|
|
|
Impoten karena Stres Pekerjaan
Jika kita betul-betul tidak menikmati stres yang muncul
dalam kehidupan sebagai tantangan, stres itu akan menekan
dan mempengaruhi kekebalan tubuh dan mental, juga tingkat-tingkat
energi serta keadaan pikiran kita sehingga mempengaruhi
mutu kehidupan. Persaingan ketat di arena pemasaran produk
sudah sangat ketat. Bayangkan, dari satu jenis barang saja,
seperti pasta gigi, kita melihat sudah berapa banyak merek
yang beredar dan betapa ketat persaingan harga yang dipasang.
Yadi (bukan nama sebenarnya) terkenal sebagai top sales
yang luar biasa. Bagaimana tidak? Sebagai orang muda yang
dinamis, pekerjaan jadi sales sudah dia lakukan sedari duduk
di perguruan tinggi, ketika ia banyak memasarkan barang
kebutuhan harian yang mudah laku pada teman-teman kuliahnya.
Sampai saat ini, dia sudah malang melintang di dunia pemasaran
hampir separo umur hidupnya yang sudah mencapai kepala empat.
Seperti kata pepatah, "Semakin tinggi kita berada,
semakin keras angin bertiup." Nah, pepatah itu yang
sekarang Yadi alami dalam hidupnya.
Dulu Yadi hanya seorang anak buah. Seandainya target pemasaran
tidak dicapai, ada manajer yang akan menutupi supaya pembukuan
selalu beres dan target gol. Sekarang Yadi sudah menjadi
general manager perusahaan eceran yang merajai pasar di
seluruh pelosok kota maupun desa.
Sebagai bos, dia menikmati arti fasilitas yang diberikan
perusahaannya, yaitu rumah di kompleks perumahan mewah serta
mobil sedan yang siap dipakai dan terasa sudah menjadi milik
sendiri walaupun di surat mobil tertera mobil milik perusahaan.
Istri yang cantik, dua orang remaja putri yang terpenuhi
segala keperluannya mewarnai kehidupan Yadi yang tampak
berseri.
Kelelahan Pikiran
Belakangan ini, Yadi punya rahasia kecil di hati yang dia
simpan sendiri. Kadang-kadang, tatkala dia bisa sampai di
rumah di bawah jam sembilan malam, sesudah mandi dan makan
malam yang sudah langka dilakukan di rumah mengingat jam
keberadaannya di rumah hampir selalu larut malam, dia berusaha
memberi nafkah batin kepada istrinya yang juga sudah jarang
dilakukan. Badan dan pikirannya sangat lelah didera pemikiran
untuk mencapai target-target pemasaran setiap hari, setiap
minggu, setiap bulan, dan setiap tahun yang harus selalu
meningkat. Dalam rumus target pemasaran di perusahaan, tidak
ada istilah menurun, semua harus selalu meningkat!
Kala dia berhubungan intim dengan istrinya, Yadi sering
gagal disebabkan si "buyung" tidak mau diajak
bekerja sama. Dia sama loyonya dengan badan Yadi yang kelelahan,
dan pikiran Yadi yang selalu ke angka penjualan. Walaupun
istrinya banyak maklum, sebagai laki-laki muda yang normal,
diam-diam Yadi menyimpan rasa waswas, jangan-jangan aku
sudah impoten. Demikian pikirnya!
Atas saran teman-teman dekatnya, Yadi mulai mengonsumsi
vitamin tambahan untuk tujuan yang satu itu, bahkan sengaja
titip-titip teman yang ke luar negeri untuk membeli obat
atau vitamin yang lebih top, tetapi tetap saja belum mendatangkan
hasil yang nyata. Yadi kecut juga menghadapi kenyataan itu,
lebih-lebih kala pembukuan menunjukkan macetnya satu dua
daerah sasaran andalan untuk produk tertentu karena target
bukannya meningkat, yang terjadi malah anjlok.
Yadi pun benar-benar merasa tidak berdaya, terakhir berhubungan
intim dengan istrinya yang mulai berkomentar. "Lho,
umur belum setengah abad, kok sudah loyo tidak bisa dipakai."
Kata-kata istrinya itu selalu bergema di relung hati Yadi
membuatnya bertambah frustrasi.
Teman-temannya menyarankan untuk mencobanya metode pamungkas
yang mereka rasakan cukup efektif, yaitu mencoba berhubungan
dengan "perempuan lain". Mereka berpendapat ada
kalanya kalau dengan yang di rumah karena bosan jadi tidak
bisa, tetapi dengan orang baru mungkin bisa. Tetapi, Yadi
adalah figur suami setia, dia tidak setuju dengan metode
teman-temannya.
Bagaimana mungkin, tanyanya dalam hati juga kepada teman-temannya,
dengan istri yang aku cintai saja tidak bisa, apalagi dengan
orang lain. Tetapi, karena sudah dicoba segala macam obat
dan vitamin tetap saja tidak berfungsi, suatu hari Yadi
belajar dari teman-temannya untuk sekadar "mencoba
jajan" rasa kikuk dan rasa bersalah menambah frustrasinya.
Yang terjadi mereka hanya ngobrol ke kiri ke kanan dan Yadi
memberi sejumlah uang kepada gadis muda tersebut, dan pulang
dengan kepala yang lebih berat dari biasanya. Ternyata dengan
perempuan lain pun dia gagal.
Ya, impotenlah aku ini, demikian jerit Yadi dalam hati dengan
sedih dan putus asa.
Impoten karena Stres
Mengapa gairah seks menurun atau bahkan hilang, banyak penelitian
membuktikan bahwa keluhan impoten dari seseorang bukan disebabkan
oleh masalah dari organ seks itu sendiri, tetapi lebih banyak
faktor penentunya, yaitu pikiran yang diistilahkan dengan
kata "stres".
Banyak laki-laki yang hilang kejantanannya saat melakukan
hubungan seks dikarenakan beban pikiran akibat pekerjaan
yang membutuhkan pemikiran yang kuat dan rumit yang menenggelamkannya
ke dalam frustrasi yang berkepanjangan.
Ya, tidak disangkal lagi para suami menjalani kehidupannya
sebagai kepala rumah tangga yang harus bertanggung jawab
akan kebutuhan keluarganya, sudah sewajarnya mereka berusaha
untuk selalu maju dalam jenjang prestasi.
Maka ada ahli yang mengatakan, "Di mana kekuatan dan
kenikmatan seks yang sesungguhnya? Beliau menjawab bahwa
itu semua ada dalam otak yaitu pikiran."
Begitu juga Suardi Tanu dalam bukunya mengatakan, "Pikiran
adalah awal Kebahagiaan."
Bukan rahasia lagi, banyak kasus impoten seorang suami terjadi
hanya pada pasangan resminya, yaitu istri. Tetapi dengan
orang lain tetap bisa, dan merasa baik-baik saja tidak ada
masalah. Kenapa bisa terjadi seperti itu?
Tentu saja jawabannya juga sederhana, yaitu karena pikirannya,
bukan karena organ seksnya!
Kesimpulannya adalah pikiran yang menentukan segalanya,
jika pikiran tenang bahagia menciptakan hal-hal positif,
segalanya pun bisa berjalan dengan lancar.
Menata Pikiran dengan Relaksasi
Dalam era globalisasi, kebutuhan akan kualitas sumber daya
manusia dirasa semakin meningkat, volume, dan irama kerja
yang cepat dan padat serta pencapaian target yang tepat,
menuntut kemampuan penyesuaian diri yang prima dan dituntut
secara optimal guna menjawab tuntutan zaman.
Nah, salah satu alternatif untuk mencapai itu adalah dengan
rilaksasi pikiran. Dengan Rileksasi pikiran gelombang otak
bisa mencapai keadaan alfa. Keadaan itu bisa dilatih sendiri
dengan meditasi, tahannut, yoga, olah napas, dan hipnosis
dan sebagainya.
Relaksasi terjadi bila badan kasar (tiga unsur jiwa) istirahat,
maksudnya otak tidak berpikir atau memerintah badan.
Tiga unsur jiwa tersebut, yaitu alat gerak (otot), alat
cerna (usus, paru), dan nalar. Berarti kalau keadaan tenaga
luar istirahat. Keadaan itu pada periksaan menggunakan mesin
EEG (Elektro-Ensefalo-Grafi) terlihat dominannya irama alfa.
Yaitu irama setengah lingkaran (sinusoid, tumpul) dengan
frekuensi antara 8-12 siklus per detik.
Nah, dengan membiasakan diri relaks, seluruh organ dan hormon-
hormon bekerja optimal terutama endorfin (morfin alami tubuh)
yang bisa menaikkan ambang batas rasa sakit atau ketidaknyamanan
membuat tubuh terasa bugar nyaman dan perasaan bahagia bisa
muncul dari tubuh yang sehat.
Relaksasi Sederhana
Duduk atau berbaring di tempat yang nyaman bisa di rumah
atau kantor, buatlah keadaan senyaman mungkin dengan memberi
tahu teman dan mematikan dulu hand phone (Hp) dan telepon
meja, kendorkan ikat pinggang dan bukalah jam tangan, sehingga
keadaan Anda lebih santai dan siap untuk relaksasi dengan
urutan sebagai berikut.
1. Tarik napas dalam yang panjang dengan santai sambil menarik
pundak ke arah atas, dan embuskan perlahan lepas sambil
turunkan pundak dan lemaskan seluruh otot, lakukan tiga
sampai delapan kali untuk merilakskan badan Anda.
2. Telapak tangan taruh di pangkuan, bila posisi duduk,
kemudian kepala ditaruh di pundak kanan dengan lembut pindahkan
kepala Anda sampai terletak di bahu kiri dan tahan beberapa
saat, sehingga Anda merasakan tarikan otot di bahu dan leher
lakukan sampai delapan kali hitungan.
3. Sekarang relakskan pikiran Anda dengan memandang fokus
pada satu titik pandang yang lurus dengan pandangan Anda,
sambil terus bernapas biasa yang santai (jangan dipaksa
untuk bernapas panjang). Setelah dirasa pikiran Anda mulai
santai dan pandangan mulai nanar karena mata ingin dipejamkan,
tutuplah mata Anda sambil niatkan dalam batin, "Saya
masuk dalam keadaan relaks yang damai dan rasa nyaman tercipta
untuk dinikmati, membuat seluruh tubuh terasa nyaman dan
pada saat saya mengakhiri relaksasi itu dengan membuka mata,
sehingga rasa segar dan bahagia akan memenuhi sanubari saya."
4. Selesai menjalankan relaksasi, bukalah mata Anda dan
renggangkanlah badan, sehingga otot-otot menjadi lebih nyaman
dan siap untuk kembali melakukan aktivitas.
Secara keseluruhan, rangkaian relaksasi itu membutuhkan
waktu antara 10 sampai 15 menit. Itu semua bisa disesuaikan
dengan kebutuhan dan waktu yang anda punya, yang penting
lakukan relaksasi itu dengan santai dan nyaman pada situasi
dan kondisi yang bisa menunjang pelaksanaannya, dan musik
relaksasi yang saat ini banyak di pasaran dan bisa digunakan
untuk memperlancar jalannya kenyamanan dan menimbulkan rasa
bahagia dan damai pada saat mendengarkannya.
Semoga Anda tetap menjadi top ranking dalam karier, diiringi
kesuksesan dalam berhubungan intim dengan pasangan menjadikan
Anda pribadi dinamis yang sehat bahagia, dan kebahagiaan
itu memancar untuk diberikan pada orang-orang di sekitar
Anda, sehingga dunia pun siap merespons positif sikap Anda.
LIANNY HENDRANATA
|