Saudi Peringatkan Militan Bertobat Atau Dibunuh

RIYADH - Arab Saudi memperingatkan kelompok militan bahwa mereka mungkin mengalami nasib yang sama dengan pemimpin mereka kecuali jika mereka bertobat. Peringatan itu dikeluarkan saat Al Qaedah bertekad melanjutkan ''perang suci'' di negara kerajaan tersebut.

Pemimpin Al Qaedah di Saudi, Abdulaziz al-Muqrin, ditembak mati oleh pasukan Saudi pada Jumat lalu beserta tiga militan lain, beberapa jam setelah mereka memancung sandera Amerika, Paul Johnson. Mayat Johnson hingga kini belum ditemukan.

''Kami mengatakan kepada kelompok ini dan kelompok lainnya bahwa jika mereka tidak kembali ke jalan yang benar, mereka akan mengalami nasib yang sama atau lebih buruk lagi,'' kata penguasa de facto Arab Saudi Putra Mahkota Pangeran Abdullah, Sabtu malam lalu.

''Pasukan keamanan akan menghadapi mereka, dengan izin Allah, dan semua agresor di dalam dan luar negeri,'' tambahnya.

Televisi pemerintah menayangkan mayat berdarah empat militan, dengan komentar mereka berada di balik gelombang kerusuhan terhadap warga asing di negara Teluk itu. Saudi merupakan sekutu utama AS dan eksportir minyak terbesar dunia. ''Pemerintah kuat dan akan menumpas musuh dan membersihkan negara dari mereka,'' kata Mendagri Saudi Pangeran Nayef. ''Dengan kehendak Allah, kami akan menang.''

Buru Ekstremis
Al Qaedah membenarkan pembunuhan Muqrin dan tiga militan lain dalam pernyataan di Internet Sabtu lalu, namun tetap menantang.

''Mujahidin sedang melanjutkan jihad (perjuangan suci) yang mereka janjikan pada Tuhan dan pembunuhan terhadap saudara-saudara mereka tidak akan mengurangi keteguhan hati mereka namun malah menambah tekad dan komitmen mereka,'' jelas pernyataan tadi.

Al Qaedah, yang dipimpin Usamah bin Ladin, bertekad mengusir ''orang-orang kafir'' dari tempat kelahiran Islam. Muqrin memperingatkan bahwa 2004 merupakan tahun ''berdarah''. Usamah diduga mendalangi serangan kamikaze 11 September 2001 di AS.

Sebanyak 12 militan lainnya ditangkap Jumat lalu, termasuk tokoh senior yang diduga terlibat dalam pengeboman kapal perang AS, Cole, di lepas pantai Yaman pada 2000.

Penasihat kebijakan luar negeri Saudi, Adel al-Jubeir, mengatakan Riyadh akan memburu para ekstremis tanpa ampun.

''Kami yakin bahwa dengan pukulan terhadap Al Qaedah di Saudi kemarin (Sabtu), kami telah memperlemah organisasi mereka. Kami akan terus memburu mereka dengan gigih sampai kami mampu menyingkirkan mereka dari tengah-tengah kami,'' jelas Jubeir. ''Kami tidak akan memberi ampun.''

Cari Mayat Johnson

Dia mengatakan laporan Jumat lalu bahwa mayat Johnson ditemukan tidak benar. Pasukan keamanan Saudi masih mencari mayat itu, yang diyakini berada di daerah Riyadh.

Johnson, insinyur penerbangan berusia 49 tahun, dibunuh setelah para penguasa Saudi menolak membebaskan militan yang dipenjara sampai batas akhir Jumat lalu. Kelompok Muqrin memajang foto kepala Johnson pada satu web site, enam hari setelah dia diculik di Riyadh.
Johnson adalah warga AS ketiga yang dibunuh di Riyadh dalam 10 hari terakhir. Dia bekerja untuk kontraktor pertahanan Lockheed Martin yang membuat helikopter bermeriam Apache. Heli tersebut digunakan oleh pasukan AS dan Israel.

Kementerian Dalam Negeri Saudi menyebut nama tiga militan yang tewas bersama Muqrin sebagai Faisal al-Dakheel, Turki al-Muteiri, dan Ibrahim al-Dreihim. Dakheel diburu atas pembunuhan warga asing, termasuk warga AS di Riyadh, jelas kementeria tadi.

Muteiri merupakan satu dari beberapa orang bersenjata yang melarikan diri setelah serangan terhadap warga asing di kota minyak Khobar bulan Mei lalu, yang menewaskan 22 penduduk sipil. Dreihim membantu mempersiapkan bom jibaku terhadap kompleks perumaha ekspatriat di Riyadh pada November lalu.
Kementerian itu menjelaskan keempat militan itu ditemukan di pom bensin di distrik Malazz di Riyadh tengah. Seorang perwira keamanan Saudi tewas dan dua lainnya terluka dalam baku tembak itu.

Muqrin adalah veteran perang Bosnia tahun 1992-95 dan salah seorang anggota regu tembak yang berusaha membunuh Presiden Mesir Hosni Mubarak di Ethiopia pada 1995, kata pakar militan Mohsen al-Awajy.(rtr-niek-46)

     

 


FastCounter by bCentral