tanah Air Ke 32

Sebulan saya di Indonesia, dengan kekecualian beberapa hari di Jateng/Jabar, hampir seluruhnya saya kesana-kesini di Jakarta. Belum pernah saya mengalami lalulintas yang tidak macet sama sekali sepanjang perjalanan 90 km p.p. di daerah DKI Jaya ini. Kalau Anda heran, saya naik kapal ke pulau Pramuka di Kepulauan Seribu yang masih termasuk DKI. Ya, itulah asyiknya naik kapal di Indonesia meskipun prenku yang sudah pada uzur mengundurkan diri tidak jadi ke Pulau Peucang karena takut ombak besar di musim barat ini. Untuk ukuran kanu, ombak semeter dua meter ketika kami masuk daerah hujan kemarin dulu, memang mengerikan lach yauw. Untuk kapal ojek Bintang Alam yang kami carter pulang pergi dari Dermaga Angke di Muara Karang ke Pulau Pramuka, ombak segitu masih sip. Kesanalah ceritanya Bang Jeha Anda bersama empoknya beserta sekitar 40-an mahasiswa/i Fakultas Biologi U.I. yang masih belum takut mati. Modal kenekadan saya hanyalah, kalau puluhan orang itu bersama nakoda dan kelasinya berani, masa saya keder. Kalaupun mesti amblas, pastilah kami akan masuk koran, mudah-mudahan masuk Kompas mengingat saya kenal dengan pendirinya, almarhum Pak PK Oyong. Cuaca di hari Minggu ketika kami berangkat memang sedikit merisaukan. Untunglah kapal bak ayunan jet coaster hanya ketika masuk daerah hujan, sekitar 1 jam dimana 2 jam lainnya cuma sedikit enjot-enjotannya, tidak memabukkan.

Seperti sudah saya syer di dongengan yang lalu, prens Internet saya memang aneka-rupa dan kesempatan diving snorkeling sebanyak tiga kali di trip kemarin itu adalah berkat tak lain jasa si Nana sohibku dari milis Psikologi dan ServiamTO. Juga meski kami sering bersurat-suratan termasuk per japri, baru di kunjungan ini saya sempat bersalaman di darat dengannya. Saya beruntung karena Nana selain juga mahasiswi S2 Psiko UI, ia pencinta alam dan kenal baik dengan para tokoh penyelam Biologi UI tersebut. Akibatnya, acara diving kami menjadi lebih bermutu ataupun kami dicerahkan mengenai apa saja yang kami lihat. Bandingkan dengan kalau biasanya saya cuma bles nyebur dan nyelam mengamati cem-macem jenis ikan karang serta tetumbuhan lainnya yang aku mboten ngertos nama-namanya. Dua kali diving di sekitar Pulau Pramuka dimana sebagiannya dijadikan taman laut yang dilindungi dan sekali lagi ke Pulau Genteng Besar dan Kecil cukup memuaskan. Janganlah ditanya ongkosnya tetapi untuk merangsang dunia eko-turisme di Indo yang sejak krismon disusul dengan bom Bali menjadi memprihatinkan, saya akan syerkan. Kalau Anda masih ingat dongeng serial pengalaman cruise saya, antaranya snorkeling ke St. Lucia di kepulauan Karibia yang digembar-gemborkan sebagai 'da best' disitu, ongkos snorkeling berdua nyonya selama 1 jam adalah US$ 150 sahaja. Kami cuma dibawa oleh speedboat p.p. dan dipinjamkan fin, masker serta snorkel. Kepada mereka yang belum bisa, diberikan kursus kilat snorkeling selama beberapa menit, that's it. Acara ke pulau selama 2 hari 2 malam ini, dengan kapal dimana kami bisa tidur-tiduran sampai ngorok :-), sahaya cuma perlu mengeluarkan biaya urunan sewa kapal Rp 100K bertiga, tidak sampai 4 US$ per orangnya. Opo ora hesbat? Karena dimanja oleh si Nana, Bang Jeha disewakan cottage dan kalau saja saya ikut menginap bersama ke 40 mahasiswa/i itu, mereka dikenakan biaya Rp 75K per orang, 'all inclusive' termasuk makan. Jadi selain ongkos kapal 4 dollar, saya cuma mengeluarkan duit buat membeli satu dua makanan kaleng dan tak lupa Indomie goreng yang kami masak sendiri.

Satu fenomena yang agak aneh selama saya dua hari bersama mereka, tak ada satupun yang memakai jaket kuning UI yang di era saya bak ajimat saja layaknya. Jangankan bisa melanggar semua peraturan lalulintas bila kita memakai jaket itu, kita juga bisa "berbelanja gratis" di toko-toko ataupun memesan makanan di restoran tanpa perlu bayar :-). Rupanya ulah mahasiswa/i UI di jaman KAMI atau angkatan '66 ini sudah menjadi suatu yang 'traumatis' bagi ABG saat ini. Ketika ngobrol dengan beberapa dari mereka dan saya tanyakan, mengapa tak ada satupun yang memakai jaket kuning UI, mereka sepakat menjawab bahwa tidak mau menjadi malu. Singkatnya, mereka tidak mau tampak seperti tukang ngedemo. Rupanya, demowan jaman sekarang berkonotasi buruk di masyarakat, entah kenapa ya. Mungkin Anda yang tinggal di kota Jakarta ini lebih mampu menjawabnya daripada saya menduga-duganya.
Seorang sahabat Internet saya menjelaskan sejarahnya atau mengapa psikonya mahasiswa/i yang murni alias bukan pendemo bayaran seperti kelompok Biologi UI itu enggan mengenakan jaket kuning mereka. Pada intinya, hal ini disebabkan mudahnya pihak yang punya uang dan kuasa untuk melangsirkan demo, apa saja terhadap siapapun, dimana sering berakhir dengan perilaku anarkis atau membawa kesusahan kepada rakyat banyak seperti pemblokiran jalan-jalan termasuk jalan tol. Kalau Anda tinggal di kota macet abadi Betawi ini, apalagi pernah mengalami kemacetan total karena adanya demo, so pasti Anda pun akan hilang simpatimu kepada mereka yang "berjaket kuning". Masuk di akal, kata saya kepada si Mas informan mengapa tak ada satupun mahasiswa/i Biologi UI itu yang mengenakan jaket, malah mayoritas ceweknya berjilbab, busana yang sangat oke untuk dikenakan di Indo jaman kini. Suatu artikel di Kompas hari ini berjudul 'Aktivis Mahasiswa ke Golkar Karena Tak Punya Konsep' semakin membenarkan sinyalemen pren saya bahwa para demowan/wati itu memang tidak punya konsep yang jelas di dalam berdemo. Sama seperti saya ikut-ikutan si Cosmas, Bian Koen. Fahmi dan Gafur ketika dulu berdemo begitu juga rupanya mayoritas mahasiswa pendemo. Aktivis mahasiswa yang masuk Golkar itu adalah mereka-mereka yang dulunya mengecam alias para kritikus. Kalau Anda membaca dan menyimak artikel itu, intinya adalah 'survival of the fittest' alias ideologi boleh penting tetapi perut harus diisi dulu rek.

Terakhir yang ingin saya syer mengenai diving bersama anak-anak UI itu adalah kesyokan saya. Sudah lama saya tahu bahwa tidaklah oke untuk mandi-mandi di danau pakai shampoo dan segala macam jenis sabun buatan manusia, termasuk yang biodegradable. Anda yang sudah lama membaca dongengan saya mungkin ingat ketika saya masih di Paroki-Net dan mensyer caranya membersihkan kaca displei atau monitor kompi Anda. Benar, diludahin saja asal jangan dilakukan pagi-pagi pas Anda bangun tidur ketika masih banyak warga negara asing penghuni kapling di mulut Anda. Hal itu sering sekali saya lakukan, tentunya ketika tidak ada kolega saya yang ngejogrok di kamar saya. Cuih ... cuih ... sret sret sret pakai tissue, mengkilap lagi layar displeiku. Ilmu itu saya peroleh dari ketika saya masih suka diving ke Kep. Seribu di tahun 60-an. Walah, ketika saya diving bersama-sama anak Biologi kemarin, ternyata hanya satu dua yang tahu teknik meludah dan mayoritas memakai s h a m p o o untuk membersihkan masker mereka. Alamak, tak heran lautnya semakin terpolusi, terumbu karang di negeri ini semakin amblas. Kalau anak Biologi UI saja pakai shampoo, tayangan ANTV semalam yang disponsori National Geography mengenai pencemaran dan perusakan karang yang dilakukan rakyat Indo yang tidak teredukasi menjadi lumrah. Yang paling mengenaskan, mirip seperti pemandangan sepanjang jalan ketika saya mendaki lereng Pangrango menuju (air terjun) Cibeureum dari Cibodas, tumpukan sampah yang berserakan di pantai Pulau Pramuka. Kata Pak Jack bos PPA disitu yang dikenalkan Nana ke saya, itulah sampah ente-ente yang tinggal di Jakarta dan dibawa arus laut sampai puluhan kilometer jauhnya mencemari pantai-pantai Kepulauan Seribu. Duh memang, bukan saja keadaan poleksos negeri ini sedang terpuruk, juga perusakan alamnya berjalan terus entah sampai abad ke berapa. Untungnya saya, sebelum hal itu terjadi ataupun ketika keadaan alam seperti di Carita dan Pangumbahan dan Kuta serta Sanur masih asri, saya sempat kemping di pantai-pantainya. Sekian dulu, sampai berjumpa di kisah mendatang, bai bai lam lekom. M (JeHa/IM)

     

 


FastCounter by bCentral