Banner 120X90

Cak Nur: Pemimpin Kuat dan Budaya Oposisi Bisa Atasi Korupsi
Ditulis oleh: Hendro Yudiyono

Penulis berpose dengan DR Nurcholish Madjid (CakNur) seusai dialog mengenai perkembangan politik di Tanah Air dengan masyarakat yang diprakasai oleh Ikatan Keluarga Indonesia (IKI) di Washington DC, Senin 10 Mei 2004

Washington DC – Cendekiawan Muslim DR Nurcholish Madjid yang lebih akrab dikenal dengan Cak Nur berbicara di depan masyarakat Indonesia di Washington memaparkan bahwa adanya pemimpin yang kuat dan budaya oposisi bisa mengatasi budaya korupsi di Indonesia.

“Budaya korupsi masih sangat dominan seiring dengan munculnya kebebasan di Indonesia, mudah-mudahan nanti akan ada pemimpin kuat yang bisa mengatasi hal ini, karena saat ini indikasi adanya pemimpin yang kuat tidak terlalu positif,” kata Cak Nur menjawab pertanyaan moderator pertemuan tersebut Patsy Widakuswara dari Jurnal VOA.

Menurut Cak Nur, jika dulu korupsi terbatas pada kalangan eksekutif, sekarang malah merembet pada kalangan legislatif. Dia sependapat dengan anggapan yang mengatakan bahwa Senayan adalah “showroom” mobil mewah terbesar di dunia.

“Maraknya korupsi di berbagai kalangan timbul karena tidak ada dukungan dari eksekutif dalam memberantas korupsi,” katanya.

Kunjungan Cak Nur ke AS sendiri utamanya adalah diundang dalam Seminar Finansial Islam ke 6 yang diadakan oleh Harvard University Massachusetts, dan pada saat yang sama Ikatan Keluarga Indonesia di AS (IKI) yang diketuai Irawan Nugroho mengundangnya untuk berbicara mengenai gambaran kondisi politik di Indonesia.

Cak Nur memaparkan bahwa munculnya kebebasan sipil yang tidak ada di jaman Pak Harto, adalah kebebasan pers, kebebasan membentuk partai, dan lainnya termasuk juga adanya semakin bebasnya korupsi, dan munculnya kerusuhan-kerusuhan di daerah.

Salah satu yang disinggung dalam dialog tersebut menurut Cak Nur bahwa masih ada sms dari suatu kelompok ke HP nya yang meminta segera pulang karena banyak yang akan mencalonkan sebagai Presiden, asalkan ada dana sebesar 5 triliun.

“Bayangkan, jika suatu kelompok yang mau mencalonkan saja belum-belum sudah minta uang sebesar itu yang notabene 5 kali lipat anggaran kampanye Presiden Bush,” katanya. “Saya orang Jawa Timur, menjual masjid se Jawa Timur saja tidak cukup, dan hal demikian yang terjadi di Indonesia saat ini,” imbuh Cak Nur.

Oleh karena itu, upaya lainnya mengatasi korupsi yang sudah mengakar, menurut Cak Nur adalah dibudayakannya oposisi. “Loyal opposition” loyal terhadap negara dan bangsa, oposisi yang demikian yang diperlukan untuk memberantas korupsi.

“Kita berusaha menggiring menjadi dua partai, partai yang menang menjadi “ruling party” dan yang kalah menjadi oposisi, Presiden dan wakilnya diambil dari satu partai, dan yang kalah menjadi oposisi,” kata Cak Nur.

Masalah Pendidikan di Indonesia

Keprihatinan lainnya yang juga dibahas dalam dialog itu adalah masalah pendidikan. Menurutnya bangsa Indonesia paling tertinggal dalam soal pendidikan.

Tahun 70’ an Malaysia masih mengimpor tenaga guru dari Indonesia, sekarang kita dibalik. Menurut Cak Nur itu hanya karena faktor pimpinan. Faktor kemauan politik dari pemimpin.

Dia mencontohkan bahwa besar anggaran pendidikan di Indonesia hanya seper seratus dari Korea Selatan. Rasio penduduk yang memiliki gelar doktor (PhD), di Indonesia hanya 65 doktor per satu juta penduduk. Di India 20 kali lipat yaitu 1.300. "Jika Indonesia ingin seperti India, maka harus bekerja 20 kali lipat lebih keras," kata Cak Nur.

Sementara rasio jumlah doktor di AS dan Jepang mencapai 6.500, Jerman dan Perancis sekitar 4.000. Dan yang paling tinggi di dunia adalah Israel 16.500 doktor per satu juta penduduk.
Sementara itu Indonesia keadaannya paling rendah keberadaannya, sedikit lebih tinggi dari negara di Afrika. (Hendro Yudiono)
Caption: Penulis berpose dengan DR Nurcholish Madjid (Cak Nur) seusai dialog mengenai perkembangan politik di Tanah Air dengan masyarakat yang diprakarsai oleh Ikatan Keluarga Indonesia (IKI) di Washington DC, Senin 10 Mei 2004.

     

 


FastCounter by bCentral