Banner 120X90

Anak Tukang Sate Babi Jadi Marine
Oleh : Dr.Irawan.

Oktober 23, 2003, Indonesia Media - Adalah merupakan kebanggaan dari orang tua, bahkan merupakan kebanggaan dari komunitas orang-orang asal Indonesia lainnya melihat puteranya dilantik menjadi anggota Marine setelah lolos dari ujian mental dan fisik yang demikian berat. Boleh jadi ada lagi putera-puteri lainnya yang dilahirkan dari Indonesia maupun lahir di AS dari imigran asal Indonesia, yang sudah lebih dulu menggeluti kariernya di kemiliteran AS. Mudah mudahan Indonesia tak lama lagi mempunyai hubungan diplomasi dengan Amerika Serikat yang lebih baik dari sekarang pada saat nanti tunas-tunas muda kita menduduki jabatan strategis dalam system pemerintahan di Amerika Serikat.

Inilah beritanya "si Anak Tukang Sate Babi jadi Mariner". Kalau masih ingat pada terbitan Indonesia Media yang lalu pernah juga kami memuat berita "Anak Tukang Sate Babi Masuk White House", itu anak yang lain yaitu "Feldo" kakaknya. Nah yang ini adalah adiknya, "Tino" adalah panggilan nama kecil sehari-hari dirumah maupun disekolah. Dari penuturan "babehnya" (Pak Kwai si Tukang sate babi) Tino semasa kecilnya adalah seorang anak yang begitu lemah, untuk mampu berbicarapun dia harus sedikit terlambat, baru setelah hampir memasuki umur 3 tahun dia baru memulai berbicara.namun atas keyakinannya yang begitu kuat, ketekunannya didalam berdoa untuk mohon bantuanNya sebagai seorang umat Katholik agar diberikan ketabahan iman dan atas kemauan yang begitu keras, anak ini telah mampu membuktikan prestasinya untuk memulai kariernya sebagai seorang prajurit United State Marine Corp.

Kekhawatiran Orang Tua

Dalam keadaan perangnya Amerika dengan Irak seperti sekarang ini koq beraninya telah memilih karier yang cukup mengkhawatirkan untuk orang tuanya. Maminya sempat mengeluh dan memohon agar bisa dibatalkan, agar mengambil jurusan kuliah lainnya, karena Tino juga berada diurutan honour student. Lain lagi pendapat babehnya yang berkumis melintang itu;"Saya pribadi hanya bisa berkata Kita akan begitu khawatir dan menangis kalau kita melihat anak kita masuk penjara, tapi sekarang anak kita bukanlah anak yang brandal, tapi dia telah memilih satu keyakinan demi masa depan untuk memulai kariernya sebagai seorang patriot demi negaranya, yah apalagi yang harus kita cegah atas keputusan yang dia telah putuskan. Sebagai orang tua kita tidak bisa berbuat apa-apa, yang kita hanya bisa lakukan sekarang ini adalah berdoa untuk Tino agar dia bisa dilindungi Tuhan dan diberikan satu jalan yang terbaik demi masa depannya", tandasnya.

Banyak pengalaman yang cukup pahit didalam mengikuti basis training yang dialaminya, saat perpisahan untuk melepaskan dia untuk memulai memasuki asrama, hati babeh dan maminya cukup khawatir atas kemampuannya apakah dia sanggup untuk lolos didalam mengikuti latihan-latihan fisik yang cukup berat ini. Hanya dengan membawa sepotong kartu social security dia masuk ke pusdiklat, sebelum berpisah dengan babehnya dipintu pusdiklat sempat dia dipeluk dan di beri wejangan oleh sang babeh;" Tantangan hidup bukanlah musuh kamu, tantangan hidup adalah bagian dari hidup kamu, maka untuk melawan tantangan hidup yang keras didunia, kita harus mampu mengatasinya dengan kemauan dan tekad yang keras yang akhirnya kita bisa mengatasinya untuk mencapai kemenangan atas tantangan hidup yang keras itu".

Ujian Yang Berat
Bayangkan saja hampir setiap hari dia harus lari sejauh mungkin, belum lagi dibentak kalau saja dia berbuat salah, waktu makanpun sangat singkat hanya diberikan waktu 5 menit dan juga harus dibentak-bentak, tidur sedang nyenyak-nyenyaknya pagi-pagi subuh dibangunkan untuk lari. Setiap hari harus minum air hampir satu setengah gallon, ada anak yang telah salah kemudian dengan hukuman minum air sebanyak 15 botol dan sempat muntah-muntah, bukannya diberikan waktu untuk istirahat, malah dia disuruh untuk membersihkan muntah-muntahnya. Push up sebanyak mungkin, berenang dilaut yang cukup jauh, dimasukan didalam ruang gas air mata dengan waktu yang cukup lama.dan latihan fisik yang paling berat adalah ketika dia harus lari-lari sejauh 52 miles dengan membawa beban 50 lbs. Kalau pasukan lainnya seperti Army, Navy, Airforce mungkin basis latihannya dengan waktu yang lebih singkat, tapi untuk menjadi seorang Marine, dia harus terus menerus nonstop untuk mengikuti latihan-latihan yang begitu berat selama 3 bulan dan anak ini tentunya harus mempunyai tingkat kemampuan fisik dan mental yang begitu kuat agar dia bisa lulus untuk menjadi seorang Marine Amerika yang telah dibanggakan atas kemampuannya sebagai seorang prajurit yang sejati. Agaknya perlu juga dibuat studi banding dengan STPDN Jatinangor, Sumedang yang pernah merengut nyawa Praja Wahyu Hidayat. Didalam group Tino yang berjumlah sekitar 700 orang hanya ada 5 anak Asia, Tino adalah satu-satunya anak Indonesia didalam group itu, 20% lainnya adalah anak dari kelompok Hispanik untuk selanjutnya adalah anak-anak Amerika yang berasal dari state lainnya yang saling berdatangan untuk mengikuti latihan di Camp Pandleton di San Diego itu.

Jangan Menyerah

Setiap hari babehnya yang mantan karateka sabuk hitam aliran Go Ju Ryu itu selalu berdoa agar anaknya jangan sampai menyerah dengan latihan yang berat itu, waktu menyetir mobilpun sering babehnya berkata sendiri, "Tino jangan menyerah terus berjuang, babeh yakin kamu bisa kerjakan" dimata sang babeh dia mengingat saat penggojlokan "Ga Shu Ku" dulu sewaktu masa mudanya aktif di Karate, membayangkan mungkin anak ini sempat menangis atas beban latihan-latihan yang berat itu. Kami betul-betul putus komunikasi selama dia berada di tempat latihan, satu-satunya komunikasi yang bisa kita lakukan adalah dengan menerima surat. Sang babeh yang anak Pal Merah dari Betawi ini hanya dapat berharap dengan sangat agar puteranya bisa diterima memasuki Marine corp ini, "bukan apa-apa, kalau saja sampai gagal, saya betul khawatir nantinya anak ini mau jadi apa?, salah-salah dia akan menjadi gila nantinya, bisa saja digagalkan karena mengingat fisiknya yg kurang tangguh dll, didalam group dia juga ada 14 orang yang achirnya ditolak untuk bisa diterima sebagai Marinecorp, namun Tuhan telah mendengar doa saya selama latihan yang begitu berat itu, Tino sedikitpun tidak mengalami gangguan fisik maupun mental breakdown walau anak ini kecil untuk ukuran pasukan Amerika, tapi dia bisa membuktikan bahwa dia adalah seorang anak yang tegap dengan memiliki mental baja.

Saat-Saat Pelantikan

Akhirnya tibalah saatnya hari pelantikan Tino secara resmi menjadi seorang Marine. Begitu acara pelantikan dibubarkan babeh, mami dan kakaknya Feldo (yang kuliah di UCSB sempat dikirim ke China sebagai foreign exchange student dan juga sempat kerja di Intern White House dan Capitol Hill selama 3 bulan di Wahsington DC) saling berpelukan. Babehnya sangat exiting seperti orang yang sedang kemasukan setan berteriak " Tino you made it ah……….Tino you really made it……." Dia hanya bisa menjawab " yes pi, I made it………thank you to brought me here to America, I am not a baby anymore, now I am a United State Marine Corp " seluruh anggota keluarga saling mengeluarkan air mata saking terharunya. Rasa terimakasih Tino kepada orang tuanya yang telah membawanya ke Amerika mungkin dikaitkan dengan kenyataan pahit yang dialami oleh WNI keturunan lainnya yang sulit menempatkan diri di dunia militer di tanah air akibat peraturan-peraturan yang masih diskriminatif di Republik Indonesia.

Kasih Itu Yang Terbesar

Nasib manusia selama hidup didunia memang tak bisa diduga, "Saya jauh-jauh datang ke Amerika kok bisa menjadi Tukang sate Babi yang setiap hari Sabtu mangkal di pondok Kaki lima Duarte Inn, City of Duarte, Los Angeles. Sebagai orang tua saya hanya bisa memberikan nasehat yang saya harapkan agar dia bisa meresapi dihatinya didalam menjalankan tugasnya nanti antara lain sebagai berikut:
Didalam ajaran Kristiani selalu dikatakan, "Dengan Iman yang kuat, dan mempunyai pengharapan yang kuat, tapi tanpa diikuti dengan kasih yang ada, maka Iman dan pengharapan itu akan menjadi kosong, karena Kasih adalah yang terbesar diantara keduanya, demikian pula didalam ajaran Islam juga diajarkan: "Peperangan yang paling dasyat, bukan berada dimedan peperangan, peperangan yang paling dasyat sebenarnya berada didalam diri kita, bagaimana kita mampu memerangi dan mengalahkan hawa nafsu yang ada didalam diri kita, kalau saja kita telah mampu mengalahkan hawa nafsu itu, maka timbulah rasa perdamaian yang berarti juga timbullah rasa" kasih" didalam hati kita untuk mencintai sesama manusia ", demikianlah Sang Babeh (Kwai) mengakhiri kisah dari Tino puteranya yang sekarang menjadi anggota Marine Corps itu. M (DI/IM)

     

 


FastCounter by bCentral