Ikrar: Ada Perwira TNI Takut Bila Jenderal Jadi Presiden

Yogyakarta, Ternyata tidak semua perwira tinggi TNI mendukung calon presiden berlatar belakang militer. Menurut pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti saat ini ada sejumlah perwira tinggi yang menempati posisi penting di TNI yang takut bila salah seorang dari dua jenderal purnawirawan TNI terpilih sebagai presiden.
Kok? Sebab jika salah satu dari mereka, yakni Wiranto dan Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi presiden maka dikhawatirkan bakal mengobrak-abrik TNI. Wiranto atau SBY, jika terpilih, dikhawatirkan akan merusak upaya reformasi internal TNI/Polri yang sedang berjalan.

Pendapat ini disampaikan Ikrar Nusa Bakti dalam seminar nasional "Demiliterisasi dan Demokratisasi Pemilihan Presiden 2004" yang diselenggarakan Institute for Research and Empowerment (IRE) di gedung UC Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Selasa (22/6/2004).

Bila ini terjadi, lanjut Ikrar, dikhawatirkan TNI akan menjadi tentara yang tidak profesional lagi karena berpolitik. Selain itu TNI juga tidak akan mempunyai anggaran yang cukup untuk membeli persenjataan yang kuat untuk pertahanan negara. "Mereka akan menjadi alat presiden untuk melakukan represi." tutur Ikrar.

Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini menambahkan, para perwira tinggi TNI yang sedang cemas itu mengetahui semua pemerintahan militer di dunia ini adalah pemerintahan yang tidak pernah memperhatikan tentaranya untuk menjadi tentara yang profesional. Mereka akan membiarkan tentaranya menjadi tentara yang berpolitik. "Itu teorinya di manapun begitu," ujar Ikrar.

Ikrar lalu mencontohkan dengan pertanyaan tentang siapa presiden Indonesia yang memperhatikan kesejahteraan tentara. Jawabnya adalah Bung Karno. Ia mewujudkan angkatan bersenjata menjadi angkatan yang terkuat dam terhormat di Asia Tenggara. Namun ini kemudian dihancurkan Soeharto dengan menjadikan tentara yang berpolitik dan dari sisi persenjataan menjadikan TNI tidak sekuat seperti tahun 1960-an.

"Saya termasuk orang yang memimpikan agar TNI menjadi tentara profesional di masa depan yang dibanggakan rakyat dan disegani dan ditakuti oleh negara lain," kata Ikrar.

Menurut Ikrar ada tiga hal berkaitan dengan reformasi internal TNI yang belum tuntas. Pertama, adanya peraturan dari sisi politik, yakni UU yang terkait dengan aktifitas, jati diri pola gerak dan pola operasi TNI.

Kedua, doktrin dan organisasi TNI yang belum sampai pada doktrin dan organisasi yang baru, yang boleh dikatakan dengan menghilangkan government skeleton atau kerangka pemerintahan atau the shadow government dan komando teritorial itu belum dihapuskan.

"Kita menginginkan komando teritorial dihapuskan secara bertahap kemudian diganti sistem komando teritorial yang tidak sejajar dengan pemerintahan dalam negeri dan tidak sejejar dengan kerangka pemerintahan," katanya.
Ketiga berkaitan dengan masalah budaya. Budaya militer yang belum selesai dihapuskan dari organisasi militer, misalnya budaya untuk menyensor terhadap pers. M (dc/IM)

     

 


FastCounter by bCentral