|
 |
|
Provokasi Secara Tersyiratpun Tidak
Kalah Ampuh
Oleh: Nasrullah Idris
Banyak kerusuhan di tanah air dalam tiga tahun terakhir
ini yang dianggap sebagai ulah provokator, tetapi kenyataan
susah mencari orangnya. Sehingga terjadilah suasana saling
curiga, khususnya di kalangan elit politik. Hanya karena
mereka tidak mau "dituduh" sebagai pihak yang
telah "menuduh", maka objek yang "dituduh"
bersifat tidak langsung.
Tetapi lucunya lagi, mereka yang sibuk mengidentifikasi,
mencari, atau menjebak melalui retorika melalui media massa
itu pun sangat rentan untuk dianggap sebagai provokator
juga bila menimbulkan perdebatan yang siginifikan di kalangan
publik.
Kegiatan provokasi akan mudah dilacak bila yang menjadi
korban sadar telah diperalat untuk melakukan sesuatu. Cukup
mengintegrogasinya satu per satu, minimal satu di antaranya
akan menyebutkan nama seseorang, sebagaimana yang sering
dilakukan terhadap kelompok pencurian kendaraan bermotor.
Celakanya bila mereka tidak merasakan demikian sama sekali.
Ingat, melakukan provokasi itu tidak harus dengan lisan,
seperti "Serbu!"
Dengan tersyirat atau bahasa tubuh pun, dampak sosial yang
ditimbulkannya pun bisa tidak kalah hebat. Misalkan seorang
pemimpin yang suatu hari dengan penuh sedih menceritakan
tentang pengalaman pahit masa lampau kepada sejumlah anak
buah terdekatnya. Dikatakannya bahwa ia telah diperlakukan
begini dan begitu oleh pihak tertentu. Ia memang tidak memberikan
saran apa pun. Misalkan melakukan pembalasan dalam rangka
membela kehormatan.
Tetapi rupanya secara diam-diam ia punya target, analisis,
dan prediksi. Khususnya berdasarkan pengamatan secara psikologis.
Artinya, setelah selesai menyelesaikan cerita itu diperkirakan
para anak buahnya cepat/lambat akan merasa kepanasan hatinya
serta melakukan follow up berupa pembalasan. Selanjutnya
akan terjadilah pergolakan. Apa mudah mencari dalang intelektual
untuk peristiwa dengan strategi, latar belakang, dan nuansa
seperti itu? Kan susah! Siapa pun tidak akan merasa bahwa
mereka telah diperintah oleh sang pemimpin itu untuk melakukan
pergolakan. Malah kalau pun ditanya, si pemimpin masih bisa
berkelit, "Tanya saja sama mereka. Apa pernah saya
memerintahkan mereka?"
Esensi provokasi mungkin akan lebih gamblang melalui cerita
ringan ini:
Misalkan anda menginginkan keempat kawan di hadapan anda
menyengir tanpa harus mengatakan, "Hei nyengir dong
dikit !". Caranya mudah. Peganglah sehelai bulu hidung
anda yang seolah-olah anda hendak mencabutnya. Itu dilakukan
di hadapan mereka. Nah, ketika anda sedang memperlihatkan
gerak-gerik yang hendak mencabut bulu hidung, anda memperlihatkan
wajah nyengir seperti orang yang kesakitan sambil kepala
diputar dikit.
Penulis rasa, mereka sedikit banyak akan juga ikut nyengir,
tanpa mereka merasa sedikit pun bahwa ia sudah diperalat
oleh anda. Provokator yang profesional, sebagaimana yang
tampak di seluruh dunia, tentu akan mempertimbangkan banyak
hal sebelum memutuskan format yang akan dioperasikannya.
Berbagai fenomena terkait akan dijadikannya sebagai masukan
untuk gilirannya menghasilkan beberapa alternatif. Dari
sekian yang terakhir ini, akan dipilihlah yang mempunyai
resiko terendah, minimal untuk keamanan dirinya. Jadi esensi
analisa keputusannya hampir miriplah tindakan seorang manajer
dalam menetapkan harga ideal suatu produk yang jangkauan
pasarannya sudah ke seluruh penjuru tanah air. Bedanya hanya
terletak positif atau negatif sasaran saja. (Nasrullah
Idris/bidang studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi/IM)
|