Sidney Jones For President
Oleh: Aboeprijadi Santoso

Alasannya
April 2004 yang lalu, saudara, ketika hendak terbang ke Bengkulu, saya menyaksikan betapa gagah, atau sok gagah, barangkali, kampanye pemilu Indonesia zaman sekarang. Di bandara Soekarno-Hatta tampak sebuah pesawat Boeing bertengger dengan judul "Amien Rais For President". Kemudian, kita tahu Partai Golkar menggelar musyawarah besar untuk memilih Capresnya, namanya bukan Mubes, melainkan Konvensi. Lantas, sebentar lagi, kita akan menyaksikan pergelaran pilpres, pemilihan langsung presiden. Pilpres, convention dan gaya kampanye. Semua itu sangat berbau Amerika. Mengapa tidak, tukas seorang teman saya separo bergurau. Kan keponakan Amien Rais sudah menjadi penasehat Presiden Amerika. Condoleeza Rice! ... Oke, jadi, gaya Amerika niih yee..

Tapi, baru-baru ini pemerintah Indonesia mengusir Sidney Jones, seorang peneliti, warga Amerika yang banyak menulis laporan kritis tentang Aceh, Papua dan Islam militan. Lantas saya bilang kepada teman saya, kenapa tidak berkampanye "Sidney Jones For President" menjelang 5 Juli nanti?
Sekarang, giliran teman saya kaget. Mustahil, mustahil, begitu dia berseru. Betul, memang mustahil, tapi, yang penting sebenarnya bukan kesimpulan itu, melainkan alasan-alasannya. Teman saya tambah kaget, campur bingung.

Lantas saya jelaskan masalahnya. Betul, banyak alasan mengapa Sidney Jones tak mungkin jadi Presiden RI. Pertama, dia warganegara asing, yaitu, Amerika Serikat. Kedua, dia peneliti, bukan politikus. Ketiga, dia diusir oleh pemerintah RI, di-persona-non-grata-kan, artinya tak disukai oleh pemerintah. Keempat, perempuan Amerika ini sendiri, pasti tak mau jadi Capres RI. Kelima, kampanye pilpres sudah dimulai, dia tidak mendaftar. Gus Dur saja terlempar dari arena pilpres, apalagi Sidney Jones. Dsb, dsb. Ada segudang alasan untuk menampik kemungkinan Sidney Jones jadi Presiden RI.

Tapi, saudara, ada satu alasan yang teman saya lupakan. Yaitu syarat yang tak tercantum dalam UUD-45, tak pernah disebut resmi, tetapi, merupakan alasan yang mencerminkan keinginan rakyat Indonesia. Yaitu, Presiden RI harus seorang patriot Indonesia. Patriot Indonesia? Nah, di sinilah masalahnya.

Makna "patriot"

Kata "patriot", saudara, asal-muasalnya, dikaitkan dengan "patriach", artinya bos dari keluarga. Nah dalam perkembangannya, substansi patriot itu kemudian dikaitkan dengan istilah Latin "amor patriae", artinya cinta pada negeri. Jadi patriot itu adalah seorang bos suatu negara yang mencintai negerinya. Kalau cuma ini sazha, Megawati mah sudah memenuhi syarat. Tapi, belakangan konsep patriotisme, sudah dimaknakan sebagai warga yang cinta dan setia pada negerinya.

Nah dalam sejarah Belanda banyak nama Indonesia yang masuk, misalnya Poncke Princen dan Piet van Staveren. Keduanya membelot dari ketentaraan Belanda karena membela kemerdekaan Indonesia. Mereka adalah patriot Indonesia meski mereka orang asing. Sebaliknya ada nama Mohammad Hatta dan Soebadio Sastrosatomo. Mereka ini ikut melawan pendudukan fasisme Nazi-Jerman di Belanda. Mereka adalah patriot Belanda meski juga warga dan patriot Indonesia. Semua nama itu adalah patriot karena membawa nama baik negeri.

Sebaliknya seorang asal Jepang yang menjadi presiden Peru yang cemar di dunia, yaitu Fujimori, dia bukan patriot karena membuat malu negeri Peru, maupun negeri asalnya, Jepang, meskipun akhirnya dia mudik ke Jepang.
Contoh lain. Seorang pelukis tersohor almarhum Basuki Resobowo pernah melukis empat tokoh Indonesia, yaitu Tan Malaka, DN Aidit, Amir Syarifudin dll … Nah mereka sudah tiada, dianggap pembelot, dan resminya tak diakui sebagai pahlawan. Mengapa Basuki memilih keempat tokoh yang tak sehaluan ini? "Mereka adalah patriot, karena tak pernah menjual bangsa kita," katanya. Kata kuncinya di sini adalah "menjual". Di sini, kecintaan terhadap negeri itu terbukti dari kenyataan tidak menjual bangsa. Poncke Princen sampai menyeberang, menikah dan hidup di Indonesia. Piet van Staveren saking cinta Indonesia sampai dijuluki Pitoyo. Dan di Belanda, di Eropa ini, banyak orang Indonesia tidak berpaspor Indonesia lagi, terbuang di sini, namun mencintai Indonesia dan pernah berjuang untuk Indonesia. Mereka pun patriot.
Jadi, patriot itu sebenarnya tak peduli kewarganegaraan, darah, asal suku atau etniknya, tempat lahir, tempat tinggal dan status politik. Yang penting: cinta dan setia pada negeri tertentu.

Laporan-laporan Sidney

Nah, bagaimana dengan Sidney Jones? Baru-baru ini bos dinas intelejen BIN, Jenderal Hendropriyono rapat tertutup dengan Komisi I DPR, lantas menyebut Sidney Jones sebagai mengirim laporan ke mana-mana dengan menjual Indonesia, jadi buat apa diperbolehkan bekerja di Indonesia? Kata kuncinya di sini adalah "menjual". Hendropriyono tidak bermaksud bahwa lembaganya Sidney Jones, International Crisis Group itu mencari duit dengan menjual laporan-laporan kajian. Melainkan bahwa Sidney bukan patriot, karena itu, tidak usah tinggal dan bekerja di Indonesia.

Nah, celakanya, laporan-laporan Sidney Jones yang dihujat oleh Hendro tanpa alasan yang jelas itu, justru disegani publik, di Indonesia maupun di seantero dunia. Dunia menyimak laporan-laporan itu. Dengan begitu, masyarakat internasional lebih memahami Indonesia, bahwa Indonesia bukan negara yang suka teror, bahwa Islam gaya Indonesia

bukan sarang atau ladang teror, bahwa Aceh adalah masalah serius yang perlu ditangani secara lain, dan bahwa Papua tak perlu jadi masalah kalau otonomi-khususnya jelas dan konsekuen, dsb.

Singkatnya, laporan-laporan Sidney Jones itu menurut banyak kalangan memberi pengertian dan penghargaan kepada kondisi Indonesia yang sebenarnya.

"Sidney Jones For President?"
Lalu mengapa Hendropriyono marah-marah? Ada yang bilang karena Hendro adalah seorang patriot yang tak suka orang menjual bangsanya. Tapi adakah Anda pernah membaca kajian-kajian Hendropriyono yang SH itu? Malah dunia tahu bahwa Hendropriyono disebut-sebut terlibat pembantaian di Lampung tahun 1989. Jadi, siapa yang menjual bangsa? Siapa yang patriot? Hendropriyono ataukah Sidney Jones?

Mingguan TEMPO menulis Sidney Jones adalah seorang yang mencintai Indonesia. Saya juga tahu itu, ketika bertamu di kantor dan di rumahnya di New York. Puluhan tahun dia menggeluti berbagai masalah Indonesia. Dunia, juga Indonesia, punya alasan untuk bersimpati pada Sidney, yang Ahad 6 Juni ini, mudik ke Amerika. "Adios Sidney," tulis TEMPO.

Siapa yang patriot? Mereka yang membuat keputusan yang mengusir Sidney, lantas keputusan itu dikecam oleh publik Indonesia dan luar negeri, ataukah yang mengungkap kondisi Indonesia demi perbaikan masa depan Indonesia? "Hendropriyono For President" ataukah "Sidney Jones For President?"

     

 


FastCounter by bCentral