|
 |
|
ABRI Lagi, TNI Lagi
"SUSU lagi, susu lagi!" Demikian tolak seorang
anak dengan ketus dalam
sebuah iklan televisi karena diharuskan minum susu produk
tertentu secara
terus-menerus sehingga bosan. Tapi, begitu diberi susu produk
lain yang
memiliki rasa yang cocok dengan seleranya, maka si anak
dengan sigap dan
lahap meminumnya. Tentara Nasional Indonesia (TNI) jelas
bukan susu (jenis
apa pun!), tapi para mahasiswa dan aktivis demokrasi sebentar
lagi bisa
diduga akan beteriak dengan tak kurang ketusnya: "ABRI
lagi, TNI lagi!"
Sungguh menarik, memang. Di awal reformasi, jenderal-jenderal
TNI ditolak
habis dan tapis untuk tampil di pentas politik, bahkan belum
lama berselang
Indonesian Military Watch menyebarkan pamflet "Jangan
libatkan militer dalam
politik" secara sangat luas. Tapi sekarang, ketika
belum genap lima tahun
reformasi, kader-kader politik dari kalangan TNI naik daun
lagi di
mana-mana. Perpolitikan nasional kita kini diharu-biru oleh
para jenderal
(purnawirawan) politik.
Lihatlah, bukan hanya Partai Golkar yang menjadikan jenderal
bintang tiga
menjadi sekrtaris jenderal, Partai Persatuan Pembangunan
(PPP) dan Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB) pun melakukan hal sama. PPP mengangkat
Letnan
Jenderal TNI (purnawirawan) Yunus Yosfiah, PKB mengangkat
Mayor Jenderal TNI
(purnawirawan) Ferry Tinggogoy. Bukan hanya berbagai jajak
pendapat
mengunggulkan jenderal-jenderal purnawirawan, bahkan Prof.
Dr. Amien Rais
yang notabene lokomotif reformasi pun merasa harus mencari
mitra jenderal
TNI sebagai calon wakil presidennya. Dalam konvensi pemilihan
calon presiden
Partai Golkar, jenderal-jenderal TNI bukan hanya laris manis,
melainkan juga
mengungguli secara telak calon-calon sipil.
Rupanya, TNI tetap dipandang sebagai wadah persemaian kader-kader
pemimpin
bangsa yang belum tertandingi oleh institusi mana pun. Bagi
sebagian besar
kalangan bangsa ini, kewibawaan dan ketegasan bersikap ala
militer merupakan
aspek kepemimpinan yang penting kalau bukannya yang terpenting.
Dan hanya
pemimpin yang berwibawa dan tegas yang dipercaya rakyat
untuk menghela
bangsa dan negara yang makin carut-marut ini. Sayangnya,
dan untungnya,
tegas dan berwibawa di sini dikesankan cuma dimiliki militer.
Walhasil, ada dua faktor mengapa jenderal-jenderal TNI mendapatkan
momentumnya untuk lebih diharapkan, bahkan diidolakan publik.
Pertama,
perilaku politisi sipil, utamanya yang berkiprah dalam politik
kepartaian,
sangat mengecewakan publik. Tak ada satu daerah pun yang
tidak dikecewakan
performance lembaga perwakilan rakyatnya, termasuk di pusat.
Meski di sana
masih ada unsur TNI, DPR dan DPRD adalah simbol kinerja
politisi sipil.
Kedua, tuntutan masyarakat akan keamanan dan stabilitas
nasional sudah
sangat tinggi. Ambang batas keinginan untuk hidup aman dan
stabil sudah
sampai pada titik kulminasinya. Rakyat hanya percaya bahwa
militerlah yang
bisa mengatasi keamanan dan stabilitas politik nasional.
Keamanan memang
bukan segalanya, tapi bukankah tanpa keamanan segalanya
adalah nothing,
alias tak berarti apa-apa?
Memang banyak orang tak bisa membayangkan bagaimana cara
para jenderal yang biasa main perintah itu melakukan lobi
yang lazimnya penuh persuasi itu. Tak terbayangkan juga
bagaimana anak buah yang biasa bilang "siap, Jenderal!"
itu diperintah para mantan jenderalnya. Yang pasti, mesin
politik mereka
nyatanya jauh lebih efektif daripada mesin politik para
politikus sipil.
Banyak orang juga khawatir kalau kekuasaan jatuh ke tangan
seseorang yang
memiliki predisposisi untuk menjadi otoriter, totaliter,
dan tiranik. Sekali
jenderal berkuasa, maka prevalensi TNI tidak hanya dalam
bidang politik,
melainkan juga utamanya ekonomi atau bisnis.
Tapi, kecenderungan mutakhir kini menunjukkan bahwa laju
para jenderal
tampaknya tak akan terhadang. Bahkan, ada sinyalemen, tak
lama lagi akan ada
partai politik yang melamar Panglima TNI sekarang ini sebagai
calon presiden
atau wakil presiden. Apalagi, tidak ada satu pun ketentuan
yang melarang
jenderal menggunakan "hak dipilih"-nya untuk menduduki
jabatan sipil,
asalkan "mengundurkan atau pensiun dari dinas ketentaraan"
--Tap MPR Nomor
VII/MPR/2000 Pasal 5 ayat (5). Dan manakala rakyat, sang
pemilik kedaulatan,
menentukan pilihannya: "Jenderal, okay!", atau
"Jenderal, go ahead!", maka
tak ada kekuatan apa pun yang bisa menghalanginya. Sebab,
rakyatlah sumber
kekuasaan.
Kini, yang perlu diselamatkan adalah institusi TNI itu sendiri.
TNI harus
dijaga dari tangan-tangan jenderal politik yang akan memanfaatkan
organisasinya yang terkenal solid dan siap kerja itu untuk
tujuan-tujuan
politiknya. Mereka harus diawasi agar tidak menggunakan
jajaran TNI yang
dipimpin para mantan anak buahnya dulu ketika masih berjaya
itu sebagai
anak-anak panah politiknya. Naik daunnya para jenderal jangan
sampai
melahirkan "batalyon-batalyon politik" yang akan
mencabik-cabik tubuh TNI.
Jangan ada repetisi dan replika masa lalu di tahun 1949
di masa kini. Maka,
kini, Panglima TNI perlu me-repeat pernyataan Panglima Soedirman
pada saat
itu bahwa "TNI satu-satunya milik RI yang utuh".
TNI mutlak harus bersikap netral dalam kehidupan politik
dan tidak
melibatkan diri pada kegiatan politik praktis. Kebiasaan
sementara oknum
pimpinan TNI untuk menjemput mantan seniornya di bandara,
atau apalagi
mendampinginya dalam lobi-lobi politik, harus dijauhi. Tugas
TNI sebagai
alat negara adalah mempertahankan, melindungi, dan memelihara
keutuhan dan
kedaulatan negara. Bukan menjemput dan mendampingi calon
presiden. Bukankah demikian, Jenderal? Siap! (politik, kok,
"siap!", he, he, he).
M (Hajriyanto Y. Thohari/Anggota Komisi I DPR-RI/GAT/IM)
|