|
|
|
Hari
Ulang Tahun Bung Karno
 |
Hari ini, tanggal 6 Juni 2004, kita memperingati
103 tahun Hari lahir Bung Karno, Bapak Bangsa Indonesia.
Bung Karno lahir di Surabaya, pada tanggal 6 Juni 1901,
seratus tiga tahun yang lalu. Tanggal 6 Juni bagi kita rakyat
Indonesia adalah sangat penting, karena tanggal 6 Juni adalah
hari lahirnya seorang putera Indonesia, yang kemudian memimpin
perjoangan bangsanya melawan penjajahan Belanda, perjoangan
yang meruntuhkan kekuasaan penjajahan tersebut dan kemudian
menegakkan kemerdekaan nasional bangsa Indonesia, pada tanggal
17 Agustus 1945.
Kita memperingati hari lahirnya Bung Karno, bukan karena
terpaksa atau memaksa-maksa diri, akan tetapi disebabkan
oleh rasa cinta kita pada Bung Karno, kepemimpinannya, ajaran-ajarannya,
persepsi-persepsinya dan garis-garis perjoangannya, yang
selalu konsisten membela kepentingan rakyat Indonesia sampai
pada akhir hidupnya.
Banyak orang yang melupakan Bung Karno, akan tetapi kita
tidak. Banyak orang yang mengingkari Bung Karno pada suatu
saat dan kemudian mengkhianatinya di saat yang lain, akan
tetapi kita tidak. Banyak orang yang menghina, mencaci-maki,
meludahi, menista Bung Karno, dengan sikap dan bahasa yang
menusuk hati dan bahkan immoral, tetapi kita tidak.
Untuk itu, tanggal 6 Juni adalah waktu yang paling layak
bagi kita untuk mengutarakan sikap jiwa dan sikap kemanusiaan
kita terhadap Bung Karno. Kita berhak untuk itu, karena
sejarah Indonesia adalah saksinya yang hidup dan juga saksinya
yang paling besar tentang manusia Soekarno.
Bagi kita, Bung Karno adalah putera Indonesia terbesar.
Ia tampil, tumbuh, tegak, jaya, kemudian runtuh - dari,
dalam dan bersama sejarah Indonesia. Soekarno telah memberi
jiwa dan semangat bagi perjoangan bangsa Indonesia untuk
menegaskan harga diri dan kemerdekaannya.
Soekarno juga telah gugur ke dalam bumi Pertiwi, menjadi
rabuk dan pupuk bagi pertumbuhannya ke masa kemudian. Seorang
pemimpin dan pahlawan yang telah gugur dalam memperjoangkan
bangsa Indonesia untuk mempertahankan hayatnya sepanjang
masa. Demikianlah ini sudah harus kita jadikan suatu keyakinan
yang tertancap kokoh dalam kalbu kita masing-masing.
Bung Karno adalah Bapak Bangsa, bapak kita semua. Dengan
pengakuan ini kita dapat melepaskan diri dari klaim biologis
yang sempit terhadap Bung Karno, dan mengangkatnya jauh
lebih tinggi dari perhitungan maupun kesan sekunder apapun
juga, dalam segi yang bersifat politis, historis, psikologis,
maupun pribadi. Bapak yang memimpin dan mempersatukan bangsa
yang besar ini dengan konseskuen.
Sejak tahun 1928, Bung Karno membakar semangat massa di
berbagai rapat umum. Para pengunjung makin membanjir mendengar
pidatonya. Teriakan merdeka, tuduhan penghisapan,
permusuhan terhadap pihak sana, dan ejekan terhadap
Belanda, segera menjadi istilah yang terkenal di kalangan
rakyat banyak.
Tiap kali Bung Karno mengecam dan mengejek kekuasaan penjajah,
semangat massa meluap-luap, akan tetapi telinga para mata-mata,
pulisi, dan pejabat-pejabat daerah, berubah menjadi merah
dan panas. Karena tidak tahan, pulisi makin sering maju
memotong atau menghentikan pidato Bung Karno.
Bung Karno adalah guru kita, guru perjoangan bangsa Indonesia.
Dengan berguru kepada Bung Karno, kita dapat terhindar dari
pengkhianatan terhadap bangsa dan belajar waspada supaya
jangan jatuh menjadi budak kolonialisme gaya baru atau neo-kolonialisme.
Dengan mencontoh Bung Karno, kita juga dapat belajar kebal
terhadap egosentrisme, neopotism, dan lain-lain aliran mempertahankan
diri sendiri, dan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan
rakyat banyak. Dengan berguru kepada Bung Karno kita dapat
menguasai teori-teori perjoangan yang relevant, cocok dan
serasi dengan kemauan dan keinginan rakyat kita, yang menyuarakan
dann menginterprestasikan Amanat Penderitaan Rakyat dengan
jitu dan tidak mengada-ada.
Dengan berguru kepada Bung Karno, kita dapat menjadi patriot
dan nasionalis yang sejati, yang mementingkan persatuan
dan kesatuan bangsa di atas kepentingan suku bangsa, golongan
dan pribadi. Inilah hikmahnya kita berkenalan, mempelajari,
dan menjadikan Bung Karno guru politik dan guru perjoangan
kita.
Bung Karno adalah pejoang kemerdekaan dan patriot sejati.
Ia tidak rela Tanah Air dan Bangsanya dijajah oleh bangsa
asing, baik dalam ekonomi maupun politik. Kalau Bung Karno
mau hidup mencari kesenangan dan kenikmatan sendiri, dari
dulu saja tidak usah berjoang, tetapi ikut Belanda, sudah
beres.
Ia adalah sarjana teknik (Insinyur Soekarno), dan menguasai
/ mengerti lima bahasa, Belanda, Inggeris, Jerman, Perancis
dan Indonesia, di samping bahasa-bahasa daerah, seperti
Jawa dan Sunda. Ia tidak meminta apa-apa, dan tidak meminta
balas jasa, yang diminta oleh Bung Karno hanyalah jagalah
persatuan dan kesatuan bangsa, jagalah keutuhan dan keselamatan
Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila ini,
dan antarkanlah Rayat ke pintu gerbang keadilan dan kemakmuran.
Bung Karno adalah pemimpin besar kita, yang berjiwa besar.
Ia bagaikan Nabi Musa yang dengan sabar menghadapi kepala
batunya bani Israel, dengan wibawa dan rasa cinta yang tiada
ternilai. Seperti juga Musa yang mati di tengah jalan menuju
Kanaan, negeri terjanji penuh susu dan madu, demikian juga
Bung Karno tidak ubahnya dengan Julius Caesar, yang menghadapi
pengkhianatan Brutus dengan rasa kasihan yang tidak terhingga
di akhir hayatnya.
Orang perlu menggali kembali ucapan Bung Karno pada suatu
waktu kepada seorang yang telah berhasil merenggut kepercayaannya
dengan bahasa yang tidak kalah mengharukannya, dengan kata-kata
Julius Caesar kepada Brutus. Ia menghindari terjadinya perpecahan
nasional dan pertumpahan darah besar-besaran sesudah 30
September 1965.
Ada pula satu yang maha penting. Bung Karno-lah yang dalam
pidato 1 Juni 1945, mengumumkan Pancasila, lima dasar kebanggaan
yang kini kita sahkan sebagai filosofi bangsa, ideologi
Negara dan asas tunggal politik Indonesia. Apapun juga alasan
ilmiah untuk mempersoalkan status 1 Juni, tidak ada yang
dapat memungkiri bahwa 1 Juni adalah Hari Lahirnya Pancasila.
Ini suatu fakta yang mutlak benar, suatu aksioma sejarah
yang tidak dapat dibantah.
Semua tadi yang telah kita kemukakan adalah fakta. Semua
yang kita ungkapkan tadi adalah kebenaran yang tidak dapat
disangkal. Saksinya adalah sejarah, bangsa, manusia Indonesia,
dan kita yakin bahwa ini adalah hal yang benar. Bahkan Tuhan
Yang Maha Kuasa mengetahui bahwa 1 Juni 1945 adalah hari
di mana Pancasila diumumkan oleh Ir. Soekarno ke tengah-tengah
bangsa Indonesia. Siapakah yang ingin membantahnya?
Jadi, pada akhirnya kita harus berlaku ksatria demi kejujuran
terhadap sejarah bangsa, bahwa Bung Karno dan hanya seorang
Bung Karno yang dapat melakukan karya sejarah yang besar
dengan memikul di atas pundaknya segala beban sejarah yang
cukup berat itu.
Justru untuk mengenang kembali peranan dan jasa Bung Karno
yang tidak ternilai itulah, maka 6 Juni kita jadikan pangkal-tolak
untuk melihat Bung Karno dari kacamata nasional-obyektif
dan historis-obyektif, demi kepentingan membina dan membela
sejarah Indonesia dengan sikap yang d e w a s a. Yang kita
petik dari hikmah sejarah mengenai manusia Soekarno dan
peranannya bukanlah abunya, akan tetapi apinya. Inilah yang
harus kita camkan dengan tulus.
Perkenankanlah kami mengakhiri tulisan ini dengan mengutip
ucapan Bapak Jusuf Ronodipuro, yang kami kenal pribadi sewaktu
beliau menjabat sebagai Atase Pers Perutusan Tetap RI pada
PBB dan kemudian Duta Besar RI di Argentina. Dalam New York
Times, 4 Juni 2002, ia menulis: In a thousand years,
there will only be one Sukarno.
Washington, D.C. 6 Juni 2004
Eddie Suroyo Sastro
Lampiran:
Surat Bung Karno dari Penjara Sukamiskin, 17 Mei 1931
Sukamiskin, 17 Mei 1931
Saudaraku!
Baru sekarang saya menulis dari Sukamiskin, karena orang
tangkapan hanya boleh berkirim surat sekali dalam dua minggu.
Sesudah masuk ke dalam rumah kurungan, hampir semua yang
saya bawa dari rumah tahanan di Bandung, diambil. Setiap
hari saya mesti bekerja keras. Malam hari, badan sudah letih
sehingga belajar pun tak ada hasilnya.
Sukamiskin tak lebih daripada rumah kurungan, dan saya ini
adalah orang hukuman, yang mesti menyembah larangan dan
suruhan, seorang manusia yang mesti melupakan kemanusiaannya.
Orang hukuman tiada lain daripada seekor binatang ternak;
orang hukuman menurut Nietzche, ialah orang yang dijadikan
manusia yang tidak mempunyai kemauan sendiri, seperti binatang
ternak.
Namun demikian, hatiku tinggal tetap; tak pernah saya melupakan
suara hatiku. Bukankah Sir Oliver Lodge telah mengajarkan
No sacrifice is wasted, atau dalam bahasa Jawa
Jer basuki mawa beya.
|