Pilih Siapa Yach ?

Saat ini banyak masyarakat yang bingung untuk menentukan pilihannya dalam pilpres 5 July nanti, bahkan sangking bingungnya ada yang mau Golput saja katanya. Yang terakhir ini bisa dikategorikan sebagai kurang cerdik, bahkan cenderung sedikit emosional. Dalam dunia demokrasi dan negara berstatus republik, harusnya kekuasaan ada ditangan rakyat dalam koridor konstitusi. Maka rakyat yang harus menentukan orang yang di percayainya untuk mengelola negara. Ibarat meng-hire CEO dalam RUPS (Rapat umum pemegang saham). Kalau rakyat tidak kritis dalam menentukan pilihannya, akan sama halnya dengan perusahaan menjadi bangkrut dikarenakan salah pilih CEO.

Banyak input yang masuk ke kemeja redaksi, baik itu lewat tulisan maupun lisan, baik yang mencantumkan nama walaupun yang anonimus. Dari semua masukan itu redaksi mencoba merumuskan kriteria dalam menilai para Capres 2004. Walaupun sulit menjamin kesempurnaanya tapi mungkin ada gunanya sebagai bahan pertimbangan.

Mau yang singkat atau yang aman

Semua orang tidak dapat menyangkali bahwa seluruh rakyat Indonesia mau melihat suatu perubahan menuju perbaikan Indonesia. Disini kita bisa pilih, mau perbaikan yang singkat, tapi dengan resiko terpuruk lagi. Atau mau perbaikan yang bersifat permanen, aman dan berkesinambungan, tapi dengan resiko perlu waktu yang lebih lama. Atau mau dikompromikan dengan kombinasi diatas. Kalau pakai cara yang singkat biasanya dilakukan system pemerintah otoriter, yang cenderung diasosiasikan dengan ancaman kekerasan. Kalau pakai cara permanen, aman dan berkesinambungan biasanya dituntut pembelajaran demokrasi kepada seluruh rakyatnya, walaupun akan makan waktu lama dan ongkosnya mahal tapi hasilnya lebih terjamin, tidak perlu mereset odometer ke angka nol lagi setiap periode.

Kekhawatiran dari beberapa pengamat politik terhadap capres dari militer adalah akan timbulnya represi lagi dan berlaku kembali pemerintahan ala Suharto. Kendati Jenderal Kiki Syahnakri pernah mencoba mengklarifikasikan bahwa mantan militer itu tidak perlu di khawatirkan, karena Presiden Eisenhower juga adalah mantan perwira militer di AS. Menurut George Junus Aditjondro dari New Castle bisnis militer yang didirikan dengan dalih demi kesejahteraan prajurit antara lain Yayasan Dharma Putra Kostrad, Yayasan Kartika Eka Paksi, Yayasan BIA, Yayasan Kobame (korps baret merah), dan banyak lagi ratusan Yayasan baik milik korps, group, dan keluarga yang saling tumpang tindih. (GJA mengenal penjarahan kekayaan negara- diterbitkan oleh kelompok study reformasi CPK 1999). Yayasan bisnis ini akan menjadikan conflict of interest secara sadar atau tidak sadar bila penguasa yang membuat keputusan sekaligus mempunyai bisnis juga, apalagi kalau menguasai moncong senjata pula. Walaupun pernah dinyatakan bahwa purnawirawan tidak ada lagi hubungan hirarki dengan militer, yang ada hanya hubungan “kultural” saja. Ikranagara (seniman senior) yang pementasannya sering dilarang penguasa dulu, mengatakan: “Justru hubungan kultural itu lebih gawat lagi, karena pengertian kultural itu bisa sangat luas dan tidak jelas bentuknya”. Jadi apakah alasan yang diungkapkan oleh Jenderal Kiki Syhanakri itu relevan?

Dibawah ini ada tuntutan yang sering kita dengar dari masyarakat, capres mana yang mau dengan serious melaksanakannya dan tidak ingkar janji ?

- Penegakan Hukum

- Pemberantasan KKN dan Premanisme

- Penghapusan diskriminasi (SBKRI,KTP, kenaikan pangkat, masuk sekolah, masuk kerja di lembaga negara)

- Menjunjung pluralism

- Menjunjung kebebasan beragama bagi semua umat agama. (tidak mendukung Syariat islam)

- Meningkatkan mutu pendidikan

- Menciptakan kondisi dimana RI bisa menggerakan roda perekonomian sendiri tanpa banyak ketergantungan dengan hutang luar negeri, sekaligus menciptakan iklim usaha yang baik dan mampu mengundang investor serta mampu bersaing secara global.

- Menaikan gaji prajurit sampai pada tingkatan yang memadai, sekaligus membebaskan tugas militer dalam dunia bisnis pada yayasannya. Hal ini juga berlaku bagi PNS kalau kasusnya sama.

- Mengupayakan perbaikan lingkungan hidup, dan pelestarian alam.

- Mengusut dan mengadili pelaku tragedi Mei 1998, memberi ganti rugi kepada korban dan keluarganya, dan membuat undang-undang ganti rugi akibat kerusuhan yang dananya diambil dari APBN.

- Mempertahankan kebebasan Pers dan kebebasan berpendapat.

- Menghapus Koramil dan Babinsa.

- Memperkuat pengawasan maritim dari pencurian kekayaan laut, dan penyelundupan.

- Menciptakan Check and Balance diantara LSM dan Pemerintah

- Bijaksana dalam membuat perundangan yang meregulasi buruh dan majikan, sehingga buruh mendapatkan kompensasi yang memadai, tanpa menurunkan daya saing dari produknya.

- Mau mendengar aspirasi rakyat, dan bisa menerima kalau ditegur rakyat, dan tidak malah represif seperti menggelar operasi “Mawar”, dan rekayasa lainnya.

- Memberikan kesempatan kepada kaum generasi muda untuk mengembangkan bakatnya dalam hal kepemimpinan, berdebat dan mengenal politik, dalam persiapan tunas bangsa yang kelak siap menggantikan pemimpin seniornya.

Kira kira itu semua adalah rangkuman yang kami terima dari masyarakat. Akhirnya semua terpulang kepada masyarakat warga Indonesia untuk menentukan presiden kita dengan bijaksana, bebas dan rahasia. Selamat Pilpres 2004 !!!

     

 


FastCounter by bCentral