|
|
|
Harmoni,
Peruntungan, dan Hong Shui Pasangan Capres
Ditulis Oleh: Noorca M. Massardi
dan Suhu Benny
HASRAT yang besar untuk berdemokrasi di negeri ini tampaknya
tak bisa dibendung lagi, termasuk salah kaprah dalam penafsiran
dan pelaksanaannya, khususnya dalam proses pencalonan dan
pemilihan capres/cawapres.
Anomali itu antara lain karena, pertama, konstitusi baru
di satu sisi tidak mampu menjamin pelaksanaan sistem kabinet
presidensial secara penuh. Di sisi lain, kabinet parlementer
juga tidak bisa ditolak bila akhirnya dilaksanakan oleh
pemenang pemilu (sehingga akan menjadi semipresidensial).
Kedua, karena para capres dan partai politik pendukungnya
tidak mampu memilih wapres dari partainya sendiri, sebagaimana
lazimnya di Amerika Serikat. Dan, itu bisa terjadi karena:
bangsa ini tidak pernah punya orang kedua yang kapabel dan
kredibel di hampir semua profesi dan lini; kurangnya kepercayaan
kepada kekuatan sendiri; dan mereka tidak paham bahwa koalisi
seharusnya dilakukan sesudah hasil putaran pertama diumumkan,
terutama untuk dan oleh dua pasangan finalis yang ingin
memenangi putaran kedua.
Ketiga, karena KPU telah menggunakan "kacamata kuda"
ketika mencabut atau meniadakan hak warga negara untuk bebas
dipilih, memilih, dan tidak memilih. Sehingga, para pemilih
tidak bisa lagi menggunakan haknya untuk tidak memilih pasangan
Abdurrahman Wahid dan Marwah Daud Ibrahim. Artinya, kalau
memang pasangan itu "secara jasmani dan rohani tidak
mampu menjalankan tugasnya sebagai presiden," karena
hak dan wewenang untuk itu sudah dipakai sendiri oleh KPU.
Pada saat yang sama, KPU pun telah membutatulikan dirinya
terhadap fakta bahwa pada 1999 sampai 2001, Abdurrahman
Wahid telah dipilih Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
sebagai presiden Republik, dan secara rohani dan jasmani
mampu menjalankan tugasnya sebagai presiden. Kalaupun Presiden
Wahid kemudian dikudeta oleh MPR, itu bukanlah karena ketidakmampuan
rohani dan jasmaninya, melainkan akibat manuver politik
mayoritas yang menuduhnya mengorupsi dana Bulog dan dana
dari Sultan Brunei, yang secara hukum tidak pernah bisa
dibuktikan sampai hari ini.
Kini, setelah KPU mengeliminasi satu pasangan capres/cawapres,
seperti apakah gerangan kualitas lima pasangan capres/cawapres
yang "secara jasmani dan rohani mampu menjalankan tugasnya
sebagai presiden" dan yang telah diloloskan serta diundi
untuk ikut putaran pertama, pada Senin 5 Juli 2004 itu?
Berikut adalah hasil analisis terhadap kelima pasangan tersebut,
berdasarkan logika dan teori hong shui, dan diuraikan sesuai
urutan nomor hasil undian KPU.
Pasangan pertama, Wiranto (kelahiran 4 April 1947), dan
ber-shio Babi Api negatif, dengan perpaduan "Tanah
di Atas Rumah", serta tahun ber-kua 8 Tanah positif
dengan elemen bulan Tanah dan bulan ber-kua angka 3, maju
dengan wakilnya, Salahuddin Wahid (11September 1942), seorang
Kuda Air (+) dengan perpaduan "Kayu Pohon Yang Liu"
dan ber-kua 4 Kayu (-), dengan elemen bulan Logam dan bulan
berkua 1.
Analisis hong shui menunjukkan bahwa pasangan Babi Api dan
Kuda Air yang dideklarasikan di Jakarta (Selasa, 11 Mei
2004) ini akan saling mendekat karena Babi memiliki sumber
dana dan daya, dan Kuda yang "berdarah biru" pun
menikmati kemurahan Babi. Mereka akan memanfaatkan hubungan
awal yang baik demi toleransi, keterbukaan, kehormatan,
dan kelanggengan hubungan. Sayangnya, Kuda kekurangan air
dan hanya bisa membuka jalan untuk Babi yang harus bekerja
keras. Tapi, bila Babi memercayai Kuda sepenuhnya, maka
Kuda akan lebih mengakar di kelompoknya dan bisa memenuhi
keinginan Babi. Dan, bila itu terjadi, pasangan ini merupakan
pasangan yang baik, sejalan, dan langgeng, walau masih perlu
dibuktikan oleh sejarah.
Pasangan kedua, Megawati Soekarnoputri (23 Januari 1947),
ber-shio Anjing Api (+) dengan perpaduan "Tanah di
Atas Rumah" dan tahun ber-kua 6 Logam (+) serta berelemen
bulan Tanah dan bulan ber-kua 3, memilih wakilnya Hasyim
Muzadi (8 Agustus 1943), yang ber-shio Kambing Air (-) dengan
perpaduan "Kayu Pohon Yang Liu" dan tahun ber-kua
3 Kayu (+), berelemen bulan Logam dan bulan ber-kua 8.
Pasangan Anjing dan Kambing, yang dideklarasikan di Monumen
Proklamasi, Jakarta (Kamis, 6 Mei 2004), ini sesungguhnya
sangat tidak dianjurkan. Sebab, akan melahirkan kemunafikan
di antara keduanya. Ibarat cinta pertama, kisahnya akan
berakhir dengan saling membenci. Anjing yang setia pada
kebenaran tidak bisa menerima Kambing yang egois, sombong,
merasa dibutuhkan serta tidak mau berterus terang, walau
hal itu juga terprovokasi oleh sifat Anjing tanah yang tertutup.
Dengan demikian, keharmonisan akan segera hilang, dan kesetiaan
Anjing jadi sia-sia.
Sementara itu, Kambing yang kua-nya berelemen Kayu kurang
mampu memberi asupan kepada Anjing yang berkua elemen logam.
Intinya, keberhasilan pasangan yang mustahil berjodoh ini
sangat bergantung pada sejauh mana Anjing bisa mendorong
Kambing untuk memberikan kontribusi nyata sebagaimana diharapkan
sebelumnya. Toh, Anjing akan kehilangan lebih banyak ketimbang
apa yang seharusnya ia dapatkan. Demikianlah risikonya bila
elemen Tanah berpadu dengan elemen Kayu.
Pasangan ketiga, Amien Rais (26 April 1944), dengan shio
Monyet Kayu (+) dan perpaduan "Mata Air dalam Sumur,"
lahir pada tahun ber-kua 2 Tanah (-) dengan elemen bulan
Tanah serta bulan ber-kua 9, dan wakilnya, Siswono Yudohusodo
(4 Juli 1943), ber-shio Kambing Air (-) dengan perpaduan
"Kayu Pohon Yang Liu" dan tahun ber-kua 3 Kayu
(+), dengan elemen bulan Api serta bulan ber-kua 1.
Saat dideklarasikan di Gedung Juang 45, Menteng, Jakarta
(Minggu, 9 Mei 2004), pasangan Monyet dan Kambing ini merupakan
mitra yang sejajar. Namun Monyet yang cerdas dan penuh kiat
harus senantiasa memegang kendali, sehingga Kambing yang
cerdas namun lugu dan sombong itu akan sangat bergantung
pada Monyet. Toh, keduanya akan saling menguntungkan. Apalagi
Monyet pandai memotivasi, mengilhami, serta menggali potensi
terbaik dari Kambing. Monyet yang kua-nya berelemen Tanah
dengan perpaduan elemen air itu akan mampu mengangkat harkat
Kambing yang kua-nya berelemen Kayu.
Pasangan ini akan mampu bertahan dan saling menjaga keseimbangan.
Apalagi bila Kambing mau berkorban dan bekerja keras, tekun
berjuang, bahkan memohon (mengemis), untuk menciptakan aliansi
dengan yang lain berdasarkan kiat dari Monyet, yang perpaduan
elemennya "Mata Air dalam Sumur" dan berdaya pikat
menghidupkan paduan elemen kayu pohon Yang Liu. Untuk itu,
Kambing yang harus tampil ke depan, sehingga lahir energi
hidup (shen chi) yang mampu menciptakan dukungan dan komitmen
kuat dari pihak lain.
Pasangan keempat, Susilo Bambang Yudhoyono (9 September
1949), ber-shio Sapi Tanah (-) dengan perpaduan "Api
Geledek" dan tahun ber-kua 6 Logam (+), memiliki elemen
bulan Logam dan bulan ber-kua 7. Sementara wakilnya, Jusuf
Kalla (15 Mei 1942), ber-shio Kuda Air (+) dengan perpaduan
"Kayu Pohon Yang Liu" dan tahun ber-kua 4 Kayu
(-), dengan elemen bulan Api dan bulan ber-kua 5.
Berbeda dengan persepsi banyak orang, pasangan Sapi dan
Kuda, yang dideklarasikan di Surabaya (Jumat, 7 Mei 2004),
ini sangat sulit menyatu. Masing-masing memiliki potensi
yang sama dan sejajar, dan karena itulah akan "saling
menghukum". Ibarat air dengan minyak, atau seperti
sepasang rel kereta api, pasangan ini tak akan pernah bisa
mencapai titik temu.
Kuda berkemauan keras, impulsif, dan selalu sibuk, sementara
Sapi sangat lamban, terlampau hati-hati, dan tidak memiliki
jiwa petualangan Kuda. Akibatnya, kepemimpinan Sapi tidak
bisa dihargai oleh Kuda, bahkan Kuda menganggap Sapi tidak
tegas.
Akibat kekurangsepahaman itu, mereka menjadi sangat tertekan.
Apalagi, Sapi yang kua-nya berelemen Logam dengan perpaduan
elemen "Api Geledek" bisa berubah, dan merusak
Kuda yang kua-nya berelemen Kayu yang rentan. Kelanggengan
pasangan ini sangat tergantung seberapa jauh Kuda bisa beradaptasi
dengan Sapi, dan Sapi menyikapi dengan cepat kiat-kiat Kuda.
Toh, para pendukung mereka bisa berdalih, rel kereta api
memang tidak boleh bertemu, karena yang lebih penting adalah
bagaimana rel itu bisa mengantarkan gerbong sampai di tujuan,
dan seluruh penumpang turun dengan selamat.
Pasangan terakhir, Hamzah Haz (15 Februari 1940), ber-shio
Naga Logam (+) dengan perpaduan "Lilin Putih dari Logam"
dan tahun ber-kua 6 Logam (+), dengan elemen bulan Kayu
serta bulan ber-kua 5. Sedangkan wakilnya, Agum Gumelar
(1 Desember 1945), ber-shio Ayam Kayu (-), dengan perpaduan
"Mata Air dalam Sumur" dan tahun ber-kua 1 Air
positif, serta elemen bulan Air dan bulan ber-kua 1.
Berjodohnya Naga dan Ayam ini sebenarnya agak mengherankan
karena beberapa hal. Pertama, dideklarasikan paling akhir
di Jakarta (Rabu, 12 Mei 2004), mereka bagaikan mempelai
yang menikah tiba-tiba setelah ditinggal kawin oleh pacar
masing-masing.
Kedua, inilah pasangan yang pada hari pendeklarasiannya
ada yang mengalami ciong atau sial (untuk Agum Gumelar yang
ber-shio Ayam).
Ketiga, kendati dadakan, ternyata pasangan ini bisa saling
bergantung, memberi, melengkapi, dan berusaha menekan ego
masing-masing, untuk menghasilkan yang terbaik.
Ayam adalah pribadi yang ambisius, cerdas, dapat mendayagunakan
situasi, dan mampu melihat kelebihan Naga yang keras kepala,
namun berani, walau kemampuannya terbatas. Pasangan ini
akan positif, cerdas, dan kuat. Bila Naga mau menerima kiat-kiat
yang diajukan Ayam, atau Ayam mendapat kuasa penuh Naga
untuk menciptakan energi (shen chi) baru, maka Naga harus
bisa memenuhi janjinya. Sesuatu yang sulit terjadi, atau
trop beau pour tre vrai, terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
Sebab, paduan ini tampaknya akan sulit mendapatkan dukungan
mayoritas, walau mereka konon telah menyiapkan dana ratusan
milyar rupiah.
Akhirnya, kuranglah lengkap bila pasangan Abdurrahman Wahid
dan Marwah Daud Ibrahim tidak ikut dianalisis.
Untuk pengetahuan Anda saja (tolong jangan disampaikan ke
KPU), elemen Abdurrahman Wahid (4 Agustus 1940), sama persis
dengan Hamzah Haz, yakni Naga Logam (+) dengan perpaduan
"Lilin Putih dari Logam" dan tahun ber-kua 6 Logam
(+), dengan elemen bulan Kayu serta bulan ber-kua 5. Sementara
wakilnya, Marwah Daud (8 November 1956), calon kandidat
termuda, ber-shio Monyet Api (+), dengan perpaduan "Api
di Bawah Gunung" dan tahun ber-kua 7 Logam (-).
Dibandingkan kelima pasangan lainnya, mereka ini adalah
pasangan terkuat menurut hong shui. Sayang, mereka sudah
dieliminasi sebelum bertanding, kendati mereka masih akan
menggugat KPU ke pengadilan tata usaha negara. Kekuatan
pasangan Naga dan Monyet ini terjadi karena rencana besar
Naga didukung Monyet yang penuh ambisi. Dalam keadaan terdesak,
kiat dan kepakaran Monyet akan mampu memecahkan masalah
dan mengeluarkan mereka dari kesulitan.
Naga mengagumi kecerdasan Monyet, sementara Monyet sangat
mengagumi keberanian dan kekuatan Naga. Pasangan yang sangat
alamiah ini akan melahirkan yang terbaik, saling mengilhami,
dan saling mendukung. Selain itu, kua keduanya sama-sama
Logam, sehingga energi Logam mereka berlipat ganda ditambah
shio Naga tahun 1940 berpasangan dengan shio Monyet tahun
1956 menjadi elemen Air yang kuat. Dan, mereka akan menjadi
pasangan gaib
atau kejutan, bila Naga bisa memegang janjinya. Sebab, perpaduan
"Lilin putih dari logam" memang sulit dicerna
oleh daya nalar biasa. Pertanyaannya: mungkinkah pasangan
ini dieliminasi secara prematur karena terlalu banyak pihak
yang takut dan sudah tahu bagaimana potensi hong shui mereka?
Wallahualam.
Selain kualitas pasangan, hal lain
yang harus dicermati adalah hari putaran pertama pemilu
presiden. Soalnya, Senin 5 Juli 2004 merupakan hari Ayam
Kayu dengan perpaduan elemen "Mata air dalam sumur"
dan elemen bulan Api, dengan perpaduan "Tanah di pinggir
jalan", yang berpeluang besar memunculkan energi jahat,
dan kekerasan. Lebih gawat lagi, bila putaran kedua dilakukan
pada Minggu, 5 September 2004. Sebab, hari itu merupakan
hari (penyembelihan salah satu shio) yang perpaduan elemennya
"Tanah di atas rumah" dan elemen bulannya "Logam
di ujung pedang" dengan perpaduan elemen api dan air,
yang saling mematikan dan melukai.
Dengan komposisi itu, besar kemungkinan salah satu kandidat
presiden akan mendapat musibah. Namun, syukurlah, menurut
salah seorang pimpinan KPU, putaran kedua itu akan dilaksanakan
pada pekan kedua September dan bukan 5 September 2004. Untunglah
pula, pekan pertama (sebelum tanggal 7) September itu adalah
bulan Monyet Air, dengan perpaduan elemen "Logam di
ujung pedang positif". Sedang pekan kedua (setelah
tanggal 7) disebut bulan Ayam Air dengan perpaduan elemen
"Logam di ujung pedang negatif". Artinya? Unsur
logam positif dan negatif itu akan membawa keberuntungan
bagi bangsa Indonesia yang merdeka pada 1945 (shio Ayam)
dengan perpaduan elemen "Mata air dalam sumur".
Toh, untuk mengantisipasi kemungkinan meletusnya energi
jahat pada 5 Juli 2004, hong shui punya satu solusi: Semua
pihak harus tulus berjuang untuk kepentingan bangsa dan
negara, dan rakyat Indonesia harus terus berdoa dan beribadah.
Dengan demikian, akan muncul elemen hawa hidup (shen chi)
yang sejuk dari dan untuk sesama manusia Indonesia, sehingga
pemilu presiden putaran pertama yang langsung dan bersejarah
itu akan adil, aman, damai, dan bermasa depan cerah. M
(NMM/SB/Gat/IM) Noorca M. Massardi, wartawan senior, dan
Suhu Benny, pakar hong shui
|