Mengenal Gejala Dini Alzheimer
Oleh Dr Yusak M Siahaan SpS

SAAT Ronald Reagen, mantan Presiden Amerika Serikat, meninggal dunia pada usia 93 tahun setelah sekian lama menderita penyakit Alzheimer, orang mulai bertanya-tanya apakah penyakit Alzheimer itu?

Beberapa media bahkan menuliskan memburuknya kondisi Ronald Reagen, yakni bahkan ia sudah tidak mengenali anggota keluarganya lagi. Mengingat prestasi dan fisiknya selama ia menjalani karier keartisan dan kepresidenannya, orang seperti tidak percaya saat-saat menjelang kematiannya, dia tidak dapat mengenali siapa pun.

Alzheimer adalah salah satu penyakit yang digolongkan dalam kelompok demensia, atau yang dalam bahasa awam yang dikenal sebagai "pikun". Penyakit ini ditemukan pertama kali oleh Alois Alzheimer pada tahun 1906.
Demensia dapat disebabkan oleh banyak hal, misalnya stroke. Sekitar 10 persen orang berusia lebih dari 70 tahun mengalami gangguan daya ingat dan 50 persen di antaranya adalah penderita Alzheimer, yaitu Onset Dini dan Onset Lambat. Pada tipe Onset Dini, gejala akan muncul sebelum berusia 60 tahun, dan seringkali dikaitkan dengan faktor keturunan. Sampai saat ini 3 gen yang berhubungan dengan Alzheimer Onset Dini sudah berhasil diidentifikasikan. Tipe ini hanya didapat pad 5-10 persen kasus Alzheimer. Sedangkan tipe Onset Lambat terjadi pada usia lebih dari 60 tahun dan merupakan bentuk umum dari penyakit ini.

Meskipun terjadi pada usia lanjut, penyakit Alzheimer bukanlah suatu proses yang normal pada penuaan. Penurunan fungsi kognitif, terutama fungsi daya ingat berkembang secara lambat akibat adanya gangguan pada sinap (sambungan antara jaringan jaringan saraf) di otak terutama daerah Hipokampus dan korteks.

Pada penderita Alzheimer, penurunan sinap ini berbeda secara bermakna bila dibandingkan dengan usia yang sebanding. Gangguan sinap ini disebabkan adanya kerusakan atau kematian sel-sel otak (neuron) yang menyebabkan penurunan neutrotrasmitter (suatu zat yang dibuat oleh neuron untuk mengirimkan pesan ke neuron lainnya) yaitu asetilkolin, serotonin dan norepinerfin. Padahal, keseimbangan neutrotransmitter tersebut sangat penting untuk otak. Kerusakan secara kimiawi dan struktural pada otak menjadi terganggu dan timbullah gejala-gejala penyakit tertentu.

Gejala Dini
Gejala penyakit Alzheimer pada setiap penderita tidak sama tergantung pada kepribadian, kesehatan secara umum dan situasi sosial adalah faktor-faktor penting dalam menentukan gejala yang muncul akibat demensia tersebut.

Gejala gejala dini yang secara umum timbul adalah:
1. Kehilangan daya ingat/memori; penurunan memori terutama memori jangka pendek adalah gejala paling umum. Orang yang "lupa" secara umum suatu saat tidak ingat nama tetangganya, tetapi dia tahu orang itu adalah tetangganya. Pada penyakit Alzheimer, dia bukan saja lupa nama tetangganya tetapi juga lupa bahwa orang itu adalah tetangganya.

2. Kesulitan melakukan aktivitas rutin yang biasa
Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan suatu aktivitas rutin yang biasanya tidak memerlukan pemikiran bagaimana cara melakukannya, misalnya tidak tahu bagaimana cara membuka baju atau tidak tahu urutan-urutan menyiapkan makanan.

3. Kesulitan berbahasa
Umumnya pada usia lanjut didapat kesulitan untuk menemukan kata yang tepat, tetapi penderita Alzheimer lupa akan kata kata yang sederhana atau menggantikan suatu kata dengan kata yang tidak biasa.

4. Disorientasi waktu dan tempat
Kita terkadang lupa kemana kita akan pergi atau hari apa saat ini, tetapi penderita Alzheimer dapat tersesat pada tempat yang sudah familiar untuknya, lupa di mana dia saat ini tau bagaimana cara dia sampai di tempat ini, termasuk juga apakah saat ini malam atau siang.

5. Penurunan dalam memutuskan sesuatu
Misalnya tidak dapat memutuskan menggunakan baju hangat untuk cuaca dingin atau sebaliknya.

6. Salah menempatkan barang
Seseorang secara temporer dapat salah menempatkan dompet atau kunci. Penderita Alzheimer dapat meletakkan sesuatu pada tempat yang tidak biasa, misal jam tangan pada kotak gula.

7. Perubahan tingkah laku
Seseorang dapat menjadi sedih atau senang dari waktu ke waktu. Penderita Alzheimer dapat berubah mood atau emosi secara tidak biasa tanpa alasan yang dapat diterima.

8. Perubahan perilaku
Penderita Alzheimer akan terlihat berbeda dari biasanya, ia akan menjadi mudah curiga, mudah tersinggung, depresi, apatis atau mudah mengamuk terutama saat problem memori menyebabkan dia kesulitan melakukan sesuatu.

9. Kehilangan inisiatif
Duduk di depan TV berjam-jam, tidur lebih lama dari biasanya atau tidak menunjukan minat pada hobi yang selama ini ditekuninya.
Pada tahap lanjut penderita Alzheimer tidak dapat melakukan sesuatu tanpa dibantu, umumnya pada kondisi ini mereka tidak mengerti lagi bahasa, tidak ingat anggota keluarga, tidak dapat melakukan aktivitas dasar sehari-hari (makan, memakai baju atau mandi), dia tidak dapat lagi membedakan mana yang pantas dan tidak pantas seperti membuang air kecil atau air besar di sembarang tempat.

Bagaimana Memastikannya?

Demensia Alzheimer umumnya dapat diketahui dari gejala-gejalanya yang khas seperti yang disebut di atas, tes lainnya yang umum dipakai untuk mengevaluasi atau menyingkirkan penyebab demensia lainnya di antaranya adalah CT scan, MRI dan tes darah.

Pada tahap dini dari penyakit ini, gambaran otak umumnya normal, tetapi CT scan ini dapat dipakai untuk menyingkirkan penyebab demensia lainnya seperti tumor otak atau stroke.

Sedangkan pada tahap lanjut, melalui MRI dapat diketahui adanya penurunan ukuran korteks otak atau area otak yang bertanggung jawab terhadap fungsi memori (hipokampus).

Penyakit Alzheimer hanya dapat didiagnosa pasti setelah pasien itu meninggal, dimana pada pemeriksaan jaringan otaknya didapat gambaran Patologis Anatomis yang khas dan hanya terdapat pada penyakit Alzheimer.

Bagaimana Mengobatinya?

Tidak ada terapi spesifik untuk penyakit Alzheimer ini, obat-obat tertentu yang diberikan pada penderita ini mungkin efektif pada saat awal demensia, tetapi dengan perjalanan waktu, maka sel-sel otak akan semakin banyak yang rusak atau mati, sehingga pemberian obat yang diminum tidak efektif lagi. Pada keadaan tertentu, gejala dan progresivitasnya dapat diperbaiki tetapi fungsi kognisinya mungkin tidak dapat kembali normal.

Namun demikian peranan keluargalah yang paling menentukan dalam penatalaksanaan penyakit ini. Gangguan tingkah laku dan sikap yang seperti anak kecil memerlukan kesabaran dan ketekunan dalam mengawasi serta memberikan kasih sayang kepada penderita. *

Penulis adalah spesialis saraf siloam gleneagles hospital lippo karawaci.

     

 


FastCounter by bCentral

jadiny