Manuver AS Hindari Pengadilan

New York, Jumat - Sekjen PBB Kofi Annan, Jumat (18/6), mengecam sikap AS karena berniat mencegah tentara AS agar tidak diadili di Pengadilan Kriminal Internasional (International Criminal Court/ICC). Annan juga meminta Dewan Keamanan (DK) PBB untuk menolak langkah-langkah yang dilakukan AS untuk mencapai niatnya.

AS menilai resolusi baru soal ICC-berbasis di The Hague- bertujuan menjerat pelanggaran AS di Irak. Karena itu, AS juga berupaya mempengaruhi resolusi soal ICC itu agar membebaskan pelanggaran militer dan sipil AS dari
pengadilan di ICC.

Annan akan mencoba menyampaikan kasus itu pada acara makan siang dengan para duta besar berbagai negara untuk PBB, Jumat siang waktu New York, atau Sabtu dini hari WIB. Pekan depan, lebih dari 40 negara dijadwalkan akan memperdebatkan resolusi baru soal ICC pada pertemuan yang terbuka untuk umum. Pada pertemuan itu tindakan militer AS soal penyiksaan tahanan di Irak dan Afganistan akan disinggung.

"Tindakan pengecualian adalah langkah yang salah. Itu merupakan tindakan hukum yang mendua, dan saya kira tidak layak untuk didukung oleh DK PBB," kata Annan.

Annan telah lama menentang langkah AS seperti itu dalam beberapa tahun terakhir, namun baru kali ini Annan menggunakan kalimat yang jelas, sehubungan dengan munculnya pelanggaran HAM di berbagai penjara di Irak. "Merugikan jika ada satu pihak yang memaksakan tindakan pengecualian. Tidak bijaksana untuk memaksakan pengecualian, bahkan lebih tidak bijaksana lagi jika DK PBB memberikan persetujuan," kata Annan.

Pemerintahan Presiden AS George Walker Bush sedang mencoba memperbarui resolusi DK PBB untuk menghindari pengadilan PBB atas berbagai pelanggaran di Irak.

Kekebalan tidak berlaku bagi 94 negara yang telah meratifikasi ICC. Resolusi soal ICC itu akan berakhir di pengujung bulan Juni 2004 ini dan upaya pembaruan diperlukan.

Sejauh ini AS tidak memiliki dukungan memadai di DK PBB untuk mengegolkan resolusi versi ICC AS. Dibutuhkan 9 suara di DK PBB untuk mengegolkan sebuah resolusi. Dari 15 negara anggota DK PBB, hanya Rusia, Aljazair, Filipina, Pakistan, Angola dan Inggris yang diperkirakan akan mendukung AS.(REUTERS/MON)

     

 


FastCounter by bCentral