|
 |
|
Para
Capres Berlomba Menyebut Diri Penyelamat Bangsa
Jakarta, Kompas - Di hari ketiga masa kampanye calon presiden
dan wakil presiden, masyarakat di berbagai daerah kembali
mendapat suguhan janji dan klaim para calon. Semuanya berusaha
meyakinkan para calon pemilih bahwa merekalah jalan keluar
untuk menyelamatkan bangsa dari krisis.
"Ada kejujuran pada pribadi Ibu Megawati Soekarnoputri.
Kejujuran itu harus dibentengi dengan kekuatan. Saya dengan
ikhlas akan membentenginya," ujar Hasyim Muzadi, calon
wakil presiden pasangan calon presiden Megawati, di depan
sekitar 7.500 warga yang terlibat dalam istighotsah di Stadion
KONI Tri Lomba Juang, Lampung, Jumat (4/6) sore.
Dalam acara itu, Megawati sendiri tidak memberikan sambutan
dan hanya melambaikan tangan kepada warga yang hadir. Meski
tidak menyebut nama, Hasyim mengingatkan agar dalam pemilihan
presiden 5 Juli mendatang, tidak memilih pemimpin yang masa
lalunya bergelimang kekerasan terhadap rakyat. "Lebih
baik keikhlasan membentengi orang jujur agar kuat, daripada
memilih orang kuat yang tidak jujur. Sepanjang hidupnya,
Ibu Megawati tak pernah terlibat kekerasan terhadap bangsa
dan rakyat," ujar Hasyim.
Sementara itu, Megawati dalam istigotsah bersama ribuan
warga di Palembang, Sumatera Selatan, kemarin menyatakan
sekaranglah saatnya rakyat menentukan sendiri siapa yang
layak menjadi pemimpinnya. "Sekarang yang memilih presiden
bukan MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat). Kedaulatan ada
di tangan rakyat. Ini bukan memilih partai, tapi figur yang
sanggup memimpin bangsa dan negara ini lima tahun ke depan.
Pilihlah sesuai dengan mata hati dan nurani. Pilihlah pemimpin
yang akan mendayung perahu yang sudah mulai berjalan ini,"
ujar Megawati di acara yang berlangsung di Stadion Bumi
Sriwijaya. Calon wakil presiden (cawapres) dari Partai Golkar,
Salahuddin Wahid (Gus Solah), dalam silaturahmi dengan para
ulama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Tengah di Semarang
mengajukan semacam pembelaan terhadap pasangannya, calon
presiden (capres) Wiranto.
"Dalam masalah hukum, tidak ada istilah bersih dan
tidak bersih. Yang ada adalah salah atau tidak salah. Dan
sampai saat ini tidak ada putusan pengadilan mana pun yang
menyatakan Pak Wiranto bersalah. Jadi terdakwa saja belum,
apalagi bersalah," ujar Salahuddin seraya menyerahkan
sebuah video compact disc (VCD) berisi penjelasan atas semua
tuduhan miring terhadap Wiranto dalam bidang pelanggaran
hak asasi manusia (HAM). Salahuddin menyatakan keyakinannya
akan mampu memperjuangkan cita-cita reformasi yang belum
bisa diwujudkan pemerintah selama ini.
"Saya yakinkan, bahwa pasangan kami adalah pasangan
terbaik," ujarnya. Wiranto sendiri dalam kampanye di
Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menegaskan, setelah
bangsa ini dibelit persoalan yang tak kunjung selesai, yang
kini dibutuhkan adalah pimpinan nasional yang kuat untuk
mengatasi kemiskinan, membengkaknya pengangguran, rendahnya
pendidikan dan kesehatan, serta belum tertanganinya masalah
keamanan dan ketertiban. "Saya bersama Salahuddin Wahid
siap untuk mengemban amanat berat ini," ujar Wiranto.
Pemimpin tanpa masalah
Cawapres dari Partai Demokrat Jusuf Kalla saat berkampanye
di Lapangan Trikora, Mimika, Papua, menyatakan, "Sudah
terlalu banyak masalah bagi bangsa ini. Karena itu, yang
kini dibutuhkan adalah pemimpin yang tanpa masalah. Kami,
saya bersama calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono, adalah
calon pemimpin yang bebas dari segala masalah," ujarnya.
"Kami tak punya masalah. Kami tidak pernah punya niat
mencuri uang negara. Kami bebas pergi ke mana pun, ke seluruh
dunia, tanpa masalah hukum. Lagipula cuma yang taat hukum
yang mampu menyelesaikan masalah hukum di negeri ini, yang
segunung," ujar Jusuf Kalla menjelaskan. Yudhoyono
secara khusus menyoroti nasib Provinsi Papua, yang merupakan
bukti bahwa selama ini pemerintah hanya menguras kekayaan
alamnya tetapi membiarkan masyarakatnya tetap terbelakang
dan terbelenggu kemiskinan.
Ganti pimpinan nasional
Secara terpisah, cawapres Siswono Yudo Husodo menegaskan,
pemilihan presiden 5 Juli 2004 merupakan momentum yang baik
untuk mengganti pemerintahan sekarang. "Bukan hanya
orang di luar pemerintahan saja yang mengharapkan pergantian
pemimpin nasional, para pejabat atau mantan pejabat tinggi
pemerintah sendiri berharap adanya pergantian kepemimpinan
nasional secara demokratis, lewat pemilu," ujar Siswono.
Dan yang penting dalam pergantian pimpinan nasional adalah,
"Gantilah dengan pemimpin yang lebih baik daripada
yang sebelumnya. Saya bersama Pak Amien Rais insya Allah
mampu memenuhi kriteria pemimpin yang lebih baik,"
ujar Siswono saat berkampanye di Gedung Betang Garing Palangkaraya,
Kalimantan Tengah, Jumat Amien Rais menambahkan, Indonesia
membutuhkan penyegaran, untuk melanjutkan reformasi.
Selain pergantian kepemimpinan nasional, yang juga dibutuhkan
adalah perubahan sistem pemerintahan ke arah yang lebih
transparan dan bisa dipertanggungjawabkan. "Untuk menyelesaikan
berbagai persoalan, perlu tangan-tangan yang jujur, cerdas,
dan berani. Jika pemimpin suka berkorupsi, maka yang bawah
pun akan ikut. Kita sudah lihat, di negeri ini pejabat sudah
korupsi secara berjamaah. Saya bersama Pak Siswono akan
berjuang mengatasi persoalan bangsa yang sudah kronis ini,"
ujar Amien yang selain menghadiri rapat terbuka di Palangkaraya
dan Mantikei, dia juga sempat berkunjung ke Pasar Baru di
Palangkaraya.
Penguasa yang pelayan
Secara terpisah, lewat orasi politiknya di Lapangan Saburai
Bandar Lampung, cawapres dari Partai Persatuan Pembangunan
(PPP) Agum Gumelar menyatakan, "Pak Hamzah Haz adalah
orang yang sederhana, konsisten, pintar, dan tidak arogan.
Dalam diri Hamzah Haz lah kita menemukan ciri dan sosok
pemimpin yang melayani. Karena itulah saya mendampingi beliau
dalam pencalonan ini."
Di tengah era kompetisi antarbangsa, pemerintah harus mengubah
paradigma dari penguasa menjadi pelayan. "Itu tidak
bisa dihindari, karena di masa mendatang peran pemerintah
harus mengecil, sementara peran swasta akan makin mengemuka.
Di situlah fungsi pelayanan harus dihadirkan dari pemerintah,"
ujar Agum. Hamzah Haz, bersama pasangannya Agum Gumelar,
kemarin menjanjikan akan menampilkan kepemimpinan yang mampu
membawa Indonesia menjadi masyarakat madani nasionalis yang
religius. "Megawati telah memperbaiki iklim ekonomi
makro. Kini jika dipercaya rakyat, kami akan mengembangkan
iklim ekonomi mikro, yang akan membawa bangsa ini pada perbaikan
konkret," ujarnya.
Berbagai dukungan
Dalam rangkaian acara kampanye para calon presiden dan wakil
presiden kemarin, berbagai dukungan disampaikan dari para
simpatisan dan pendukung di berbagai daerah. Di Palembang,
Megawati dan Hasyim secara khusus menemui ibu-ibu dari Majelis
Taklim Palembang serta para penyandang cacat yang mendukung
pasangan Megawati-Hasyim.
Di Mataram, sambutan meriah ribuan warga menyatakan dukungan
bagi pasangan capres-cawapres Wiranto-Salahuddin Wahid,
lewat berbagai ungkapan. Musik dan tarian tradisional Lombok
serta iringan musik dangdut melarutkan ribuan warga dalam
semangat mendukung Wiranto-Salahuddin. Di Palangkaraya,
pasangan Amien-Siswono disambut dengan aksi sumbangan sukarela
dari para pendukung mereka. "Saya terharu terhadap
besarnya perhatian rakyat," ucapnya. M (var/IM)
|