|
|
|
Serba-serbi
Kisah Kunjungan Ke Tanah Air Ke 31
 |
Anda para pemerhati psikologi tahu mengenai
phobia ya? Bila Anda warga milis dimana saya suka mendongeng,
Bang Jeha pernah menayangkan serial Phobia. Salah satu terapi
psiko yang sering dipakai untuk menyembuhkan para penderita
phobia, tak peduli ketakutannya itu seputar naik montor
mabur alias kapal terbang atau melihat kacoa seperti diidap
isteriku, bernama flooding. Dengan metoda yang sudah diselidiki
secara seksama, para penderita di-ekspose "dibanjiri"
dengan sumber ketakutannya. Misal, bila ia takut kacoa,
ia akan diberikan kacoa dari plastik dulu atau yang mirip
tapi tak sama. Bila ia takut terbang, ia akan didudukkan
di kursi pesawat terbang yang tidak bakalan enjot-enjotan
terkena turbulence namun mencerminkan suasana bak di dalam
pesawat udara. Melenceng sedikit, konon anak Kanada yang
terkena phobia naik kapal terbang, disebabkan oleh uzurnya
para stewardess Air Canada dimana sebagian dari mereka wajahnya
mirip si nenek sihir di dongengan Hansel dan Gretel. Kalau
Anda tidak percaya, naiklah Air Canada dengan penerbangan
yang jauh-jauh seperti ke Eropa atau Asia. Saya jamin Anda
akan bertemu dengan perempuan yang mirip nenek sihir :-).
Nah, kalau Anda pernah tinggal di Betawi pada bulan Pebruari
tahun 2001 dimana banjir bandang melanda kota ini, Anda
mungkin mengidap phobia takut banjir. Pak Gub Sutiyoso rupanya
tahu akan teori psiko di atas sehingga guna menyembuhkan
banyak penderita psiko di kota ini, ia membiarkan terjadinya
flooding alias dibanjirin terus azha dah warga kota. Dana
anggaran daerah yang tersedia, tidak perlu dialokasikan
untuk mencegah banjir tapi lebih tepat dipakai untuk menyembuhkan
phobia jenis lainnya. Yakni, bila selama ini Anda takut
naik bis dari Blok M ke Kota atau sebaliknya, cobalah naik
busway sebentar lagi :-).
"Tilulilulit ...," telepon hape pinjaman saya
berbunyi sekitar jam 9 malam kemarin. Ternyata seorang sohibku
pemerhati psikologi yang merekomendasikan agar saya keluar
dari kamar dan melihat tayangan Trans TV channel 7. Tentu
saja saya patuhi wong sepuh psiko di Indo :-). Tidak perlu
terlalu lama duduk jadi permirsa siaran berjudul 'Dunia
Lain' itu saya sudah feeling mengapa saya dianjurkan menonton.
Untuk Anda yang tinggal di luar batang, tayangannya serba
klenikan, urusan persetanan maksudku hantu. Tidak terlalu
lama menonton saya lalu berkomunikasi dengan sohib sepikolog
tersebut. Katanya, setiap malam Jum'at beberapa saluran
TV menayangkan soal begituan. Wong Indo saat ini sudah berbudaya
irrasionil, katanya lagi dan saya cuma ho-ohin teringat
kasus penggalian harta karunnya Said Aqil yang merebak beritanya
di Internet hingga budaya Indo kembali menjadi omongan sedunia.
Mengapa sedulur prens Anda-anda menjadi suka klenikan? Kata
sohibku lagi, karena mereka sudah kehilangan kontrol terhadap
dunia atau lingkungan mereka hidup. Padahal kalau Anda ingat
teori Glasser yang pernah kuprosmotsikan, salah satu kebutuhan
manusia normal adalah ya itu, control atau power. Kugembrengin
sinyalemen prenku sepikolog dengan mensyer bahwa itu sebabnya
gereja yang Misa paling akhir pun penuh dengan tua muda
besar kecil, umat yang yang sudah banyak kehilangan kontrol
dan hanya bisa berdoa semoga Pulo Mas dan Kayu Putih tempat
rokum mereka berada, tidak kebanjiran di minggu-minggu mendatang.
Saya tidak bercanda sebab itulah kotbah si Romo paroki,
ia hanya bisa berdoa mengharapkan air surut dan tidak terjadi
hujan lagi. Tidak beda terlalu banyak dengan manusia purba
yang menandak berjoget di muka api unggun sambil berteriak-teriak
mengusir dewa-dewi atau setan hujan agar pergi dari lahannya.
Duka lara saya akan prestasi para pemain badminton Indonesia
terhibur kemarin ketika membaca berita Kompas. Kunto Hartono,
Pemecah Rekor Dunia Menabuh Drum, demikian bunyi judul berita.
Kunto yang pasti bukan adik atau sedulur Rudy Hartono memang
bukannya atlit tapi tukang permak jeans dari Banyuwangi.
Selama 72 jam nonstop ia menabuh drum di GOR Sumantri Brojonegoro,
JakSel, sehingga memecahkan rekor Guinnes Book. Kata Menteri
Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika: "Kunto Hartono
membuktikan tekad kuat putra bangsa Indonesia. Inilah pelajaran
penting bagi bangsa Indonesia. Pemuda yang sesuai bidangnya
(jh: maksudnya drum, bukan jeans) mampu menyumbangkan dan
menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki kemampuan
luar biasa." Semoga bila Anda selama ini suka kecewa
akan tiadanya prestasi anak-anak Indo di peringkat dunia,
Anda akan sama terhiburnya seperti sahaya membaca berita
di atas.
Prens Internet saya bukan saja ramah dan= baik-baik tetapi
sopan sekhalei kalau di darat :-). Kemarin ini saya kondangan
kan dan sengaja mempersiapkan kadonya dari Kanada. Karena
bahannya kristal alias bisa pecah, maka saya bungkus lagi
dengan canoe pack saya, baru dimasukkan ke dalam koper.
Alhasil meskipun koper saya pada pecah jebol sang kado tidak
terlukai segorespun. Jadi dengan hepi, apalagi dibantu proses
pembungkusannya oleh nyonya Bung Kus spesialis perkadoan,
saya membawanya ke tempat pesta. Alamak, sudah tidak ada
satupun konon orang yang kondangan bawa kado di Indo ini.
Untunglah saya tidak ditertawakan baik oleh prens saya maupun
oleh petugas penerima angpao atau sumbangan duwit. Isteriku
doang yang jutek mentertawakan Bang Jeha Anda, suatu hal
yang lumrah dah kalau sudah menikah 28,5 tahun. Nasibbb
:-). Tetapi ia benar sebab setelah ku-check kesana-sini
dan mendapatkan konfirmasi dari satu dua ponakanku, pengantin
di jaman sekarang lebih menghargai duit azha sebagai kadonya.
Praktis, baik untuk mereka maupun para undangan. Tiada lagi
waktu yang para pengantin harus buang-buang membongkar gelas
berlusin-lusin, belum lagi menaruhnya dan/atau membagi-bagikan
gelas yang kelas murahan kepada para tetangga :-). Itu mungkin
sebabnya, sehari setelah menikah saya sudah dikirimkan SMS
oleh pengantin baru kita si Dindin yang rupanya banyak waktu.
Soalnya nanti malam saya akan kondangan dan saya juga dikiatkan
bahwa "kado mentah" tersebut cukup Rp 100K atau
200K saja, cuma 30-an dollar Kanada. Kebayang THP-nya pengantin
di kampung Kanada saya sekarang kalau angpao yang kita berikan
cuma sekian, buat bayar makan satu orang aja udah tekor
:-).
"Ampuuun...ampuuun...gue takuut ama elu," demikian
jeritan seorang suami yang sedang digebuki isterinya kudengar,
ketika saya sedang cukur di bawah pohon alias di tukang
cukur 'onder de boom'. Karena kepala saya sedang dikerjai
Bang Utom tukang cukurku sejak kumasih kecil, tentu saya
tidak bebas melihat nasib si suami "pangeran bakiak",
istilah Betawi untuk cowok yang takut ke bininya. "Aduh
kasian banget deh," kata Cecile yang berdiri di sebelahku
melihat ke arah si isteri yang menggebuki suaminya dengan
gagang sapu. "Iya, itu bininya emang stress,"
kata Bang Utom mengomentari perkelahian tidak seimbang tersebut.
Sudah beberapa menit sebelumnya saya mendengar si isteri
berteriak-teriak 'abusive' memanggil suaminya agar pulang
ke rumah. Jelas isteri yang sudah tidak muda itu mengidap
kelainan psiko, bukan cuma stress. Saya jadi teringat baca
di Kompas kemarin ini, hanya ada 400 psikiater untuk seluruh
bangsa Indo yang berjumlah 220 juta. Dibagi rata, artinya
1 sepikiater per setengah juta manusia. Ambil statistik
konservatif, 1% dari populasi WN Amrik ataupun Kanada menderita
schizophrenia, sinting alias gila kasarnya. Jadi 5000 wong
sinting di Indo hanya bisa terlayani oleh seorang psikiater,
belum kita ngomongin biaya konsultasinya. Su-is di kisahku
di atas konon sehari-harinya berjualan minuman doang pakai
gerobak, kata Bang Utom. Darimana mereka mempunyai modal
untuk diterapi? Begitulah contoh dalam skala mini dampak
tiadanya pelayanan kesehatan bagi manusia Indo setelah 58
tahun merdeka. Tidak heran banyak "kebijaksanaan"
pejabat pemerintah yang sinting bin ngawur yang diterapkan
di negeri ini. Wong rakyatnya takut digebuki. Sampai kisah
berikutnya, bai bai lam lekom. M (JeHa/IM)
|