Banner 120X90


Peringatan Tragedi Mei '98 bersama: IKRANAGARA
Dilaporkan Oleh: Dr. Irawan

Ikranegara

Duarte, Mei 15, 2004/ Indonesia Media.
Sebagaimana biasanya sejumlah masyarakat di Los Angeles dan kota-kota lainnya senantisa dari tahun ke tahun mengenang dan memperingati Tragedi Mei '98 yang telah merengut ribuan nyawa dan korban di Indonesia. Kali ini kami mendapat kunjungan kehormatan dari seorang humanis yang lama berkecimpung di dunia theater, dan menyandang nama di layar perak, Ikranagara, adalah nama yang sulit dipisahkan dari kalangan Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Acara dibuka oleh Ketua Umum ICAA, DR.Frits Hong yang dalam sepatah katanya menekankan pentingnya peringatan Tragedi Mei'98, dan jangan sampai dilupakan, karena kita tidak mau tragedi itu terulang lagi.
Disusul dengan pembacaan artikel Ariel Heryanto (Kompas) yang banyak mengupas kejanggalan-kejanggalan yang terjadi mulai 12 Mei sampai 15 Mei ‘98 di Jakarta. Dari artikel yang ditulisnya cenderung terindikasi bahwasanya tragedi itu dilakukan sangat terorganisir dan systematis.

Kemudian kilas balik perusuhan terhadap orang Tionghoa di Indonesia yang pernah tercatat :
- 1740 yang dikenal dengan pembantaian Angke (sungai merah) yang menelan korban jiwa 10.000-an orang di Batavia.
- Kerusuhan Kudus 1918 yang dipicu oleh persaingan dagang pengusaha rokok Tionghoa dengan Arab.
- Juni 1946 - Kerusuhan rasialis anti Tionghoa di Tangerang, merupakan kerusuhan rasialis anti Tionghoa pertama terbesar setelah kemerdekaan RI. Kerusuhan ini berawal dari adanya tuduhan bahwa orang-orang Tionghoa yang sebelumnya pro Belanda, dicurigai sebagai agen NICA. Tetapi isyu ini digeneralisir kepada seluruh orang Tionghoa. Ribuan orang tewas dibunuh, ribuan rumah mereka dibakar, remaja pria disunat paksa, kaum perempuannya diperkosa oleh gerombolan bersenjata (hasil rampasan eks tentara Jepang) dan dibantu oleh sekelompok pasukan TRI (sekarang TNI).
-1959 - Disahkannya Peraturan Pemerintah No. 10 tahun 1959 (PP 10/59), yang isinya melarang Warga Negara Asing (WNA) untuk menetap di tingkat wilayah desa. Soekarno menetapkannya dalam konteks WNA yang sebenarnya, sedangkan faksi Militer menerapkannya dalam konteks etnis Tionghoa seluruhnya. Ada perbedaan antar konsep dan penerapan, hingga banyak terjadi etnis Tionghoa yang sudah WNI tetap diusir dari permukaan mereka di desa-desa. Bahkan terjadi banyak pembunuhan disana-sini seperti yang terjadi di Ciawi, yang dilakukan oleh Divisi Siliwangi. Pramoedya Ananta Toer memberikan kritiknya terhadap PP 10/59 ini lewat buku Hoakiau di Indonesia yang hingga hari ini menjadi satu-satunya catatan paling lengkap dampak PP 10/59 terhadap etnis Tionghoa Indonesia. Buku ini kemudian dilarang beredar dan penulisnya di penjara tanpa proses pengadilan.
-1963 -10 Mei, Kerusuhan anti Tionghoa di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
-1968 di Kalimantan, bermula dari tahun 1963 - Presiden Soekarno menugaskan Menteri Oei Tjoe Tat untuk menggalang sukarelawan / Milisi Tionghoa di perbatasan Kalimantan Barat - Serawak, yang kebanyakan sukarelawan itu dari etnis Tionghoa, untuk mendukung pelaksanaan konfrontasi melawan Malaysia/Inggris. Untuk itu, Resimen Pasukan Khusus Angkatan Darat (RPKAD) ditugaskan untuk melatih sukarelawan tersebut. Misili yang terbentuk di Kalbar, kebanyakan tergabung dalam Partai Rakyat Kalimantan Utara (PARAKU) ataupun dalam pergerakan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS), yang mayoritas etnis Tionghoa, bahkan termasuk juga Chinese Overseas dari negara-negara lain. Pada tahun 1968 Pemerintahan Militer (Jenderal Soeharto) mengadakan rekonsiliasi dengan pemerintah Malaysia, dimana hal itu mengakhiri konfrontasi Indonesia - Malaysia.

Johnny setiawan selaku moderator

Pemerintahan Militer menindak lanjuti rekonsiliasi dengan Malaysia, dengan tindakan menumpas balik gerilyawan Tionghoa PARAKU/PGRD, yang semula mereka bina. Untuk peng-likwidasi-an PARAKU/PGRS, ditugaskan Resimen Pasukan Khusus Angkatan Darat (RPKAD) untuk menumpas Milisi PARAKU/PGRS yang tadinya mereka bina. Beberapa Kompi RPKAD hilang dan tidak pernah kembali dalam aksi penumpasan itu. Akhirnya orang-orang Dayak diprovokasi. Beberapa orang berseragam PARAKU/PGRS, membunuh salah satu ketua adat Dayak, hingga akhirnya orang-orang Dayak Kalbar melakukan pembalasan dendam, dengan mengucapkan sumpah dengan mangkok berisi darah mereka (Mangkok Merah). Orang Dayak terlibat bersama Angkatan Darat untuk menumpas Milisi PARAKU/PGRS. Operasi yang melibatkan orang Dayak itu disebut dengan nama Operasi Mangkok Merah. Seiring dengan berlalunya waktu, banyak orang Dayak yang akhirnya menyadari provokasi yang menimpa mereka. Mereka menyesali hal itu, bahkan banyak orang Dayak yang justru bergabung dengan Milisi PARAKU/PGRS. Perlawanan milisi ini terus berlangsung lama dan sporadis. Panglima PARAKU terakhir yang tertangkap tahun 1975, adalah seorang Dayak yang dikenal dengan sebutan Pak Kapiten. Setelah itu tidak pernah didengar kabar diindikasikan sampai tahun 1983, masih ada pergerakan milisi

PARAKU/PGRS di perbatasan Serawak.
-1973 kerusuhan Rasial 5 Agustus 1973 di Bandung.
Yang ditandai dengan kerusuhan memakan korban jiwa disertai pembakaran rumah dan toko yang dimiliki oleh orang Tionghoa.
- 1996 Ujung Pandang (8 April 1996).
- 1997 di Pekalongan .
- 1997 Rengasdengklok (30 Januari 1997),
- 1997 Ujung Pandang (15 September 1997).
- 1997 Tasikmalaya (28-29 Desember 1997).
- 1997 Banyuwangi (14 January)
- 1998 Bandung (5 Januari 1998)
- 1998 Sepanjang bulan Mei 1998 terjadi kerusuhan rasial di berbagai daerah di Indonesia seperti; Medan, Sumatera Utara, Padang, Samarinda, Jakarta, Solo, Lampung dan Tanjung Balai. Setelah Mei’98 pun masih terjadi berbagai kerusuhan rasial, misalnya di Tegal (15 Juni 1998), dan kebumen (7 September 1998). Kerusuhan-kerusuhan itu tidak mengubah konstelasi etnis Tionghoa di Indonesia. (sumber buletin Simpatik 2000).

Dalam acara ini sebagaimana biasanya peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan pengalaman dan aspirasinya,

Ibu Threes membagi pengalamannya

Dia menceritakan bagaimana perasaannya mendengarkan laporan dari Radio Sonora saat itu yang melaporkan jalannya pengrusakan, penjarahan dan pembakaran dari Kiosk nya di Topas (Roxy) sampai pembakaran supermarketnya di tempat yang lain, sementara rumahnya selamat tidak dijarah dan dibakar berkat tentara bayaran yang disewanya.

Ibu Threes dengan keluarga juga tidak luput dari pemerasan di Bandara Soekarno Hatta sewaktu mau mengungsi ke Singapore karena fiskal yang sengaja dinaikan dari Rp.1 juta menjadi Rp.5 juta perorang, menurutnya ada sejumlah penumpang yang terpaksa tidak bisa berangkat hanya dikarenakan fiskal yang dinaikan itu, mereka sudah tidak punya uang.

Pak Johnny Setiawan yang bertindak selaku moderator malam itu menyampaikan sebuah kalimat yang sangat bermakna yaitu; “Silent is not golden anymore, silent is simply means giving your consent to perpetrator to abuse you. We should speak up ! Mudah-mudahan kita bisa inspire yang lain untuk berani bicara”.

Wei-wei
:
Ada gejala demokrasi disalah artikan oleh sekelompok orang yang merasa demokrasi adalah boleh melakukan sesukahatinya, contohnya pedagang kaki lima yang menutupi toko-toko di Bandung sehingga sangat mengganggu pemilik toko dan rumah yang resmi. Kalau dulu masih ada TIBUM (Operasi Tertib Umum), sekarang malah tambah kacau. Menurut Ikra itu karena pelaksanaan hukum di Indonesia tidak jalan saat ini sehingga Demokrasi yang didengungkan malah menjadi DemoCrazy.

Jonathan Goeij:

“Kalau disuruh memaafkan, lalu siapa yang harus dimaafkan kalau pelakunya belum dinyatakan?”

IKRANAGARA yang datang dengan isterinya, Kay membuka komentar terhadap omongan Wiranto yang bilang bahwa lupakan saja apa yang terjadi di tragedi Mei'98, dan marilah kita lihat kedepan. "Itu adalah ucapan yang sangat jahat !" katanya.
Lalu beliau menyebut;
Sejarah tidak bisa dilupakan,
Sejarah akan tetap dicatat,
Sejarah tidak bisa dipalsukan,
Karena sejarah sendiri yang akan memenangkan sebagai sejarah yang murni.


Mungkin sejarah bisa dipendam pada saat kekuasaan Suharto karena kekuasaannya begitu kuat. dan ketakutan melawan itu juga luar biasa, tapi pada akhirnya tumbang juga dan sejarah menang kembali dan harus dicatat yang sebenarnya.

Syair "Diam" IKRANAGARA

Diatas diam
Dibawah diam
Ditengah-tengah diam
Beramai-ramai diam
Berkhianat kita dalam diam

Foto bersama, nampak istri Pak Ikra, Kay (ketiga dari kiri) adalah seorang putri dari dosen "Mafia Berkeley"

Bung Ikra demikian panggilan akrabnya, mengendus adanya phenomena aneh dari para pejabat kita sekarang yang tentunya terwaris dari ORBA, yaitu sering mengucapkan ;"Yang Ngono yah ngono, tapi ojoh ngono" (ngomongnya begini, tapi maksudnya lain) ini membuat statementnya menjadi rancu dan tidak jelas, seperti apa yang ditulis oleh Orwell 1984, ujar senior scholar yang pernah aktif di “Theater Kecil” itu.
Menurut Ikra yang sekarang ini menetap di Bloomington, Indiana; sejarah mencatat demokrasi di Indonesia hanya terbukti bisa hidup paling lama 8 tahun, dan setelah itu militeristik lagi. Opininya terhadap Wiranto dan Soesilo Bambang Yudhoyono, “ Semuanya hanya omong kosong, "ini semua orangnya Suharto"selorohnya.
Ikra yang berambisi mengusahakan International Touring Indonesian Contemporary Arts itu, menutup acara dengan membacakan syair yang ditulisnya yang berjudul “Tank” (kendaraan lapis baja militer) dengan mengutip ucapan dari India, “Ahinsa” (baca Ahimsa) yang berarti “tanpa kekerasan”. M (DI/IM)

     

 


FastCounter by bCentral