Banner 120X90

Provokasi Secara Tersyiratpun Tidak Kalah Ampuh
Oleh: Nasrullah Idris

Banyak kerusuhan di tanah air dalam tiga tahun terakhir ini yang dianggap sebagai ulah provokator, tetapi kenyataan susah mencari orangnya. Sehingga terjadilah suasana saling curiga, khususnya di kalangan elit politik. Hanya karena mereka tidak mau "dituduh" sebagai pihak yang telah "menuduh", maka objek yang "dituduh" bersifat tidak langsung.

Tetapi lucunya lagi, mereka yang sibuk mengidentifikasi, mencari, atau menjebak melalui retorika melalui media massa itu pun sangat rentan untuk dianggap sebagai provokator juga bila menimbulkan perdebatan yang siginifikan di kalangan publik.

Kegiatan provokasi akan mudah dilacak bila yang menjadi korban sadar telah diperalat untuk melakukan sesuatu. Cukup mengintegrogasinya satu per satu, minimal satu di antaranya akan menyebutkan nama seseorang, sebagaimana yang sering dilakukan terhadap kelompok pencurian kendaraan bermotor. Celakanya bila mereka tidak merasakan demikian sama sekali. Ingat, melakukan provokasi itu tidak harus dengan lisan, seperti "Serbu!"

Dengan tersyirat atau bahasa tubuh pun, dampak sosial yang ditimbulkannya pun bisa tidak kalah hebat. Misalkan seorang pemimpin yang suatu hari dengan penuh sedih menceritakan tentang pengalaman pahit masa lampau kepada sejumlah anak buah terdekatnya. Dikatakannya bahwa ia telah diperlakukan begini dan begitu oleh pihak tertentu. Ia memang tidak memberikan saran apa pun. Misalkan melakukan pembalasan dalam rangka membela kehormatan.
Tetapi rupanya secara diam-diam ia punya target, analisis, dan prediksi. Khususnya berdasarkan pengamatan secara psikologis. Artinya, setelah selesai menyelesaikan cerita itu diperkirakan para anak buahnya cepat/lambat akan merasa kepanasan hatinya serta melakukan follow up berupa pembalasan. Selanjutnya akan terjadilah pergolakan. Apa mudah mencari dalang intelektual untuk peristiwa dengan strategi, latar belakang, dan nuansa seperti itu? Kan susah! Siapa pun tidak akan merasa bahwa mereka telah diperintah oleh sang pemimpin itu untuk melakukan pergolakan. Malah kalau pun ditanya, si pemimpin masih bisa berkelit, "Tanya saja sama mereka. Apa pernah saya memerintahkan mereka?"

Esensi provokasi mungkin akan lebih gamblang melalui cerita ringan ini:
Misalkan anda menginginkan keempat kawan di hadapan anda menyengir tanpa harus mengatakan, "Hei nyengir dong dikit !". Caranya mudah. Peganglah sehelai bulu hidung anda yang seolah-olah anda hendak mencabutnya. Itu dilakukan di hadapan mereka. Nah, ketika anda sedang memperlihatkan gerak-gerik yang hendak mencabut bulu hidung, anda memperlihatkan wajah nyengir seperti orang yang kesakitan sambil kepala diputar dikit.

Penulis rasa, mereka sedikit banyak akan juga ikut nyengir, tanpa mereka merasa sedikit pun bahwa ia sudah diperalat oleh anda. Provokator yang profesional, sebagaimana yang tampak di seluruh dunia, tentu akan mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan format yang akan dioperasikannya. Berbagai fenomena terkait akan dijadikannya sebagai masukan untuk gilirannya menghasilkan beberapa alternatif. Dari sekian yang terakhir ini, akan dipilihlah yang mempunyai resiko terendah, minimal untuk keamanan dirinya. Jadi esensi analisa keputusannya hampir miriplah tindakan seorang manajer dalam menetapkan harga ideal suatu produk yang jangkauan pasarannya sudah ke seluruh penjuru tanah air. Bedanya hanya terletak positif atau negatif sasaran saja. (Nasrullah Idris/bidang studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi/IM)

     

 


FastCounter by bCentral