|
|
|
Serba-serbi
Kisah Kunjungan Ke Tanah Air Ke 30
 |
"Jeletok," begitu
sering terdengar bunyi dari stop kontak ketika kita colokkan
peralatan listrik kita ke sumber daya di Indonesia yang
listriknya bertegangan 220 Volt. Selain bunyi tersebut,
cahaya geledek skala mini dapat kita lihat keluar dari kedua
lubangnya, apalagi kalau peralatan listrik di dalam keadaan
nyala atau membutuhkan arus. Perbedaan tegangan tersebut
dengan di Amrik dan Kanada yang 110-117 Volt doang membuat
persiapan pulang kampung sedikit lebih rumit kalau kita
membawa peralatan listrik disamping kepala colokannya berbeda
dari kepunyaan kita yang ramping gepeng. Misalnya, baterei
kamera video bojoku, alat ngecharge-nya hanya bisa 110V
sehingga saya harus meminjam 'step down transformer' dari
dulur kami. "Mengapa tegangan di Indo dipilih 220V
sih?," demikian mungkin Anda bertanya. Pertama demi
namanya penghematan sebab dengan kapasitas kabel/kawat yang
sama, daya yang disalurkan bisa 2 kali lipat. Kedua, karena
jiwa murah di Indo, satu orang mati kelojotan kena tegangan
220V masih ada 220 juta lainnya. Baidewe memang bukan tegangan
yang membuat kita kojor ketika jantung kita dilewati aliran
listrik rumah, tetapi arusnya meskipun arus 1000 mA sudah
cukup untuk membuat kita 'say goodbye till we meet again'.
Karena tegangan yang 220 V itu, akibatnya lagi peralatan
listrik yang dijual di kota ini ya seperti itu juga spesifikasinya.
Akibat lebih jauhnya lagi, kesempatan saya untuk bermurmer
beli pesawat telepon baru merk Panasonic, yang di Gramedia
saja cuma 100-an dollar tidak bisa kesampaian. Ketika si
mbak saya minta memperlihatkan charger-nya hingga saya bisa
memastikan spesifikasi tegangannya, benar saja, 220 Volt
sori wae.
Mong ngomong jiwa wong Indo murah, tahukah Anda berapa nilainya
di dalam rupiah? Lima juta doang dan saya engga becanda.
Kemarin saya bertanya kepada si mbak penjual karcis di loket
kolam renang Tirtamas. "Mbak, 200 rupiah tambahan asuransi
kecelakaan itu harus?" "Ya," katanya dan
disitu tertera tarip jiwa kalau meninggal pada saat berenang
Rp 5 juta. Kalau cacat alias masih hidup, Rp 10 juta akan
diberikan kepada si malang dari dana santunan asuransi tersebut.
Iseng saya menanyakannya karena sebelum cabut pulang kampung,
sahaya dan nyonya sudah mengeluarkan biaya asuransi kesehatan
esktra yang termasuk kecelakaan dengan premi sekitar 600-an
dollar (meng-cover dua bulan). Siapa tahu asuransi kecelakaan
Rp 5 juta itu optional sehingga saya bisa menghemat 200
perak per berenang, lumayan buat dikasihkan Pak Ogah pan.
Jadi doakanlah pren Anda si Jeha agar tetap sehat walafiat
terhindar dari marabahaya selama berenang sebab terima warisan
Rp 5 juta, habis dipakai syoping sekali doang oleh kedua
anakku :-).
Masih mengenai perlistrikan maupun kemajuan tekno di Indo,
beberapa hari yang lalu saya sempat dibuat kagum oleh satu
alat lagi, penemuan baru di Melayu. Salah seorang sedulur
kami memakai alat istimewa, dicolokkan ke stopkontak yang
mana saja, rekening listriknya konon akan menurun drastis
atau d.p.l. power consumption-nya akan menurun. Karena belum
apa-apa sudah salut dengan kehebatan tekno di Indo, di kuliahan
elektro dulu tidak atau belum pernah saya diajarkan ada
alat hesbat seperti itu, ku-consult prenku saurang ngensinyur
elektro dari universitas nomor wahid negeri ini :-). Ia
pun ternyata sama blo'onnya dengan saya, baru pertama kali
ini mendengar ada alat kaya begitu, padahal jualannya sehari-hari
alat elektronik yang sangat canggih. Satu dua prenku ngensinyur
elektro lainnya yang ku-SMS-in bungkam seribu bahasa alias
jelas mereka juga enteu nyaho mboten ngertos rek :-). Senang
juga si saya bahwa ternyata meskipun kecepatan pengiriman
SMS saya mah putus dibandingkan para ponakan saya, pengetahuan
perlistrikan saya masih belum terlalu bego kayanya. Kalau
Anda kebetulan tahu bekerjanya alat itu sehingga dapat menurunkan
pemakaian arus di rumah dan dengan demikian biaya rekening
listrik nyokapku di rumah ini dapat ditekan, mohon hamba
dicerahkan :-).
Kalau kemajuan tekno di Indo sering mengalahkan Kanada,
jangan ditanya yang namanya 'service level' atau jenjang
pelayanannya. Melihat ada 100 pramuniaga di toserba seperti
Sogo mah biasa, padahal kalau kita ke Canadian Tire, yang
namanya pelayan toko entah ada dimana tahu. Barulah ketika
saingan mereka, Home Depot dari Amrik masuk, kita bisa berjumpa
dengan manusia di toko itu. Tak salah semboyan eks cangkulanku,
'competition is good for the business'. Sekarang ini ada
servis baru, barulah servis di parkiran mobil. Kalau dahulu
kita bisa sampai puyeng cari parkir, sekarang ternyata kita
bisa KKN-an dengan kang parkir. Baru mulai saya endus, engah,
ketika seperempat jam saya keliling di WTC Jl. Jendral Sudirman
di kantor Kedubes Kanada mencari parkiran kosong. Dengan
bermodal cuma 15 sen alias Rp 1000 kita akan dibantu oleh
tukang parkir di gedung atau mal bersangkutan. Kaya kemarin
saya berniat syoping di mal KG berdua dengan nyonyaku doang.
Dua lantai parkir yang kami kelilingi penuh dan ketika mau
menuju satu lagi, si akang melambaikan tangan dan mengatakan
"Disini bisa Pak." Sebetulnya lahan kosong itu
bukan tempat parkir tapi daerah di muka pintu lift dan tangga
pejalan kaki. Namun, karena yang "punya lahan"
sudah mempersilahkan saya parkir disitu, ya saya mau tentunya
bekerja sama dengannya. Selesai parkir dan dengan sapaan
selamat malam yang sangat ramah, si saya yang pernah bekerja
30 tahun di suatu 'service company' tahu bahwa ia mengharapkan
sapaannya berbuah :-). Dengan sigap saya keluarkan gambar
Oom Pattimura alias Rp 1000 dari dompetku untuk mengimbali
servis yang 'above average' dari juru parkir di mal Kelapa
Gading. Remember, when in Rome do as the Romans do.
Akhirnya prens, berkat doa restu Anda semua, sekarang saya
sudah dapat menjawab pertanyaan standard anak Indo kepada
prennya turis dari luar batang. Saya sudah ke Semarang,
Solo, Yogya dan Bandung serta melintasi seratus kota dan
desa lainnya di Jateng Jabar. Tuhan selalu mahabaik, dikirimkannya
dua "malaikat" pengemudi dan keneknya untuk menyupiri
saya berdua nyonya di trayek di atas, dari mulai Jakarta
lewat Pantura, kemudian dari Yogya ke Bandung. Dapat saya
laporkan, supir kiriman Oom Han tersebut benar-benar luar
biasa. Mesipun umurnya sudah lebih uzur dari saya, kegesitannya
mengemudi bukan main lach yauw. Bayangkan, trayek Klaten
- Solo yang serba macet dan terutama ketika masuk kota,
bisa disikatnya pas tepat waktunya, jam 2:55 sudah ada di
ujung Jl. Slamet Riyadi padahal jam 2 siang masih lesehan
bersama seorang prennya di Klaten.
Terakhir saya ke Semarang ketika masih pacaran dengan bojoku,
a.l. "sowanan" ke kuburan babenya almarhum, di
Kobong kalau Anda wong Semarang. Kesan saya ketika itu,
kotanya semrawut sebab sempat macet total satu jam di daerah
Pasar Turi kalau tidak salah, mau mencari bakmi yang enak.
Kali ini saya ke Semarang, mungkin karena keramahan tuan
dan nyonya rumah, kembali sahabat Internet kami yang belum
pernah sekalipun kami pandang matanya, si Kus Dul Badung,
ternyata kota itu cukup adem ayem. Jalanannya ramai tapi
tidak ngawur atau segila di Jakarta lalulintasnya. Kota
Semarang dari atas tempat bernama Alam Indah (daerah Candi
ke atas lagi), lumayan indahnya di waktu malam, polusinya
relatif tidak terasa sebab seluruh kota dapat kita lihat
berkelap-kelip lampunya. Yang paling mengesankan adalah
daerah kota tuanya, dengan beberapa bangunan sejak jaman
VOC atau Belanda, lebih tampak terpelihara dibandingkan
dengan Jakarta, Bandung atau kota-kota lainnya yang kami
kunjungi. Jumlah lampu lalinnya yang putus boglamnya juga
tidak sebanyak di Solo dan Yogya :-). Salah satu yang istimewa
di Solo dan Yogya, lampu merah bisa berarti terus sebab
itu adalah merah untuk lalulintas yang mau belok kanan.
Lalulintas yang terus, merah atau berhentinya ditandai dengan
lampu ber-icon tanda panah lurus terus yang kecil. Dari
seluruh trayek yang kami lewati, yang paling 'challenging'
sekaligus menarik adalah rute dari Yogya ke Bandung yang
ditempuh sekitar 10 jam oleh pak supir istimewa kami. Disitulah
keahlian mengemudi kita diuji. Sudah jalannya serba sempit,
hanya muat dua mobil alias sejalur searahnya, sudah tambah
penuhnya dengan segala macam kendaraan bermotor, dari waktu
ke waktu kita akan menjumpai pedati dan gerobak serta andong
di jalan raya yang tentu dengan alon-alonnya ikut memakai
sang jalanan. Selain lebih rusaknya atau buruknya mutu aspal
rute itu di beberapa bagian, berkelak-keloknya jalan raya
di daerah pegunungan, terutama di Nagreg, memang membuat
menyetir menjadi lebih asyik, terutama bila Anda masih berjiwa
muda seperti supir kami :-). Sampai kisah mendatang, bai
bai lam lekom. M (JeHa/IM)
|