LAGI-LAGI CAPRES

“Kelihatannya yang jadi calon presiden kok dia-dia lagi. Kagak ada muka baru, semuanya pemain lama, “ kata Pepen membuka pembicaraan sambil membolak-balik majalah Indonesia Media.

“Kagak apa-apa stok lama semua, Pen. Yang penting jangan sampai kadaluwarsa,
entar di-sue customer lagi, “ sahut Mat Kelor nyantai sambil ngupil.

“Lu mancing, nggak kelar-kelar dari tadi. Mending dapat ikan, “ kata Jumadi demi melihat kesempatan ngecengin temannya yang memang biang iseng.
“Tahu tuh, mendingan gali sumur dapat duit, daripada cuma ngegedein lobang hidung, “ cecar Pepen nggak mau kalah.

“Ngomong-ngomong lu pada mau milih siapa, “ kata Mat Kelor mengalihkan pembicaraan. “Gue bingung nih. Soalnya yang dicalonkan banyak, nggak kayak jaman dulu selalu cuma semata wayang. Tapi benar kata si Pepen, kok dia-dia lagi yang nongol. Apa bisa ada kemajuan negara kita ?”

“Walau gimana juga, kita harus tetap milih. Kalau semuanya baik, pasti ada salah satu yang terbaik. Begitupun kalau semuanya jelek, pasti ada satu yang mendingan. Nah yang itu yang lu pilih, “ jawab Jumadi asal njeplak.

“Iya benar. Tetapi untuk milih, kita kan harus punya patokan! “ sahut Pepen menimpali.

“Emangnya gue ayam, punya patokan segala! ” protes Mat Kelor.

“Maksud gue, pegangan. Untuk menentukan sesuatu lu kan musti punya pegangan, “ sahut Pepen kesal.

“Gue sih perlu pegangan cuma kalau mau jatuh! “kata Mat Kelor sambil cengengesan masih dengan tujuan menggoda temannya.

“Samber geledek. Suséh yé ngomong ama orang yang IQ-nya jongkok, “ seru Pepen dengan keki, sampai bola matanya seperti mau keluar saja.


“Udah, lu pada berantem aja. Becanda-becanda, entar buntut-buntutnya jadi tawuran kayak anak sekolahan, “ kata Jumadi melerai. “Untuk milih, ikuti hati nurani lu. Jangan gampang terpukau sama ketokohan atau ucapan para calon. Tetapi pelajari sikap dan pemikiran mereka dan juga track record-nya. Yang penting calon yang kita pilih harus bisa membawa perubahan bagi negara kita.”

“Nah yang terkhir itu gue kurang setuju. Semuanya cenderung pada mau mengadakan perubahan. Jadinya malah berantakan. Sebenarnya sistim yang ada udah bagus. Yang penting itu yang menjalankan, harus punya ahlak. Jangan cuma lapar kekuasaan dan duit ajé! Perhatiin rakyat dong. Rakyat banyak yang lapar beneran dan kekurangan duit, “ kata Mat Kelor berapi-api.

“Balik lagi ke pertanyaan semula. Jadinya siapa yang musti kita pilih. Jangan cuma pada kebanyakan teori melulu ?” tanya Pepen nggak sabaran kepingin tahu pilihan teman-temannya.

“Tenang-tenang aja, Pen. Kita kan masih punya cukup waktu sampai 5 Juli. Pertimbangkan dengan baik, kayak lu mau pilih calon istri. Kalau salah pilih bisa nyesel seumur hidup,” kata Jumadi mencoba untuk jadi bijak.

“Lu sih enak, punya istri nggak usah cape-cape milih. Yang nentuin hansip. Ha..ha..ha.. balada kawin ketangkep hansip, “ kata Mat Kelor sambil tertawa terbahak-bahak.
(Bang Madi/ IM, Redlands, CA)

     

 


FastCounter by bCentral