|
|
|
Kebudayaan
Non-Melayu dan Non-Jawa
 |
Profil
seorang gadis Sunda. Meski beragama Islam - salah
satu ciri kebudayaan Melayu-masyarakat Sunda memiliki
corak budaya yang berbeda dengan Melayu atau Jawa |
Ada sementara pendapat mengatakan,bahwa
yang dimaksud dengan kebudayaan non-Melayu dan non-Jawa
adalah kebudayaan yang dimiliki oleh ras lain, seperti China
(ras Mongol), Eropa (ras Kaukasia), Afrika (ras Negro),
dan sebagainya. Meskipun demikian di antara bangsa Indonesia
sendiri ada beberapa sukubangsa yang tidak termasuk dalam
wilayah kebudayaan Melayu dan wilayah kebudayaan Jawa, karena
tidak memiliki ciri-ciri kedua tipe kebudayaan tersebut
seperti yang telah disebutkan sebelumnya.
Orang Sunda dapat dijadikan salah satu contoh sukubangsa
yang tidak dapat digolongkan dalam kebudayaan Melayu atau
kebudayaan Jawa. Walaupun orang Sunda beragama Islam, yang
merupakan salah satu ciri kebudayaan Melayu, namun mereka
memiliki corak kebudayaan tersendiri yang berbeda dengan
kebudayaan Melayu atau Jawa.
Demikian pula halnya dengan orang Lampung, mereka juga beragam
Islam namun memiliki kebudayaan dan bahasa tersendiri. Beberapa
pihak membedakan sukubangsa Lampung menjadi dua sub-sukubangsa,
yakni orang Lampung yang beradat pepadun (Lampung Pepadun)
dan orang Lampung yang beradat Saibatin atau Peminggir (Lampung
Peminggir). Orang Lampung memiliki bahasa sendiri yang disebut
behasou Lampung atau umung Lampung atau cewo Lampung. Bahasa
ini masih dapat dibagi menjadi dua logat atau dialek, yaitu
dialek Lampung Belalau dan dialek Lampung Abung; yang masing-masing
dibedakan atas dasar pengucapan a dan o,
sehingga biasanya juga disebut dialek a dan
dialek o. Orang Lampung juga mempunyai aksara
sendiri, yang biasa disebut surat Lampung.
 |
| Upacara naik Pepadun, Lampung.
Acara adat pemberian gelar ini membedakan masyarakat
Lampung menjadi dua sub suku bangsa yakni Lampung Pepadun
dan Lampung Peminggir atau Lampung Saibitin, yang menjalankan
adat Saibitin. Seperti halnya orang Sunda, masyarakat
Lampung, meski beragama Islam, juga memiliki kebudayaan
dan bahasa tersendiri |
Selain itu di Indonesia terdapat kelompok
sosial lain yang tidak secara langsung mengidentifikasi
diri sebagai orang Melayu, akan tetapi menggunakan salah
satu dialek dari bahasa Melayu. Sebagai contoh, di tanah
Minahasa ada sejumlah sub-sukubangsa Minahasa yang masing-masing
menggunakan dialek tersendiri.
Sedangkan sebagai sarana komunikasi antar anggota sub-sukubangsa
itu digunakan bahasa lain, yaitu bahasa Melayu Manado.
Ketiga bentuk kebudayaan yang ada di Indonesia, yaitu kebudayaan
Melayu, Jawa, serta non-Melayu dan non-Jawa, sesungguhnya
telah saling berinteraksi sejak dahulu kala, yaitu sejak
adanya kontak antara kebudayaan-kebudayaan tersebut. Kepentingan-kepentingan
hidup sosial, ekonomi, dan politik, telah menjadikan interaksi
itu bervariasi, mulai dari sifatnya yang positif berupa
kerjasama atau tolong-menolong sampai yang negatif berupa
perselisihan dan peperangan.
 |
 |
| "Barongsay",
salah satu contoh kesenian berasal dari Kebudayaan Tionghoa
yang kemudian berakulturasi dengan kesenian lokal. |
Salah
satu contoh gedung di Indonesia yang arsitekturnya dipengaruhi
gaya arsitektur Eropa |
Masyarakat pendukung ketiga kebudayaan tersebut
beriteraksi untuk kepentingan hidup yang paling azasi, bergaul
untuk memenuhi hasrat sosial dan kebutuhan hidup mereka.
Pergaulan antara individu-individu yang berlainan jenis
biasanya berakhir dengan perkawinan. Dari perkawinan itu
diperoleh keturunan yang disebut peranakan, misalnya peranakan
China, peranakan India, peranakan Belanda (Indo), dan sebagainya.
Tidak semua interaksi antara anggota-anggota ketiga kebudayaan
tersebut menghasilkan pembauran. Akan tetapi adanya pembauran
memang berawal dari adanya interaksi. Interaksi yang relatif
banyak menghasilkan pembauran ialah dengan bangsa India
dan Arab yang beragama Islam. Interaksi sosial yang berawal
dari aktivitas perdagangan dan penyebaran agama, banyak
menyebabkan perkawinan antara masyarakat setempat dengan
para pendatang. Dari perkawinan itu menghasilkan keturunan
yang menyatu dengan masyarakat pendukung ketiga kebudayaan
tersebut.
 |
 |
| Ukiran
kayu Banjarmasin bermotif kaligrafi. Pengaruh kebudayaan
Arab yang islami sangat menonjol di Indonesia. Hal ini
terjadi karena efektifnya penyesuaian budaya islam kedalam
budaya lokal Indonesia |
Patung
Budha di Candi Borobudur, Jawa Tengah. Contoh bangunan
monumental yang dipengaruhi agama Hindu dan Budha yang
berawal dari kebudayaan India. |
Interaksi sudah barang tentu membawa pengaruh
kepada kebudayaan setempat yang telah ada sebelumnya, dalam
hal ini kebudayaan Melayu dan kebudayaan Jawa. Perubahan
kebudayaan asing yang dibawa ke Indonesia oleh bangsa asing,
telah dapat diterima dan diserap oleh kebudayaan setempat
(pribumi). Sejak dahulu kala sampai saat ini banyak bangsa
asing yang datang ke Indonesia, dengan demikian telah terjadi
kontak kebudayaan sejak berabad-abad lamanya.
Orang-orang keturunan Arab di Indonesia misalnya, lebih
mudah bergaul dengan penduduk pribumi Indonesia. Hal ini
dikarenakan adanya persamaan latar belakang keagamaan, yaitu
agama Islam, yang dibawa para pedagang bangsa Gujarat dari
India pada sekitar abad ke-15. Ajaran agama Islam menjadi
efektif di Indonesia setelah melalui proses penyesuaian
dengan budaya lokal.
Pengaruh kebudayaan Arab yang sangat menonjol di Indonesia
dapat dilihat dari bentuk bangunan mesjid, penggunaan kata-kata
dari bahasa Arab, serta dalam berbagai tradisi atau upacara
adat yang bernafaskan agama Islam.
Kontak kebudayaan dengan bangsa India yang secara luas dapat
dirasakan ialah berkembangnya kebudayaan Hindu dan Buddka
di Indonesia. Bukti adanya kontak dengan kebudayaan India
adalah adanya peninggalan sejarah purbakala, antara lain
candi Prambanan dan Borobudur yang terkenal itu.
 |
| Dalam
keanekaragaman suku, agama, adat-istiadat, rasa persatuan
dan kesatuan tetap dijunjung tinggi. Bhinneka Tunggal
Ika |
Sastra suci Ramayana dan Mahabharata yang
didasarkan pada agama Hindu mengilhami seniman-seniman Indonesia
menciptakan kreasi wayang purwa yang tumbuh dan berkembang
tidak hanya di Jawa, tapi dikenal hampir di seluruh Nusantara.
Demikian pula dalam kehidupan kemasyarakatan, sistem kasta
di India diterapkan dalam kebudayaan Bali, terutama untuk
mengatur pembagian kerja, serta sistem pewarisan kedudukan
dan peranan sosial secara geneologis.
Keberadaan bangsa-bangsa asing di Indonesia menambah keanekaragaman
kebudayaan yang ada. Pada umumnya mereka berupaya untuk
membaur dengan orang Indonesia melalui berbagai cara, salah
satunya dengan mengadakan perkawinan campur. Hasil perkawinan
campur inilah menurunkan bangsa atau suku-bangsa campuran,
seperti orang Mestizo di propinsi Timor Timur, orang China
peranakan, atau orang Indo. Meskipun demikian
mereka tetap merasa sebagai bangsa Indonesia, yang menjunjung
tinggi persatuan dan kesatuan di bawah semboyan Bhinneka
Tunggal Ika.
|