|
|
|
Jakarta
Tempoe Doeloe - (bagian
2 dari 3)
Pecinan
Kalau kita mengikuti kanal ke arah pintu air dan melewati
bangunan kantor pos yang buruk, kita akan tiba di jembatan
Kampung Baru (Pasar Baru - Red.). Kalau kita menyeberang
jembatan itu, tiba-tiba kita seakan-akan masuk ke dunia
lain. Jalan yang lebar di sini diapit oleh rumah-rumah yang
tinggi dan sempit. Atap gentengnya yang merah seakan-akan
menantang langit yang biru lazuardi.
Jalannya ramai dilewati oleh gerobak dan orang yang berlalu-lalang
dengan gesit. Inilah Pecinan. Di Batavia ada tiga atau empat
Pecinan yang cuma dihuni oleh orang-orang Tionghoa.
 |
Sekarang mereka memang memilih untuk tinggal
berkelompok. Namun, sebenarnya kebiasaan ini peninggalan
zaman Gubernur Jenderal Valckenier. Waktu itu gubernur jenderal
membatasi kedatangan orang-orang Tionghoa yang miskin. Walaupun
niatnya baik, pelaksanaannya buruk, sehingga timbul kabar
bahwa pemerintah akan mendeportasi penduduk Tionghoa, juga
yang tinggal di Batavia. Terjadilah kepanikan yang menghantar
ke pemberontakan di seluruh Jawa.
Orang Belanda berhasil menumpas pemberontakan itu dengan
menelan banyak korban. Orang-orang Tionghoa melarikan diri
ke daerah sekitar Batavia. Beberapa bulan kemudian pemerintah
memberikan amnesti umum.
Sisa penduduk Tionghoa yang masih hidup ditempatkan dalam
kawasan khusus, supaya mudah dilindungi maupun dikendalikan.
Tempat itu kira-kira seperti ghetto untuk orang Yahudi di
Italia pada Abad Pertengahan. Sejak itu mereka tinggal di
sana.
Mereka itu terdiri atas jutawan yang bisa menjamu perwira
dan pejabat pemerintah di rumahnya yang megah dan penuh
hiasan, ada pula penjaja keliling yang sepanjang hari menelusuri
jalan untuk menawarkan benang dan sabun yang dibawa dalam
buntelannya sambil tak henti-hentinya membunyikan "klontong"-nya.
Walaupun yang satu bergelimang harta sedangkan yang lain
morat-marit, namun jiwa dan sikap hidup mereka sama. Mereka
hidup untuk berdagang. Seorang Tionghoa berdagang dengan
seluruh hati dan jiwanya. Sejak dilahirkan sampai dikuburkan,
saat makan, saat bersantai, saat mengisap madat, dan di
kelenteng sekalipun, mereka tidak pernah melepaskan dirinya
dari perdagangan.
Lain dengan orang Barat. Kalau orang Barat berdagang, maka
mereka menjadi pedagang cuma beberapa jam sehari, di kantornya.
Bagi orang Tionghoa, perdagangan adalah unsur di mana mereka
hidup, bergerak, dan bereksistensi. Dunia baginya adalah
kesempatan luas untuk menghasilkan uang. Semua yang ada
di dunia bisa diperdagangkan, dipakai mencari untung. Orang
lain boleh rugi, mereka mesti untung.
Kebutuhan hidupnya sangat terbatas, modalnya juga, tetapi
keyakinannya besar. Tidak heran kalau mereka sukses.
Mulai sebagai penjaja keliling
Ketika baru mendarat di Tanjung Priok, seorang Tionghoa
biasanya mulai menjadi penjaja keliling. Dengan bertelanjang
kaki ia menggendong buntelan berisi sabun, benang jahit,
sisir, dan korek api.
Beberapa bulan kemudian, kita akan melihatnya di halaman
rumah kita, dikelilingi seluruh pembantu rumah tangga kita.
Saat itu ia sudah berjualan sarung dan cita.
Setahun berlalu. Kita melihatnya berjalan diikuti seorang
kuli yang memikul barang-barang banyak sekali. Dengan sopan
ia akan menawarkan barang-barang itu kepada kita.
Kalau kita sabar sedikit mengikutinya, kita akan sempat
melihat ia membuka warung kecil yang cuma dilengkapi sebuah
bangku dan sepotong kaca di dinding. Sementara itu di sekelilingnya
ada segala macam barang dagangan.
Ia tidak puas hanya dengan memiliki warung. Beberapa tahun
kemudian dia sudah berdiri di belakang gerai sebuah toko
di Pecinan. Kalau kita sempat memandang istrinya sekilas,
kita akan heran melihat betapa besarnya intan-intan di tusuk
sanggul wanita itu. Si penjaja keliling sudah merintis jalan
ke
kemakmuran sekarang.
Sebelum mencapai umur 50 tahun, ia sudah memiliki rumah
besar yang terpisah dari tokonya. Rumah yang mempunyai altar
untuk memuja para dewa dan moyangnya, rumah yang penuh perabot
berukiran halus dan bercat keemasan. Sekarang ia akan mengundang
kita ke rumahnya untuk merayakan Tahun Baru Imlek.
Kalau kebetulan Anda datang bersama istri, ia akan memperkenalkan
istri Anda kepada istrinya yang bertaburkan intan dan berpakaian
warna-warni. Dia akan menceritakan kepada Anda perihal pemakaman
ayahnya yang menelan biaya lebih dari 3.000 ponsterling.
Lalu dia akan meminta saran Anda perihal sampanye dan juga
rencananya mengirim putranya ke Eropa dengan salah satu
dari sekian banyak kapalnya. Setelah putranya melihat dunia,
ia akan memasukkannya ke Universitas Leiden.
Mesti mandi setiap hari
Di Batavia yang panas, orang-orang Belanda mulanya membuat
rumah bertingkat di tepi kanal seperti di tanah airnya.
Mereka juga mempertahankan mantel dan pakaian bludrunya,
tidak peduli matahari luar biasa teriknya. Tidak heran kalau
sedikit saja yang bisa pulang selamat ke Belanda.
Kemudian mereka insaf bahwa di negeri yang panas ini, yang
mereka perlukan adalah rumah yang teduh dan sejuk. Jadi
mereka membuat bungalow, bukan rumah bertingkat. Kelilingnya
kerap diberi beranda supaya teduh.
Untuk memasuki rumah, kita menaiki beberapa anak tangga
dulu, lalu kita tiba di serambi yang disangga pilar-pilar.
Melalui pintu di tengah yang sepanjang hari terpentang,
kita masuk ke sebuah ruangan yang di kiri-kanannya terdapat
jajaran kamar-kamar tidur.
Ruang ini menuju ke serambi belakang yang lebih lebar dari
serambi depan. Kebanyakan orang duduk-duduk di sini. Meja
makan pun diletakkan di sini.
Serambi ini menghadap ke kebun belakang yang ketiga sisinya
dikelilingi bangunan. Ada bangunan tempat tinggal para pembantu
bersama keluarganya, ada dapur dan gudang, ada kamar mandi
dan istal.
Ada lagi bangunan tambahan yang disebut paviliun untuk tamu
menginap. Orang-orang di Hindia Belanda paling murah hati
dalam menerima tamu, entah itu kerabat, teman, ataupun orang
asing yang dibekali surat dari kenalan
bersama di Holland. Tamu bisa menginap berbulan-bulan.
Supaya terasa sejuk, lantai rumah yang terbuat dari marmer
tidak diberi karpet. Tempat duduk pun dibuat dari kayu dan
anyaman rotan, bukan dari bludru.
Demi kesejukan pula, di sini orang sudah bangun pukul setengah
enam atau paling lambat pukul enam pagi. Siang hari, saat
sedang panas-panasnya, orang sembunyi di kamar untuk tidur.
Mandi beberapa kali sehari adalah keharusan. Kalau tidak
mandi, artinya tidak sopan. Mandi di Hindia berbeda dengan
mandi di Eropa. Kita mengguyur badan dengan bergayung-gayung
air. Memang suatu kenikmatan buat jiwa dan raga. Kamar mandinya
besar dan sejuk, terpisah dari bangunan utama.
Celana monyet
Seperti halnya dengan rumah, pakaian Eropa memang menyiksa
di daerah tropis. Hal ini saya sadari setelah dua minggu
di sini. Saya jadi mengerti mengapa mereka memakai pakaian
longgar dan tipis gaya pakaian penduduk asli yang dimodifikasi
itu. Walaupun aneh, tapi sejuk.
Harus diakui bahwa dengan pakaian itu orang-orang Belanda
di Hindia lebih sehat daripada orang-orang Inggris yang
mempertahankan pakaian Eropa di koloni mereka.
Anak-anak orang Belanda di Hindia lebih terbuka lagi pakaiannya.
Mereka mengenakan pakaian yang disebut penduduk Melayu celana
monyet. Pakaian yang cuma sepotong itu tidak cukup untuk
menutupi badan. Leher, lengan, dan tungkai dibiarkan telanjang.
Walaupun jelek, anak-anak senang memakainya.
Anak-anak Hindia tidak terpisahkan dari babu. Pengasuh pribumi
itu pelindung jiwa-raga si anak, seakan-akan malaikat pelindung
saja. Sepanjang hari babu menggendong anak asuhannya dengan
selendang, yaitu sehelai kain lebar yang diikat ke pundak
dan membentuk semacam tempat tidur ayun bagi si anak.
Babu bahkan tidak mengizinkan ibu si anak mengambil anak
itu daripadanya. Dialah yang menyuapi, memandikan, mendandani,
mengajak berjalan-jalan, dan selalu siap mendekap si anak
supaya merasa aman.
Ia mengajak anak asuhannya bermain bukan karena kewajiban,
tetapi karena ia memang menikmatinya. Di dalam hatinya ia
masih seorang anak. Kadang-kadang mereka bertengkar. Si
anak membanting-banting kaki dan si babu memarahi, "Terlalu!"
Malam hari ia mengeloni si kecil sambil meninabobokannya
dengan melodi berkunci minor yang monoton. Setelah anak
asuhannya terlelap, ia menggelar tikar di depan ranjang
dan rebah menjaga majikan kecilnya dengan setia.
Diundang ke istana
Gaji orang Belanda di Jawa lebih tinggi daripada di negerinya.
Soalnya, siapa yang mau dikirim jauh-jauh dan bekerja dalam
udara panas yang melelahkan kalau gajinya sama saja?
Orang yang gajinya sedang-sedang saja di Jawa bisa memiliki
rumah yang besar, punya kereta, makan dengan leluasa, dan
pembantu enam tujuh orang. Bahkan tidak jarang sampai l0
orang.
Tak lama setelah kedatangan saya ke Batavia, saya diundang
ke pesta dansa di istana. Saat itu saya tinggal di rumah
teman saya di Salemba. Kami pergi dengan kereta yang lewat
di kegelapan malam, di bawah naungan pohon-pohon beringin.
Di bawah pohon kadang-kadang terlihat kelap-kelip cahaya
pelita tukang buah. Sekali-sekali sebagian wajahnya yang
kena cahaya lampu terlihat, begitu pula keranjang buah-buahannya.
Sekali kami melewati beberapa penduduk pribumi yang sedang
berjaga malam sambil mengelilingi api unggun. "Siapa
itu?" tanya salah seorang di antara mereka dengan suara
parau.
Selama sejam kami serasa berkendaraan dalam hutan yang sunyi
dan jauh dari mana-mana. Namun, sekonyong-konyong saja tampak
cahaya terang benderang di suatu belokan. Istana Gubernur
Jenderal. Di sekitar sumber cahaya itu berserak lentera-lentera,
lampu-lampu minyak, dan lampu-lampu kereta.
Saya pun mendaki tangga putih menuju ke serambi yang berpilar-pilar
putih dan bermandikan cahaya. Tiba-tiba saya merasa bahwa
istana-istana dalam dongeng mestinya seperti ini.
Kemudian musik dimainkan dan polonaise dimulai. Intan dan
emas gemerlapan, bersaingan dengan kilatan bahu yang terbuka
dan lambaian rok yang menyapu lantai pualam berwarna terang
.... "Rasanya, kita mesti pindah ke tempat ini,"
kata pasangan saya.
Sejak itu saya sering diundang ke pesta dan perjamuan. Ada
yang menyenangkan, ada pula yang membosankan. - bersambung
|