Tebak Terka Presiden Yang Akan Datang
Duarte, June 19, 2004/Indonesia media
Dilaporkan oleh: Dr.Irawan.


Diskusi Pilpres kali ini dihadiri oleh 2 tokoh yang masing-masing mempunyai kepiawaiannya yang khas. Yang satu kita sudah kenal yaitu Dr. Frans Tshai dengan statusnya sebagai mantan ketua umum PPBTI (Partai Perjuangan Bhineka Tunggal Ika) yang di diskwalifikasikan oleh Yusril Izha Mahendra dalam seleksi factual. Sekarang ini sedang berkoalisi dengan kubu SBY (Capres, Susilo Bambang Yudhoyono). Namun Dr. Frans Tshai mengaku tidak dalam kapasitas berkampanye untuk SBY, karena diskusi "Tebak Terka Presiden y.a.d." ini bukan forum kampanye, tapi semata sebagai ajang tukar pikiran diseputar Pilpres.

Satunya lagi adalah Bung Joesoef Isak, yang baru-baru ini sempat diberitakan di Indonesia Media "Joesoef Isak kunjungi Indonesia Media". Sosok yang satu ini kerap namanya dihubungkan dengan Pramoedya Ananta Toer, penulis kaliber dunia. Pasalnya karena semua tulisan Pramoedya yang sering kena bredel itu diterbitkan oleh Hastra Mitra yang nota bene kepunyaan Bung Joesoef Isak. Baru baru ini beliau menerima "Jeri Laber Award 2004" yang diberikan di New York pada 20 April, 2004. Beliau selalu memperkenalkan diri sebagai ex tapol, karena memang pengalaman pahitnya yang diperoleh selama 10 tahun dipenjarakan berpindah pindah, tanpa diadili. Sekaligus beliau mengoreksi berita di IM yang lalu yang mengatakan bahwa dia di periksa oleh "Hakim", namun sebenarnya dia hanya diperiksa dan diintimidasi oleh macam-macam aparat penguasa saat itu, tapi bukan oleh "hakim". "Kalau diperiksa atau ditanyai oleh hakim, itu namanya saya sudah diadili, orang saya belum pernah di adili koq" demikian kilahnya. (dengan ini kesalahan tentang "Hakim" tadi pada artikel IM /Mid June 2004 "Joesoef Isak kunjungi Indonesia Media itu telah di ralat...red).

Setelah Dr. Frits Hong menyampaikan sepatah dua kata, maka Pak Johhny Setiawan yang ganteng berkumis itu bertindak sebagai moderator langsung memacu arena diskusi malam itu. Sehubungan dengan forum diskusi ini bersifat interaktif dan waktunya terbatas, Pak Johhnny menegaskan agar audiens jangan melontarkan pertanyaan yang sama. Diskusi dimulai dengan dua sesi yang diisi oleh masing masing pembicara menyampaikan opininya, lalu forum tanya jawab dibuka dari audiens kepada kedua tokoh tersebut.

Dr. Frans Tshai.
Undang-undang Pemilu yang dibuat tergesa-gesa, yang pada dasarnya dibuat untuk melanggengkan partai-partai yang berkuasa, akibatnya tidak ada negara didunia ini yang mempunyai aturan pemilu yang sedemikian ruwetnya. Sehingga sampai saat saat terakhir kertas suara masih belum siap, karena KPU bingung menentukan tendernya. "UUD, itu namanya (ujung ujungnya duit), bukan UUD 45, tapi UUD Milyaran namanya", kata mantan wakil Gubernur Lion's Club itu.

KPU masih belum menerima laporan tentang data keuangan partai yang ikut pemilu, siapa yang menyumbang dan sebagainya. undang undang itu tidak dipatuhi oleh semua partai, alias dilanggar. Kalau sama-sama melanggar mungkin akhirnya dianggap pembenaran. Demikian pula kalau 90% korupsi, maka dianggap korupsi itu adalah benar, nah itulah gambaran yang ada di tanah air sekarang. Sedangkan UU Pemilu sebenarnya sekarang masih belum sepenuhnya terbuka, caleg masih ditentukan oleh partai, jadi caleg yang dipilih langsung tempo hari itu masih belum tentu bisa duduk sebagai anggota legislatif di DPR. Inilah tantangan yang harus di hadapi DPR dalam memperbaiki undang-undang Pemilu yang berikutnya.

Dr.Frans Tshai merasa cukup bergembira atas meningkatnya partisipasi WNI keturunan Tionghoa dalam berpolitik dibuktikan dengan adanya hampir 200 caleg (termasuk DPRD) dari golongan Tionghoa yang terdaftar. Setidaknya mereka sudah mau belajar berpartisipasi dari pada terus distigmasasi sebagai warga yang hanya berdagang melulu dan berkolaborasi dengan pejabat.

Masalah SBKRI yang selama ini selalu menjadi ganjalan terhadap WNI keturunan Tionghoa khususnya, karena masih saja dimintakan SBKRI dari tingkat kelurahan, imigrasi, bahkan sampai masuk universitas. Frans Tshai mengatakan kepada saudara-saudara WNI keturunan Tionghoa, "Jangan menjadi putus asa apabila perubahan itu belum menjadi kenyataan walaupun kita sudah memperjuangkannya lama. Untuk itu telah dibuat suatu forum yang dinamakan "Forum Persaudaraan Anak Bangsa". "Saya yakin waktu itu akan tiba dimana Indonesia berkeadilan sosial", tandas Dr. Frans Tshai. (catatan: lampiran untuk pengaduan kasus SBKRI tidak sempat kami muat pada edisi ini, namun kami akan muat pada edisi IM berikutnya/Mid July 2004, jaga tanggal mainnya, disarankan agar pembaca yang mungkin memerlukan menyimpan copy dari formulir itu untuk digunakan bilamana perlu)

Dr. Frans Tshai mengibaratkan perjuangan kaum Tionghoa dan kelompok yang di marjinalkan lainnya sebagai orang yang berada di kebun apel. Jangan kita menunggu apel yang jatuh, karena buah apel yang jatuh itu umumnya sudah busuk. Kita harus naik kepohon dan memetiknya, baru kita dapat apel yang bagus. Jangan ragu untuk memetiknya karena kita juga turut memiliki kebun apel itu.

Bung Joesoef Isak mengaku sebagai seorang Bung Karno-is yang kental dengan semangat ke Bhineka Tunggal Ika-annya, turut merasakan dan bersimpatik atas penderitaan WNI Keturunan Tionghoa yang didiskriminasi selama ini. Beliau hanya mengatakan: "Tionghoa harus perjuangkan itu sendiri,...lawan segala diskriminasi itu",

Bung Joesoef Isak
Dr. Frans Tshai
Johnny Setiawan


Bahas Capres:

Dr. Frans Tshai: Menurut analisa diatas kertas pada Pemilu Pilpres ini tidak ada satupun capres yang bisa menggondol 50% +1, yang berarti tidak ada presiden yang dihasilkan dari putaran pertama 5 July ini. Para analisi meramalkan pilpres pada putaran kedua, 20 September mendatang ini akan terjadi all out dari para pendukung 2 capres yaang berkompetisi saat itu. Jadi kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak baik (baca kekerasan) saat itu. Banyak pengamat yang mengatakan bahwa ada partai yang siap menang tapi tidak siap untuk kalah. Akibatnya banyak investor yaang mengambil sikap menunggu sampai tahun depan. Ada yang mengatakan kita perlu pemimpin yang bisa menciptakan stabilitas, padahal inilah yang merusak bangsa Indonesia selama orde baru ini, karena stabilitas tanpa keadilan, itu semua adalah semu. Apakah yang dinamakan "rakyat tidak boleh berbicara", dinamakan stabilitas?

Dr. Frits Hong
Wei Wei
Santoso

Dalam menentukan pilihan kita, janganlah kita terjebak dengan hanya melihat cawapresnya, ingat kekuasaan suatu negara selama ini selalu ada ditangan orang pertama. Ibu Mega tidak dapat disalahkan sepenuhnya, karena dia diwarisi sekeranjang sampah yang bau busuknya kemana-mana oleh orde baru. "Saya tidak membela Ibu Mega keseluruhannya, tapi kita harus fair", demikian ujar mantan jurkamnya PDIP Bogor tahun 1999, yang sempat kecewa karena tidak terpilih jadi anggota legfislatif dari PDIP, padahal dia membuat Bogor menjadi "merah" saat itu. Namun selalu Frans Tshai tidak pernah merasa dendam akan masalah itu katanya.

DR, Frits Hong dalam pernyataannya mengemukakan bahwa seyogyanya kita tidak bersikap anti militer, karena bagaimanapun TNI merupakan alat untuk menciptakan keamanan dan stabilitas. Namun kita juga harus arif menentukan pilihan kita untuk pemerintah masa depan Republik Indonesia, tentunya kita jangan mempunyai pemerintah yang militeristik, dimana gulir demokrasi yang dicapai setelah reformasi ini kemungkinan menjadi terhenti, bahkan bisa saja kembali ke system orde baru.

Joesoef Isak mencoba membahas capres satu persatu: memang diakui tidak ada pilihan yang ideal, bahkan mereka jauh dari ideal. Namun entah mengapa beliau tidak membahas Amien Rais dan Hamzah Haz. Mula-mula dibahas, Wiranto, Joesoef tidak membicarakan sesuatu yang positif terhadap Wiranto, malah mengingat kembali saat Soeharto diturunkan Wiranto berjanji akan melindungi Soeharto, kemudian pers Indonesia langsung menuduh Wiranto sebagai antek-anteknya Soeharto, lalu Wiranto berkilah bahwa dia tidak ada lagi hubungan hirarki terhadap Soeharto, hanya sekedar hubungan kultural. Joesoef Isak sangat menentang ucapan Wiranto itu, karena menurutnya hubungan kultural malah lebih parah, sebab tanpa komandopun dia akan jalan sendiri. Megawati sudah mendapat kesempatan dan sudah diuji, apakah lulus ujiannya , yah nilai sendirilah. Dia malah meng-endorsed cara-cara Soeharto, bukan melaksanakan ajaran bapaknya. Sebenarnya Mega merupakan simbol perlawanan orde baru, dulu orang bilang "Mega tidurpun akan jadi presiden". Diam diam Bung Joesoef Isak menaruh simpatik kepada SBY, yang digambarkan sebagai ksatria Piningit, setidaknya untuk sementara ini beliau berpikir kearah situ, berdasarkan apa? Bung Joesoef sulit menjawab.

Pak Kwai
Jonathan Goeij


Jonathan Goeij selaku audiensi yang selalu vocal dalam memberikan pandangannya menyergah pendapat Joesoef Isak, Jonathan menanyakan bagaimana dengan koalisi SBY yang menarik Jusuf Kala menjadi wapresnya. Padahal Jusuf Kala yang pernah diisukan berada di balik kasus Ambon dan Maluku, juga rencananya dengan ekonomi kerakyatan yang mirip dengan aturan perdagangan sistem Benteng seperti dulu, yang artinya mendiskriminasi pengusaha Tionghoa. Kelompok lainnya yang berkoalisi dengan SBY, yaitu PBB (Partai Bulan Bintang) yang diketuai oleh Jusril Izha Mahendra yang dikenal sebagai tokoh yang memihak Syariat Islam. Malah sewaktu dulu ditanya mengenai mengapa agama perlu dicantumkan di KTP (dalam kaitannya bisa menjurus kearah diskriminasi), Yusril menjawab enteng: "Masalahnya orang Islam punya hukum waris, jadi bila mereka meninggal hukum waris akan berlaku bagi mereka". Padahal RI tidak sebagai negara berhukum islam, jawaban Yusril yang sekenanya begitu bisa membuat orang menafsirkannya dia sebagai penggandrung Syariat Islam.

Mega memang tidak sempurna, apalagi kalau ditambah figur Taufik Kiemas yang mengundang kecurigaan KKN. Tapi setidaknya nuansa demokrasi di era pemerintahan Mega ini bisa kami rasakan. Dalam setiap administrasi memang selalu saja ada yang tidak memuaskan rakyat, maupun ketidak beresan yang dilihat dari kaca mata rakyat. Namun pemerintah yang bersifat non-militeristik memberi kesempatan rakyat untuk beraspirasi dan kebebasan pers masih bisa dipelihara, check and Balances masih bisa jalan disini.

Negara menjadi maju pada zaman sekarang adalah negara yang didukung dari rakyat (Demokrasi). Pemberdayaan rakyat yang optimal harus dimulai dari pembinaan SDM (sumber daya masyrakat), untuk itu sektor pendidikan adalah masalah utama yang harus ditanggulangi. Menurut Dr Frans Tshai, anggaran untuk pendidikan seharusnya 20% dari APBN, namun angka ini adalah mustahil dilakukan oleh RI sekarang ini mengingat hutang RI yang sudah sedemikian besarnya. Sekarang ini anggaran riil untuk pendidikan hanya sekitar 4%, belum lagi dikurangi kebocoran disana sini, praktis tinggal 2%. Ada ratusan gedung SD di Jakarta yang sudah mau ambruk, jangankan didaerah lain. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki RI saat ini sanggupkah kita membangun Republik Indonesia kearah yang lebih baik?

Dengan mengutip chorus dari Lilin-lilin kecil dari Chrisye:
Dan kau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Dan kau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia......


Penutup
Joesoef Isak mengatakan "untuk membangun kembali kita harus membersihkan dulu landasannya" dan Dr. Frans Tshai bilang: " Perjalanan 1000 miles kedepan harus dimulai dari langkah pertama yang benar" Negara yang tidak pernah maju adalah negara yang otokrasi dan memelihara diskriminasi.

Acara yang berlangsung sampai pukul 11 malam itu, cukup memuaskan para audiensi, semoga masyarakat dapat memetik manfaat untuk berpikir menentukan pilihannya pada tanggal 5 July 2004 nanti.

     

 


FastCounter by bCentral